
Salsa saat ini sedang mempersiapkan makan malam setelah selesai memasak. Salsa langsung menyusun makanan nya di atas meja makan.
Semua hidangan di meja makan terlihat begitu lezat, dan juga menggugah selera.
Salsa tersenyum senang. Saat melihat makanan nya sudah tersusun rapi di depan nya.
Malam ini Ia berniat ingin meminta maaf kepada Dimas. Salsa paham! Mungkin Dimas memang sedang capek, hingga membuat emosi Dimas jadi tidak terkontrol.
Salsa pun hendak beranjak dari sana. Berniat ingin memanggil Dimas, dan mengajak nya makan malam bersama.
Namun, saat Salsa hendak naik ke atas tangga. Salsa malah melihat Dimas yang saat ini sedang menuruni anak tangga.
Salsa pun mengembangkan senyuman nya. Namun seketika senyuman Salsa pudar, saat melihat Dimas yang mengabaikan nya. Dan bahkan mungkin, tidak menganggap Salsa ada di sana.
Dimas terus berjalan menuju ke Pintu Utama.
"Mas!" Salsa langsung mengejar Dimas.
Karena Dimas tak juga kunjung berhenti.
Salsa menahan lengan Dimas.
"Kamu mau kemana Mas? Ini udah malem."
"Bukan urusan kamu!" jawab Dimas datar.
"Aku minta maaf sama kamu. Tapi Plis! Jangan pergi! Aku tau aku salah. Gak seharusnya aku tadi ngeganggu kamu." ucap Salsa memohon.
"Kamu maafin aku kan Mas?" tanya Salsa, karena dari tadi Dimas tak juga kunjung berbicara.
Dimas menoleh, dan memandang wajah Salsa.
"Aku maafin kamu, dan juga aku minta maaf ke kamu! Karena aku udah kasar. Tapi jujur aku capek banget!" kata Dimas pelan.
Dimas pun langsung memegang kedua pundak Salsa. Lalu kembali berkata.
"Jadi aku mohon! Stop buat nyakitin diri kamu sendiri! Karena aku gak bisa banget ngontrol emosi aku, apalagi aku capek, baru pulang kerja."
Salsa pun tersenyum kecil, lalu menganggukan kepala nya.
"Kamu gak jadi pergi kan Mas?" tanya Salsa dengan wajah memohon.
"Aku gak bisa kalau harus gak pergi Sayang! Kerjaan aku di kantor numpuk banget. Jadi aku harus, mau gak mau tetep kesana. Dan kemungkinan besar, aku akan nginep malam ini di Kantor." kata Dimas pelan.
Salsa menggeleng tak percaya.
"Baru aja kamu pulang, dan sekarang kamu mau pergi lagi? Aku udah masak loh buat kamu!"
"Syuuut!" Dimas mengarah kan jari telunjuk nya tepat di bibir Salsa.
Dimas menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Plis! Aku gak bisa ngontrol emosi aku loh!" kata Dimas pelan.
Mau tak mau Salsa pun hanya bisa membiarkan Dimas pergi.
Salsa menatap kecewa ke arah Mobil yang di naiki oleh Dimas, yang kini sudah pergi menjauh.
Salsa merasa sakit hati, jika harus di abaikan seperti ini.
Salsa berjalan ke arah meja makan dengan lunglai.
Ia menatap ke arah makanan yang saat ini ada di depan nya.
Dengan penuh kesabaran Salsa memasak semua nya. Hanya demi untuk menyenangkan Sang Suami. Namun seperti nya Dimas tidak menghargai kerja keras nya. Dan lebih memilih perkerjaan Kantor nya. Di banding Salsa.
Salsa menarik kursi, lalu menduduki kursi nya. Ia mengambil piring nya, dan mulai mengisi nya dengan beberapa jenis makanan.
Salsa mulai nenyendokan makanan di piring nya, lalu memasukan nya ke dalam mulut nya.
Hingga tak terasa air mata nya pun tumpah.
Salsa meletakan sendok nya kembali. Ia beranjak dari meja makan. Karena tidak sanggup melanjutkan aktivitas makan nya.
Namun saat Salsa membalikan tubuh nya. Sudah ada Bik Sum di depan nya.
Salsa pun langsung bergegas menghapus air mata nya dengan cepat.
"Bik!" seru Salsa mencoba untuk tersenyun ke arah Bik Sum.
"Tadi saya awal nya mau ngajak Dimas makan malam Bik. Tapi Mas Dimas ada urusan mendadak di Kantor." jawab Salsa.
"Terus ini makanan nya mau di apaain?"
"Em! Makanan nya buat Bibi dan juga para Pelayan aja! Saya juga soalnya baru siap makan. Jadi kenyang."
"Oh! Kalau begitu. Terima kasih!" ucap Bik Sum sambil tersenyum.
Salsa pun membalas senyuman Bik Sum. Lalu pergi dari sana, menuju ke lantai atas.
Bik Sum hanya bisa menatap punggung Salsa dengan perasaan sedih.
Tapi bagai mana pun juga. Ia tak punya keberanian dan juga kuasa untuk ikut campur dalam urusan pribadi Anak Angkat nya itu.
Salsa berjalan ke arah kamar sambil menangis. Saat Salsa sudah sampai di dalam kamar. Ia pun langsung kembali menutup pintu nya. Lalu menyandarkan tubuh nya di pintu kamar itu.
"Hiks, hiks! Hiks... Kenapa begitu sakit Ya' Tuhan?" Batin Salsa terus memegangi dada nya yang terasa sesak.
"Kenapa kamu berubah Mas? Itu bukan kamu! Kemana diri kamu yang dulu nya selalu sabar dan juga mau ngerti sama perasaan aku? Kenapa kamu berubah? Kamu berubah semenjak Bella hadir di antara kita berdua! Dan sekarang, di saat Bella udah pergi. Sikap kamu malah semangkin parah. Kamu tega mengabaikan aku!" lirih Salsa terus menangis.
Salsa terduduk lemas di lantai. Dengan tubuh yang menyandar di pintu.
.....................**************.......................
__ADS_1
Sementara kini di Vila Andaru.
"Kamu kenapa balik ke sini lagi? Bukan nya kan malam ini jatah Istri pertama kamu?" tanya Bella sambil terus mengelus-elus lembut kepala Dimas yang saat ini sedang tertidur di pangkuan nya.
Mereka berdua saat ini sedang duduk di Sofa.
"Gak papa! Aku lagi capek, dan butuh perhatian." jawab Dimas dengan mata yang terpejam.
"Kamu berantem lagi yah sama Salsa?" tebak Bella.
"Iya" jawab Dimas singkat.
"Aku gak sukak sama cewek yang bawel, dan juga cerewet." sambung Dimas lagi. Masih dengan memejamkan mata nya.
"Tapi aku Cinta sama dia." sindir Bella.
Dimas langsung saja membuka mata nya. Dan mendongak kan kepala nya menatap ke arah Bella.
"Kamu main sindir-sindiran ya sekarang?" kata Dimas.
"Haha!" 'Bella tertawa renyah'
"Aku enggak nyindir Sayang! Itu kan Fakta."
"Sama aja." kata Dimas.
"Beda lah! Sama dari mana nya cobak? Kamu ngawur! Padahal itu, tu udah jelas beda banget." kata Bella di iringi dengan tawa.
"Oh' Iya! Kamu ngasih alasen apa sama Salsa? Kok bisa dia ngizinin kamu pergi malem-malem gini?" tanya Bella penasaran.
"Kantor." jawab Dimas.
"Udah ketebak sih!" kata Bella.
"Aku kira kamu dateng ke sini karena kangen sama aku! Ternyata kamu lagi berantem sama Salsa. Makanya kamu kesini, buat cari ketenangan."
"Aku kangen, aku lagi butuh ketenangan, butuh kenyamanan, dan juga butuh kamu." ucap Dimas yang langsung memeluk perut Bella, dan menggit kecil perutnya.
"Akkh!" Bella menjerit, saat merasakan perut nya yang kegelian.
Dimas pun langsung bangkit dan duduk menghadap Bella.
Keduanya saling bertatap-tatapan.
"I Love You" ucap Dimas.
"I Love You To" balas Bella.
Dimas mendekat kan wajah nya ke arah Bella.
Dan.............🙅♀ SKIP
__ADS_1