
Keesokan harinya Luby yang telah bangun lebih awal memilih untuk segera berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan miny Cooper kesayangannya, gadis cantik itu tampak tergesa-gesa meninggalkan kediaman milik Gavin.
Rencananya pagi ini ia ingin segera berkunjung ke rumah sakit untuk melihat istri dari azka sang kakak karena istri dari kakak tertuanya itu yang tengah hamil muda tiba-tiba mengalami pendarahan akibat terjatuh di kamar mandi.
Sedangkan sang kakak yang sedang dinas di luar negri masih dalam perjalanan pulang kembali, dan di perkirakan pada malam hari baru sampai ke negara I.
Luby melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, terlihat jam menunjukkan pukul 06:00 tepat, sembari mulai menghidupkan mesin mobil mungil berwarna oranye miliknya Luby mencoba mengirim pesan singkat kepada dr Aryan untuk membatalkan jadwal terapinya siang ini.
Setelah pesan singkat itu terkirim Luby langsung menjalankan mobilnya menuju kediaman sang kakak.
Dari balik jendela kamar nya Gavin senantiasa memperhatikan gerak gerik Luby yang terlihat tergesa-gesa, terlihat jelas raut wajah pria dingin itu terlihat tidak biasa seperti sebelumnya.
"Kemana wanita itu pergi di pagi buta begini! dengan dandanan seperti itu, apakah harus sepagi ini dia pergi menemui anak pak Devan?" Tanpa sadar Gavin meremas gorden kamar nya
Semalaman pria yang sebentar lagi akan berulangtahun ke 35 tahun itu tak berhenti memikirkan akan pertemuan yang akan di lakukan oleh sang istri muda terhadap pria yang terlihat jauh lebih muda di bawah usianya.
"Kenapa aku tak bisa berhenti berfikir akan kedekatan gadis itu dengan anak ingusan itu! Argh!! S**hit!!" Tampak pria yang terlihat cool di luar itu menarik-narik kain gorden yang ada di genggamannya sebagai pelampiasan amarahnya pagi itu.
"Mas? kamu ngapain di sana ?" Maya merasa heran melihat tingkah Gavin yang tak biasa pagi itu.
"Gak papa, aku hanya memperbaiki posisi gorden ini. Sepertinya Lusy harus segera melaundry nya, karena sudah sangat berdebu, dan kusam"
Gavin yang merasa kaget akan sapaan Maya pagi itu tampak serius memperbaiki kain gorden yang tampak sudah kusut akibat nya ulah nya sendiri.
"What?? Hahaha--- tumben kamu worry sama hal seperti itu mas. Bukannya kemarin Lusy baru mengganti gorden kamar kita. Kaya nya aku gak melihat hal aneh dari gorden itu selain kusut di bagian yang kamu pegang!"
"Hmmm, gak sayang--- ini memang benaran gak seperti biasanya, kamu lihat juga kan di bagian sini kusut, nah itu yang aku maksud"
"Owh! mungkin Lusy kurang rapi menyetrikanya nanti aku akan bilang ke Lusy untuk segera menggantinya dengan yang baru"
"Hmm--, ok. Kalau gitu mas akan segera mandi, karena pagi ini mas ada meeting yang sangat penting"
__ADS_1
Gavin berjalan dengan cepat menuju kamar mandi,
"Apa kah perlu aku bawakan sarapan ke kamar untuk kamu mas?"
"Tidak perlu, karena seperti nya mas akan terlambat jika harus sarapan terlebih dulu!"
Maya tampak kecewa akan penolakan Gavin, karena tidak biasanya Gavin menolak akan perkataannya, dulu sepenting apapun meeting yang akan Gavin lakukan maka Gavin akan meluangkan waktu untuk itu, dan jika Maya sudah menyiapkan sarapan untuknya maka Gavin akan menundanya sementara, namun tidak untuk beberapa hari ini.
"Apa bisa bulan depan aku pergi ke negara A meninggalkan kamu mas? sepertinya belakangan ini kamu terlihat berbeda dari sebelumnya, aku takut jika cinta kamu yang besar terhadap aku telah mulai berkurang kadarnya? aku tidak rela siapapun memiliki hati kamu selain aku mas"
Maya terus memikirkan siapa sebenarnya yang telah mengusik hati Gavin selama ini, beberapa kali ia sempat menaruh curiga terhadap istri muda dari suaminya itu, namun beberapa kali pula kecurigaannya terkikis dengan tindakan yang Gavin lakukan terhadap Luby di hadapannya, ia dapat melihat Gavin sama sekali tak menaruh rasa kepada sang istri kedua, selain asas manfaat yang Gavin lakukan.
Ia juga melihat sang suami yang tak pernah lembut saat berbicara kepada Luby, dan kecurigaan itu mulai pudar saat Luby meniggalkan kediaman mereka selama hampir sebulan dan Gavin sama sekali tidak pernah memperdulikan akan hal itu.
"Sepertinya mulai saat ini aku harus lebih sering untuk memantau kegiatan mas Gavin di luar, aku harus tahu siapa yang telah merubah mas Gavin seperti ini"
Dengan tekad yang kuat Maya berencana untuk mengikuti Gavin pagi ini secara diam-diam, ia sama sekali tidak ingin kecolongan dengan kehadiran wanita lain di hati Gavin.
*
*
Dengan setengah berlari Luby melewati setiap lorong yang ada di RS itu, ia mulai mengecek hp yang ada ditangannya dan melihat nomor kamar rawat inap sang kakak ipar melalui pesan singkat yang Azka kirim semalam.
Hingga tepat di depan kamar yang di maksud Luby pun mulai menghentikan langkahnya dan masuk kedalam ruangan tersebut setelah mengentuk pintu kamar itu sebelumnya.
Terlihat seorang wanita cantik blasteran tengah tertidur di kasur sebuah ranjang RS, di sampingnya tampak seorang wanita setengah baya yang tengah melihat ke arah hp yang ada di tangannya.
"Nona Luby, akhirnya anda telah sampai" sang kepala art kediaman Azka pun mulai beranjak dari kursinya dan menyambut kehadiran adik dari majikannya tersebut.
"Iya Bu, maaf merepotkan karena saya tidak bisa datang langsung semalam"
__ADS_1
"Tidak nona, tentu semua sudah menjadi kewajiban saya, karena tuan Gavin telah mempercayakan kepada saya sebelumnya, namun nyonya Bianca tadi subuh sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan nona" Dengan sikap hormatnya wanita yang sejak kecil sudah merawat Azka itu sedikit menurunkan wajahnya saat berbicara kepada Luby.
"Tidak Bu, anda sudah kami anggap lebih dari seorang perawat, anda sudah seperti ibu kedua bagi kak Gavin dan juga bagi saya, sudah sewajarnya saya meminta maaf kepada Bu Tun, atas keterlambatan saya"
Luby langsung mendekap tubuh Bu Tun yang sudah separuh baya itu,
"Bagaimana keadaan kak Bian saat ini Bu, apa dari tadi dia terus ingin bertemu dengan Luby?"
"Saat ini nyonya Bianca sudah berangsur pulih, namun dia masih sedikit shok karena kehilangan calon bayi mereka. Dan saya juga sudah meyakinkan nyonya Bianca bahwa anda akan segara datang ke RS, sehingga dia tidak bertanya-tanya lagi dan mulai tertidur saat setelah suster menyuntikan obat penenang tadi subuh"
"Terus anak-anak sama siapa Bu?"
"Anak-anak ada di rumah bersama perawat mereka nona"
"Baik lah kalau begitu sebaik nya ibu beristirahat saja, biar saya yang menggantikan untuk menjaga kak Bian,"
"Tidak non, saya akan berjaga di sini saja. Kalau di izinkan saya akan duduk di sofa saja"
"Baiklah Bu, Luby izinkan ibu menunggu di sini, tapi bukan untuk duduk di sofa, Luby mau ibu baringan saja di kasur tunggu itu, jika tidak maka Luby akan meminta pak Tolib untuk menjemput ibu di sini"
"Baik lah non, terimaksih sebelumnya, saya akan membaringkan tubuh saya di sana, jika nona membutuhkan bantuan saya nona bisa bilang kepada saya"
Dengan sebuah senyuman Luby membalas ucapan orang yang sangat ia segani itu sembari menganggukan kepalanya.
Luby yang telah duduk di kursi tepat di samping sang kakak ipar, mulai mengusap lembut jari jemari sang kakak yang terasa dingin di kulitnya.
Ia dapat melihat jejak air mata masih tampak jelas di pipi yang berwarna putih kemerah-merahan milik sang kakak ipar.
"Kak Bian harus kuat, Luby yakin di balik ujian ini akan ada kebahagian yang menanti kak Bian, dan kak Azka"
Bersambung...✍️✍️
__ADS_1