BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela

BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela
Pisikopat


__ADS_3

"Salsa!" panggil Dave.


Dave pun langsung berjalan mendatangi Salsa.


"Aku gak pernah nyangka kalau kamu bisa kayak gini! Dan bahkan, aku sendiri udah percaya dengan cerita yang di buat sama Padil. Tapi ternyata,"


Dave tidak jadi melanjutkan perkataan nya.


Ia membuka kacamata nya, dan memijat pelipis nya yang terasa berdenyut.


Salsa pergi meninggalkan Dave dan juga Bima. Ia berjalan masuk ke dalam mobil, dan setelah itu Salsa pun langsung melajukan mobil nya menjauh dari rumah kosong tersebut.


*****


Setelah beberapa menit kemudian. Salsa memberhentikan mobil nya di depan Rumah Sherly.


Salsa pun keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam.


Salsa membuka pintu kamar Sherly, dan terlihat lah Sherly yang saat ini sedang rebahan di atas kasur sambil bermain Hp, dengan memeluk bantal guling.


"Hay! Nyonya muda. Wkwk!" Sherly bangkit, dan duduk di atas kasur.


Salsa menganti baju nya dengan jas yang berwarna merah merona. Salsa memoles wajah nya dengan sedikit Make up, dan tak lupa lipstik berwarna merah maroon yang di poles kan di bibir nya.


Salsa mengambil Hp, dan juga tas ransel nya dari atas meja rias milik Sherly.


"Woah! Perpect! Lu keren banget." kata Sherly mengarahkan jempol nya ke arah Salsa.


"Dendam pun di mulai." sambung Sherly lagi.


Salsa hanya bisa tersenyum menyeringai saat mendengar perkataan Sherly.


Salsa langsung pergi melangkah meninggalkan kamar Sherly.


Salsa membuka pintu mobil nya dan langsung masuk ke dalam.


-



Mobil Salsa berhenti di parkiran Rumah Sakit. Tempat, dimana Dimas di rawat.


Salsa berjalan menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit. Hingga akhirnya Salsa pun masuk ke dalam Ruangan tempat dimana Dimas koma saat ini.

__ADS_1


"Gimana? Ada perkembangan?" tanya Salsa kepada Dokter yang ada di sana.


"30%" jawab Dokter itu.


"Kau boleh pergi." ucap Salsa dingin.


Setelah melihat Dokter itu pergi. Salsa pun berjalan, dan mulai mendekat ke arah Dimas.


Salsa berdiri menatap Mantan Suami nya yang saat ini sedang tertidur nyenyak di atas Ranjang pasien. Dengan banyak nya Selang yang menempel di seluruh tubuh nya.


"Good Night Dimas! Kasian sekali dengan nasib mu."


Salsa menyentuh rahang Dimas, dan mengelus nya.


"Sekarang berbicaralah! Bentak, dan marah lah aku. Seperti yang dulu nya kau lakukan terhadap ku, demi membela wanita lain.


Yang baru memang lebih menggoda dari pada yang lama. Tapi sekarang! Kemana hilang nya sesosok wanita yang baru itu? Bella sudah Mati! Dan mungkin sebentar lagi kau lah yang akan menyusul Bella ke Neraka. Kalian berdua sangat menjijikan."


Salsa berdiri dan membelakangi Dimas.


"Aku tau kau mendengar ucapan ku Dimas! Awal nya aku kira kau akan menyesali semua perbuatan mu karena telah menduakan ku. Tapi ternyata aku salah! Aku salah Dimas. Bella adalah wanita yang mungkin sangat penting di hidup mu, hingga sampai-sampai kau melupakan ku, dan lebih memilih untuk menemani Bella di masa-masa saat Bella mengalami kritis. Sementara aku! Aku Wanita yang kau katakan, bahwa aku adalah wanita yang sangat kau cintai dan juga cinta pertama buat mu. Kau bahkan tidak pernah menjenguk ku, meskipun hanya sekedar ingin menjenguk Shireen. Aku memang yang pertama, tapi bukan untuk yang terakhir. Habis manis sepah kau buang. Setelah ada Bella kau membuang diri ku. Membuang wanita yang selalu mempercayai setiap perkataan dan omongan mu."


'Ucapan Salsa terhenti sejenak. Ia menghapus air mata nya secara kasar.'


Setelah beberapa saat kemudian. Salsa mendekat kan wajah nya ke arah wajah Dimas.


"Kamu nangis Mas? Kenapa harus nangis? Rasa sakit yang aku rasakan enggak akan sebanding dengan rasa sakit yang udah kamu alami sekarang." bentak Salsa.


-


Bima berlari di lorong Rumah Sakit menuju ke arah Ruangan Dimas.


Saat Bima membuka pintu ruangan nya.


"Salsa!" bentak Bima, yang langsung berlari menghampiri Salsa, dan menarik tangan Salsa dari selang infus tersebut.


Mata Bima langsung melebar saat melihat tangan Salsa yang sudah berlumuran darah. Serta cairan infus yang saat ini sudah berubah menjadi darah, dan bahkan darah nya sampai menetes ke lantai.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Bima mengguncang-guncangkan bahu Salsa.


Namun Salsa hanya diam dan tersenyum ke arah Bima.


"Sadar Salsa! Kamu hampir saja membuat Dimas mati." sambung Bima lagi.

__ADS_1


Bima menggelengkan kepala nya, tak percaya dengan apa yang telah di lihat nya saat ini.


"Kurasa kau sudah gila Salsa! Kau tega hendak membunuh Suami mu sendiri." bentak Bima.


"Haha!" Salsa tertawa.


"Iya! Aku gila! Aku memang gila. Apa kau lupa kalau dia bukan Suami ku lagi? Dia adalah Suami nya Bella, bukan Suami ku. Bella adalah Ibu dari Putra mu kan?"


Salsa tersenyum, dan membuang wajah nya dari Bima.


"Pisikopat!" lirih Bima.


Salsa langsung memberontak, hingga membuat pegangan Bima pun terlepas dari tangan nya.


"Jangan salah kan aku! Jika aku bisa menjadi seperti ini. Karena ini adalah kesalahan dari mereka berdua." bentak Salsa menunjuk ke arah Dimas.


Setelah itu, Salsa pun melangkah mendekat ke arah Bima.


"Dimas, Bella! Mereka adalah Pengkhianat. Mereka gak pantas untuk hidup di Dunia ini. Mereka itu pantas nya Mati." ucap Salsa lagi dengan penuh penekanan.


"Kau tidak tau apa-apa Bima. Jadi jangan ikut campur! Karena kau tidak tau bagaimana rasanya di khianati oleh Orang yang udah kita percayai selama ini. Kau tidak tau itu.


Dimas! Aku mempercayai semua perkataan nya, dan bahkan aku mencintai nya. Tapi dia! Dia membalas semua nya dengan sebuah pengkhianatan. Dan Bella! Aku sudah menolong nya waktu itu. Tapi dia! Dia malah menusuk ku dari belakang, dan merebut Suami ku. Apa mereka berdua masih layak untuk hidup di Dunia ini?"


Salsa menatap Bima dengan tatapan yang intens.


Sesaat kemudian, Salsa pun menggelengkan kepala nya.


"Tidak! Mereka sama sekali gak Pantas untuk hidup di Dunia ini." ucap Salsa.


"Kau! Mencintai Bella? Tapi Bella sudah tidak mencintai mu. Dia mencinta Suami ku, dan bahkan dengan teganya merebut Cintanya Dimas dari ku. Dan dia pun berhasil merebut Cinta Dimas. Tapi sekarang! Semua nya sia-sia."


Salsa melipat kedua tangan nya di dada.


Dengan tatapan yang tertuju kepada Bima.


"Semua nya sudah terlambat Bim! Kau ingin menebus kesalahan di masalalu mu kepada Bella dengan cara ingin menikahi nya dan bertanggung jawab. Tapi dia, dia sudah terjanjur mencintai Suami ku. Sayang sekali bukan?"


' Salsa tersenyum miris.'


Salsa mengambil pisau buah yang ada di atas nakas, dan mengarahkan pisau nya, tepat di dada Dimas.


"SALSAAAAA!" teriak Bima.

__ADS_1


__ADS_2