Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Tobe my besty?


__ADS_3

"Mau kah kamu berteman dengan saya By?"


Gavin menatap wajah Luby lebih intens, terlihat sebuah ketulusan dari wajah suami itu. Kaget dan merasa tidak percaya hal itu Luby rasakan saat ini, bagaimana seorang Gavindra yang ia kenal sebagai sosok yang angkuh, kejam dan tidak punya hati bisa menurunkan bendera perang yang telah Gavin kibar kan sejak awal pertemuan mereka,


"Kamu gak bercanda kan Gav? atau kamu ada maksud lain berkata seperti itu" Luby masih terus menelisik kejujuran dari suami yang terpaksa menikahinya itu.


"Kenapa di saat saya berbaik hati, kamu malah mencurigai saya kaya gitu?" Terlihat raut kekecewaan dari wajah Gavin, Jauh di dalam lubuk hati Luby yang paling dalam ia merasa ada ketulusan dari setiap perkataan Gavin saat ini, ia dapat melihat perbedaan yang jelas akan perkataan Gavin yang sebelumnya dengan perkataan Gavin malam ini.


Setelah meyakinkan hatinya akhirnya Luby yakin tidak ada salahnya jika ia harus berteman dengan orang yang selama ini telah menganggapnya sebagai musuh.


"Baik lah, aku akan menerima pertemanan kamu. Tapi aku punya sebuah permintaan sebagai tanda pertemanan kita"


"Apa?" Gavin yang bersungguh-sungguh untuk berdamai dengan sang istri kedua sama sekali tidak menolak akan keinginan Luby.


"Bisakah kamu memberikan rekaman Video yang waktu itu?"


Gavin yang sudah menebak dari awal akan keinginan Luby sudah mempersiapkan segalanya, ia pun sudah membawa soft copy rekaman video Luby yang ia simpan di dalam sebuah flashdisk.


"Ini saya sudah bawa soft copy nya, Bahkan saya sudah menghancurkan semua rekaman Video yang selama ini saya simpan, Tapi sebelum saya memberikan ini, saya juga mau kamu menandatangani sebuah surat perjanjian selama kita menikah"


"Surat perjanjian? kenapa harus ada surat perjanjian ? toh aku gak akan buka mulut ke siapa pun tentang pernikahan kita"


"Kamu punya persyaratan kenapa saya gak boleh buat persyaratan?"


Gavin yang sudah di ambang amarah hanya dapat menahan rasa kesal nya kepada Luby di dalam hati. Sejak kejadian beberapa waktu lalu Gavin sudah berniat untuk menghentikan pertengkarannya bersama Luby, karena tanpa di pungkiri sejak hari itu muncul rasa bersalah di dalam hati Gavin.


Ia tidak ingin menjadi seorang pria munafik, ia sadar telah banyak bersalah kepada Luby, semua cemoohan dan ejekan yang dulu pernah ia ucapakan kepada Luby faktanya tidak benar, walau di dalam rekaman itu Luby terlihat telah mengalami pelecehan dari beberapa pria bertopeng namun hal itu tidak sesuai yang terlihat.


Bahkan lebih parahnya Gavin sendiri yang diam-diam telah merenggut mahkota yang paling berharga milik Luby.


"Kalau kamu juga punya persyaratan berarti kamu tidak ikhlas minta maafnya?"


"Memang siapa yang minta maaf sama kamu, saya hanya ingin berteman sama kamu, saya ingin kedepannya pernikahan kita bisa lebih damai dan harmonis"


Gavin berkata secara gamblang tanpa ada keraguan sedikit pun.

__ADS_1


"Ih ni cowok lagi ngomongin apa sih? kok kaya suami benaran aja"


Luby bermonolog di dalam hati, sambil mengkerutkan dahi nya.


"Hmmm, okeh kalau gitu aku pending dulu deh ajakan pertemanan dari kamu. Karena aku mau tahu dulu isi persyaratan nya"


"Ya udah besok kamu datang ke kantor saya, di sana akan saya beritahu kamu tentang persyaratannya"


"Besok?? kaya nya gak bisa deh, soalnya besok saya ada kuliah, dan pulang dari kampus saya ada janji dengan dr---- "


"Dr? maksud kamu apa ?"


"Iya aku mau terapi. maksud aku terapi kesehatan biasa"


"Terapi?" Gavin yang tidak terlalu mengetahui kehidupan Luby sama sekali tidak ngeh akan penyakit yang saat ini tengah Luby derita.


"Iya cuma terapi biasa aja" Luby berusaha untuk menutupi keadaanya dari Gavin saat ini, ia merasa Gavin tidak perlu mengetahui hal yang ia rasa tidak akan menguntungkan untuk suami di atas kertasnya itu.


"Sebenarnya penyakit apa yang mengharuskan dia untuk ikut terapi?? tapi aku merasa gengsi kalau harus bertanya lebih jauh tentang penyakitnya. Lebih baik besok aku akan cari tahu sendiri "


Terlihat guratan permohonan di mata Luby saat menatap mata Gavin,


" Ok kali ini saya akan mengikuti keinginan kamu, tapi besok saya yang menentukan waktu untuk kita bertemu "


"Deal" Luby mengangkat tangannya dan mengajak Gavin untuk menerima salam darinya tanda setuju.


Setelah keduanya mencapai kesepakatan bersama Luby memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya kembali,sambil membawa segelas air putih di tangannya Luby melangkah menjauhi Gavin.


"Eh tunggu dulu! bukannya dia bilang akan bertemu dengan dokter untuk terapi? jangan-jangan dokter yang di maksud--- pria itu?"


"Tunggu Luby! Luby tunggu---- saya masih ingin berbicara" Luby yang telah masuk kedalam kamarnya tidak dapat lagi mendengar panggilan dari Gavin, hal itu di sebabkan karena semua ruangan yang ada di rumah itu sengaja di buat kedap suara agar privasi nya dapat terjaga.


"Sial, dia udah masuk ke kamarnya!" Gavin yang sangat penasaran dengan dokter yang Luby maksud langsung mengehentikan acara merokoknya dan berbalik untuk mengejar sang istri muda.


Dengan sedikit tergesa-gesa Gavin berlari ingin segera menemui Luby, terdengar jelas langkah kaki dari Zaky saat menaiki setiap anak tangga yang ada di rumah yang terdiri dari dua lantai itu.

__ADS_1


Saat sudah berada di depan kamar milik Luby, tiba-tiba dari arah pintu kamar Gavin terlihat Maya baru saja keluar dari balik pintu kamar mereka.


"Bark"


Suara pintu menutup terdengar jelas di telinga Gavin,


"Hmmm---- sayang, kamu kok bangun?" Gavin yang merasa hampir tertangkap basah oleh sang istri pertama merasa salah tingkah dan sedikit gugup saat berhadapan dengan Maya.


"Kamu kemana sih mas? aku dari tadi kebangun dan nungguin kamu di kamar. Tapi kamu nya gak balik-balik"


Sambil melipat kedua tangannya di dada Maya menunggu Gavin di depan pintu sambil memasang wajah masam.


"Owh, itu anu yang, tadi mas merokok di bar. Mas tadi kebangun terus gak bisa tidur lagi"


"Merokok? tumben mas gak bangunin aku, biasanya kalau mas gak bisa tidur, mas akan bangunin aku untuk nemani mas merokok?"


Terlihat gurat kecurigaan di wajah Maya, karena ini pertama kalinya Gavin tidak menggangu tidurnya saat dirinya tak bisa tertidur.


" Hmmm---- mas gak mau ganggu kamu, karena mas lihat kamu tertidur sangat lelap"


"Benar? mas gak lagi nutupi sesuatu dari aku kan?"


"Ya enggak lah, memang mas mau nutupi apa dari kamu"


"Ya gak papa sih mas lagian aku percaya kok kata-kata mas" Maya yang tidak ingin memperpanjang masalah akhirnya memilih mengalah dan berhenti untuk menyudutkan Gavin.


Dengan manja Maya langsung memeluk lengan Gavin dan ia pun bergelendotan manja di pundak nan tegap milik suami siri nya itu.


"Jangan marah dong mas. Jelek tahu! coba senyum dulu?"


Gavin yang terbiasa bucin dengan sang istri mulai menuruti keinginan Maya, rentetan gigi putih sang pria dingin itu terlihat sempurna saat ia tersenyum.


"Nah gitu dong mas" Maya begitu senang saat melihat Gavin menuruti semua keinginannya, Tak menunggu lama Gavin pun langsung menggendong tubuh Maya dan membawa nya kembali masuk kedalam kamar mereka.


Bersambung......✍️✍️

__ADS_1


__ADS_2