
Saat ini Bella sedang berada di atas gedung Restoran Bintang lima.
Tatapan mata nya kosong. Pikiran nya berkecamuk. Hatinya saat ini telah hancur berkeping-keping.
Bella memajamkan mata nya. Dan Bella pun terjun ke bawah.
"Bella!" teriak Dimas dan langsung secepat kilat meraih tangan Bella.
Bella saat ini tengah menggantung di atas Gedung Pencakar Langit itu. Dengan tangan yang saat ini masih di genggam erat oleh Dimas.
"Lepas Mas!" teriak Bella.
"Bella! Jangan gila kamu." bentak Dimas
"Enggak Mas!" Bella menggeleng.
"Lepasin tangan aku Mas! Aku mau mati. Hiks, hiks! Hiks..."
"Bella, Pliss! Ini bukan waktu nya bercanda. Mati bukan lah cara buat ngilangin masalah kamu." kata Dimas mencoba merayu Bella agar mau naik ke atas lagi.
Namun Bella masih bersikeras memegang besi yang terletak di samping kiri nya. Hingga membuat Dimas jadi kesusahan ingin menarik Bella ke atas.
"Bella! Aku mohon! Jangan lakuin hal ini! Kamu tega ninggalin Rafa?" teriak Dimas.
Bella menggeleng.
"Enggak! Aku enggak perduli sama Rafa. Bima aja bahkan enggak perduli, apa lagi aku. Aku juga bisa kayak dia! Yang enggak akan perduli sama Anak nya." jawab Bella dengan lantang.
"Bella, jangan lakuin ini Bella! Kamu boleh minta apa aja asal kamu batalin aksi nekat kamu ini." teriak Dimas.
"Kamu pasti enggak akan bisa nurutin permintaan aku Mas!"
"Aku bersumpah akan nuruti semua apa yang kamu minta. Apapun itu!" jawab Dimas dengan berteriak.
"Aku mau supaya aku tetep jadi Istri kamu.
Aku Cinta sama kamu Mas! Enggak ada satu-satu nya harapan buat aku selain kamu Mas. Jadi! Kalau kamu mau agar aku tetap hidup. Kamu harus nerima aku sebagai Istri kedua kamu. Aku Cinta sama kamu Mas! Aku enggak mau pergi dari kamu." kata Bella dengan terisak.
Dimas menggelengkan kepala nya. Tak percaya dengan semua ucapan yang di lontarkan oleh Bella barusan.
"Tapi aku gak bisa Bella! Aku enggak mau berkhianat lagi sama Salsa."
"Kamu bajingan Dimas! Kamu yang udah ngebuat aku Jatuh Cinta sama sikap kamu yang selalu lembut sama aku. Dan sekarang, disaat aku udah Jatuh Cinta ke kamu. Kamu malah dengan tega nya mau menceraikan aku." teriak Bella.
__ADS_1
"Disaat kamu lagi ada masalah! Aku pasti akan selalu ada buat kamu. Sementara kamu, di saat aku lagi susah. Dengan tega nya kamu malah nyuruh aku pergi dari hidup kamu." Bella jadi bertambah histeris.
"Kalau kamu gak mau nuruti permintaan aku. Maka lepasin tangan aku sekarang juga!" teriak Bella.
Namun Dimas tidak mau melepaskan tangan nya.
"Kamu adalah laki-laki yang aku Cintai, dan aku harapkan sebagai penyembuh luka aku Mas. Aku yakin kamu pasti juga Cinta kan sama aku? Kamu gak bisa bohong Mas! Aku tau semua nya dari arti tatapan Mata kamu ke aku. Dan juga perlakukan kamu yang selalu baik dan juga lembut sama aku. Aku tau semuanya, aku denger waktu kamu ngomong sama salah satu Karyawan kamu yang punya Istri 2. Bahkan kamu minta pendapat ke dia, gimana cara nya supaya bisa adil sama kedua Istri kamu tanpa menyakiti salah satu pihak dari mereka. Tapi kamu bahkan belum menyadari semua perasaan kamu ke aku sampai sekarang hanya demi Salsa." teriak Bella.
Dimas langsung terdiam.
Jujur, memang selama ini Dimas sangat mengagumi Bella, dan juga menaruh perasaan nya kepada Bella.
Namun Dimas selalu menyangkal nya karena tidak ingin membuat perasaan nya kepada Bella terlalu dalam. Karena dia tidak ingin membuat Salsa tersakiti.
"Oke! Aku enggak akan menceraikan kamu sampai kapan pun. Karena memang aku juga Cinta sama kamu! Maafin aku karena belum bisa ngungkapin perasaan aku ke kamu. Karena aku enggak mau Salsa akan tersakiti. Dan sekarang aku baru menyadari akan hal itu! Kalau aku mencintai kamu Bella! Sikap kamu yang perhatian sama aku, dan kamu selalu bisa menghibur aku di saat kelelahan di Kantor, dan karena kamu yang selalu ada buat mencarikan aku Solusi di saat aku bertengkar sama Salsa. Membuat aku mencintai kamu, dan jadi terbiasa sama kamu. Sebenernya aku juga enggak mau pisah sama kamu, karena aku udah telanjur ketergantungan ke kamu. Aku udah terlanjur nyaman sama kamu Bella." teriak Dimas.
"Kamu bohong!" bentak Bella.
Dimas menggeleng. "Enggak! Aku enggak bohong! Kamu bisa bunuh aku kalau misal nya aku enggak akan nepatin janji aku. Percaya sama aku Bella!" mohon Dimas.
"Kamu beneran kan Mas?" tanya Bella masih tak percaya, dengan diiringi tangisan.
"Iya!" ucap Dimas menganggukan kepalanya.
Bella yang sudah tidak punya banyak tenaga lagi pun langsung melepaskan pegangan tangan kiri nya dari besi itu. Dan pasrah saat di angkat oleh Dimas.
"Mas! Kamu gak akan bohong kan?" lirih Bella dengan di iringi suara isakan tangis.
"No!" jawab Dimas.
Dimas pun langsung menangkup wajah Bella dengan kedua tangan nya.
"Are you oke?" tanya Dimas panik.
"No!" lirih Bella.
Dan Bella pun langsung jatuh pingsan ke dalam pelukan Dimas.
........................*************........................
"Bella kemana Bik?" tanya Salsa kepada Bik Sum. Dan langsung duduk di atas Kasur.
"Kok Bibi ada di kamar Bella malem-malem gini?" tanya Salsa heran.
"Iya Non! Soalnya Non Bella pergi, dan nitipin Rafa sama Bibi."
__ADS_1
"Bella pergi kemana yah?"
"Bibi juga enggak tau, Non Bella pergi kemana! Oh' ya Non sendiri ngapain malem-malem ada di sini?"
" Saya cuman ngecek Dimas udah pulang apa belum. Tapi setelah aku tadi liat! Kayak nya Dimas belum pulang." jawab Salsa.
"Oh!" bik Sum mengangguk paham.
"Tapi perasaan aku dari tadi kok enggak enak ya Bik?" tanya Salsa mengusap-usap tengkuk leher nya.
"Mungkin Non lagi kecapean!"
"Oh! Gitu ya Bik?" tanya Salsa.
"Iya!" jawab Bik Sum tersenyum ke arah Salsa.
"Kalau gitu aku pamit duluan ya Bik! Mungkin Mas Dimas enggak pulang. Karena biasanya Mas Dimas palingan nginep di Kantor." kata Salsa.
Bik Sum pun mengangguk paham.
Salsa pun berjalan keluar kamar Bella.
Salsa pun menutup kembali pintu kamar nya. Dan Salsa mengambil Hp dari kantong baju tidur nya.
Panggilan pertama tidak di angkat.
Panggilan kedua pun tidak di angkat.
Panggilan ketiga masih sama, sama-sama tidak di angkat.
Panggilan kelima sampai panggilan ke sepuluh masih juga tidak di angkat.
Namun Salsa tidak putus asa.
Salsa kembali memencet tombol panggil untuk yang ke 11 kalinya.
Namun panggilan malah di matikan oleh Dimas.
"Loh! Kok malah dimatiin sih." gumam Salsa.
Salsa pun mencoba untuk menelpon lagi. Namun sayang nomor Dimas sudah tidak aktif lagi.
"Apa kamu masih marah sama aku Mas? Sampai-sampai kamu enggak mau angkat telpon dari Aku! Aku kuwatir sama kamu. Perasaan aku dari tadi gak enak banget." gumam Salsa.
Salsa pun akhirnya pergi berjalan menuju ke kamar nya dengan pias dan juga lesu.
__ADS_1