BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela

BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela
Sakit hati


__ADS_3

Selama beberapa hari ini Salsa selalu murung, dan tidak bersemangat untuk menjalankan aktivitas nya.


Saat ini Salsa sedang duduk di sebuah kursi, Ia melamun. Memikirkan Dimas.


Salsa mengambil telpon kabel yang ada di atas meja depan nya.


Ini sudah kesekian kalinya Salsa mencoba menghubungi Dimas untuk menanyakan kabar. Namun tak juga di angkat.


Salsa pun bangkit dari duduk nya dengan lunglai menuju ke arah jendela. Ia membuka tirai jendela nya. Lalu menatap ke arah luar.


"Kenapa Hp kamu gak aktif? Padahal cuman bisa denger suara kamu 1 detik aja itu udah cukup buat aku. Aku kuwatir sama kamu." lirih Salsa.


Salsa hanya bisa menghembuskan nafas berat.


........................*************.......................


Seminggu berlalu begitu cepat.


Tak terasa hari ini Dimas akan pulang ke Mansion.


"Aku pulang ya Sayang!" pamit Dimas kepada Bella.


Namun Bella saat ini masih betah memeluk tubuh Suami nya itu.


Kedua nya saat ini tengah berada di halaman Vila.


"Kok! Cepet banget sih waktu itu berputar? Padahal aku masih kangen! Waktu bisa di putar balik gak ya?" ucap Bella.


Dimas hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan nyeleneh Bella.


"Ya' Gak bisalah!" jawab Dimas menyolek hidung Bella.


"Lagian kan cuman 1 malam ini aku pulang. Besok aku udah balik ke sini lagi."


"Yaudah deh! Sana pergi!" ketus Bella mendorong tubuh Dimas, lalu Bella membuang muka nya.


"Dih! Ngambek. Kayak Bocah." ejek Dimas.


Bella langsung melotot kan matanya, dan hendak memukul Dimas.


Namun Dimas sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Dimas!" rengek Bella menghentak-hentakan kaki nya di tanah.


"Apa?" jawab Dimas membuka kaca jendela mobil nya.


"Da,da" Bella melambaikan tangan nya dan juga tersenyum ke arah Dimas.


Dimas pun membalas senyuman Bella.

__ADS_1


lalu kembali menutup kaca jendela mobil nya. Dan Dimas langsung saja menjalankan mobil nya.


Bella pun hanya bisa mengembangkan senyuman nya. Disaat melihat mobil Dimas mulai menjauh dari Vila.


*****


Sementara kini di dalam Mobil.


Dimas mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang. Sambil tangan nya merogoh saku celana nya, dan menyalakan kembali Hp nya. Sudah 1 minggu ini Dimas memang sengaja menonaktifkan Hp nya.


Karena Dimas sudah bisa menebak kalau Salsa pasti akan terus menghubungi nya.


Dimas tidak mau jika nanti waktu nya bersama Bella. Harus terganggu oleh Salsa yang sangat bawel.


Dan benar saja dugaaan nya. Sudah ada 800 panggilan dari Istri nya. Dan bahkan belum lagi SMS yang di kirimkan Salsa. sangat begitu banyak


ISI SMS DARI SALSA.


"*Sayang kamu udah sampek belum?"


"Sayang angkat telpon aku!"


"Kamu marah sama aku."


"Plis! Aku kuwatir sama kamu"


Dan lain sebagai nya*.


Mobil yang di kendarai oleh Dimas sudah sampai di Mansion. Penjaga langsung saja membuka kan pagar untuk Tuan Muda mereka.


Setelah Mobil Dimas terparkir rapi di Halaman Mansion. Dimas langsung saja membuka pintu mobil, lalu keluar dan setelah itu Ia pun kembali menutup pintu mobil nya.


Dimas membuka kaca mata hitam nya.


Dan masuk ke dalam Mansion.


Salsa yang saat ini sedang duduk di sofa saat melihat Dimas pulang. Langsung saja Ia datang menghampiri Suami nya.


"Mas!" panggil Salsa dengan antusias.


Dan Salsa hendak langsung memeluk Dimas. Namun tangan Dimas mencegah, dan malah mendorong tubuh Salsa pelan.


Salsa menatap heran.


"Aku capek!" kata Dimas datar.


"Kamu mau mandi air hangat? Atau kamu mau makan, atau minum? Atau..."


"Plis! Salsa aku capek." bentak Dimas memotong perkataan Salsa.

__ADS_1


Salsa menatap Dimas tak percaya.


"Aku ngomong bagus-bagus ke kamu kok! Aku enggak ada ngomong keras ke kamu. Tapi kenapa kamu malah ngebentak aku?"


"Aku..."


"Aku belum selesai bicara Mas!" potong Salsa.


"Apa susah nya kamu ngomong pelan ke aku? Gak usah ngebentak kayak gitu!


Hati aku sakit Mas! Waktu kamu ngebentak aku. Seharusnya itu aku yang marah, bukan kamu! Aku telpon kamu berkali-kali tapi kamu enggak angkat. Aku kirim pesan ke kamu! Tapi kamu enggak bales. Jangan kan ngebales! Negbaca aja kamu enggak Mas! Bahkan Hp kamu, kamu matiin. Kamu sengaja apa gimana?"


ucap Salsa pelan.


"Aku kerja Salsa! Kamu tau aku kerja, tapi kamu masih ngehubungin aku. Kamu kan tau kalau aku paling enggak suka kalau waktu aku lagi sibuk, tapi aku harus di ganggu sama kebawelan kamu."


"Hari pertama ke Korea Selatan kamu kerja? Mana mungkin hari pertama kamu baru sampek, kamu langsung kerja. Aku ngehubungin kamu, buat nanya tentang kabar kamu. Apa kamu udah sampek belum? Kamu tau pikiran aku gak bisa tenang selama 1 minggu ini. Gara-gara mikirin kamu. Tapi kamu yang di pikirin enggak tau diri!" kata Salsa dengan nada sedikit keras.


"Aku enggak nyuruh kamu buat mikirin aku."


"Karena aku sayang sama kamu! Aku khawatir sama kamu. Tapi kamu enggak mau ngerti sama perasaan aku." bentak Salsa.


"Kuwatir itu gak bikin susah Salsa. Khawatir itu gak ngeganggu, khawatir itu gak bikin aku jadi risih! Kamu tau? Aku benci sama sifat kamu yang terlalu lebay kayak gitu. Di hari pertama aku capek habis dari perjalanan jauh, jadi aku butuh Istirahat! Bukan butuh kebawelan kamu. Puas!" bentak Dimas dengan suara yang menggelegar.


Jantung Salsa langsung berdetak dengan kencang. Nafas nya langsung tercekat.


"Harus nya kamu itu bersyukur! Aku capek kerja buat kamu, dan kamu harusnya tau diri! Jangan ngeganggu aku waktu aku lagi ada di luar. Karena itu aku lagi nyari makan buat kamu." sambung Dimas lagi, masih dengan nada yang membentak.


"Kamu ngungkit Mas?" lirih Salsa.


"Iya! Aku ngungkit karena kamu yang duluan nyari masalah sama aku!"bentak Dimas.


"Tapi itu udah kewajiban kamu buat nafkahin aku. Kalok kamu enggak mau kasih nafkah ke aku, harus nya kamu enggak usah nikahin aku." ucap Salsa dengan suara yang tak kalah keras nya. Nafas nya terasa memburu, dada nya terasa sangat sesak.


"Sekali lagi kamu berani ngeganggu aku waktu di jam kerja. Aku gak akan segan-segan sama kamu." tekan Dimas.


Salsa menatap Dimas dengan tersenyum miris.


"Kamu ngancem aku Mas? Aku enggak akan pernah takut sama anceman kamu. Kamu mau ngebunuh aku! Bunuh aku sekarang Mas!" bentak Salsa mengguncang-guncangkan tubuh Dimas.


"Cuman karena aku ngehubungin kamu. Kamu sampai tega nya ngebentak , dan bahkan sampai ngancem aku. Seberapa Istimewa nya kerjaan kamu itu. Sampai-sampai kamu tega ngabaikan Istri kamu."


"Karena kerjaan aku lebih berharga dari pada kamu. Kerjaan aku bisa ngehasilin uang, sementara kamu, kamu cuman bisa ngasilin masalah terus." bentak Dimas.


Tangis Salsa pun pecah.


"Mungkin aku ini gak ada apa-apa nya di mata kamu Mas. Aku memang sadar kalau aku ini cuman anak buangan yang kamu pungut, dan kamu jadiin Istri. Dan itu pun terjadi karena kesalahan satu malam." lirih Salsa.


"Bagus kalau kamu sadar diri." ucap Dimas dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Dimas pun langsung pergi meninggalkan Salsa sendirian. Menuju ke dalam kamar.


__ADS_2