
Dimas dan juga Salsa sedang duduk di sebuah Restoran yang ada di pinggir pantai.
"Tidak biasanya kau mau makan di tempat keramaian seperti ini" kata Salsa sambil mengiris daging yang ada di piringnya.
"Jika aku menyewa tempat ini secara pribadi. Kau pasti akan marah." jawab Dimas memandang wajah Salsa.
"Hm!"
"Sasa!" panggil Dimas.
Salsa tidak menjawab, dan masih asyik dengan makanan nya.
Dimas menghela nafas berat. Lalu meraih kedua tangan Salsa, dan menggenggam erat jari-jemari nya.
Salsa menoleh ke arah Dimas. Dan menarik kedua tangan nya, dari genggaman tangan Dimas.
"Apa?" tanya Salsa.
"Aku mencintai mu." kata Dimas lagi.
"Aku sudah tau." jawab Salsa.
"Sasa aku serius. Kumohon jangan tinggalkan aku! Plis!" ucap Dimas.
"Bersabarlah demi Cinta kita" sambung nya lagi pelan.
Salsa meletakan sendok garpu nya di atas meja.
"Sampai kapan?" tanya Salsa pelan.
Dimas langsung menggengam kedua tangan Salsa dengan sangat erat.
"Sampai kedua orang tua Bella pulang ke Kanada." jawab Dimas.
Salsa tersenyum getir ke arah Dimas.
"Aku tidak bisa mempercayai mu lagi Mas." kata Salsa.
"Sayang! Aku menikahi Bella bukan karena keinginan ku sendiri. Kamu tau? Waktu itu setelah mengantarkan kamu ke Rumah Sakit. Aku ke Kantor cuman mau ngambil berkas aku yang ke tinggalan di Meja Kerja.
Dan habis itu aku berniat langsung kembali lagi ke Rumah Sakit. Bahkan aku memilih jalan potongan dari belakang. Supaya bisa cepet-cepet ngejenguk kamu Sayang. Tapi aku malah ngalamin kejadian yang enggak aku ingin kan sama sekali. Sehingga membuat aku harus terpaksa menikahi Bella." Dimas menghela nafas sejenak. Sebelum kembali melanjutkan perkataan nya.
"Saat aku melintas di tengah-tengah perjalanan. Bella memberhentikan mobil ku. Meminta pertolongan agar aku mau membantunya dan segera membawa nya ke Rumah Sakit."
"Dan bahkan kamu percaya gitu aja sama Wanita busuk itu." potong Salsa dengan nada suara membentak.
Dimas tidak percaya melihat sikap Salsa yang terlalu kekanak-kanakan itu.
"Berhenti untuk bersikap seperti anak kecil Salsa!" bentak Dimas menggebrak meja dengan sangat kuat. Hingga membuat seluruh Makanan yang ada di meja menjadi tumpah dan berjatuhan ke pasir.
Seluruh perhatian semua orang langsung tertuju pada kedua pasangan yang tengah berseteru itu.
"Percuma saja menjelaskan semuanya padamu. Kau bahkan terlalu egois, dan tidak mau mengerti sedikit pun. Mungkin aku bertemu dengan Bella adalah jalan yang tepat. Sehingga membuat ku menikahi nya.
Jadi jangan salah kan aku jika nantinya aku bisa beralih ke Bella. Karena sikap mu tidak bisa berubah. Dan berpikiran seperti anak kecil. Sikap mu membuat ku sangat muak."
Bentak Dimas dan Dimas langsung pergi begitu saja meninggalkan Salsa yang saat ini sedang menangis.
-
__ADS_1
Dimas melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Namun saat sudah sampai di pertengahan jalan. Tiba-tiba saja suara dering Hp. Membuyarkan lamunan Dimas.
Dimas menurunkan kecepatan mobil. Lalu merogoh saku celana nya. Dan langsung mengangkat telpon nya.
"Hallo Ma!" seru Dimas.
"Dimas kamu dimana? Apa Salsa ada sama kamu? Mama mau berbicara sebentar sama dia Nak." Ucap Mama Dinda dari sebrang sana.
Dimas pun langsung sadar kalau dia telah meninggalkan Istri nya di Pantai tadi.
Dimas tidak menjawab pertanyaan Mama Dinda dan langsung mematikan telpon nya secara sepihak.
"Sial!" umpat Dimas dan langsung membanting setir nya kekiri. Untung saja tidak ada kendaraan lain di belakang nya.
Dimas pun melajukan mobil nya. Putar balik untuk menjemput Salsa.
-
Salsa berjalan di tengah-tengah sunyi nya jalanan. Ia sama sekali tidak membawa uang. Dan bahkan Hp nya mati karena kehabisan Baterai.
"Hiks, hiks! Hiks..." Salsa terus saja menangis.
Setelah beberapa menit Mobil Dimas pun berhenti di depan Salsa.
Dimas pun langsung turun dan menghampiri Istri nya itu.
"Sasa!" panggil Dimas panik. Dimas Meraih wajah Salsa dengan kedua tangan nya.
"Maafkan Mas Sayang!" Dimas pun langsung memeluk tubuh Salsa dengan sangat erat.
Tubuh Salsa bergetar. Di sertai isakan tangis yang tiada henti-hentinya.
Salsa meringkuk dibawah selimut tebal. Membelakangi Dimas.
Jam sudah menunjukan pukul 12.00 malam.
Tetapi Salsa tidak bisa memejamkan matanya.
Pikiran nya tidak menentu. Tatapan yang kosong. Serta wajah yang sembab.
Salsa bangkit dari ranjang. Sebelum keluar Salsa sempat melihat ke arah Dimas yang saat ini tengah tertidur pulas.
Salsa mengelap air matanya. Lalu pergi dari kamar dengan pelan-pelan. Agar tidak menimbulkan suara yang akan membangunkan Dimas nantinya.
Salsa berjalan ke arah Kamar Baby Shireen.
Pelan-pelan Salsa membuka handel pintunya, lalu masuk.
Ia melihat Bik Sum yang tertidur di ranjang.
Salsa pun menghampiri ranjang bayi milik Baby Shireen.
Salsa mengangkat tubuh Shireen dengan penuh hati-hati. Tapi Shireen malah membuka mata nya. Karena merasa terusik. Dan untung saja Shireen tidak menangis.
Dan malah tersenyum ke arah Salsa.
Salsa mengecup kening Putrinya itu. Lalu membawanya keluar kamar.
Salsa berjalan menuruni tangga, dengan menggendong Baby Shireen.
Bella yang ternyata saat ini berada di lantai satu. Begitu terkejut saat melihat bayangan wanita yang menggunakan pakaian panjang berwarna putih, dengan rambut panjang yang tergerai. Apalagi dari bayangan remang-remang Bella dapat melihat sesosok itu datang kearah nya dengan menggendong bayi. Yang kini tengah menuruni anak tangga.
__ADS_1
Pikiran Bella sudah sangat tidak bisa di kondisikan. Ingin kabur tapi hendak kabur kemana? Sementara sesosok itu sudah mendekat ke arah nya.
Bella hanya bisa memejamkan matanya. Berharap bahwa saat ini dia sedang bermimpi.
"Ngapain kamu disini?" suara seorang wanita yang cukup pamiliar terdengar di telinga nya.
Saat Bella membuka matanya. Ternyata ruangan sudah terang. Dan terlihat Salsa yang saat ini tengah menggendong Baby Shireen kini mentatap dengan tatapan datar ke arah nya.
"Mbak!" gumam Bella.
Bella pun langsung menghembuskan nafas lega. Karena ternyata sesosok yang Ia pikir Kuntilanak tadi, adalah Salsa.
"Saya turun kebawah karena haus. Mau ngambil minum ke dapur." jawab Bella tersenyum ke arah Salsa.
Salsa tidak membalas. Dan langsung pergi meninggalkan Bella menuju ke pintu Utama.
Bella langsung saja mengejar Salsa.
"Mbak! Mbak mau kemana? Ini sudah malam." kata Bella panik.
"Aku mau keluar" jawab Salsa.
"Tapi nanti kalau Dimas tau, Mbak nanti bakal di marahin."
"Dimas enggak bakalan marah kalau kamu enggak buka mulut."
"Tapi..."
"Aku mohon sama kamu! Aku stres Bella! Aku stres. Aku bisa gila lama-lama disini." ucap Salsa.
"Jadi aku mohon sama kamu! Tolong jangan kasih tau ke siapa pun kalau malam ini aku pergi! Aku cuman mau nenangin pikiran aku.
Berjanjilah padaku!" lirih Salsa memohon, dengan derai air mata.
"Tapi Mbak mau pergi ke mana?" tanya Bella memegang tangan Salsa.
"Yang pastinya besok aku pasti akan kembali lagi kesini. Jadi, aku mohon sama kamu! Kamu ngerti kan maksud aku? Percayalah padaku! Karena aku tidak pernah mengingkari janji ku." ucap Salsa pelan.
Bella menganggukan kepalanya. Lalu melepas tangan Salsa. Dan membiarkan Salsa pergi. Ia tidak kuasa untuk menahan Salsa. Dan Ia percaya kepada janji Salsa.
"Maafin aku Mbak!" lirih Bella.
Salsa yang mendengar ucapan Bella pun langsung memberhentikan langkah kaki nya.
Salsa membalikan tubuhnya ke arah Bella.
"Tidak perlu meminta maaf! Semua telah terjadi." ucap Salsa pelan.
Bella tidak dapat membendung air matanya.
Saat melihat punggung Salsa yang sudah menghilang dari pandangan nya.
Bella bergegas hendak naik ke atas tangga. Dan hendak memberi tahu Dimas. Soal kepergian Salsa. Karena Ia tidak mau jika nanti nya Salsa akan kenapa-kenapa, soalnya ini sudah tengah malam. Tentu saja pikiran nya tidak akan bisa tenang nantinya. Dan resiko nya juga akan sangat besar. Apalagi Salsa membawa Baby Shireen bersama nya.
Namun saat Bella melangkah kan kaki nya di anak tangga. Tiba-tiba saja Bella merasakan leher belakang nya di tekan dengan sangat kuat. Hingga membuat Bella akhirnya tidak sadarkan diri.
"Sudah kuduga! Kau pasti tidak akan mengingat pesan ku. Meskipun aku sudah memohon padamu." gumam Salsa.
Salsa meletakan Baby Shireen terlebih dahulu di atas Sofa. Lalu Salsa segera memindahkan Bella ke kamar tamu yang ada di lantai 1. Lalu mengunci pintu nya dari luar. Dan membuang kunci nya di bawah kolong meja.
Setelah itu Salsa mengendong Baby Shireen. Dan tersenyum ke arah Putri nya itu. Yang saat ini masih berusia 1/2 Bulan.
__ADS_1