
"Sher!" panggil Salsa pelan.
"Iya!" sahut Sherly.
"Menurut kamu aku harus gimana?" tanya Salsa meminta pendapat Sherly.
"Aku juga enggak tau Sasa! Aku bingung! Tapi menurut aku dan menurut pendapat aku itu. Kalau Dimas itu udah keterlaluan banget. Karena kalau di dalam Rumah Tangga kalau udah ada orang ketiga itu pasti bakalan susah banget. Kalau enggak bepisah. Ya' Di Madu.
Jujurly menurut aku mendingan kamu minta penjelasan dulu sama Dimas. Sesuai yang di bilang oleh Mama Mertua kamu. Kalau memang ini cuman kesalah pahaman. Aku yakin! Dimas pasti bakalan milih kamu." jawab Sherly panjang lebar.
"Tapi!" ucapan Sherly terhenti sejenak.
"Tapi apa Sher?" desak Salsa.
"Tapi kalau misalnya Dimas punya rasa cinta ke Bella. Itu pasti udah lain ceritanya Sa! Kalau misalnya suatu saat nanti. Itu semua terjadi. Lebih baik kamu mundur! Dari pada kamu tersakiti lebih dalam." jawab Sherly dengan menunduk kan kepalanya.
Salsa tidak tahan membendung air mata nya.
Salsa mengoyang-goyang Shireen yang saat ini berada di pangkuan nya. Agar Shireen berhenti menangis.
"Itu lah yang aku takut kan Sher!" lirih Salsa.
Sherly langsung memandang ke arah wajah sahabat nya itu. "Kamu yang sabar yah!" Sherly pun langsung memeluk Salsa, dan mengelus-elus pundak Salsa. Agar Salsa bisa sedikit tenang.
"Aku lemah Sher! Aku gak kuat! Kamu liat! Bahkan Shireen dari tadi nangis terus karena dia jauh dari Papa nya." kata Salsa terisak.
Sherly pun melepas pelukan mereka berdua.
"Mungkin aja Baby Shireen nangis bukan karena jauh dari Papa nya. Atau karena dia mungkin lagi enggak enak badan aja Sa." balas Sherly.
"Enggak Sher! Shireen memang enggak bisa jauh dari Papa nya Sher. Kamu liat ini!" balas Salsa. Dan langsung beralih mengambil dompet nya. Lalu mengambil selembar Foto 5 inci. Yang ternyata adalah Foto milik Dimas.
Salsa pun langsung memberikan nya kepada Shireen. Dan yang terjadi begitu menakjubkan. Bahkan Sherly pun begitu tak percaya.
"Sa!" lirih Sherly menutup mulut nya karena terkejut.
"Ikatan mereka berdua sangat kuat Sheer!" kata Salsa pelan.
"Kok bisa?" tanya Sherly masih tak percaya.
__ADS_1
"Semuanya berawal di saat aku pulang dari Rumah Sakit. Aku bingung Sher! Semenjak itulah Shireen selalu nangis. Dan aku ketakutan banget. Selama 1 minggu aku selalu di teror ketakukan. Shireen selalu nangis dan gak bisa diem. Aku waktu itu sampai-sampai hampir gila, dan takut waktu ngedenger Shireen nangis terus.
Dan di tambah aku baru pertama kali melahirkan. Dan belum berpengalaman. Dan enggak ada siapa-siapa yang nemenin aku di Mansion. Bik Sum waktu itu pulang kampung. Dan sementara Mama, Mama pergi ke Jepang. Waktu itu cuman Dimas lah orang yang satu-satu nya aku harapkan. Hingga akhirnya suatu malam. Aku udah mau nyerah, dan mau bunuh diri. Otak aku itu berasa kosong Sher! Rasanya aku pengen mati aja.
Tapi sebelum itu. Entah kenapa tiba-tiba aku ngambil foto Dimas yang ada di dalam dompet aku. Dan waktu foto nya aku pegang, tapi fotonya malah terbang ke bawa angin. Lalu jatoh tepat di wajah anak aku." jelas Salsa.
"Trus Shireen langsung diem?" tanya Sherly.
Salsa mengangguk lemah. "Iya! Aneh bukan? Padahal Shireen masih bayi banget. Kayak sebuah keajaiban. Padahal Shireen dan Dimas belum pernah jumpa sama sekali.
Dan di saat aku mencoba untuk ngambil foto Dimas dari genggaman tangan Shireen. Shireen langsung nangis lagi. Dan semua kejadian itu seolah-olah menggambarkan kalau mereka berdua enggak bisa dipisahkan sampai kapan pun. Dan hal itu lah yang membuat aku seolah-olah tak berdaya. Kelemahan aku itu enggak bisa jauh-jauh dari Shireen. Tapi, sementara Shireen enggak bisa jauh-jauh dari Ayah nya." lirih Salsa.
BRAK.
'Suara pintu yang di buka secara paksa'
Dan langsung mengejutkan Salsa dan juga Sherly.
Bahkan Shireen pun sampai menangis karena terkejut.
"Pulang!" kata Dimas dengan nada penuh penekanan.
Dimas tidak perduli. Dan langsung pergi begitu saja, Ia lebih memilih untuk masuk ke dalam mobil.
Salsa pun langsung mengambil tas nya. Lalu berpamitan kepada Sherly.
"Sher! Makasih banyak ya! Karena kamu udah mau ngedengerin cerita aku. Dan ngebuat beban pikiran aku setidaknya jadi berkurang." kata Salsa tersenyun ke arah Sherly. Dan langsung memeluk sahabat nya itu.
Salsa mengurai pelukan nya. "Aku pulang ya Sher!" pamit Salsa. Dan hendak pergi.
Namun Sherly malah menahan tangan Salsa.
Salsa pun membalikan tubuh nya. "Ada apa Sher?" tanya Salsa bingung.
"Sa! Aku takut!" jawab Sherly.
Alis Salsa bertaut.
"Kamu jangan pulang! Aku takut kalau misalnya Dimas berbuat kasar ke kamu. Kamu liat tadi! Sikap Dimas kok berubah Sa? Dia biasanya enggak kaya gitu kan?" kata Sherly merasa kuwatir. Dan jelas terlihat di wajah Sherly ada sebuah rasa ketakutan.
__ADS_1
Salsa terdiam untuk sejenak.
"Aku juga ngerasa gitu Sher. Dimas bahkan kemaren tega ninggalin aku sendirian di Pantai. Dan bahkan sering membentak!"
batin Salsa memikirkan sikap Dimas yang mulai berubah. Dan sekarang sikap Dimas bahkan kembali lagi ke sikap di saat awal-awal mereka menikah.
Salsa pun tersenyum ke arah Sherly.
"Udah kamu tenang aja. Dimas emang gitu orang nya. Apalagi kalau di luar! Dia bukan tipe cowok yang suka menunjukan sikap romantis nya di depan orang lain." elak Salsa.
"Kamu yakin?" tanya Sherly ragu.
Salsa mengangguk. "Yakin" jawab nya tersenyum ke arah Sherly.
Salsa pun keluar dari rumah Sherly dengan menggendong Baby Shireen. Dan berjalan ke arah Mobil Dimas. Lalu Salsa masuk ke dalam Mobilnya. Dan ternyata sudah ada Dimas di dalam nya.
Tanpa basa-basi Dimas langsung menjalankan Mobil nya.
Di sepanjang perjalanan Salsa terus saja mengajak Baby Shireen bermain di gendongan nya.
"Udah puas kamu?" tekan Dimas.
"Puas kenapa Mas?" tanya Salsa bingung.
Dimas menoleh kan kepalanya ke samping menatap Salsa. Namun setelah beberapa detik Dimas kembali menatap lurus jalanan.
"Kamu kabur dari Rumah malam-malam. Dan bahkan dengan bodoh nya kau malah membawa anak aku ke dalam bahaya. Kamu mau mati? Hah!" bentak Dimas.
"Kalau kamu mau mati, mati aja sendiri! Gak usah bawa-bawa Shireen." sambung Dimas lagi, dengan nada bentakan yang lebih tinggi.
"Kamu tega Mas? Nyuruh aku mati." kata Salsa tak percaya. Air mata yang sudah susah-susah Ia coba tahan. Akhirnya kini tumpah juga.
Padahal niat nya Salsa ingin meminta maaf kepada Dimas soal masalah di Pantai semalam. Tapi............... ....................................
Tapi apa ya?
Em! Kira-kira udah ada yang bisa nebak belum. Endingnya kayak gimana? Siapa tau kalian ada yang Indihome. Wkwkw.
Love u all 💋
__ADS_1