
Bella langsung mendorong Bima. Hingga membuat Bima pun langsung mudur kebelakang hingga membuat tubuh belakang Bima jadi menatap tembok dengan sangat kuat.
"Kamu anj*ng! Setelah semua nya hancur baru kamu datang sama aku. Itu semua nya gak berguna Bim." teriak Bella histeris.
"Dimas!" seru seseorang.
Mereka semua pun langsung menoleh, dan terlihat lah seorang wanita parubaya serta pria parubaya yang berjalan ke arah mereka berempat.
"Mama!" lirih Dimas.
"Maafin aku Dim! Aku yang udah ngasih kabar ke mereka." kata Dave menepuk pundak Dimas.
PLAK. 'Sebuah tamparan pun langsung melesat di pipi kanan Dimas.'
"Apa yang udah kamu lakuin sama Salsa? Mama enggak pernah ngajarin kamu buat bersikap kurang ajar sama wanita. Tapi sekarang, kenapa kamu tega menyakiti Salsa, dan bahkan kamu menyembunyikan Bella dari semua orang. Dan bahkan Mama pun sampai-sampai tidak tau akan perihal ini. Karena Mama percaya sama ucapaan kamu yang mengatakan kalau Bella sudah pergi ke Korea Selatan. Dan tidak ada di antara Rumah Tangga kalian berdua lagi. Tapi ini semua apa Dimas?" ucap Mama Dinda menangis prustasi.
"Tante!"
Dave pun langsung langsung berlari ke arah Mama Dinda yang saat ini sedang terduduk lemas di kursi tunggu. Dave pun mencoba untuk menenangkan Mama Dinda.
*****
Dave saat ini sedang memantau perkembangan Salsa. Serta mengganti infus nya.
Namun tiba-tiba saja Dave melihat tangan Salsa yang bergerak.
Langsung saja Dave menggenggam pergelangan tangam Salsa.
"Salsa!" ucap Dave pelan.
"Dave, Dave! Itu kamu kan?"
Salsa pun langsung bangkit, dan terduduk. Meraba-raba mencari keberadaan Dave.
"Dave! Kamu dimana? Kenapa semua nya gelap? Plis! Tolongin aku! Aku takut gelap Dave." kata Salsa menangis histeris.
"Salsa!" seru Dimas.
Dimas pun langsung saja bangkit dari Sofa dan langsung saja berlari menghampiri Salsa.
"Dave!" jerit Salsa histeris.
BRAK...
__ADS_1
Salsa terjatuh dari atas ranjang.
Dan mencoba untuk meraba-raba lantai.
"Pergi kamu pembunuh! Pergiiiiiiiii!" jerit Salsa histeris.
"Dave! Kamu dimana? Tolongin aku! Hiks, hiks! Hiks..." Salsa terus saja menangis dan mencoba untuk bangkit, dan meraba-raba ke sekeliling nya.
"Salsa! A-Aku disini." kata Dave mencoba memegang tangan Salsa.
"Dave! Ini kamu kan? Kumohon hidupin lampunya! Aku gak bisa liat apa pun." ucap Salsa langsung memeluk Dave dengan sangat erat.
Sementara Dimas, Ia hanya bisa menyaksikan Sang Istri yang saat ini sedang memeluk Pria lain di hadapan mata nya secara langsung.
Dimas tidak bisa berbuat apapun. Ia tau Salsa saat ini pasti sangat ketakutan. Dan jika bersama nya, bukan nya membuat Salsa semangkin tenang. Tapi melainkan akan membuat Salsa.semangkin bertambah histeris.
"Apa sebenar nya yang terjadi?" lirih Dave dengan memeluk tubuh Salsa dengan erat.
"Dave! Di-Dimas! Dia yang udah ngebunuh anak aku Dave. Bella! Mereka berdua lah yang udah ngelakuin semua nya." kata Salsa menangis histeris.
"Ku mohon! Suruh Dimas pergi dari sini. Aku gak mau dia ada di sekitar aku Dave."
"Salsa! A-Aku"
"Pergiiiiiiii!" jerit Salsa histeris.
"Salsa aku mau jelasin ke kamu."
"Dimasss!!!" bentak Dave dengan suara yang sangat kuat, dan langsung membuat Dimas terdiam dan tidak mampu berkata-kata lagi.
"Kamu mau jelasin apa? Ini bukan saat yang tepat! Lu tau kan kalau keadaan Salsa masih kayak gini?" tekan Dave.
Salsa masih terus saja memeluk Dave. Dan bahkan punggung saat ini bergetar hebat. Akibat menangis.
*****
Sementara di lain tempat. Di dalam mobil.
"Gimana sekarang perasaan kamu?" tanya Bima kepada Bella yang saat ini sedang menangis.
"Bella! Kenapa kamu tega?" lirih Bima tak percaya.
"Oke! Maafin aku! Karena aku, kamu harus mengambil jalan yang salah kayak gini."
__ADS_1
"Aku gak ngambil jalan yang salah Bim! Aku cinta sama Dimas." bentak Bella.
"Iya' Kamu cinta sama Dimas. Tapi apa kamu tau kalau kamu udah nyakitin hati seorang wanita lain nya." bentak Bima dengan suara yang tak kalah keras nya.
*****
Dave terus mendorong kursi roda Salsa. Dan mengajak Salsa jalan-jalan di taman Rumah Sakit.
"Dave!" ucap Salsa pelan.
"Iya."
Dave pun langsung melangkah ke depan. Dan berjongkok di hadapan Salsa.
"Kenapa kamu gak buat aku mati aja? Kenapa kamu sama aja kayak Dimas? Yang selalu nyiksa aku, dan membuat hidup aku semangkin menderita. Seharusnya kamu gak usah sembuhin aku, dan kamu harus nya biarin aku pendarahan dan mati." kata Salsa, diiringi dengan air mata yang mengalir membasahi kedua pipi nya.
Langsung saja Salsa pun menghapus bulir-bulir air mata itu.
Dave meraih kedua tangan Salsa lalu mencium nya, dan setelah itu. Dave pun langsung menggenggam kedua tangan Salsa dengan erat.
"Kenapa harus mati? Masih ada orang ganteng yang masih berharap buat jadi Suami kamu di Masa Depan nanti. Kamu tega nyia-nyiain kesempatan buat nikah sama orang kaya. Hem!" kata Dave mencoba untuk tertawa. Meskipun mata nya saat ini sudah memerah menahan air mata.
Salsa hanya bisa tertawa kecil saat mendengar perkataan Dave barusan.
"Bukan aku gak mau! Cuman aku sadar diri kalau aku gak pantes kayak nya. Mana mungkin cowok ganteng, dan tajir kayak kamu mau sama cewek buta kayak aku. Dan bahkan yang lebih parah nya aku udah punya anak." balas Salsa mencoba untuk tersenyum, dan berlelucon untuk menghibur diri nya sendiri.
Namun tetap saja. Air mata nya saat ini tidak bisa berbohong. Seolah-olah air mata itu t'lah menggambarkan betapa sakit, dan hancur nya hati Salsa saat ini.
Dave pun langsung bergegas menghapus air mata Salsa dengan kedua tangan nya.
"Kamu tau gak Dave? Kalau aku sekarang jadi udah gak takut lagi." kata Salsa pelan.
"Oh' Ya! Memang nya sekarang kamu udah enggak takut sama apa?"
"Aku udah enggak takut sama gelap! Aku sekarang jadi udah terbiasa sama kegelapan. Dulu Bunda pergi karena gelap."
"Ma-Maksud kamu?" tanya Dave.
"Iya! Bunda! Bunda aku pergi ninggalin aku untuk selama-lama nya karena gelap. Waktu itu Bunda lagi sakit-sakitan, dan hanya bisa baring aja di kasur. Karena penyakit Leukimia nya udah parah. Namun tiba-tiba aja suatu malam, listrik mati. Dan waktu itu ada hujan, dan juga petir. Trus aku teriak berharap agar ada orang yang nolongin aku. Karena waktu itu aku lagi sendirian di kamar. Aku kira Ayah di rumah malam itu. Tapi ternyata enggak! Ayah masih di Kantor. Bunda yang saat itu sudah terlanjur panik karena ngedenger teriakan aku pun, langsung naik ke atas. Tapi ternyata tangga nya licin karena atap nya bocor. Dan terus Bunda jatuh kepeleset." jelas Salsa dengan tersenyum hambar.
"Dan sekarang! Aku seolah-olah di bawa ke masa yang silam. Dimana aku harus kehilangan Bunda di dalam kegelapan. Dan di dalam kegelapan itu juga aku harus kehilangan Bayi aku." lirih Salsa.
Hingga tak terasa air mata nya pun kembali menetes. Dan begitupun juga dengan Dave yang saat ini tidak sanggup membendung air mata nya lebih lama.
__ADS_1
"Gelap! Satu kata untuk gelap adalah. MENAKUTKAN." ucap Salsa lagi.