
"Itu bukan urusan ku." ketus Salsa, namun jujur. Hati nya sangat sakit saat mengatakan hal itu.
"Nona saya mohon! Tuan sangat mengharapkan kehadiran Nona."
Salsa terdiam untuk sejenak, dan merenung sebentar.
"Saya akan ke sana.Tapi nanti! Soal nya saya mau ngehubungi Suami saya dulu. Bapak boleh pulang, biar saya pergi sendiri aja." kata Salsa.
"Baik Nona! Ini." 'Pria itu menyerahkan sebuah Kartu Nama nya kepada Salsa.
"Nona nanti bisa menghubungi saya jika sudah sampai di Rumah Sakit." sambung nya lagi.
Salsa pun langsung menerima Kartu Nama itu. Lalu Ia pun mengantarkan Pria itu sampai ke depan pintu utama.
"Terima kasih atas waktu nya Nona Muda."
"Sama-sama Pak. Oh' Ya kalau boleh tau! Bapak siapa nya Ayah saya? Soal nya saya enggak kenal Bapak."
"Saya Pengacara Ayah Nona. Dan nama saya Hendrik."
"Oh! Kalau begitu sampai ketemu lagi di Ruma Sakit Pak Hendrik."
"Baik Nona."
-
Setelah melihat Pak Pengacara itu pergi.
Salsa masuk ke dalam. Ia berjalan menuju ke dapur. Untuk sesaat Salsa duduk terlebih dahulu di sebuah kursi di Meja Makan, untuk menenangkan pikiran nya.
"Ayah!" lirih nya.
Salsa memegangi kepala nya yang terasa sangat berdenyut, dan juga pusing.
Hingga tak terasa air mata nya pun menetes.
Salsa mengambil sepiring Pancake yang sudah matang. Ia pun mengambil garpu dari meja makan. Lalu memakan Pancake nya secara perlahan.
Entah kenapa? tiba-tiba saja rasa Pancake itu terasa hambar, dan tidak enak di mulut. Salsa pun langsung bangkit dari duduk nya. Ia berjalan dengan terburu-buru ke arah Wastafel lalu memuntah kan semua Pancake yang baru saja di makan nya.
Setelah itu Salsa menghidupkan keran air nya untuk membasuh mulut nya. Setelah itu Salsa pun berjalan kembali menuju meja makan. Lalu duduk di kursi nya tadi.
Ia mengambil tisu dari meja makan lalu mengelap kan nya di mulut nya.
"Apa aku demam? Atau mungkin masuk angin." gumam Salsa sambil terus-menerus mengelus tengkuk leher belakang nya.
:)(:
"Nona! Nona mau kemana?" cegah seorang Penjaga, yang melihat Salsa hendak pergi.
"Saya mau ke Kantor Suami saya. Memang nya gak boleh?" ketus Salsa.
Penjaga itu hanya bisa menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Hoh! Boleh Nona, silahkan." kata Penjaga itu, sambil nyengir kuda.
__ADS_1
Salsa hanya bisa melengos lalu masuk ke dalam mobil.
Tok...Tok...Tok... 'Penjagaa itu mengetuk kaca jendela mobil Salsa'
Salsa pun otomatis langsung membuka kaca jendela mobil nya.
"Apa?" ketus Salsa.
"Nona gak butuh Sopir atuh? Nona muda kok gak pernah di sopirin sih."
"Kagak! Udah awas lo! Entar gua tabrak baru tau rasa lo."
Salsa pun langsung melajukan mobil nya, tanpa memperdulikan Penjaga itu.
"Istri Tuan Boss galak ya?" gumam Penjaga itu menggeleng-geleng kan kepala nya.
*****
Salsa memarkirkan Mobil nya di depan Gedung Perusahaan Suami nya.
Langsung saja Ia turun, lalu bergegas langsung masuk ke dalam.
"Ibuk!" sapa Sang Resepsionist.
Salsa pun langsung menoleh, lalu datang menghampiri meja Resepsionist.
"Apa suami saya di dalam?" tanya Salsa dengan tersenyum ramah.
"Loh! Emang nya Bapak kerja?" bukan nya menjawab pertanyaan Salsa. Resepsionist itu malah kembali bertanya.
"Lah! Gimana sih? Suami saya ya' Kerja lah. Nanti kamu salah! Coba cek dulu, siapa tau Suami saya ada Meeting atau janjian sama Klien nya."
Resepsionist itu pun langsung melaksanakan tugas yang di perintahkan oleh Salsa.
Namun Resepsionist itu menggelengkan kepala nya. Salsa yang sudah mengerti pun, hanya bisa menghembuskan nafas berat.
"Em, Mbak! Apa Suami saya memang sering gak ngantor gini?"
"Bapak cuman 1 kali ini aja bolos kerja. Biasa nya enggak pernah, palingan Bapak cuman sering pulang lebih awal aja."
Jantung Salsa terasa berdegup kencang setelah mendengar perkataan Resepsionist itu.
"Bapak enggak pernah lembur kerja, atau nginap di sini?" tanya Salsa lagi memberanikan diri.
"Tidak Buk! Perusahaan ada peraturan nya. Kalau semua harus disiplin dan pulang di jam 5, dan paling lama jam 7 Malam. Dan itu semua berlaku untuk Karyawan, dan juga Boss maupun bawahan Boss yang memiliki pangkat."
"Sejak kapan Pengaturan itu berlaku?"
"Sejak Pak Dimas yang mengontrol Perusahaan nya. Dan pengaturan itu sendiri pun, Pak Dimas lah yang membuat nya." jelas Resepsionist itu.
"Aku bisa minta No Telp kamu gak?" kata Salsa.
"Boleh Buk."
Salsa pun langsung menyerahkan Hp nya kepada Mbak Resepsionist itu. Lalu setelah menunggu beberapa detik. Resepsionist itu pun mengembali kan Hp nya.
__ADS_1
"Makasih banyak Ya' Mbak." kata Salsa.
"Sama-sama! Senang membantu Ibuk." balas Sang Resepsionist sopan.
-
Salsa berjalan dengan lunglai menuju ke parkiran. Ia pun langsung naik ke dalam mobil nya.
Saat ini tujuan nya adalah Rumah Sakit. Tempat Sang Ayah, yang saat ini sedang di rawat.
Salsa mengemudikan Mobil nya di tengah-tengah jalanan yang di penuhi dengan para pengendara lain nya.
Karena memang ini adalah jadwal nya Istirahat para pekerja. Jadi jalanan agak sedikit berkendala.
-
Setelah sampai di Rumah Sakit. Salsa langsung saja turun dari mobil nya.
"Pak! Saya sekarang udah ada di depan Rumah Sakit. Bapak bisa temuin saya sekarang?" ucap Salsa menelpon.
"Oke! Saya akan tunggu." kata nya lagi.
):
):
):
Salsa masuk kedalam Ruang rawat yang sudah di beritahukan oleh Pengacara Hendrik.
Terlihatlah seorang Pria parubaya yang tergeletak lemas di atas ranjang pasien.
Secara perlahan Salsa pun menghampiri Ayah nya. Ia duduk di samping ranjang pasien, lalu Salsa meraih tangan Sang Ayah yang sudah di penuhi oleh kerutan.
Tangan yang dulu nya selalu membangun kan nya di saat Ia terjatuh. Tangan yang dulu nya selalu mengelus kepala nya di saat tertidur.
Salsa mencium tangan Ayah nya, lalu meletakan nya di pipi nya. Hingga tak terasa bulir-bulir air mata pun menetes dengan sendiri nya.
"Sasa." suara lemah Sang Ayah akhir nya pun memanggil nama nya.
Salsa tak kuasa untuk menahan nya lagi. Hingga akhir nya air mata nya pun langsung pecah.
Salsa langsung menghambur memeluk tubuh Sang Ayah yang merupakan Cinta pertama nya itu.
"Maafin Sasa Ayah!" ucap nya dengan terisak.
"Kamu gak salah! Seharus nya Ayah lah yang meminta maaf pada mu Nak."
Salsa pun melepas pelukan nya, serta dengan menghapus air mata di pipi nya.
"Ayah! Are you oke?" tanya Salsa dengan nada suara pelan dan hampir saja tidak terdengar.
"Yes, i' m fine." jawab nya dengan tangan yang mengelus lembut pipi Putri Semata Wayang nya itu.
"Dimana Dimas? Ayah ingin berbicara pada nya."
__ADS_1
Detak Jantung Salsa langsung berdetak dengan sangat kencang saat mendengar nama Suami nya itu di sebut lagi. Padahal dengan susah payah, Salsa mencoba menahan akan melupakan masalah Dimas untuk sejenak. Ia ingin fokus kepada Ayah nya terlebih dulu. Namun setelah mendengar nama Dimas di sebutkan oleh Ayah nya. Membuat fikiran Salsa jadi berkecamuk dan tidak menentu. Semua fikiran Negatif langsung masuk ke dalam Otak nya.