BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela

BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela
Flasback on. Sia-sia


__ADS_3

Maaf ya buat kalian Para Ponakan Tersayang Tante semuanya. Karena Tante semalem enggak bisa Update Bab. Soalnya kemaren Tante dapet bonus kuota 5 GB dari Smartfren. Tapi masa aktif nya cuman 1 hari.


Nyiksa banget gak sih? 😭.


Jadi nya kemaren Tante habisin Kuota nya buat nonton Tik Tok wkwkw.


Sayang soalnya, demi apapun jarang-jarang dapat hadiah lo. Soalnya nyari uang itu susah.


Jadi ya maaf. Kemaren aja seharian bukain Tik Tok tapi kuota nya masih utuh.


Dari jam 7 pagi sampek jam 12 malem dong.


Itu pun kuota nya masih sisa 900 MB lagi. Udah ngantuk soalnya. Maaf yah sekali lagi buat kalian!


Tapi hari ini Tante janji bakalan Update 2 Bab.


Kalau bisa lebih,Ya' Alhamdulillah, kalau enggak ya' Wasyukurillah.


Jangan lupa bahagia untuk hari ini, maupun untuk hari kedepan nya.


Semangat kalian semua.😉🤗😊



.......................*****************.........................


Setelah melihat mobil yang di kendarai oleh Dimas menghilang dari pandangan nya.


Salsa langsung saja pergi dari sana. Salsa berjalan menyusuri gang yang sunyi menuju Kediaman Keluarga Siregar.


Salsa masuk ke dalam. Karena memang saat ini pintu rumah nya terbuka.


Awalnya Salsa sedikit heran, kenapa sudah jam segini pintu masih di buka?


"Ayah!" lirih Salsa.


Ayah Salsa yang saat ini sedang duduk bersantai di sofa langsung berdiri, saat melihat Putri nya itu datang.


Beserta anggota Keluarga yang lain.


Maya dan Nazwa yang ada di sana pun langsung ikut berdiri.


Salsa tersenyum. Dan segera datang menghapiri Ayah nya.


"Ayah! Ayah pulang?" Salsa hendak memeluk Sang Ayah yang sudah sangat di rindukan nya itu.

__ADS_1


PLAK.


'Suara tamparan menggema di ruangan itu'


"A-ayah!" lirih Salsa memegang pipi kanan nya. Matanya sudah memerah, dan mengeluarkan cairan bening.


"Pergi kamu dari sini!" bentak Ayah Salsa, menunjukan tangan nya ke arah pintu keluar.


Dada Salsa terasa sesak.


"Kamu bukan anak ku lagi" ucap Ayah Salsa lagi dengan tegas.


Serasa terjatuh dari tebing ketinggian.


Salsa begitu terkejut, saat mendengar penuturan Sang Ayah.


Dari raut wajah Sang Ayah, dapat terlihat jelas bahwa yang di katakan tadi bukanlah main-main. Namun Salsa mencoba untuk menyangkalnya.


Salsa menggelengkan kepalanya.


"E-enggak, enggak! Maksud Ayah apa? Ayah bohong kan? Mana mungkin Ayah bakalan beneran ngusir Sasa" Salsa mencoba untuk tertawa meskipun mata nya tak henti-henti nya mengeluarkan air mata.


BRAK...


Seorang Bodyguard suruhan Maya melemparkan koper besar tepat di bawah kaki Salsa.


Salsa langsung memeluk Ayah Salsa bertujuan agar Ayah nya bisa tenang.


Ayah Salsa langsung mendorong Putri nya itu dengan sangat kuat. Hingga membuat Salsa terpelanting di lantai.


Tangis Salsa langsung pecah.


"Aku tidak sudi memiliki anak seperti mu! Bagai mana mungkin kau bisa tega menjual Kakak tiri mu dengan pacar gelap mu itu. Aku sangat jijik melihat mu. Dasar Pelacur!" tegas Ayah Salsa dengan suara lantang.


Salsa langsung memandang ke arah Nazwa, dan juga Maya secara bergantian.


Ia lalu langsung bangkit.


"Enggak Yah, ini enggak mungkin. Aku enggak ada ngejual Nazwa Yah. Yang ada itu merekalah yang ngejual aku sama pria tua saat di klub tadi." Mata Salsa langsung terhenti saat baru menyadari kalau Pria tambun yang ada di Hotel bersama nya tadi. Juga berada di sini, dan berdiri tepat di samping Maya. Nafas nya serasa memburu.


"Me-mereka bahkan ngajakin Salsa ke klub dengan iming-iming Ayah juga akan datang ke sana." jelas Salsa dengan tangis yang menyertai.


"Ya' Dan disaat Ayah datang ke Klub. Kamu di mana? Gak bisa jawab kan?" Karena Ayah tau kalau kamu lagi pergi sama Pria itu kan?"


Ayah Salsa menunjuk ke arah Pria tambun yang hampir saja merenggut Mahkota Salsa saat di Hotel Klub tadi.

__ADS_1


"Iya kan? Jawab!" bentak Ayah Salsa sambil terus mengguncang-guncangkan bahu Salsa.


"Dan setelah kamu puas bermain dengan Pacar gelap mu itu. Kamu malah tega ngejual Kakak tiri kamu sama Pacar gelap kamu itu.


Ayah enggak pernah ngebayangin. Kenapa kamu bisa tega Salsa? Bahkan kamu ngelakuin hal yang sangat menjijikan seperti itu."


Salsa menggeleng kan kepalanya, serta menjambak kuat rambut panjang nya. Karena prustasi.


"Eng-enggak, enggak. Ini semua enggak bener, ini semua bohong." lirih Salsa masih terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayah kecewa sama kamu. Ayah yakin Bunda kamu pasti bakalan nangis di sana, saat menyaksikan Putri nya telah berbuat hal yang sangat menjijikan. Bermain-main dengan Pria dewasa, dan malah dengan tega nya. Kau menjual Nazwa dengan Pacar gelap mu hanya demi mendapat kan uang."


"TIDAAAAAAAAKKKKK.....Hiks, hiks! Hiks."


Salsa tidak kuasa menompang tubuh nya. Ia luruh di lantai, mata nya terus saja mengeluarkan air mata. Prustasi dan juga Stres. Pikiran nya saat ini berkecamuk. Serta nafas yang tidak teratur.


Salsa mencoba untuk bangkit. Dan meraih Koper besar yang ada di depan nya.


Secara perlahan Salsa berjalan ke luar menuju pintu utama.


Wajah nya masih terus menunduk. Serta tangisan tanpa suara yang menyertai Salsa.


Rasa nya Ia sudah sangat lelah. Bahkan untuk mengeluarkan sepatah kata lagi. Ia pun tidak sanggup rasanya. Jangan kan mengucap kan sepatah kata. Bibir nya pun bahkan kelu dan tidak sanggup lagi mengeluarkan suara isakan tangisan. Yang ada hanya air mata yang keluar tanpa bisa di bendung.


Saat Salsa sampai di depan pintu Utama. Langkah kaki nya pun terhenti.


Ia bersumpah di dalam hatinya.


"Bahwa Ia tidak akan pernah mau kembali lagi menginjakan kaki nya di rumah ini. Sudah cukup rasanya Ia menanggung segala beban yang ada. Sudah bertahun-tahun Ia menanti-nanti masa ini akan datang. Namun semua Ekspetasi nya hancur. Percuma saja menjelaskan kepada lalat bahwa bunga lebih harum di banding kotoran. Ayah nya sudah gelap mata, dan terpengaruhi oleh Maya. Dan penjelasan nya semua akan sia-sia. Jadi salah satu cara nya adalah lebih baik mengalah. Karena orang yang mengalah itu bukan berarti kalah. Melainkan Ia sudah lelah untuk menghadapi musuh yang selalu berbuat curang. Karena sejatinya kemenangan yang sebenarnya adalah yang di raih dengan ketulusan. Tanpa ada nya sebuah jebakan."


Sementara Maya dan juga Nazwa yang menyaksikan peristiwa tersebut. Langsung menyunggingkan senyuman jahat nya.


Nazwa pun datang menghampiri Ayah tiri nya itu.


"Ayah jangan usir Salsa. Kasihan dia, bagaimana jika dia tidak punya tempat tinggal, dan juga Nazwa sudah memaafkan kesalahan Salsa kok." Ucap Nazwa dengan nada bersedih yang dibuat-buat.


Nazwa pun beralih menoleh ke belakang, dan mengedipkan matanya ke arah Maya, dengan senyuman jahat yang terbit di bibir nya.


"Aku tidak perduli. Biarkan saja! Bahkan kalau perlu lebih baik dia mati saja. Sangat menjijikan." Balas Ayah Salsa dengan wajah datar.


Salsa tidak kuasa mendengar semua penuturan Sang Ayah. Ia pun kembali menggeret koper nya keluar. Jika berlama-lama berada di sana. Pasti akan membuat hatinya tergores lebih dalam.


Maya yang melihat Salsa pergi pun langsung menyikut lengan Pria tambun yang bernama Doni itu. Memberi kode agar Doni mengejar Salsa.


Doni yang paham pun langsung menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Sayang! Kamu mau kemana?" Doni terus berlari mengejar Salsa.


Namun Salsa sudah terlanjur pergi dan menghilang entah kemana.


__ADS_2