BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela

BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela
Hilang


__ADS_3

Pagi hari nya.


Dimas pun terbangun karena mendengar suara berisik dari luar kamar. Dimas pun bangun lalu berjalan keluar kamar.


Saat Dimas membuka pintu. Ternyata sudah ada Bik Sum yang ada di depan hendak mengetuk pintu kamar.


"Ada apa Bik? Kenapa pagi-pagi begini kalian ribut." Dimas pun menoleh ke arah jam dinding. Yang ternyata saat ini masih menunjukan pukul 5 pagi.


"Anu, Den." Bik Sum ragu-ragu. "Apa Non Salsa ada di dalam?" tanya Bik Sum.


"Ada, eh!" Dimas langsung masuk ke dalam kamar. Karena baru menyadari kalau Salsa tidak ada.


"Loh! Salsa kemana Bik?" tanya Dimas panik.


"Saya juga enggak tau Den. Saya kesini mau nyarik Non Salsa. Soalnya Shireen gak ada di kamar Den." jawab Bik Sum.


"Apa!" pekik Dimas.


Bik Sum hanya bisa menundukan kepalanya.


"Maafkan saya Den!" kata Bik Sum dengan rasa bersalah.


"Enggak apa-apa Bik. Mungkin aja Salsa yang ngambil Shireen. Soalnya Salsa juga enggak ada. Cobak kita cari di bawah! Siapa tau mereka ada dibawah." balas Dimas.


Dimas pun langsung turun ke bawah, bersama Bik Sum.


Dimas terus mencari Salsa ke sekeliling Mansion. Tapi keberadaan nya tak juga kunjung ketemu.


"Kalian gimana kalau kerja! Apa kalian tadi malam enggak berjaga? Sampai-sampai kalian semua enggak tau dimana Istri saya berada." bentak Dimas kepada seluruh Penjaga, yang di perintahkan nya untuk mencari Salsa.


Mereka semua tidak ada yang berani menjawab. Dan hanya bisa menundukan kepalanya.


Hingga akhirnya salah satu dari Penjaga itu membuka suara.


"Maaf Tuan Muda! Tapi sebenarnya Istri Tuan Muda yang mana yang hilang?"


"Dasar bodoh! Tentu saja Salsa. Memang nya siapa lagi bodoh?" bentak Dimas.


"Oh! Saya pikir Non Bella. Soalnya kan Istri Tuan Muda ada dua." kata Penjaga itu lagi.


BRAK.


Dimas menendang kaki Penjaga itu. Hingga membuat nya tersungkur ke tanah.


"Den!" panggil Bik Sum dari arah kejauhan.


Dimas pun langsung menolehkan kepalanya ke belakang.


Dan Dimas melihat Bik Sum yang tengah berlari ke arah nya, dengan menggendong Baby Rafa yang saat ini sedang menangis.


Alis Dimas bertaut. "Ada apa Bik?" tanya nya.


"Apa Den Dimas melihat Non Bella? Atau kalian semua ada yang melihat Non Bella?" tanya Bik Sum kepada para Penjaga itu.


Namun para Penjaga itu malah saling bertatap-tatapan. Dan menggelengkan kepalanya. Pertanda tidak tau.


"Bella hilang juga?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Ia Den. Soalnya dari tadi Den Rafa nangis terus. Dan saya coba cari Non Bella nya tapi tidak ketemu." jawab Bik Sum.


"Akh!" Dimas berteriak prustasi.


Dimas menjambak kuat rambut nya.


"Kenapa bisa jadi begini?" keluh nya.


Seorang Penjaga pun datang menghampiri Dimas. Lalu menepuk bahu nya.


"Tenang Boss! Emang begitu kalok punya Binik dua. Ada seneng nya. Ya' ada susah nya juga dong. Ya' kalik mau seneng terus. Kan gak mungkin." kata Penjaga tersebut dengan Nada mengejek, dan tersenyum jahil ke arah Dimas.


"Kurang ajar lo." teriak Dimas, dan hendak menendang kaki Penjaga itu. Tapi Penjaga itu sudah lebih dulu berlari.


Dimas masuk ke dalam Mansion. Dan hendak mengambil kunci Mobilnya. Ia ingin mencari Salsa di Mansion Utama, tempat Keluarga besar Raharga tinggal. Yaitu kediaman Papa, dan juga Mama nya.


Namun saat Dimas melewati Meja makan. Mata Dimas malah tertuju ke sebuah kunci yang tergeletak di bawah kolong.


Dimas pun mengambil kunci itu.


"Loh! Ini bukan nya kunci Kamar Tamu ya? Kok bisa ada disini? Ah' Mungkin saja kunci nya jatoh." gumam Dimas berdialog sendiri.


Seakan tidak perduli. Dimas malah memasukan kunci itu ke dalam saku celana nya. Dan bergegas hendak keluar.


Namun tiba-tiba saja. Saat Dimas melewati Kamar Tamu, Ia jadi kepikiran soal kunci tadi.


Entah kenapa Firasat nya menyuruh Dimas untuk membuka Kamar itu.


Dimas pun berjalan mendekat ke arah Kamar Tamu. Dengan ragu-ragu Dimas membuka pintu kamar nya, dan.


CEKELEK. 'Pintu kamar terbuka'


Dimas pun langsung masuk kedalam. Lalu mengguncang-guncangkan tubuh Bella, agar terbangun.


Tetapi Bella masih betah di dalam tidur nyenyak nya.


Dimas yang kesabaran nya sudah menipis pun langsung bergegas masuk ke dalam Kamar Mandi, yang ada di dalam Kamar itu.


Dimas membawa Ember bersisikan air dingin, dari dalam Kamar Mandi. Dan Dimas pun langsung menyiramkan air dingin itu di wajah Bella. Hingga membuat Bella pun spontan langsung terbangun. Karena terkejut.


Nafas Bella terasa sesak. Apalagi sebagian air nya masuk ke dalam rongga pernapasan nya lewat hidung.


"Dimas!" kata Bella pelan. Saat tatapan kedua nya beradu.


"Dasar Wanita enggak tau diri." bentak Dimas.


"Kamu liat ini sudah jam berapa? Dan kamu malah enak-enak kan tidur disini. Sementara anak kamu lagi nangis." sambung Dimas lagi. Masih dengan nada membentak.


Bella langsung terdiam. Dan tiba-tiba saja pikiran nya teringat tentang kejadian yang terjadi tadi malam.


"Salsa!" gumam Bella.


"Apa!" bentak Dimas.


Dimas langsung menarik tangan Bella dengan kasar, dan posisi Bella saat ini tengah sejajar dan berhadap-hadapan dengan Dimas.


"Kamu sembunyikan dimana Salsa? Jawab!" bentak Dimas.

__ADS_1


Badan Bella bergetar hebat. Ia sangat ketakutan saat melihat wajah Dimas, yang saat ini sudah merah padam menahan gejolak amarah yang membara.


"A-aku enggak tau Mas" jawab Bella tergagap-gagap. Dengan sekuat tenaga Bella mencoba untuk menahan tangis nya.


Dimas pun langsung mendorong tubuh Bella dengan sangat kuat. Hingga membuat Bella tersungkur di lantai.


Bella tidak sanggup menahan air mata nya lebih lama. Tangis Bella pun langsung pecah.


Bella pun memegang kedua kaki Dimas.


"Demi apapun aku enggak tau Mbak Salsa dimana? Tadi malam aku memang melihat Mbak Salsa pergi bersama Shireen. Tapi aku mencoba untuk menahan Mbak Salsa supaya enggak pergi. Dan, disaat Mbak Salsa pergi aku langsung bergegas mau bilang ke Mas. Karena pasti nya Mbak Salsa belum pergi jauh dari sini. Tapi entah kenapa tiba-tiba kepala aku pusing, dan aku enggak sadarkan diri. Dan setelah itu aku udah enggak ingat apa-apa Mas." jelas Bella yang di iringi dengan tangisan air mata.


"Bohong!" bentak Dimas, dan langsung menendang wajah Bella, hingga membuat Bella pun terpelanting ke sudut kamar, dan membuat kepalanya terbentur oleh dinding.


Bella menggeleng lemah.


"Jangan mengarang cerita!" bentak Dimas dengan sangat kuat. Hingga membuat suara nya menggelegar di seluruh ruangan.


Dimas berjalan ke arah Bella. Lalu berjongkok di hadapan Bella. Dimas mencengkram dagu Bella dengan sangat kuat.


"Aku enggak bohong Mas." lirih Bella, dengan terisak. Kening Bella saat ini masih terus mengeluarkan darah segar.


"Kamu pikir aku percaya sama omong kosong kamu. Kamu sengaja kan nyembunyiin Salsa? Supaya kamu bisa nguasain dan bisa mengambil alih posisi Salsa." ucap Dimas dengan penuh penekanan.


"Enggak Mas! Aku sama sekali enggak ada bermaksud kayak gitu sama Mbak Salsa." jawab Bella berusaha meyakin kan Dimas.


Namun Dimas malah tersenyum miring ke arah nya.


"Jangan sok baik! Mana mungkin ada seorang Pelakor yang berhati baik seperti kamu. Kamu tau? Karena kamu Rumah Tangga aku jadi hancur." bentak Dimas.


"Aku enggak Pelakor." jawab Bella dengan nada bicara yang tidak kalah keras nya.


Dimas langsung menghempaskan dagu Bella dengan sangat kuat. Lalu Dimas pun langsung bangkit dan hendak pergi. Karena jika lebih lama berada di disini. Membuat emosi Dimas semangkin tidak terkontrol nantinya.


Namun, saat Dimas berada di ambang pintu.


"Bukan nya Mas yang memutuskan untuk nikahin aku. Padahal aku sama sekali enggak minta Mas buat nikahin aku waktu itu." kata Bella dengan terisak.


Mendengar perkataan Bella. Membuat langkah kaki Dimas pun langsung terhenti.


Dimas pun kembali membalikan tubuh nya.


"Kalau bukan rasa Kemanusian aku ke kamu.


Aku enggak akan mau nolongin kamu. Asal kamu tau? Seharusnya waktu itu aku biarin kamu mati di tengah jalan sama bayi yang ada di dalam kandungan kamu. Bahkan demi menolong kamu, aku sampai-sampai meninggal kan Salsa bersalin sendirian di Rumah Sakit." bentak Dimas dengan suara yang menggelegar.


"Hiks, hiks! Hiks..." Bella semangkin menangis histeris.


"Mana mungkin aku bisa percaya sama perkataan Peremmpuan bayaran kayak kamu." kata Dimas lagi.


"Stoop!" teriak Bella menutup kedua telinga nya.


"Aku bukan wanita bayaran, aku wanita baik-baik. Hiks, hiks! Hiks..." Bella menggelengkan kepalanya.


"Perempuan baik-baik yang hamil di luar nikah. Dan bahkan sampai sekarang aku tidak tau siapa Ayah Biologis nya Rafa. Kalau kamu Wanita baik-baik, mana mungkin Pria itu ninggalin kamu, di saat posisi kamu lagi hamil anak nya." kata Dimas lagi dan tersenyum miris ke arah Bella.


"Kalau sampai Salsa enggak ketemu. Maka kamu akan tau, apa yang bisa aku lakukan ke kamu nanti. Karena satu-satu nya alasan Salsa pergi ninggalin aku, itu karena kamu. Camkan itu!" ancam Dimas kepada Bella. Setelah mengatakan hal tersebut. Dimas pun langsung pergi meninggalkan Bella yang saat ini tengah menangis meratapi nasib nya yang malang.

__ADS_1


BRAK.


'Dimas membanting pintu dengan kuat'


__ADS_2