
Bik Sum yang kebetulan sedang menutup tirai jendela, malah melihat Bella sedang berada diluar dan menangis. Langsung saja Bik Sum berlari mengambil payung dan menghampiri Bella. "Astagfirullah, Non! Non Bella ngapain disini. Ayo masuk Non! Nanti Non Bella sakit." kata Bik Sum langsung membawa Bella.
Dan Bella hanya bisa pasrah saja.
*****
"Ini Non teh nya, silahkan di minum!" ucap Bik Sum menyerahkan secangkir teh kehadapan Bella. Bik Sum pun langsung duduk di samping Bella, dan menepuk-nepuk pelan punggung Bella.
Karena memang keduanya kini tengah berada di meja makan, setelah Bella mengganti bajunya yang basah. Bik Sum memang menyuruh Bella untuk turun ke bawah.
"Sudahlah Non, Den Dimas memang begitu orang nya. Dia memang terlalu sangat mencintai istrinya Salsa. Jadi Bibi harap semoga Non Bella tidak sakit hati dengan perkataan Den Dimas tadi." ucap Bik Sum lagi, mencoba untuk menenangkan Bella yang masih saja terus menangis.
"Apakah Bella salah Bik, Bella rasa, Bella enggak sanggup untuk melihat semua ini.
Bella jahat Bik, Bella udah ngerusak rumah tangga mereka yang baru aja dilanda kebahagiaan. Dan sekarang Bella malah datang di tengah-tengah keluarga mereka, dan menghancurkan semuanya." kata Bella dengan terisak.
"Sudahlah Non, Non Bella enggak salah. Mungkin saja ini sudah takdir dari Tuhan Non."
"Tapi, Bella enggak sanggup Bik. Bella enggak sanggup jika harus melihat Salsa menderita seperti itu. Bella juga wanita, Bella juga bisa merasakan bagaimana sakitnya jika harus di madu."
"Tapi Den Dimas melakukan semua ini karena dia tidak ingin membuat Non harus kehilangan Den Rafa. Itulah terkadang, Den Dimas orang yang sangat memiliki hati nurani yang sangat baik. Namun semuanya tertutupi oleh sikap dingin nya."
"Lalu Bella harus bagaimana Bik, apa mungkin Bella pergi jauh aja dari sini?"
"Enggak Non, Non Bella jangan nekat. Kasian Den Rafa, dia masih kecil. Keadaan paru-paru nya masih sangat rentan. Jadi lebih baik Non pikirkan baik-baik jika ingin pergi." cegah Bik Sum.
"Saya yakin Salsa pasti bakalan mengerti semuanya, percayalah sama Bibi. Salsa itu orang nya sangat baik, dan juga mudah memafkan. Mungkin saja saat ini dia sangat Syok, akibat faktor baru saja melahirkan Baby Shireen."
Bella menghapus air matanya.
"Benarkah Bik?" tanya nya.
Bik Sum Mengangguk. " Sabarlah terlebih dahulu, setelah Salsa pulih. Mungkin Den Dimas pasti akan menjelaskan semua kesalah pahaman ini. Dan Bibi yakin Salsa pasti mau memahaminya, dia juga seorang Ibu. Dia pasti akan mengerti."
"Kalau begitu beristirahat lah di kamar Non! Non Bella pasti sangat lelah." Perintah Bik Sum dengan nada yang lembut.
"Terima kasih banyak Bik." Balas Bella tersenyum, dan langsung beranjak dari tempat duduknya, dan pergi melangkah menuju ke kamar tamu.
Bik Sum hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Ia menjadi sangat bingung dengan semua permasalah yang tengah menghadang di tengah-tengah rumah tangga Dimas. Bik Sum juga tidak bisa jika harus menyalahkan Bella dalam hal ini.
Karena memang Bella telah menceritakan semua kronologi kejadian nya. Mengapa sampai bisa Dimas menikah lagi?
Bik Sum sangat tidak percaya saat mendengar bahwa Dimas telah menduakan Salsa. Karena Bik Sum sudah paham betul bagaimana sikap Dimas terhadap Salsa. Sangat tidak mungkin jika memang Dimas sudah bosan dengan Putri angkat nya itu. Hingga memutuskan untuk menikah lagi.
Dan benar saja, semua dugaan Bik Sum benar. Mana mungkin Dimas bisa berkhianat kepada Salsa. Pernikahan Dimas dan juga Bella bukan lah hal yang disengaja.
Setelah mendengar penjelasan dari Bella, Bik Sum menjadi sangat kasian kepada Salsa yang harus menjadi korban.
Tapi dilain sisi Bik Sum juga sangat kasian kepada Bella, dengan keadaan yang tidak memungkinkan, hingga harus membuat nya menikah dengan Dimas.
Sementara Dimas, ia juga di rudung kebimbangan, Ia menjadi serba salah, dan bingung. Hingga membuat Dimas akhirnya mau tidak mau harus menikahi Bella.
*Bagai makan buah Simalakama*
Dilakukan salah, tidak dilakukan juga salah.
__ADS_1
*****
Dimas kini telah sampai di depan gedung Apartemen Salsa. Dengan tergesa-gesa Dimas berjalan melalui tangga darurat.
Dimas secara perlahan-lahan mulai memasuki Apartemen. Keadaan Apartemen yang memang gelap gulita, membuat Dimas menjadi kesulitan.
"Sasa!, Sayang! Sa, kamu dimana?" panggilnya.
Namun namanya yang di panggil saat ini tidak juga menyaut.
Dimas merogoh sakunya yang basah, dan mengambil Hp nya.
Dimas mencoba untuk menghidupkan nya, namun masih saja tidak bisa menyala.
"Ah, sial" Dimas prustasi dan menjambak rambunya sendiri.
"Kebetulan macam apa ini Ya Tuhan. Kenapa Hp nya bisa tidak menyala hanya karena terkena air hujan." gerutu nya lagi, yang sudah sangat emosi.
"Awas saja! Aku akan membuat pabrik Hp ini menjadi bangkrut nanti. Lihat saja." geram Dimas.
Dimas melemparkan Hp nya secara asal.
BRUK.
'Terdengar suara seperti benda berat terjatuh di lantai sekelilingnya'
"Apa itu?" tanya Dimas bergumam.
Dimas mengangkat kedua bahunya. "mungkin saja itu benda terjatuh akibat terkena angin."
Dimas mulai melangkah kan kakinya.
Namun benda yang dicari nya dari tadi tidak juga ketemu.
Dengan susah payah, akhirnya Dimas membuka secara perlahan laci yang terakhir.
"Dasar bodoh! Kenapa aku tidak membuka laci ini lebih awal tadi." Gumam Dimas, dan langsung menyalakan lilin yang di temukan nya tadi di laci terakhir.
Dimas mengangkat lilin nya dan berniat hendak mencari Salsa ke seluruh ruangan.
Namun saat ia membalikan tubuh nya ia malah melihat.
"Salsaaaaa!" teriak Dimas.
Dimas langsung berlari ke arah istrinya yang ternyata sudah tergeletak lemas di lantai berada tepat di belakang nya, dengan darah yang sudah mengalir di kepalanya.
Kebetulan juga listrik di Apartemen kembali menyala. Hingga Dimas dapat melihat jelas keadaan istrinya saat ini.
Dimas menaruh kepala Salsa diatas pangkuan nya, "Apa yang terjadi, Sayang kamu kenapa?" Dimas terus saja menepuk-nepuk pipi Salsa, dan berusaha untuk menyadarkan Salsa. Namun Salsa tak juga terbangun dari pingsan nya.
Dimas yang sudah panik, langsung saja menggendong Salsa dan membawa nya ke tempat tidur.
Dimas meletakan tubuh kecil Salsa secara perlahan ke kasur, Dimas langsung meraih Telpon Kabel yang berada di atas nakas.
Dan berniat hendak menelpon dokter.
__ADS_1
Namun saat Dimas hendak memencet tombol angka.
Ia langsung di kejutkan oleh sebuah tangan lembut yang menggenggam pergelangan tangan nya.
Dimas langsung menoleh ke arah samping, dan terlihat Salsa menggelengkan kepala kearah nya.
"Sa-sayang! Kamu udah sadar?" tanya Dimas dan langsung duduk di tepi kasur.
Salsa tidak membalas ucapan Dimas. Salsa mencoba untuk duduk, Dimas yang melihat hal itu, langsung saja membantu Salsa dan menyandarkan kepala Salsa di kepala ranjang.
"Keadaan mu masih sangat lemah." ucap Dimas dengan nada lembut.
"Ini semua gara-gara mu." ketus Salsa.
"Hah!" Dimas terkejut, dan tidak paham.
"Kau tidak lihat kepala ku ini." gerutu Salsa dan menunjuk kearah kepalanya yang berdarah.
"Memang nya apa yang terjadi? Coba jelaskan."
"Nye nye nye nye," mulut Salsa terus saja mengejek.
Dimas menangkup pipi Salsa dengan kedua tangan nya."Cepat katakan atau ku cium." ancam Dimas,
Salsa menggeserkan dengan kasar tangan Dimas. Dan langsung kembali merebahkan tubuhnya. Salsa menutupi seluruh badan nya dengan selimut tebal, dengan posisi membelakangi Dimas.
"Tidak usah panggil Dokter, aku baik-baik saja."
"You sure."
"Yes."
Tapi, I' am not Sure."
"Terserah." balas Salsa, dan Salsa langsung menghadap ke arah Dimas dan menongolkan kepala nya, lalu berkata.
"Ini semua karena ulah gila mu!"
" Aku? " tanya Dimas menunjuk kearah dirinya sendiri.
"Ya."
"Coba jelaskan? Kenapa kau bisa sampai pingsan, dan kenapa kepala mu bisa sampai berdarah tadi?"
"Sudah ku bilang ini semua karena mu!"
"Hah! "
"Kau melemparkan Hp mu ke arah kepala ku, hingga membuat jidat ku berdarah. Dan akupun jadi pingsan karena terkejut." jelas Salsa.
"Seriuosly?" tanya Dimas tak percaya,
Dimas langsung naik ke atas ranjang dan memeluk Salsa.
"Maaf kan aku! Aku tidak sengaja tadi!"
__ADS_1
ucap nya lagi.
"BACOT."🗿