
"Nona! Nona." seseorang Suster tiba-tiba saja berlari datang menghampiri Salsa.
Salsa pun langsung bangkit dari duduk nya, dengan menggendong Shireen.
"Ada apa Sus?" tanya nya panik.
"Tuan Siregar sedang keritis."
"Apa!" Salsa langsung syok, dan juga terkejut.
):
Langsung saja Salsa bergegas lari masuk kedalam Rumah Sakit. Sementara Shireen saat ini sedang Ia titipkan kepada Suster.
Salsa hendak masuk kedalam Ruangan Rawat Sang Ayah. Namun langkah nya langsung terhenti saat melihat Dokter, serta beberapa Perawat yang sedang mendorong sebuah Brankar menuju keluar Ruangan.
Jantung Salsa langsung berdetak dengan kencang, dan tak karuan.
Perlahan Ia mendekat kearah Berankar itu. Lalu, dengan penuh tekad, Salsa pun membuka kain putih nya. Dan terlihat lah wajah pucat Sang Ayah yang saat ini sudah tidak bernyawa lagi, atau telah tiada.
"Enggak, engak! Ini gak mungkin." Salsa menggelengkan kepala nya tak percaya.
"Ayaaaaaahhh!....." Salsa menjerit histeris.
):
*****
):
"Salsa!" panggil Dave menyentuh pundak Salsa.
Salsa langsung menoleh kan kepala nya sejenak.
"Ayo kita pulang! hari sudah mulai gelap." ucap nya pelan.
"Enggak Dave! Aku gak mau. Aku mau tetep di sini sama Ayah." lirih Salsa.
Dave langsung berjongkok di samping Salsa. Suasana Pemakaman saat ini sudah sunyi. Hanya tinggal mereka berdualah yang berada di sana.
"Kamu sayang kan sama Ayah kamu?" tanya Dave pelan.
Salsa pun mengangguk.
"Jadi Ikhlaskan lah! Ayah mu sudah bahagia di sana."
Salsa mengelap air mata nya, lalu Ia pun segera bangkit. Dan begitupun juga Dave. Kedua nya pergi melangkah, meninggalkan lokasi Pemakaman itu menuju ke Mobil.
Kedua nya pun langsung saja masuk ke dalam mobil.
-
Di sepanjang perjalanan.
Salsa terus saja mencoba menelpon Suami nya. Namun Nomor nya tidak kunjung Aktif, dan selalu berada di luar jangkauan.
__ADS_1
Dave menoleh ke arah Salsa.
"Belum di angkat?" tanya nya.
Salsa menggeleng kan kepala nya.
"Mungkin Dimas ada perkerjaan mendadak. Atau gak! Coba kamu telpon Kantor nya."
Salsa pun mengangguk. Ia mencari Nomor Resepsionist kemarin. Lalu memanggil nya.
"Hallo Mbak! Saya Salsa."
"Oh! Ibuk Salsa. Iya! Ada yang bisa saya bantu Buk?"
"Apa Pak Dimas ada di Kantor?"
"Dari semalam Pak Dimas sama sekali tidak masuk Kantor Buk. Dan bahkan Telpon nya tidak aktif. Mungkin, Bapak sedang ada urusan penting, yang tidak bisa di ganggu." kata Resepsionist itu dari seberang sana.
"Makasih atas Info nya."
Tut... 'Salsa pun langsung mematikan sambungan Telpon nya.
Salsa harus menelan pahit nya kekecewaan di hati nya.
Ia menatap ke arah luar jendela, dengan pandangan hampa, bercampur dengan kesedihan. Yang sangat mendalam.
):
Mobil yang di kendarai oleh Dave. Sudah sampai, di depan Mansion Utama. Langsung saja Dave memakai topi hitam nya.
Dan Salsa pun juga langsung dari mobil.
"Sama-sama." balas Dave tersenyum ke arah Salsa.
Salsa hanya bisa membalas senyuman Dave dengan senyuman kecil. Lalu Ia pun langsung bergegas masuk ke dalam Mansion.
Sementara Dave, setelah melihat Salsa masuk ke dalam. Dave langsung saja hendak menjalankan mobil nya. Namun, tiba-tiba saja ponsel nya berdering.
"Hallo Pa!"
"Iya ini Dave lagi di jalan mau pulang, jadi sabar ya." kata nya lagi.
Dave pun kembali memasuk kan Hp nya di dalam saku celana, dan langsung menjalankan mobil nya.
-
"Dari mana aja kamu?" suara Dimas, tiba-tiba saja langsung membuat Salsa terkejut.
Entah karena melamun atau apa. Sampai-sampai Salsa tidak menyadari kalau Dimas saat ini sudah berdiri di ambang Pintu Utama.
"Mas!" lirih Salsa.
"Iya! Aku tanya dari mana aja kamu? Udah mulai berani ya? Pulang sama cowok."
Salsa hanya memutar bola mata malas. Dan langsung menarik tangan Dimas masuk kedalam.
__ADS_1
"Udah nanyak nya?" ucap Salsa pelan.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku."
"Kamu gak perlu nunggu jawaban dari aku, karena jawaban aku itu ada pada diri kamu sendiri." kata Salsa menunjuk ke arah Dimas.
"Sekarang aku mau tanyak sama kamu gantian. Selama 2 hari ini kamu kemana aja? Hah!"
"Aku kerja lah! Kamu kan tau kalau aku sering lembur di Kantor.Kenapa kamu pakek nanyak lagi? Kamu bego apa gimana?"
"Kamu yang Bego!" bentak Salsa menunjuk muka Dimas.
"Kamu kerja? Kerja di Perusahaan?" tanya Salsa lagi. "Yakin?" tekan nya.
"Kamu gak percaya sama aku. Istri macam apa kamu ini? Kamu pergi sama cowok lain. Dan seharus nya aku yang curiga sama kamu, bukan nya malah kamu yang nyurigain aku begini." bentak Dimas.
"Kamu munafik." bentak Salsa.
Salsa menggelengkan kepala nya.
"Kamu bohong tau gak? Bisa-bisa nya kamu bilang kalau selama 2 hari ini kamu kerja di Kantor. Sedangkan aku kemarin dateng ke Kantor kamu, tapi kamu gak ada." bentak Salsa dengan penuh amarah.
"Aku...,"
"Diam!" bentak Salsa memotong ucapan Dimas.
"Dan bahkan yang lebih parah nya aku tanya ke Resepsionist kamu, kalau Perusahaan itu punya peraturan, dan ngelarang buat lembur. Jadi selama ini kamu bohong sama aku?"
"Kamu ngomong apa sih?" elak Dimas.
"Kamu emang Cowok brengsek yah! Udah jelas-jelas aku dateng ke Perusahan kamu, tapi kamu tetep enggak mau ngaku. Aku. nelpon kamu berkali-kali, tapi Hp kamu tetep kamu Nonaktifkan."
"Kamu gak jelas banget sih jadi orang."
"Kamu yang gak jelas." bentak Salsa menunjuk muka Dimas.
Dimas hendak pergi meninggalkan Salsa. Namun Salsa langsung saja menarik tangan Dimas, hingga membuat Dimas pun langsung menghadap ke arah nya.
"Jawab pertanyaan aku! Selama 2 hari ini kamu dimana?" bentak Salsa.
"Aku Kerja di Kantor! Apa kamu pikir kantor aku cuman ada 1? Kamu tau kan kalau Kantor aku ada dimana-mana? Bahkan sampai ke Luar Negri pun. Kantor Anak Cabang Enternal ada di mana-mana. Puas!" bentak Dimas dengan suara yang sangat kuat.
Hingga membuat Salsa pun langsung terkejut, dan terdiam tidak bisa berkutik.
Salsa mengatur Nafas nya sejenak, dan duduk di kursi tunggal yang ada di sana.
Ia memegangi kepala nya yang saat ini sedeng berdenyut, dan pusing.
Salsa membiarkan Dimas pergi begitu saja. Rasa sakit di kepala, serta di perut nya membuat Salsa tidak sanggup untuk mencegah Dimas lagi.
-
"Mas! Mas, kamu mau kemana?" tanya Salsa, langsung bangkit dan menghampiri Dimas yang saat ini sedang berjalan dengan menggeret sebuah Koper besar.
"Aku mau ke London. Kamu gak papa aku tinggal sendirian di sini kan?"
__ADS_1
"Ke London? Ngapain Mas?"
"Aku ada urusan." jawab Dimas datar.