Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Apa kah ini waktunya untuk berpisah??


__ADS_3

Keesokan harinya Gavin pun berangkat ke kantor dari rumah sang mertua, sebelum pergi Luby sang istri telah mempersiapkan segala kebutuhannya tanpa bicara apapun, sehingga membuat mood Gavin berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya.


"Bims, tolong cepat kamu persiapkan meeting untuk semua jajaran yang ada di kantor pusat dan semua cabang, pagi ini juga!!"


"Tapi pak bukannya meeting itu akan dilakukan Senin depan? karena meminta sudah saya kirim kemarin sesuai perintah bapak sebelumnya"


"Kamu berani membantah saya Bims? apa kamu sudah siap saya kirim ke ujung pulau yang tak berpenghuni!!!"


"Maaf untuk apa ya pak?" Dengan polosnya Bims sang asisten pribadi yang terkadang tidak mengerti dengan amarah sang bos yang berubah-ubah membuat kepintaran yang ia miliki selama ini seketika lenyap begitu saja.


"Bims bulan ini bonus kamu akan saya potong!!!"


Gavin yang masih berada di dalam kendaraannya langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.


"Aduh bos pasti ini permasalahan rumah tangga lagi penyebabnya, ampunnnn deh bonus di pangkas lagi bulan ini"


Bims yang mendengar aura dingin dari sang bos pun langsung mengirim kan memo darurat secepatnya, hal ini sungguh membuat dirinya kalang kabut, bagaimana tidak beberapa pihak cabang yang berada di luar kota mana mungkin bisa hadir pagi ini juga sehingga ia pun harus mempersiapkan meeting melalui online dan sungguh hal itu membutuhkan banyak waktu.


***


Luby yang baru pulang dari kampus tengah memarkirkan kendaraannya di halaman depan rumah sang suami, saat ia mulai memasuki rumah dengan nuansa serba putih itu Luby pun dapat mendengar keributan di kamar milik Gavin. Dengan rasa penasaran yang lumayan besar ia pun memilih untuk melihat ke dalam kamar suami nya itu.

__ADS_1


"Uwek--uwek--- Lusy cepat bantu saya ambil kan air minum cepat"


Terdengar sangat jelas suara Maya yang tengah muntah-muntah di dari dalam kamar mandi dan tampak Lusy yang kewalahan menghadapi majikan perempuannya itu.


Luby yang tidak ingin ikut campur akan urusan madu nya memilih untuk menjauh dari kamar yang ditempati oleh Gavin dan Maya tersebut.


Hingga saat malam tiba Gavin yang baru pulang dari kantor terlihat sangat khawatir dengan kondisi sang istri siri yang terlihat sangat pucat dan lemah. Akhirnya Gavin pun memutuskan untuk segera membawa Maya untuk berobat ke RS yang terbaik di kota nya.


Sesampainya di RS Maya pun langsung ditempatkan di ruangan gawat darurat, tampak seorang dokter dan beberapa perawat mulai mengecek kondisi Maya saat itu.


Dan kurang lebih 30 menit berikutnya dari hasil pemeriksaan sementara sang dokter mendiagnosa bahwa Maya tengah berbadan dua, sehingga untuk lebih memastikan Maya pun diminta untuk melakukan tes dan pemeriksaan lanjutan kepada dokter kandungan.


"Terimakasih sayang, akhirnya kamu mau memberikan anak untuk saya"


Maya yang tampak masih shok akan perkataan sang dokter mencoba untuk menelaah setiap perkataan dokter barusan.


"Enggaak---- ini pasti salah, gak mungkin aku hamil!! ini gak boleh terjadi"


Ia pun berucap di dalam hatinya, karena sedari awal Maya memang sudah menolak memiliki anak sebelumnya.


Setelah selesai pemeriksaan Gavin dan Maya pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah Meraka.

__ADS_1


Tampak sebuah senyuman penuh kebahagian terukir di bibir calon ayah tersebut, dan pemandangan itu justru berbanding terbalik dari raut wajah sang istri, yang tampak jelas dari raut wajah nya yang masih enggan untuk menerima kehamilannya saat ini.


Dan beberapa hari setelah mendapatkan kabar gembira akan kehamilan Maya Gavin sama sekali tidak lagi pernah menyinggung tentang Luby, walau sesekali ada rasa rindu yang terbesit di dalam lubuk hatinya yang terdalam namun hal itu tersamarkan dengan kebahagian yang saat ini tengah ia rasakan.


Gavin pun mulai sangat memanjakan Maya sang istri, ia bahkan rela untuk libur dari kantor demi Maya yang ingin selalu berada di samping nya.


Luby yang telah mengetahui akan kehamilan Maya mulai merasakan perasaan yang campur aduk, ia senang dapat melihat kebahagian dari wajah sang suami, karena ia merasa akan lebih mudah untuk menjalankan hari-hari kedepannya tanpa di ribet kan dengan Gavin hingga hari perpisahan nya itu tiba,


Namun entah kenapa ia juga merasakan sakit yang luar biasa saat menyaksikan kemesraan dan perhatian yang di perlihatkan oleh Gavin terhadap Maya saat ini.


"Hati-hati makan nya sayang, pelan-pelan" Dengan lembut dan penuh kesabaran Gavin memberikan suapan demi suapan makanan ke mulut Maya.


Luby yang baru turun dari lantai atas hanya dapat menelan ludahnya saat melihat interaksi kedua pasangan yang tengah berada di hadapannya.


"Kenapa rasa nya sakit melihat adegan ini!! harusnya aku bahagia melihat Gavin akhirnya telah menentukan pilihannya. Sadar Luby kamu itu bukan siapa-siapa untuk Gavin.


"Mungkin tak lama lagi kita akan segera berpisah Gav"


Luby terus bermonolog di dalam hatinya.


Bersambung.....🤗

__ADS_1


__ADS_2