
Malam pun tiba.
Dimas dan juga Salsa pun saat ini sedang berada di meja makan untuk makan malam bersama.
"Bik!" panggil Salsa.
"Iya! Ada apa Non?" tanya Bik Sum.
"Bella mana? Kok enggak ikut makan?" tanya Salsa.
"Oh! Mungkin Non Bella masih di kamar. Nanti Bibi akan panggil, dan suruh Non Bella buat makan bersama." jawab Bik Sum.
"Oh! Yaudah Bik! Kalau gitu." kata Salsa.
Bik Sum pun langsung naik ke atas untuk memanggil Bella.
Beberapa saat kemudian.
Bella pun datang ke meja makan.
"Mbak nyari aku?" tanya Bella sopan.
"Iya! Kamu kenapa enggak makan? Sini duduk!" kata Salsa menepuk kursi yang ada di samping nya.
Dengan ragu-ragu Bella pun akhirnya menuruti perkataan Salsa.
Namun untuk sejenak. Bella menatap ke arah Dimas, yang saat ini juga tengah menatap ke arah nya.
"Ayo makan!" ucap Salsa.
"Ah! Iya Mbak." Bella pun langsung Spontan membalikan piring yang ada di depan nya. Dan mulai mengambil Nasi, dan juga Lauk Pauk yang sudah tersedia di meja makan.
"Oh, ya! Bella! Apa rencana kamu setelah ini?" tanya Salsa.
Bella pun langsung memberhentikan aktivitas makan nya, lalu beralih menatap ke arah Salsa.
"Aku juga enggak tau Mbak! Yang pasti nya setelah Papa sama Mama aku pulang ke Kanada. Aku dan juga Rafa pasti akan pergi dari sini."
"Lalu gimana dengan Bima? Kamu eng...,"
"Sayang!" panggil Dimas. Dan menggenggam tangan Salsa.
Salsa dan juga Bella pun langsung spontan menoleh ke arah Dimas.
"No!" ucap Dimas menggelengkan kepalanya ke arah Salsa.
Salsa kemudian beralih menatap Bella.
"Maafin ya! Aku bukan bermaksud buat ngungkit Masa Lalu kamu lagi." kata Salsa merasa bersalah.
Bella pun tersenyum ke arah Salsa.
"Enggak apa-apa kok Mbak! Sebenarnya aku juga masih berharap sama Bima.Tapi kayak nya gak mungkin bakalan terjadi lagi! Soal nya untuk ketemu dia aja susah."
Salsa jadi merasa kasihan dengan Bella.
"Em! Gimana kalau misal nya! Dimas yang bantuin kamu buat ketemu sama Bima. Dan aku yakin Dimas pasti bakalan bisa bantu kamu! Karena Dimas punya kuasa yang enggak kalah besar." kata Salsa berpendapat.
"Iya kan Sayang?" tanya Salsa kepada Dimas.
"E-enggak perlu Mbak! Aku enggak mau ngerepotin sama sekali. Kalian udah banyak ngebantu aku soalnya!" tolak Bella.
__ADS_1
"Enggak kok! Kamu enggak ngerepotin. Yang ada aku seneng tau! Karena udah bisa bantuin kamu."
Bella pun hanya bisa mengangguk pasrah. Pertanda setuju.
"Oh, ya! Aku denger dari Bik Sum kalau kamu itu tiap pagi nya kerja ya? Emang nya kamu kerja di mana?" tanya Salsa penasaran.
"Iya Mbak! Tapi itu dulu. Sekarang aku udah enggak kerja lagi!" jawab Bella.
"Kenapa?" tanya Salsa.
"Aku di Pecat Mbak. Karena udah 3 hari aku Mangkir kerja! Soalnya waktu itu Rafa demam, dan di tambah dengan Masalah nya Mbak sama Mas Dimas."
"Kamu kan anak Orang Kaya! Kenapa kerja?" tanya Salsa heran.
"Aku enggak punya uang lagi. Dan aku harus ngumpulin Uang, buat modal aku pergi nanti. Selama aku nikah sama Dimas. ATM aku udah di berhentikan sama Papa!"
Salsa pun langsung beralih menatap Dimas.
PLAK. 'Salsa memukul tangan Dimas.'
"Aw! Apaan sih Yang? Kok kamu main pukul-pukul aja?" protes Dimas.
"Kamu enggak kasih Bella uang?" tanya Salsa.
Namun Dimas hanya mengedikkan bahunya dengan cuek. Dan malah dengan asik nya memakaan daging yang ada di piring milik Sala.
Salsa pun langsung mencubit perut Suami nya karena gemas.
"Aw! Enggak Sayang! Aku emang enggak kasih Bella uang. Lagian Bella kan gak mintak! Dan juga dia bisa kerja."
"Ck! Kamu kok gitu sih jadi Cowok? Kamu gak kasian sama Bella?" protes Salsa.
"Ya' kamu harus nya peka dong! Kamu kasih dia uang! Yakalik masak dia harus minta ke kamu. Nanti pasti kamu bakalan bilang kalau Bella itu Matre." ketus Salsa sambil mengiris daging nya dengan kasar. Lalu memasukan daging yang telah di iris kedalam mulut nya.
Dimas tertawa geli melihat Istri kecil nya itu yang sedang merajuk.
Hingga tanpa sadar, Bella pun tersenyum saat melihat kemesraan di antara Salsa dan juga Dimas.
"Eh! Mas!" panggil Salsa.
"Hm! Apa lagi? Udah selesai ngambek nya?"
"Ih! Kamu apaan sih? Aku cuman mau bilang!"
"Yaudah bilang, tinggal bilang aja kok susah!"
Salsa pun langsung menjewer telinga Dimas.
"Aku serius Mas!" rengek Salsa.
"Iya, iya! Ada apa? Cepetan bilang ke Mas!"
"Kamu bukan nya bilang ke aku kalau kamu butuh Sekretaris ya buat di Kantor kamu? Karena kan Dion udah berhenti dan sekarang udah jadi Ceo di Perusahaan Papa nya!"
"Iya! Emang nya kenapa?" tanya Dimas, sambil mengiris daging di piring nya.
"Gimana kalau misalnya Bella yang jadi Sekretaris kamu untuk sementara! Kan bisa sekalian nanti waktu pergi ke Kantor. Lagian kan, gaji di Perusahaan kamu gede Mas!" kata Salsa memberi pendapat.
Dimas pun langsung menghentikan aktivitas nya sejenak. Lalu beralih menatap Bella. Dan setelah beberapa detik kemudian Dimas kembali menatap ke arah Salsa.
"Enggak Sayang! Aku enggak bisa!" 'Dimas berbicara dengan nada lembut'
__ADS_1
"Kenapa? Kok gak bisa? Harus bisa lah! Kamu ini gimana sih Sayang?" ketus Salsa.
"Bu...," ucapan Dimas langsung terhenti saat melihat Salsa yang menunjukan wajah memohon kepadanya.
Dimas pun menganggukan kepalanya.
"Oke! Mulai besok! Kamu Bella."
'Dimas menunjuk ke arah Bella'
"Kamu akan kerja di Kantor saya sebagai Sekretaris!" sambung Dimas lagi.
Salsa pun tersenyum senang. Dan langsung beralih menghadap ke arah Bella.
"Yaudah! Kalau gitu kamu pergi bareng aja besok sama Dimas! Kalau soal Rafa biar Mbak yang jagain." ucap Salsa kepada Bella.
Bella pun tak sanggup berkata-kata lagi. Saat melihat ketulusan dari Salsa.
"Makasih banyak Mbak!" ucap Bella terharu.
"Sama-sama! Semoga kamu bisa melewati ini semua ya!" balas Salsa dan langsung memeluk Bella.
Setelah berpelukan. Tak lupa Bella pun mengucap kan Terima Kasih kepada Dimas.
"Makasih banyak ya Mas!" ucap nya.
Dimas pun tersenyum ke arah Bella, dan menganggukan kepalanya.
*****
"Sayang!" panggil Dimas.
"Iya!" sahut Salsa.
Keduanya saat ini tengah berada di dalam kamar.
"Kamu gak cemburu kalok aku sama Bella Kerja bareng? Mana satu ruangan lagi." kata Dimas.
Salsa pun langsung datang menghampiri Dimas yang saat ini sedang duduk di atas Ranjang. Salsa pun ikut duduk di samping Dimas.
Salsa hanya bisa tertawa geli.
"Kamu kok jadi Narsis gini sih?" tanya Salsa mencolek pipi Suami nya itu.
"Bukan Narsis Sayang! Gimana nanti kalau misalnya aku Jatuh Cinta sama Bella? Karena udah terlanjur sering bersama jadi nyaman deh!" ucap Dimas mencoba untuk memancing Salsa.
"Haha! Oke! Aku tau kamu itu cuman mancing-mancing aku kan? Supaya aku cemburu, dan batalin niat agar Bella gak jadi kerja jadi sekertaris kamu. Ngaku! Hayo!"
"Ck! Bukan!"
"Bukan apa? Jujur aja? Gak papa" goda Salsa.
Dimas pun menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Iya sih! Aku cuman gak nyaman aja gitu. Soalnya kan aku gak pernah punya Sekretaris Cewek. Jadi kayak agak susah nanti!" kata Dimas.
"Alah!" Salsa pun bangkit.
"Lebay kamu! Lagian Bella jadi Sekretaris kamu cuma sementara aja kok. Tapi nanti gaji Bella kamu lebihin ya!" sambung Salsa lagi.
"Iya!" jawab Dimas pasrah.
__ADS_1