BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela

BERBAGI CINTA: Aku Tak Rela
Pengorbanan.


__ADS_3

Flasback on.


Setelah melihat Dimas keluar dari ruangan rawat nya. Salsa langsung saja mengikuti Dimas secara diam-diam.


Awalnya Salsa begitu lega, saat melihat Dimas yang ternyata masuk kedalam ruangan rawat Shireen. Namun hanya baru beberapa menit saja. Dimas kembali keluar dan pergi lagi entah kemana. Salsa pun terus mengikuti Dimas.


Dan ternyata Dimas datang ke ruangan Bella.


Salsa mencoba untuk mengintip ke dalam.


"Apakah masih sakit?" tanya Dimas.


"Sedikit." jawab Bella.


"Nanti sore kau akan ku antar pulang. Maka bersiap-siap lah. Aku tidak ingin Salsa mengetahui kalau kau berada di sini juga." kata Dimas.


Bella pun mengangguk paham.


Dimas duduk di sofa yang letak nya tidak jauh dari ranjang Bella.


Terlihat jelas. Kalau Dimas saat ini sedang lelah, dan juga letih.


Bella pun hendak turun dari ranjang. Namun. Dimas yang melihat nya langsung sepontan berlari ke arah Bella.


"Apa kau gila?" Bentak Dimas.


Bella menggeleng.


"Aku ingin turun, dan duduk di sana!" tunjuk Bella ke arah sofa.


"Untuk apa?" tanya Dimas.


"Aku letih jika harus rebahan saja." jawab Bella.


"Baiklah!"


Dimas pun langsung menggendong Bella ke sofa. Dan mendudukan Bella ke sana.


Dan Dimas pun ikut duduk di sana. Di samping Bella.


Dimas mengambil laptop nya. Dan mulai mengerjakan tugas kantor yang sempat tertunda.


"Mas!" panggil Bella.

__ADS_1


Dimas tidak menjawab. Dan masih tetap Fokus pada laptop nya.


"Mas lelah? Kalau Mas lelah Mas bisa cerita ke aku!"


Dimas langsung memandang wajah Bella.


"Em! Aku tau kalau Mas pasti banyak masalah kan. Aku minta maaf! Karena udah mengacaukan segalanya."


"Bagus kalau kau sadar diri." ketus Dimas.


"Terima kasih juga. Karena Mas udah mau nolongin aku. Dan menyelamat kan Rafa." ucap Bella.


Dimas langsung menoleh ke arah Bella. Dan menatap nya dengan intens.


"Kau tidak marah?" tanya Dimas.


"Untuk apa aku marah?" tanya Bella balik.


"Aku sudah menghina mu, dan bahkan sudah membuat mu jadi seperti ini." jawab Dimas.


Bella pun tersenyum ke arah Dimas.


"Aku paham. Dan aku yakin Mas ngelakuin ini semua karena Mas kuwatir sama Rafa. Dan juga Cinta sama Mbak Salsa."


Dimas menggeleng tak percaya. Melihat sikap dewasa Bella.


"Entahlah! Entah hal apa yang bisa membuat ku bisa terlalu terobsesi pada Salsa. Namun di lain sisi. Aku juga sangat gila jika harus menghadapi sikap kekanak-kanakan nya.


Dia tidak dewasa dalam menghadapi masalah. Tapi apa kau tau? Melihat Salsa yang selalu ingin pergi dari ku. Membuat ku menjadi semangkin menggila untuk mempertahan kan nya." ucap Dimas pelan.


"Bersabarlah Mas! Orang tua ku Bulan depan akan pulang ke Kanada. Dan aku dan juga Rafa pasti akan aman setelah ini. Dan Mas, dan juga Mbak Salsa bisa kembali menjalani Rumah Tangga yang harmonis. Seperti dulunya"


Dimas pun mengangguk paham.


"Maafkan sekali lagi! Karena kedua orang tua ku. Mas jadi harus terpaksa menikahi ku." ucap Bella.


Bella menghembuskan nafas nya terlebih dahulu. Sebelum akhirnya kembali berbicara.


"Aku pun tidak tau. Kenapa bisa mereka berfikir kalau Mas lah Ayah dari Rafa. Dan bahkan mengancam. Jika Mas tidak mau bertanggung jawab. Maka kedua orang tua ku. Akan membun*h Rafa saat itu juga karena malu jika harus memiliki cucu yang lahir tanpa seorang Ayah. Aku pun sempat bingung! Kenapa bisa mereka berdua datang di saat secara bersamaan? Di saat Mas masih ada di sana?"


"Itu semua sudah terjadi! Lagian Bukan kah mereka sudah bilang? Kalau kedua orang tua mu memang ingin pulang menjenguk mu ke Indonesia."


"Tapi bukan hal itu yang aku bingungkan Mas!

__ADS_1


Kenapa bisa secepat itu mereka tau kalau aku kecelakaan. Dan di bawa ke Rumah Sakit? Dan bahkan yang lebih aneh nya. Kita berdua belum sampai di Rumah Sakit. Tapi. Mereka sudah sampai duluan di sana. "


"Mungkin itu ketepatan. Dan juga pasti saat Orang Tua mu datang ke Rumah mu. Mereka pasti akan langsung mencari mu. Lagian Ayah mu adalah seorang Konglamerat di Negara nya. Jadi sangat mudah untuk mencari keberadaan mu. Seperti aku mencari Salsa yang hilang kemarin. Hanya dengan membutuhkan Kekuasaan. Aku bisa mengetahui dimana Salsa hanya dalam waktu singkat."


Bella pun mengangguk paham. Karena jawaban Dimas cukup masuk akal.


"Mas!" panggil Bella.


"Ya." jawab Dimas.


"Apa alasan Mas mau menikahi ku waktu itu? Padahal Mas bisa saja meninggalkan ku. Karena bahkan Mas tidak kenal sama sekali pada ku. Tapi Mas bahkan mau menuruti ke egoisan Kedua Orang Tua ku. Yang memaksa Mas untuk tetap menemani ku. Dan bahkan rela meninggalkan Salsa?"


"Awalnya aku mengambil tindakan ini karena aku berfikir kalau Salsa mau memahami situasi yang aku alami sekarang. Dan akan menjelaskan semua kesalah pahaman ini kepada Salsa. Karena dia juga seorang Ibu. Dia pasti akan memahami. Apa yang t'lah kau alami! Tapi ternyata aku salah! Salsa bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan ku sedikit pun. Dia malah marah! Dan pergi meninggalkan ku begitu saja."


Bella mengelus bahu Dimas.


"Apa yang di lakukan oleh Mbak Salsa itu enggak salah Mas! Aku juga wanita! Aku paham dengan apa yang di alami oleh Mbak Salsa. Enggak akan ada wanita yang mau Di Madu! Karena itu sakit."


"Tapi Salsa terlalu bersikap kekanak-kanakan. Dan melihat sikap nya yang seperti itu. Sebenarnya aku tidak tahan! Tapi aku mencintai nya. Posisi ku jadi serba salah Bella! Aku lelah! Aku lelah saat di kantor. Dan di tambah masalah ini. Membuat ku menjadi gila. Dan bahkan ku rasa aku sudah gila. Karena menodongkan Pistol kepada Istri ku sendiri." lirih Dimas. Namun masih bisa di dengar oleh Bella.


"Kenapa Mas melakukan hal itu? Wanita itu harusnya di bujuk dengan kelembutan. Bukan dengan kekasaran." tanya Bella tak percaya.


"Itulah satu-satu nya cara supaya Salsa mau kembali ke sisi ku lagi. Soal kelembutan? Aku bahkan sudah mencoba untuk bersikap, dan menjelaskan semua nya dengan selembut-lembut nya. Tapi dia malah menuduh ku yang tidak-tidak. Dan mengatakan kalau aku berkhianat! Padahal semua yang terjadi adalah di luar kuasa ku. Siapa orang yang tidak ingin menemani Istri nya melahirkan? Dan siapa orang yang tidak ingin menyaksikan Sang Istri tercinta yang berjuang. Demi melahirkan Putri yang sudah sangat di tunggu-tunggu untuk di lahirkan ke Dunia ini?"


"Tidak ada." ucap Dimas menggelengkan kepalanya. Air mata nya saat ini telah tumpah membasahi pipi nya.


Bella menjadi merasa bersalah.


"Harusnya waktu itu aku tidak mengorbankan Orang Lain. Demi keselamatan Putra ku." lirih Bella.


"Naluri ku sebagai seorang Ayah tidak bisa berbohong Bella. Mana mungkin aku tega menyaksikan seorang Bayi yang sangat menginginkan lahir ke Dunia ini. Untuk melihat Indah nya Dunia. Harus M*ti begitu saja. Dan aku juga memahami perasaan mu waktu itu. Kau bahkan rela memohon, dan bersujud di hadapan Kedua Orang Tua mu. Padahal. Waktu itu kau baru saja selesai melahirkan."


"Lalu aku harus bagaimana? Mungkin satu-satu nya cara adalah aku harus pergi dari hidup kalian! Aku juga tidak sanggup melihat semua ini." ucap Bella terisak.


"Tidak!" bentak Dimas.


"Kau salah Bella. Percuma saja jika kau pergi dari sini. Kedua Orang Tua mu masih memantau mu. Lalu apa gunanya kau pergi. Dan semua Pengorbanan yang aku lakukan akan sia-sia begitu saja." cegah Dimas.


"Tapi!" 'Bella ragu.'


"Jika kau ingin pergi. Pergilah setelah Kedua Orang Tua mu pulang ke Kanada. Maka! Kau dan juga Rafa akan selamat. Tapi jika kau memutuskan untuk pergi saat ini juga. Apa kau rela jika nanti Rafa akan di bun*h oleh Kedua Orang Tua mu?"


Bella menggeleng lemah.

__ADS_1


Dimas pun langsung meraih kepala Bella. Lalu meletakan nya di dada bidang milik nya.


Untuk sesaat Dimas memeluk Bella. Agar Bella bisa sedikit tenang.


__ADS_2