BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela

BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela
Gila


__ADS_3

"Maafkan aku!" ucap Dimas masih dengan memeluk Salsa dari belakang.


"Tidak perlu." ketus Salsa.


"Apakah kepala mu masih sakit?"


"Dimas! Lepaskan aku." Salsa menggeliat-liatkan badannya.


"Kenapa Hp nya bisa mengenai kepala mu tadi hingga berdarah seperti ini?" tanya Dimas menyentuh kening Salsa yang masih tersisa bekas darah yang sudah mengering.


Salsa tidak menjawab.


Dimas hanya bisa menghembuskan nafas kasar. "Baiklah! Aku tidak memaksa mu untuk menjawab pertanyaan ku." ucapnya.


"Ya." balas Salsa singkat.


"Kau tidak berubah, sifat mu masih sama seperti yang dulu. Menggemaskan!" ucap Dimas yang merasa gemas dengan isteri kecil nya itu.


"Aku masih tetap sama seperti dulu, masih sama-sama manusia." ketus Salsa.


"Oh, atau jangan-jangan suara yang keras tadi itu adalah kamu? Iya kan sayang?" tanya Dimas.


"Tidak."


"Lalu? Tadi itu suara apa kalau tidak suara yang berasal dari kamu sayang, saat terjatuh pingsan tadi."


"positif thingking aja, mungkin kuntilanak kejungkal dari pohon toge gara-gara semaput kenak angin tadi." jawab Salsa nyeleneh.


Otak Dimas berputar langsung (ngeleg).


Flasback on.


Tadi, saat Salsa mendengar suara pintu terbuka. Ia panik bukan main. Apalagi ditambah lewat cahaya kilat, remang-remang Ia dapat melihat bayangan seorang Pria tinggi besar masuk ke dalam kamar nya. Jantungnya seakan hendak copot saja keluar.


Tapi rasa panik nya hilang seketika saat mendengar suara Dimas sedang menggerutu tidak jelas. Ia yakin itu adalah Dimas, karena dia sangat hafal suara suaminya itu.


Salsa bangkit, dan berniat hendak menghampiri Dimas. Namun belum lagi Ia mendekat. Salsa di buat begitu terkejut, saat merasakan kepalanya terkena lemparan benda padat dan keras. Kepalanya sudah terasa panas dan sedikit berdenyut, apalagi ditambah Ia mendapat serangan mendadak hingga membuat Salsa akhirnya jatuh pingsan.


Flasback of.


"Dimas, pergilah!" ucap Salsa pelan.


"Tidak akan." Dimas malah semangkin mengeratkan pelukan nya, dan menyusupkan kepalanya di ceruk leher belakang Salsa.


Dengan sekuat tenaga Salsa melepaskan pelukan Dimas dan beranjak dari ranjang.


"Huft." Dimas hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


"Hujan sudah reda, apa lagi yang kau tunggu? Pulanglah! Mungkin istri mu sedang cemas dan menunggumu di Mansion."


"Apa yang kau katakan?" Dimas beranjak dari kasur, dan mulai mendekat ke arah Salsa.


"Dimas pulang lah! Apa aku harus membentak mu seperti tadi baru kau akan pulang."


"Kumohon! Izinkan aku tidur disini bersama mu!" Kata Dimas memohon.


"Aku tidak mengizinkan mu. Ini malam pengantin mu dan juga..., Siapa nama Istri kedua mu itu mas? Aku lupa!"


"Bella"


"Ya Bella, sepertinya dia merupakan wanita terpandang, dan juga berasal dari kalangan atas. Kalian berdua sangat cocok."


'Salsa mencoba untuk tersenyum'


Dimas mengguncang-guncangkan kedua bahu Salsa. "Salsa, Stop! Hentikan semua ini!"

__ADS_1


Bukan nya berhenti, Salsa malah tersenyum kearah Dimas, dan kembali berkata.


"Mana mungkin aku bisa merebut hak nya untuk malam ini. Malam ini adalah malam pengantin kalian."


"Aaajjkhhhhhh." Dimas berteriak prustasi, dan menjambak rambutnya sendiri.


"Ohhhh, aku lupa Dimas! Jika ternyata kalian sudah tidak bisa menikmati malam pengantin seperti orang lain."


"Apa maksud mu?"


Salsa berjalan kearah tirai jendela, dan menarik nafasnya secara perlahan sebelum berbicara kembali.


"Aku lupa jika kalian telah menikah selama 1 minggu yang lalu. Mungkin saja kalian sudah melakukan nya. Heh! Dasar bodoh! Bagaimana mungkin kau bisa begitu bodoh Salsa, mereka sudah menikah selama 1 minggu.


Kenapa kau bisa melupakan nya." Ucapan Salsa terhenti sejenak. 'Mencoba untuk menahan air matanya.'


"Disaat 1 minggu yang lalu aku menunggu suami ku untuk pulang kerumah, dan berharap agar pria itu datang melihat sesosok Putri kecil nya yang baru saja aku lahirkan dengan taruhan nyawa. Meskipun Pria itu tidak nenemani ku disaat masa-masa mengharukan itu. Tetapi aku masih tetap berharap setelah kau pulang nanti, kau dapat memberi ku alasan yang mungkin bisa ku maklumi dan ku terima."


'Air mata Salsa sudah tidak bisa di tahan lagi.'


"Bahkan aku masih bisa berpositif thingking saat itu. Mungkin saja kau waktu itu memiliki pekerjaan penting yang mendadak di luar Negeri. Mangkanya kau tidak bisa menemaniku disaat persalinan." ucap nya lagi dengan tangis yang menyertai.


"Dan bahkan yang lebih mirisnya disetiap malam aku malah menunggui seorang pria yang mungkin bisa saja tengah bercint* dengan istri barunya. Dan berharap bahwa kau akan pulang secepatnya, untuk melihat Buah Cinta kita." ucap nya di balik tirai putih jendela itu, dan sejuk nya angin malam.


Dimas langsung memeluk Salsa dari belakang "Maaf kan aku." ucapnya.


Salsa melepas pelukan Dimas, dan menghadap kearah Suaminya. Ia menghapus sisa-sia air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


"Pulanglah! Meskipun kalian telah melewati malam pengantin itu. Setidak nya 1 bulan kedepan merupakan hak untuk Bella.


Dan biarkan aku disini menenangkan diri."


"Tidak! Itu semua tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah sudi menyentuhnya sekalipun itu. Walaupun karena terpaksa." bantah Dimas.


"Kamu munafik Dim! Kamu munafik.


Kamu bohong!


Kamu bilang kamu tidak akan pernah sudi menyentuh Bella, tapi apa semua ini."


'Nada bicara Salsa mulai meninggi.'


"Apa arti semua ini Dimas!" bentak Salsa.


"Setelah kamu puas dan menghamili dia baru kamu bilang, kalok kamu enggak bakalan pernah sudi menyentuh Bella.


Kamu bahkan lebih dari pria br*ngs*k, kamu itu b*jing*n. Dasar Bedebah sialan, anj*ng. Pergi kamu! Pergiiiiii, aku bilang pergiiiiiiii.....!" Salsa berteriak keras, dan terus mendorong tubuh Dimas dengan kasar menuju pintu keluar Apartemen.


Ia tidak perduli, rasanya dia sudah kesetanan.


Dan tidak memperdulikan apapun, dan bahkan dengan nekat berteriak dengan suara yang keras, tanpa memperdulikan tetangga yang mungkin saja saat ini terganggu akibat suara teriakan Salsa.


JEDER. 'Suara pintu ditutup dengan keras'


Salsa langsung terduduk lemas, dan menyandarkan tubuh nya di balik pintu.


Ia sudah sangat frustasi seperti orang gila, pelupuk matanya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Serta rambut panjang nya yang saat ini sudah seperti orang gembel.


*****


"Pak! Pak!, Bapak kenapa tidur disini?" tanya Seorang Security Apartemen menggoyang goyangkan badan Dimas, agar bangun. Karena secara kebetulan Security tadi sedang lewat, dan berkeliling untuk memastikan keamanan serta kenyamanan para penghuni Apartemen.


Dimas terbangun. "Saya ketiduran ya Pak?" tanya Dimas dengan suara berat nya.


"Iya Tuan, eh maaf Tuan Muda! Saya pikir tadi siapa, eh rupanya Tuan Mudanya Keluarga Raharga." ucap Sang Security nyengir kuda, saat baru menyadari bahwa pria yang tidur di luar itu, ternyata seorang Tuan Muda yang sangat terpandang.

__ADS_1


"Oh enggak apa-apa kok pak, kalau begitu makasi udah ngebangunin saya tadi. Saya pamit ya Pak"


"Iya Enggeh Tuan Muda." balas Sang Security membungkuk hormat.


Sebelum beranjak pergi, Dimas sempat memandang dengan pandangan yang sangat sulit di artikan ke arah pintu Apartemen Salsa.


Dimas berjalan dengan lunglai keluar.


Pak Security yang melihat nya hanya bisa menganggap semua kejadian barusan, sebagai angin lalu.


Ia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan keluarga itu. Membayangkan nya saja jika harus ikut tergeret membuat nya bergidik ngeri.


Dimas mengendarai mobil nya di tengah-tengah jalanan yang sudah lumayan renggang, dan cukup sunyi. Karena jam kini telah menunjukan pukul 02.00 malam.


*****


"Dimas! Kamu baru pulang? Badan kamu kok bisa berantakan seperti ini? Aku siapain air hangat ya, supaya kamu mandi."


Tanpa mendapat persetujuan, dan juga jawaban dari Dimas, Bella langsung pergi beranjak ke Kamar Utama menyiapkan air mandi untuk Dimas.


CEKELEK. 'Suara pintu dibuka'


Bella mulai melangkah kan kakinya ke dalam dengan ragu-ragu.


Ia menatap kagum ke arah setiap sudut ruangan.


"Wah! Interior yang sangat berkelas." puji Bella kagum.


Setelah menyiapkan air mandi, Bella langsung beralih ke ruangan ganti (pakaian).


Bella mulai mencari-cari pakaian yang mungkin kira-kira cocok di kenakan oleh Dimas.


Dan akhirnya pilihan nya jatuh ke sebuah baju Piyama lengan panjang polos berwarna cokelat.


Untuk sesaat Bella masih tetap berdiri disana, memandangi gaun-gaun indah, dan mewah yang bergantungan rapi di sebuah lemari kaca yang besar, dan juga sangat mewah itu.


Ya' milik siapa lagi kalau bukan milik Salsa.


"Apa yang kau lakukan?" suara seseorang dari arah belakang membuat Bella terkejut, dan langsung membalikan tubuhnya.


"Aku mengizinkan mu masuk ke kamar isteri ku, bukan berarti kau bisa seenak nya saja melakukan apapun."


"Memang nya apa yang ku lakukan?" tanya Bella bingung.


"Sudah lah lupakan saja. Apakah air mandi ku sudah siap?"


Bella mengangguk dengan posisi kepala menunduk.


"Jangan pernah lagi, kau lancang dan masuk ke dalam Kamar Utama. Tanpa seizin Isteriku" tekan Dimas.


"Ba-baik" jawab Bella gugup.


mata Dimas menyipit. "Apakah kau iri dengan istriku? Jangan pernah berharap lebih untuk itu. Jika saja tidak karena terpaksa, aku tidak akan pernah sudi untuk menikahimu. Jika kau ingin barang-barang mewah seperti itu, maka beli lah sendiri. Bukan kah kau adalah Putri Semata Wayang (Tunggal) seorang pengusaha kaya raya?"


"Ya"


Dimas mengambil alih baju piyama yang dipegang oleh Bella dengan kasar.


"Pergilah!" ucap nya lagi dan langsung pergi meninggalkan Bella sendirian dikamar itu.


Dan membanting pintunya dengan kuat.


"Maafkan aku" ucap Bella lirih,


"Maafkan aku, Salsa! Aku tidak pernah berniat sekalipun untuk merusak Rumah Tangga kalian. Kau telah salah paham kepada suami mu, lihatlah! Dia bahkan sangat mencintai mu, dan rela melakukan apapun."

__ADS_1


'Tanpa sadar air mata nya kini telah mengalir'


"Kau wanita yang sangat beruntung, karena mendapatkan Pria yang sangat mencintaimu dengan sepenuh hati, dan jiwa raganya. Tidak seperti diriku." ucap nya lagi dengan tersenyum getir, dan dipenuh rasa bersalah.


__ADS_2