
Dengan perasaan campur aduk Luby merasa sudah tidak sabar untuk segera mungkin bertemu dengan penghuni hatinya, setelah susah payah ia menyingkirkan Gavin dari pikirannya namun takdir sekam tidak mengizinkan.
Dari kehadiran Darren hingga sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya seakan menjadi pertanda bahwa ikatannya cinta antara dirinya dan Gavin tak dapt di lepaskan.
"Dasar pria bodoh!! apa yang sebenarnya kau pikirkan Gav? kenapa pria materialistis seperti mu rela jatuh miskin!!"
"Dan---"
Luby kembali tertawa saat mengingat bagaimana perawat yang dulu merawat dirinya saat tak dapat melihat jarang sekali berbicara kepadanya, bahkan perawat itu memiliki perawakan yang tinggi dan kekar.
Yang seakan Luby ingin sekali dapat melihat sosok wanita kekar yang selama ini hanya mampu ia bayangkan di dalam fikiran nya.
"Kau sangat bodoh Gav!!"
Di dalam mobil yang di kendarai oleh sang supir itu Luby kembali meneteskan air matanya, ia sama sekali tidak menyangka Gavin rela memenuhi memori hp nya dengan beberapa rekaman suara perawat asli hanya untuk merawat Luby tanpa menyakiti hatinya.
Tak berapa lama mobil yang Luby tumpangi pun telah sampai di sebuah basement sebuah hotel, dan tanpa menunggu Luby segera keluar dari dalam mobil dengan membawa serta dua buah amplop di tangannya.
Ia langsung datang ke sebuah meja resepsionis dan langung bertanya akan keberadaan Gavin saat ini.
Namun jawaban sang resepsionis membuat Luby kembali lemah, jantung nya yang tadi berdegub kencang seakan berhenti berdetak.
"Jadi dia telah check out mbak?"
__ADS_1
"Ia nona, maaf bapak Gafindra Pradipta baru saja check out satu jam yang lalu"
"Apa kira-kira Anda tahu tentang informasi lainya tentang Gavin?"
"Maaf nona kami tidak tahu"
Dengan langkah gontai Luby memutuskan untuk kembali ke dalam mobil, dengan tangan yang gemetar Luby mulai menekan tombol di layar hpnya, namun beberapa kali ia mencoba sambungan telpon itu tak kunjung terhubung.
"Hiks--- kamu di mana Gav! kenapa kamu pergi lagi meninggalkan aku!!"
Luby yang tak memiliki petunjuk apa pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapannya, andai saja ia tidak lagi negara orang sudah pasti mudah baginya untuk mencari keberadaan Gavin, merana ada banyak tempat yang bisa ia kunjungi.
Namun di negara L sama sekali Luby tidak mengetahui kemana Gavin akan kunjungi.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 1 jam. akhirnya Luby telah sampai di penginapan nya lagi.
Luby berjalan dengan kedua mata yang tak berhenti mengeluarkan air, sesekali ia menyeka hidung nya yang tersumbat dan berair,
"Luby kamu kenapa nak?"
Luby hanya bisa terdiam, hingga kedua netra nya bertemu dengan netra sosok yang ia cari saat ini.
"Gavin"
__ADS_1
Tanpa ia sadari akhirnya cinta menuntunnya untuk segera merengkuh sang pujaan hati, Luby langsung berlari ke arah Gavin, dan langsung memeluk tubuh pria itu dengan erat.
Ia pun kembali menangis dan memeluk pria itu lebih erat lagi, tak ada bedanya dengan Luby Gavin pun kembali mengerat pelukannya di pinggang sang kekasih hati yang sangat ia cintai.
Dan waktu pun seakan terhenti, hanya terdengar raungan dari bibir Luby memenuhi ruangan.
Setelah beberapa menit Luby pun sadar dari kelakuannya, ia langsung berusaha melepaskan pelukannya terhadap Gavin.
"Kau bodoh-- dasar pria bodoh!!"
Luby yang terlepas dari pelukan Gavin langsung memukul-mukul pundak Gavin cukup kuat.
"Kenapa kau bisa berbuat bodoh seperti ini Gavindra!! apa kau kira aku akan senang melihat kebodohan mu ini!! kau kira aku matre seperti dirimu!! kenapa kau menyerah kan semua yang kau miliki untuk aku dan Darren?"
"Kenapa kau harus menjadi perawat demi aku!! kau bodoh Gavin!!"
Gavin kembali membawa Luby masuk kedalam pelukannya.
"Dan setelah semua yang kau lakukan kenapa kau malah pergi meninggalkan aku lagi"
"Hiks" tangisan Luby kemabli menggema ia pun membalas pelukan dari suaminya itu.
"Itu semua karena aku mencintai mu By, bahkan sangat mencintai mu"
__ADS_1
Kedua pasang suami istri itu tak dapat lagi saling berucap hanya pelukan hangat yang dapat menjawab segalanya.
..."Tamat"...