
"Lepas kan aku Gavin!!"
Dengan sekuat tenaga Luby terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Gavin yang melingkar kuat di kedua pipinya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini kepada saya Luby!! apa kesalahan yang telah saya buat sama kamu hingga kamu tega membunuh calon anak saya?? Katakan Luby!!"
"A-pa maksud kam-u Ga-v??"
Dengan terbata Luby mencoba menjawab semua pertanyaan Gavin, tampak sangat jelas wajah ketakutan yang terlihat di wajah nya saat ini.
"Kenapa kamu lakukan itu Luby!!"
Sambil menahan air mata nya Gavin langsung melepaskan cengkraman tangannya dan mendorong tubuh Luby ke belakang, yang membuat tubuh gadis itu pun terjatuh ke lantai.
"Uhuk--uhuk, ak-u tidak tahu maksud ka-mu Gav, sungguh" Saat ini tubuh Luby pun masih terkulai di atas lantai dengan air mata yang mulai mengucur deras dari kedua mata Luby.
"Saya kira selama ini kamu itu wanita yang baik, wanita--- yang lembut!! tapi apa? kamu wanita yang jahat!!"
__ADS_1
"Mulai saat ini jangan pernah lagi perlihatkan wajah kamu di depan saya!! pergilah!"
Dengan langkah tegap Gavin pun berlalu dari ruangan tersebut meninggalkan Luby sendiri.
"Saya tidak sanggup menyakiti kamu lebih dari ini Luby!! ---Tuhan kenapa hati ini sakit saat melihat air yang turun dari mata nya!"
Gavin mengepalkan kedua tangan nya dengan kuat untuk meluapkan amarah nya yang sudah di ubun-ubun, namun besarnya cinta yang ia miliki untuk Luby membuat dirinya tak bisa menyakiti sang istri seutuhnya, hingga tak terasa air mata pun perlahan mulai menetes di kedua pipi nya.
"Hiks-- aku pasti akan pergi Gav!! aku akan pergi, terimakasih untuk semua nya!!"
Luby tak dapat lagi menahan kesedihan yang begitu dalam di hatinya, perasaan yang kini ia rasakan untuk Gavin membuat sakit hati yang ia rasakan menjadi berkali-kali lipat.
Dengan pakaian dan rambut yang berantakan ia berjalan menyusuri jalanan tanpa arah hingga tak berapa lama gadis cantik itu pun mulai merasakan pusing pada bagain kepalanya dan mata nya pun mulai mengabur hingga tak berapa lama ia pun mulai terjatuh dan hilang kesadaran.
***
Sebulan berlalu pagi ini sambil membawa bunga di tangannya Gavin duduk tepat di sebuah kuburan yang masih tampak basah, di sana tampak sebuah nisan yang bertuliskan nama Maya Anggraini.
__ADS_1
Akibat pendarahan hebat yang ia alami akibat keracunan jamu peluruh akhirnya tiga Minggu yang lalu Maya mengembuskan nafas terakhirnya.
Terlihat jelas penyesalan yang cukup besar di wajah Gavin,
"Pagi Maya? saya datang lagi. Besok saya berencana akan pergi keluar negri untuk beberapa bulan, sekali lagi saya minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu dan bayi kita dengan baik. Dan saat saya kembali nanti saya janji akan kembali mengunjungi kalian"
Cukup lama Gavin menatap gundukan tanah hitam penuh bunga itu, hingga bayangan Luby kembali hinggap di pikirannya.
"Maaf kan saya mendua kan kamu May, kamu pasti sakit hati sama saya bukan?" Sebelum pergi untuk terakhir kalinya Gavin kembali berceloteh di hadapan kuburan Maya sang istri sirih.
"Tapi entah kenapa hingga detik ini saya tidak bisa membenci nya, bahkan saat ini saya sangat merindukannya"
***
Di tempat lain tampak seorang wanita tengah menyantap sehelai roti dan susu di hadapannya, dengan tubuh yang mulai tampak kurus dan perut yang mulai sedikit membuncit Luby duduk di depan meja makannya.
Bersambung....
__ADS_1