Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan

Berbagi Cinta : Hanya Istri Cadangan
Mengembalikan penglihatan Luby


__ADS_3

Negara L 15:15


Di dalam sebuah ruangan rumah sakit saat ini Luby berada, wanita itu tengah mendapatkan tindakan dari beberapa orang dokter spesialis mata terbaik di negara itu.


"Ya Tuhan tolong selamat kan Luby, berilah kelancaran untuk operasinya saat ini"


Tak hentinya bibir Gavin terus komat Kamit sembari merapalkan doa untuk kelancaran operasi Luby yang telah berjalan hampir 3 jam itu.


Di sebuah kursi tunggu tepat di depan ruangan operasi tampak pasangan Brian dan Luna yang juga terlihat khusuk mendoakan kesembuhan bagi sang putri, tampak jelas kekhawatiran di wajah keduanya, sesekali mata mereka serentak melihat ke arah Gavin yang sama sekali tidak bisa diam, pria itu terus mondar mandir di depan pintu ruangan operasi, sesekali ia akan duduk dan bangkit kembali,


"Pa sedari pagi aku tidak melihat Gavin menyentuh makanannnya, padahal tadi aku sempat mintanya untuk memakan makan siangnya tapi ia masih tidak menyentuhnya"


Mendengar kekhawatiran dari mulut sang istri tentang keadaan sang menantu membaut Brian berdiri dari kursi nya dan langsung berjalan mendekat ke arah Gavin.


Tak lupa ia membawa sebuah kotak makanan yang tadi sudah di bawa oleh seorang supirnya.


Dengan pelan Brian menepuk pundak Gavin yang saat ini tengah berdiri tepat di depan pintu ruang operasi.


"Ini makanan mu Gavin, cepat habiskan jangan kau buat ibu dan anak itu gusar akan keadaan mu! "


Seketika Gavin melihat ke arah sang ibu mertua nya yang beberapa bulan ini tampak dingin kepadanya.


Luna yang tadi tampak sangat khawatir dengan Gavin merasa kaget akan pandangan anak menantunya itu dengan cepat ia kembali membuang muka nya berlawanan.


"Terimakasih pa--, aku akan memakannya"


Tiba-tiba hati Gavin mulai menghangat saat mengetahui kedua orang tua Luby telah benar-benar maafkan nya, walau sang ibu mertua masih tampak menyimpan rasa kecewanya namun ia senang atas perhatian Luna kepadanya.

__ADS_1


"Tapi akankah Luby merasakan hal yang sama? apa benar yang papa bilang bahwa Luby juga akan gusar melihat aku yang belum makan?"


Dalam diam Gavin mulai mengunyah makanannya, Brian dan Luna dapat melihat bahwa pria itu kini kehilangan semangatnya, walau sudah ada maknannya di hadapannya namun Gavin terlihat sangat malas untuk mengunyah makannya,


"Jika dari awal kau memperlihatkan hal ini kepada Luby aku yakin pasti putri ku akan menjadi seorang wanita yang paling beruntung dan bahagia karena mendapatkan cinta seutuhnya dari mu Gavin, tapi kau malah menoreh luka baru di atas luka lamanya"


Luna kembali memeluk lengan Brian lebih erat, ia merasa bersyukur menjadi seorang istri dari pria yang begitu mencintainya itu.


"Semoga setelah banyak luka yang Luby rasakan mulai hari ini akan berganti dengan kebahagiaan"


Dan tak berapa lama akhirnya pintu berwarna putih dengan berukuran besar itu terbuka, dan disana tampak seorang dokter paruh baya yang di dampingi seorang perawat mulai melangkah keluar.


"Gimana keadaan putri ku Jims?"


"Well done Bri, sebentar lagi kau bisa segera bertemu dengan putri cantik mu, saat dia sudah di pindahkan kedalam kamar nya, tapi kita butuh waktu satu hari lagi untuk melihat hasilnya jadi ku harap kau bisa bersabar"


"Thanks bro, kau memang selalu menjadi yang terbaik"


"Well, aku harus segera kembali Bri, kapan pun kau bisa menghubungi ku jika kau membutuhkan bantuan ku"


"Pasti Jims"


"Baik lah sampai jumpa Brian, Luna"


"Terimakasih Jims"


"Tak perlu sungkan nyonya Brian"

__ADS_1


Akhirnya dokter Jims pun berlalu dari hadapan Brian dan Luna, sedangkan Gavin yang sayup-sayup mendengar percakapan antara dokter Jims dan mertuanya langsung mengucapakan rasa syukur nya, baru lah sebuah senyuman terukir di bibirnya.


Sesaat kemudian Luby pun telah berada di dalam kamar rawat inap nya, kamar yang di dominasi dengan waran putih itu tampak sedikit menakutkan untuk Gavin, suara alat-alat yang dulu pernah ia dengarkan semasa kecil menjadi phobia tersendiri bagi dirinya.


Sejak tadi Gavin sama sekali tidak beranjak dari sisi Luby, pria itu senantiasa menggenggam erat tangan kanan sang istri yang terasa sangat dingin.


"Sayang aku ada di sini, ayo cepat bangunlah kau mungkin bisa merasakan keberadaan aku di sini sayang"


Gavin kembali mencium lembut punggung tangan Luby, sembari mengeratkan genggaman nya dengan kedua jari-jari besarnya.


"Sayang apa kau tahu saat ini Darren sudah menunggu kedatangan kamu, tadi dia sempat video call sama mama, dan dia berkata sangat merindukan mu"


"Makanya kau cepat bangun sayang, Dan--kata dokter besok perban di mata mu sudah bisa di buka"


"Dan kau bisa kembali melihat taman di rumah kita sayang---"


Gavin terus berbicara ke arah Luby, sambil sesekali senyumannya berubah sendu, dan memperlihatkan matanya yang berkaca ketika ia mengingat keadaanya di tinggal kan Luby.


"Tapi maafkan aku yang, karena taman mu tidak seindah waktu itu, karena aku tidak memperbolehkan seorang pun memotong bunga-bunga yang ada di sana"


"Dan-- saat ini daun-daun bunga itu sudah tumbuh sangat lebat dan besar, sehingga mengurangi keindahannya"


Gavin kembali menerawang keadaannya saat ini tanpa Luby, ia merasa seperti seekor beruang yang kehilangan induknya, berantakan dan tanpa arah.


Tak berapa lama Luby yang mulai sadar mulai menggerakkan tangannya,


"Luby kau sudah sadar sayang?"

__ADS_1


Sebuah senyuman kembali terukir di bibir Gavin, dan setetes air mata kebahagian tanpa sadar terjatuh dari pelupuk matanya.


Bersambung....🧐


__ADS_2