
Salsa terbangun dari tidur nya, Ia menoleh kan kepala nya kesamping.
"Loh! Kok gak ada?" dengan tergesa-gesa Salsa pun langsung bangkit, dan keluar dari kamar.
Salsa menuruni anak tangga dengan cepat-cepat, menuju ke dapur.
"Bik, Bik!" panggil Salsa.
Bik Sum yang mendengar suara Salsa sedang memanggil nya pun langsung meletakan kembali pisau masak nya, dan datang menghampiri Salsa.
"Ada apa?" tanya Bik Sum panik.
"Bibi liat Shireen? Shireen gak ada di kamar Bik."
"Loh! Shireen lagi di taman belakang itu, lagi main-main sama Papa nya." jawab Bik Sum menunjuk ke arah belakang nya.
Salsa pun langsung berjalan ke arah belakang ingin mengecek apakah yang di bilang oleh Bik Suk itu benar.
Salsa menghembuskan nafas lega karena ternyata Shireen tidak hilang. Melainkan sedang bermain-main dengan Papa nya.
Salsa duduk di kursi taman. Ia memegangi Pinggul nya yang terasa sangat pegal.
Dimas yang melihat Salsa duduk di kursi taman, pun langsung berjalan menghampiri Salsa, bersama dengan Shireen yang saat ini sedang di gendong nya.
"Kamu kenapa Sayang? Kok kayak nya gak nyaman gitu?" tanya Dimas, dan langsung duduk di samping Salsa.
"Gak tau Mas! Palingan aku mau Haid. Biasanya kan aku kalok mau dapet juga begini."
"Oh!" Dimas mengangguk.
Dimas memegang kening Salsa.
"Udah gak panas." ucap nya.
Salsa mengangguk.
"Oh! Ya' Mas mau pergi ke Kantor ya!"
"Loh! Kan semalem udah lembur. Kok pagi kerja lagi?" tanya Salsa bingung.
"Kerjaan Mas banyak banget Sayang. Numpuk banget. Kamu ngizinin Mas kan? Kalau Mas enggak kerja, trus siapa nanti yang bakalan kasi kamu makan?"
"Yaudah deh Mas. Hati-hati!" kata Salsa langsung meraih tangan Dimas lalu mencium nya.
Dimas pun meraih kepala Salsa, lalu mengecup nya.
Setelah itu Dimas langsung berdiri, dan menyerahkan Shireen ke pangkuan Salsa.
Dimas mengelus kepala Putri kecil nya itu. "Papa pergi ya Sayang!"
Dan Dimas pun langsung pergi meninggalkan keduanya di taman.
Salsa hanya bisa terdiam, dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Ingin protes tapi Ia tak kuasa.
*****
Di sepanjang perjalanan Dimas mengemudikan Mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata.
__ADS_1
"Ah! Sial." umpat nya memukul setir.
Dimas terus menekan Klakson.
"****! Kenapa mesti macet sih! Mana kerjaan di Kantor numpuk lagi."
Drt...Drt...Drt...'Ponsel berdering'
Dimas pun mengambil ponsel dari saku celana nya.
"Hallo! Kenapa Bell?"
"Ini aku lagi kerja. Oh' Ya! Bell, nanti aku telpon lagi yah! Kalau udah sampek Kantor. Bye!" Dimas langsung mematikan sambungan nya secara sepihak.
*VILA ANDARU*
Bella membanting Hp nya di atas kasur.
"Sial! Kenapa di matiin sih!" gerutunya.
Bella duduk di Sofa, lalu meminum Jus Alpukat yang ada di meja depan nya.
Ia mengambil majalah. Namun beberapa menit kemudian, Bella lamgsung membuang Majalah nya ke sembarang arah.
Bella bangkit. Dan beralih duduk di atas kasur. Ia mengambil kembali Hp nya.
Dan tiba-tiba saja sebuah senyuman terbit di bibir seksi nya.
"Hallo Mas!"
"Enggak kok! Enggak ada masalah apa-apa. Aku cuman. Oh' Ya, Mas! Mas udah nyampek di Kantor?"
"Udah! Kalau belum nyampek di Kantor, mana mungkin aku nelpon kamu."
"Oh! Iya juga yah! Sebenernya aku cuman mau nanyak. Mas nanti malam ke sini kan?"
"Gak bisa Sayang! Aku pasti harus sama Salsa nanti malem." tolak Dimas.
Mendengar jawaban dari Dimas langsung saja membuat wajah Bella langsung berubah sangar.
Bella langsung saja bangkit dari duduk nya.
"Enggak bisa Mas. Kamu gimana sih! Malam ini kan jatah aku, bukan jatah nya Salsa. Aku gak mau tau! Pokok nya kamu nanti malem kamu harus kesini titik." kata Bella dengan nada yang sedikit membentak.
"Mana bisa Bell! Lagian kan tadi malem aku udah ke Vila. Nanti kalau aku lembur tiap malem. Pasti Salsa bakalan curiga."
"Aku gak gak peduli. Itu semua salah dia! Suruh siapa dia semalem ngajakin Mas berantem. Kalok kemarin dia gak ngajakin Mas berantem. Mas semalem kan aturan nya tidur sama dia. Dan pokok nya kalau Mas gak dateng. Jangan harap Mas bisa ketemu lagi sama aku nanti nya!" ancam Bella, dan langsung mematikan sambungan telpon nya.
"Enak aja Salsa! Nanti malam kan bagian aku. Ya' Itu semua resiko dia dong! Suruh siapa jadi orang gak bisa dewasa. Kekanak-kanakan banget." gerutu Bella.
Ia merebahkan tubuh nya di atas kasur King Size yang mewah dan juga empuk.
Bella memejamkan mata nya sejenak.
"Ya' Tuhan! Jadi gini rasanya jadi simpenan Suami Orang. Aku gak tau apakah yang aku lakuin ini salah. Aku ngehancurin kebahagian orang lain, demi kebahagian aku sendiri. Ya' Tuhan! Maafkan hamba mu ini! Bisa kah aku egois untuk sekali ini aja. Aku mencintai Dimas, dan bahkan ingin memiliki nya sendirian. Memiliki nya dengan seutuh nya."
Bella menghela nafas nya sejenak.
__ADS_1
"Mbak Salsa! Kenapa kamu bisa sepolos itu? Dan bisa sebaik itu. Kamu bahkan dengan sesuka rela nya membiarkan Suami kamu dekat dengan wanita lain.
Benar kata orang! Kalau terlalu baik itu juga enggak bagus. Maafin aku ya Mbak! Aku sangat membutuhkan Mas Dimas sebagai penyembuh aku, dan juga sebagai Pahlawan pelindung, dan penyelamat aku." ucap nya lagi.
*Gedung Perusahaan Enternal Group*
Dimas mengacak-acak rambut nya prustasi.
Ia segera meletakan kembali Pulpent yang ada di genggaman nya ke atas meja. Dan langsung segera ke luar dari Ruangan CEO.
Dimas menghampiri meja Sekretaris.
"Bambang! Saya ada jadwal?" tanya nya.
"Tidak ada Pak! Kebetulan hari ini jadwal kosong. Namun besok kemungkinan jadwal akam padat. Soal nya Bapak akan ada banyak kunjungan, serta Rapat Direksi."
Dimas menghela nafas lega.
"Oh! Kalau gitu, saya mau pulang. Saya letih. Semua berkas yang ada di meja kerja saya itu, semua nya sudah di tanda tangani. Jadi kamu bisa kan buat ngeberesin nya? Soalnya saya buru-buru ngejar waktu."
"Oh! Bisa Pak. Saya akan beresin sekarang."
Sekretaris itu pun langsung bangkit dari duduk nya, dan hendak melaksanakan perintah dari Boss nya itu.
Bergitu pun juga Dimas yang sudah hendak melangkah kan kaki nya keluar.
"Pak!" panggil Bambang.
Dimas membalikan tubuh nya.
"Ya' Ada apa?" tanya Dimas.
"Bapak gak lupa kan dengan Jadwal kerja sama dengan Perusahaan Inggris?"
Dimas menepuk jidat nya.
"Oh' Iya! Saya lupa Bambang. Untung aja kamu ingetin."
Dimas pun langsung berjalan menghampiri Sekretaris nya itu.
"Apa saja yang akan di persiapkan?" tanya Dimas.
"Seminggu lagi Bapak akan pergi ke Inggris. Mr Costra meminta, akan bertemu di Ibu Kota Britania Raya."
"London?" tanya Dimas.
"Benar Pak!"
"Oh' Ya, Pak! Apakah Miss Bella?"
'Bambang ingin bertanya namun ragu-ragu'
Alis Dimas bertaut.
"Memangnya kenapa dengan Bella" tanya Dimas bingung.
"Apakah Miss Bella masih bisa di hubungi? Soalnya kita sangat membutuhkan wanita cerdas seperti dia disaat ingin mem Presentase kan kerja sama ini kepada Mr Costra. Dan saya sangat yakin Pak! Kalau Miss Bella ikut bersama Bapak ke Inggris, maka kerja sama antar Perusahaan besar ini akan berjalan dengan sangat lancar." ucap Bambang berpendapat.
"Baik! Saya pertimbangkan nanti." balas Dimas, dan langsung melangkah kan kaki nya pergi keluar.
__ADS_1