
Tampak saat ini Luby tengah sibuk dengan segala aktifitasnya yang membuat mata Gavin tak lepas untuk memandangi setiap gerak gerik sang istri.
know that my heart can be so cold
But I'm sweet for you, come put me in a cone
sambil terus menyanyikan lagu milik K-Pop wanita kesukaannya sesekali tubuhnya bergoyang bak penyanyi K-Pop profesional
You're the only touch, yeah, that get me meltin'
He's my favorite flavor, always gonna pick him
You're the cherry piece, just stay on top of me, so
I can't see nobody else for me, no---
Dan nyanyian itu mulai terhenti saat tiba-tiba tanpa sengaja mata Luby melihat ke arah seseorang yang kini tengah duduk di atas sofa di dalam kamarnya,
"A"
"A"
"A"
Dan suara nyanyian K-Pop nan sexy dari bibir Luby berganti menjadi sebuah teriakan histeris yang membuat Gavin langsung beranjak dari duduknya.
"Stsss--- jangan berisik" Gavin langsung mendekap mulut Luby dengan tangannya.
"Ingat ini sudah hampir tengah malam, bisa-bisa semua orang bisa bangun dengar teriakan kamu"
Luby yang masih terlihat shok hanya dapat terpaku saat melihat Gavin saat ini tengah memeluk tubuhnya yang masih polos.
"Aku akan buka mulut kamu, tapi tolong jangan teriak lagi ?"
Luby pun menganggukan kepalanya dengan cepat. Dan saat itu pula Gavin langsung membuka bungkaman pada mulut Luby, dengan segera gadis itu langsung mengambil handuknya dan melayangkan sebuah tamparan yang cukup kuat di pipi sang suami.
"Plak"
Gavin sangat terkejut akan tindakan Luby, sambil mengelus pipinya yang sakit, Gavin menatap Luby dengan penuh kemurkaan.
"Kenapa kamu bisa sampai ada di dalam kamar aku? sekarang juga cepat kamu keluar dari kamar ini!"
Tanpa berbicara Gavin yang sudah di ambang amarah memilih pergi dari kamar itu, namun sebelumnya ia menyampaikan beberapa kalimat yang ada di dalam otaknya.
__ADS_1
"Arghhh----you are my wife ! jadi ini tidak salah Luby! ini tidak salah kalau saya ada di sini saat ini. Saya tidak salah jika melihat kamu dengan kondisi seperti ini .But?? baik untuk menghormati persahabatan kita yang baru terjalin. Saya akan pergi dari sini!"
Sebelum keluar dari pintu kamar Luby Gavin menendang pintu kamar Luby dengan cukup kuat untuk meluapkan emosi nya saat itu.
Setelah melihat Gavin keluar dari dalam kamar nya, Luby dengan segera kembali mengunci pintu kamarnya, dan ia pun menangis sejadi-jadinya di depan pintu kamarnya
"Hikssssss---- "
*
*
Di sisi lain saat ini Gavin yang telah berada di dalam kamar pribadinya kembali meluapkan amarahnya dengan membabi-buta pria dewasa itu menjatuhkan setiap barang yang ada di dalam kamarnya,
"Arghhhhhh--- SH**it, kenapa semua harus seperti ini! perempuan itu tidak pantas di kasih hati"
Gavin kembali membalikan meja hias milik Maya dan mengakibatkan semua alat make up milik sang istri pertama berjatuhan ke lantai.
"Kamu bodoh Gavin! bodoh! lihat wanita itu, dia berani memukul kamu? padahal seumur hidup seekor semut pun tidak berani menyentuh aku, tapi perempuan itu sudah berani menampar aku hanya karena aku melihat tubuhnya!"
"Arghhhhh, "
"Brakkk"
Gavin yang masih dalam mode amarah terlihat tidak bisa berhenti untuk terus menghancurkan setiap benda yang ada di dalam kamarnya.
"Hahaha" Dengan sebuah senyuman yang menakutkan Gavin melihat dirinya di dalam kaca,
"Kamu tidak tahu Luby, apa yang telah aku lakukan sebelumnya kepada tubuh kamu! andai kamu tahu? mungkin kamu akan menyesal karena telah menampar aku seperti ini, Hahah"
Seperti seorang psikopat Gavin terbahak dengan sebuah seringai mengerikan di wajahnya, dan tak lama ia pun mulai tumbang di atas ranjang king size miliknya, dan mulai tertidur.
Semalaman Luby tidak bisa memejamkan matanya, setelah berkali-kali mencoba untuk tidur namun matanya tak juga ingin menutup,
"Huft--- kenapa aku tidak bisa melupakan perkataan Gavin, ada apa dengan diriku? kenapa rasanya hati ini tidak senang saat harus memukul wajah Gavin tadi"
Sembari memiringkan tubuhnya ke kanan, Luby kembali mengingat momen di mana gavin dengan niat tulus ingin menjadi sahabatnya, dan kejadian di mobil kembali terekam jelas di memori otaknya.
"Tidak--tidak, ini tidak boleh terjadi, memang kita sudah sah di mata hukum dan agama, tapi Gavin sudah memilki Maya, dan aku bukan lah siapa-siapa. Sebaiknya besok pagi aku harus minta maaf sama Gavin, lagian kenapa juga dia diam-diam masuk ke kamar aku, jadi gak salah aku juga seutuhnya. Kalau aja dia masuk dengan cara baik-baik mungkin aku gak akan marah dan gak akan berpenampilan seperti tadi di depannya"
Sambil berbicara sendiri Luby akhirnya mulai merasa mengantuk dan gadis itu pun memutuskan untuk segera tidur.
*
__ADS_1
*
Pagi-pagi buta Gavin yang telah terbangun langsung pergi lantai bawah untuk memanggil Lusy sang art,
Gavin yang tidak ingin memperpanjang masalah dengan Maya memutuskan untuk menyuruh Lusy segera membersihkan isi kamarnya yang seperti kapal pecah sebelum Maya kembali dari menjaga sang sepupu sekaligus asisten pribadinya yang bernama Andrea.
"Lusy, Lusy----"
"Iya tuan, sebentar"
Setelah memperbaiki riasan dan penampilannya barulah Lusy berjalan mendekati sang majikan dari arah dapur.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu" sambil tersenyum tersipu-sipu Lusy berdiri di hadapan sang majikan dengan memakai seragam yang cukup sempit di tubuhnya.
"Tolong kamu ke kamar saya sekarang juga" Dengan sekali perintah Gavin berjalan duluan di depan pembantunya itu.
"Owh my God , tuan Gavin terlihat sedang bergairah kayanya dia mau cari kesempatan dalam kesempitan. Kalau begitu aku harus memberikan pelayanan yang terbaik" Lusy pun mulai mengikuti langkah Gavin dari belakang sembari memperbaiki tatanan rambut nya yang terlihat sedikit bergelombang.
Sesampainya di depan kamar miliknya, Gavin pun langsung membuka suaranya kembali.
"Lusy, kamu sudah tahu bukan siapa saya?"
"Iya tuan saya tahu tuan seutuhnya"
"Bagus kalau begitu kamu saya amanah kan untuk mengatur kamar saya seperti sediakala dalam waktu 1 jam. Saya percaya kamu tidak akan pernah mengecewakan saya"
"Ohhhh, tuan percaya sama aku, dan saat ini aku sudah siap 1000% untuk pelayanan yang maksimal tuan"
Lusy seakan berteriak girang di dalam hatinya,
Ia pun akhirnya mulai masuk kedalam kamar sang majikan untuk melayani Gavin seutuhnya.
Namun betapa kagetnya ia saat melihat kondisi kamar sang majikan yang sudah seperti kapal pecah.
"Tuan? ini maksudnya apa tuan? kenapa kamar tuan jadi seperti ini?"
"Ingat Lusy kamu sudah tahu bukan siapa saya?"
"Baik tuan saya sudah tahu siapa tuan"
Sambil menangis di dalam hati akhirnya Lusy mulai membersihkan kamar milik Gavin yang harus ia selesaikan dalam waktu 1 jam saja.
Setelah melihat Lusy mulai bekerja, Gavin pun mulai mengambil beberapa potong pakainnya dari dalam lemari pakaiannya, tak lupa sebuah handuk ia bawa masuk kedalam kamar mandinya.
__ADS_1
Bersambung...✍️✍️