
2 Tahun kemudian.
Di Sebuah Hunian Mewah.
"Apa?" ketus Salsa saat melihat Suami nya itu malah senyum-senyum tidak jelas.
"Apa Rafa sama Shireen sudah tidur?" tanya Salsa, dengan mata yang masih fokus membaca buku.
"Sudah dari tadi! Tinggal Papa nya yang belum tidur." jawab Bima sambil tersenyum tidak jelas.
Keduanya saat ini sedang rebahan di atas kasur.
Namun Bima dengan jahil nya malah, meraba-raba perut Salsa.
"Kamu! Awas." ketus Salsa menggeserkan tubuh Bima agar menjauh dari nya.
"Aku mau tidur!" protes Bima.
"Yaudah tidur! Ngapain kayak gitu cobak?"
"Yaudah makanya tidurin! Kalau kamu gak nidurin aku, aku gak bakalan bisa tidur."
"Najis tau gak?"
"Gak!"
"Emang bayi besar!" gerutu Salsa tapi sambil menahan tawa.
"Makanya ayok kita bikin Bayi! Biar aku gak jadi Bayi besar lagi."
"Heh!"
Salsa hendak memukul Bima dengan Buku yang di pegang oleh nya. Tapi Bima sudah lebih dulu menutup wajah nya dengan bantal.
"Ayo kita ke Balkon!" ajak Bima menarik tangan Salsa.
"Apaan sih?" tanya Salsa heran.
Keduanya duduk di sebuah kursi yang berhadap-hadapan.
"Mau pesan apa Nona?" ucap Bima membungkuk kan badan nya berlagak layak nya seperti seorang Pelayan.
"Haha!" Salsa tertawa.
"Oh! Cerita nya kamu lagi Bokek, gak ada Duit. Makanya ngajakin aku Dinner di atas Balkon." kata Salsa.
"Iya! Soal nya Restoran di New York mahal semua."
"Uang kamu hilang baru tau rasa." ketus Salsa.
"Eh! Jangan dong! Kalau nanti aku kere. Kamu pasti bakalan ninggalin aku."
"Masih suka sama Cokelat?" tanya Bima.
"Kopi aja! Aku mau begadang soal nya."
"Tunggu sebentar ya' Nona!"
Bima pun langsung pergi, dari Balkon kamar.
\*A few moments later\*
Bima datang dengan membawa sebuah nampan yang berisikan 2 buah cangkir di atas nya.
Dengan penuh hati-hati Bima meletakan cangkir Kopi itu di atas Meja.
Setelah itu pun Bima langsung duduk di kursi yang berhadap-hadapan dengan Salsa.
__ADS_1
Salsa pun mengambil secangkir kopi dan hendak meminum nya.
"Kamu berubah Propesi ya sekarang!" kata Salsa.
"Iya! Jadi Barista mendadak."
Pupttttt!. 'Salsa menyemburkan kopi nya.'
"Kamu gak kasih gula kan? Kok pahit?"
"Akh! Masa sih?" tanya Bima tak percaya.
"Punya aku manis kok!" sambung Bima lagi.
"Tapi punya aku kok Pahit gini? Coba kamu rasa deh!"
Salsa pun mengarahkan Kopi nya ke arah Bima, dan Bima pun meminum Kopi milik Salsa.
Bima merasai kopi nya sejenak.
"Gimana? Pahit kan?" tanya Salsa.
"Enggak kok! Manis gini, malahan manis banget." jawab Bima.
"Ya' Ampun Bang Bima! Ini tu Pahit banget." protes Salsa.
"Ini enggak Pahit Sayang! Ini manis banget."
"Oke! Enggak-engak. Emang Kopi nya sengaja enggak kasih gula." kata Bima yang akhirnya mengaku, karena sudah melihat wajah Salsa yang berubah jadi masam.
"Tuh kan!" rengek Salsa.
"Karena kalok aku kasih gula lagi, nanti aku nya gak tahan. Soalnya kamu kan udah manis. Ngeliatin wajah kamu aja udah manis banget." goda Bima.
"Haha!" keduanya sama-sama tertawa.
Karena Salsa tau kalau Bima saat ini sedang menatap nya.
"Kamu kok senyum-senyum gitu?" goda Bima.
Salsa melotot kan mata nya, dan langsung berdiri menjewer telinga Bima.
Salsa kembali duduk di kursi nya dengan cemberut.
"Em! Sayang! Sebenarnya ada sesuatu yang pingin aku bilang ke kamu. Tapi kamu janji jangan marah ya." ucap Bima ragu-ragu.
Ekspresi wajah Salsa pun langsung berubah, saat melihat Bima yang sedang serius.
"Jangan bilang! Kalau selama ini ada orang
ketiga di antara kita berdua. Kamu punya wanita lain selain aku. Sumpah! Aku bener-bener gak siap, dan gak akan pernah tau harus ngomong apa lagi ke kamu." ucap Salsa dengan wajah sendu.
"Sebenar nya!"
Bima pun mengambil sebuah Amplop dari kantong jacket nya. Lalu menyerahkan nya ke hadapan Salsa.
"Coba kamu buka!" kata Bima.
"Enggak!" Salsa menolak, dan kembali mengarahkan Amplop tersebut ke arah Bima.
"Aku gak mau! Aku bener-bener gak siap." ucap Salsa lagi.
Salsa membuang wajah nya, dan menghapus air mata nya.
"Sal! Kamu buka dulu dong Amplop nya. Biar kamu tau apa isi di dalem nya."
Dengan ragu-ragu Salsa pun mengambil Amplop itu, dan membuka nya secara perlahan.
"Hah!" Salsa langsung berdiri, dan terkejut saat melihat isi amplop nya.
__ADS_1
"Tara! Kita besok ke London. Welcome to London." kata Bima yang langsung berdiri hendak memeluk Salsa, namun Salsa sudah terlanjur kembali duduk.
"Aku gak bisa!" balas Salsa kembali menyerahkan Amplop yang ternyata berisikan sebuah Paspor.
"Kenapa? Kan London adalah impian kamu dari kecil. Dan kamu selalu berharap kepingin ke sana. Dan sekarang aku pengen ajak kamu ke sana, tapi kamu malah, nolak Sal." kata Bima kecewa.
"Kamu tau kan? Semenjak peristiwa yang menimpa aku sama Dimas. Dimas yang udah ngajakin Bella ke sana, dan semenjak itu aku udah gak berniat lagi buat kesana. Impian aku semua nya udah gak ada."
"Tapi kan itu dulu Sal! Kamu sekarang udah sama aku, bukan sama Dimas lagi. Jadi kamu mau kan pergi sama aku ke London Sayang?" tanya Bima masih berharap.
"Aku bener-bener gak bisa! Maafin aku yah! Kamu mendingan pergi sendiri aja. Aku gak usah ikut."
"Mana bisa! Kan aku mau nya sama kamu."
"Haha!" tawa Salsa pun akhirnya pecah.
"Kamu kok! Ketawa sih Sayang?"
"Oh! Kamu ngerjain aku kan?" kata Bima lagi, dan langsung datang menghampiri Salsa, lalu menjewer telinga Istri nya itu karena sudah jahil dan malah membohongin nya.
"Aduh, aduh! Ampun Pak Misua!" kata Salsa sambil tertawa.
"Kamu nakal ya!" kata Bima cemberut.
"Makanya jangan suka bikin orang jantungan. Aku kirain kamu mau ngasih tau apa, ternyata kamu mau ngajakin aku liburan ke London." balas Salsa mencubit perut Bima.
Keduanya pun tertawa.
Bima menempelkan kening nya, dengan kening Salsa.
"Kamu masih trauma ya? Maafin aku! Karena aku, sengaja." kata Bima dengan tersenyum jahil.
"Aku punya sesuatu yang pengen aku kasih tau ke kamu." ucap Salsa, langsung mendorong tubuh Bima, dan masuk ke dalam kamar.
Bima menatap heran ke arah Salsa. Dan langsung berinisiatif untuk mengikuti Salsa .
"Kamu mau ngapain Sayang? Kamu jangan bikin aku jadi Jantungan gantian." kata Bima panik.
"Kamu ngapain kesini? Udah sana di luar aja." protes Salsa.
Namun Salsa malah melihat Bima yang tetap tidak berkutik, dan malah mengekori nya kemana pun.
Salsa menghembuskan nafas kasar.
"Oke! Tapi kamu tutup mata dulu!" ucap Salsa.
Setelah melihat Bima yang sudah menutup mata nya, Salsa pun langsung berjalan ke arah Lemari dan mengambil sebuah benda kecil lalu menggenggam nya dengan sangat erat.
"Buka!" perintah Salsa.
Saat Bima membuka mata nya, secara bersamaan pula tangan Salsa ada di hadapan nya. Dan di atas tangan Salsa terdapat sebuah Tespack yang sudah bergaris 2.
Bima mengambil Taspack tersebut.
"Maafin aku! Karena baru bisa ngasih kamu Bayi sekarang. Setelah 2 tahun pernikahan, jujurly! Aku belum siap waktu itu. Aku masih trauma, dan dengan sekuat tenaga akhirnya aku pun memberanikan diri untuk membuka Kb secara diam-diam, dan sekarang muncul lah sesosok Malaikat kecil yang dari dulu selalu kamu harapkan untuk hadir di dalam perut aku." ucap Salsa di sertai dengan air mata.
Bima menatap wajah Salsa dengan intens.
Dan setelah beberapa menit kemudian, Bima pun langsung memeluk Salsa.
"Kamu nangis?" tanya Salsa, masih dengan posisi berpelukan.
"Kamu tau? Ini adalah air mata kebahagian." jawab Bima
Kedua nya pun melerai pelukan nya.
"Makasih banyak karena kamu mau mempercayai aku." ucap Bima dengan penuh rasa haru.
"Harus nya aku yang berterima kasih sama kamu. Karena kamu udah mau bersabar ngehadapin aku. Kamu bersabar, dan nunggu sampai aku benar-benar mau buat ngandung anak kamu. 2 Tahun bukan lah waktu yang cepat. Tapi kamu sama sekali gak pernah nuntut apapun ke aku. Mungkin kalau cowok lain yang ada di posisi kamu, mereka pasti udah ninggalin aku. Tapi kamu enggak! Kamu selalu bersabar, dan ngebantu aku buat bangun dari rasa ketakutan, dan trauma yang ada pada diri aku." ucap Salsa dengan tangis yang menyertai.
__ADS_1