
"Gimana perasaan kamu?"
Mama Dinda tiba-tiba saja datang dari arah belakang Dimas.
"Kamu lihat Istri kamu sekarang! He's not fine now. He's broken! Is that what you want? You are a man who has no feelings.
Bahkan sedikit perasaan kamu pun gak ada." ucap Mama Dinda dengan ekspresi wajah yang di penuhi kesedihan.
Terjemahan:
(Dia gak baik-baik aja sekarang. Dia hancur! Itu kan yang kamu mau? Kamu adalah seorang Pria yang tidak punya perasaan.)
Dimas terus memandangi wajah Sang Istri dari arah kejauhan. Yang saat ini sedang duduk di taman bersama Dave.
Dimas pun akhirnya mulai memberanikan diri untuk melangkah mendekat ke arah Salsa.
Dave yang melihat Dimas datang. Ia pun memutuskan untuk pergi dari sana. Dave paham, mungkin Dimas ingin mengatakan sesuatu.
Dimas pun berjongkok di hadapan Salsa.
Lalu Dimas pun meraih kedua tangan Salsa, dan menggenggam jari-jemari nya dengan sangat erat.
"Seandai nya aja aku tau kalau semuanya bakalan terjadi kayak gini. Mungkin aku gak bakalan mau ngambil langkah ini." ucap Dimas pelan.
__ADS_1
Salsa pun langsung terkejut, saat baru menyadari. Kalau orang yang memegang tangan nya saat ini adalah Dimas. Bukan Dave.
Nafas Salsa langsung memburu.
"Kamu pergi dari sini! Aku bilang pergi! Apa yang udah kamu lakuin ke aku, semuanya gak sebanding dengan perminta maafan serta rasa penyesalan yang ada pada diri kamu. You don't really love me do you? Kamu cinta nya sama Bella, bukan sama aku. Apalagi setelah keadaan aku kayak gini! Kamu pasti bakalan ninggalin aku. Aku tau itu! Jadi lebih baik! Dari pada hati aku bertambah sakit. Mendingan aku dulu yang ucapin kalimat ini dulu, di banding nanti kamu duluan yang ngucapin. Aku mau pisah!"
"Sampai kapan pun aku gak akan pernah mau kita berdua pisah." tekan Dimas dengan di sertai air mata yang sudah mengalir deras.
"Plis! Harus dengan cara apa lagi aku harus mohon ke kamu? Supaya kamu mau cerikan aku. Aku udah gak bisa! Aku udah gak bisa jadi Istri yang sempurna lagi buat kamu. Bahkan di saat keadaan aku belum kayak gini aja kamu tega ngeduain aku. Apalagi setelah keadaan aku kayak gini. Aku gak bisa ngebayangin, apa yang bakalan terjadi setelah nya. Dan bahkan aku gak mau untuk ngebayangin nya, karena hati aku udah cukup sakit sampai disini."
"Enggak, sampai hidup dan mati aku, aku gak bakalan pernah mau menceraikan kamu. Mana janji kamu dulu yang kamu ucapin ke aku kalau kamu bakalan marah sama Tuhan kalau sampai suatu hari kita berdua bakalan berpisah. Tapi kenapa kamu malah ingkari janji kamu sendiri. Dan kamu sendiri lah yang meminta perpisahaan ini ada." kata Dimas pelan.
"Seandai nya aku bisa tarik semua kata-kata aku waktu itu. Aku gak akan pernah mau ngucapin semua kata-kata busuk itu. Dimana aku harus marah sama Tuhan, jika Tuhan harus membuat kita berudua berpisah. Dan bahkan waktu itu aku sempat berfikir, kalau aku gak sanggup hidup tanpa kamu, dan lebih memilih untuk mati. Dari pada harus berpisah dan kehilangan kamu.
Tapi sekarang, aku tarik semua kata-kata aku. Dan seandai nya aku bisa memilih, antara hidup dan mati. Aku pasti bakalan memilih untuk mati, dari pada harus kembali sama kamu lagi. Udah cukup penderitaan aku selama ini! Aku gak mau harus dikhianati lagi, dan aku gak mau lagi jika harus, terus-menerus di bohongi. Semua nya udah cukup Mas! Cukup!" bentak Salsa.
'Salsa menghapus dengan kasar air mata nya sejenak.'
"Ayah! Ayah adalah orang yang selalu aku harapakan untuk menjadi orang yang aku cintai, yang bisa membawa aku ke sana. Tapi semua nya putus! Harapan aku putus. Dan setelah itu kamu datang! Kamu datang untuk menawarkan untuk membangun harapan itu kembali. Dan setelah aku berharap sama kamu. Karena kamu lah orang yang aku cintai setelah Ayah. Yang aku harapin setelah Ayah untuk bisa membawa aku ke sana! Ke London. The city of London is the city of my dreams, Dimas! My dream since childhood! Dengan kamu membawa Bella kesana. Itu sama aja kamu udah ngehancurin impian aku. Kamu tau kan? Kalau City of London adalah impian aku. Dan terus kenapa kamu bawa Bella kesana? Bukan nya aku." bentak Salsa.
"Itu semua gak sama dengan apa yang kamu pikirin." lirih Dimas.
"Kamu tau? Apa yang jadi alasan aku kenapa harus City of London yang menjadi impian aku."
__ADS_1
'Salsa menarik nafas nya sejenak sebelum akhirnya Ia kembali berkata.'
"Karena dari sanalah awal dari kebahagiaan aku. Aku di lahirkan di sana! Kota London, adalah tempat dimana Bunda, dan juga Ayah bertemu. Dan Bunda menjadi kan Kota itu sebagai tempat favorit nya. Dan asal kamu tau? Apapun yang menjadi alasan kebahagiaan dari Bunda. Maka dari situ juga lah muncul rasa kebahagiaan di hati aku." ucap Salsa pelan.
"Sayang!" panggil Mama Dinda yang secara tiba-tiba datang ke arah Salsa.
"Pergilah Dimas! Kau hanya bisa memperburuk semua nya." ketus Mama Dinda.
Dimas pun langsung bangkit.
"Pergilah ke dalam! Papa ingin berbicara empat mata padamu." bisik Mama Dinda.
"A-Aku pergi dulu ya!" pamit Dimas kepada Salsa.
Namun Salsa hanya diam saja.
Setelah kepergian Dimas. Mama Dinda pun langsung duduk di samping Salsa.
"Are you oke?" tanya Mama Dinda lembut.
Dengan tangan yang menghapus air mata Salsa.
Mama Dinda pun langsung meletakan kepala Salsa menyender di bahu nya.
__ADS_1
"It's oke! Semuanya akan baik-baik saja. Ada Mama disini yang selalu siap membela mu Nak. Mama pasti tidak akan pernah mau membela sebuah kesalahan. Meskipun kesalahan itu di perbuat oleh anak kandung Mama sendiri. Mama akan ada untuk kamu!"
CUP. 'Mama Dinda mengecup kening Salsa, dan langsung memeluk Salsa dengan penuh rasa kasih sayang layak nya seorang Ibu kandung, terhadap Putri nya.'