
Alea memegang pisaunya mengarahkan pada pipi mulus Rachel ia tersenyum puas melihat kemulusan pipi itu.
"Pasti menyenangkan kalau pipi mulus ini di beri sedikit corak." Ucap Alea menancapkan mata pisau di pipi Rachel hingga membuat Rachel menjerit kesakitan tapi apa daya jeritan nya tak sempurna keluar karena lidah yang sudah terpotong dan rasa sakit sekujur tubuh.
Darah mengucur deras dari pipi kanan Rachel, Alea terus menyayat dan memperdalam d Ngan rekanan tangan nya ia semakin membuat pisau itu masuk hingga setengah. Tubuh Rachel nampak kejang-kejang menahan rasa sakit.
Alea sudah selesai dengan pipi kini sudah melepas tancapan pisau itu. Alea melihat keadaan Rachel yang mengenaskan.
"Baru seperti ini saja kau sudah tidak tahan, seharusnya sebelum kau bertindak kau harus memikirkan akibat apa yang akan kau dapatkan nanti." Ucap Alea.
"Wanita seperti mu tak pantas untuk hidup karena kau suka menghancurkan rumah tangga orang lain tanpa memikirkan nasib wanita yang kau goda suaminya. Sepertinya seluruh tubuh mu ini harus di beri hukuman."
"Sekarang mau bagian mana yang di adili? Apa alat vital mu ini saja yah? Karena pasti kau sering memakainya untuk mendapatkan uang dan juga merusak keluarga orang lain." Ucap Alea menyingkap dress Rachel
"Hahahah Jangan takut. Aku tak akan melakukan hal yang menjijikan itu, kau tenang saja." Ucap Alea tertawa melihat Rachel yang memberontak dengan air mata.
(Sebenarnya author gak sanggup kalau udah main ke arah itu, jadi ngilu. Jadi author ganti ke perut saja. )
"Baiklah karena kita sama-sama wanita maka akan ku ringankan hukuman mu." Ucap Alea mengarahkan pisau nya di perut Rachel.
"Sebagai gantinya aku akan menghukum perut mu saja." Ucap Alea menancapkan dengan pelan mata pisau itu, tampaknya Rachel memang sudah tak bisa menjerit lagi. Ia hanya memberontak dengan air mata yang keluar, sungguh ia sangat menyesal. Tapi apa daya penyesalan pastinya akan datang di akhir cerita.
Setelah menancapkan Alea mulai menggerakkan pisaunya dengan lambat merobek perut Rachel dengan lebar dan yang paling di sukai Alea adalah Rachel belum mati walau Alea sudah membela perutnya.
"Sepertinya kau sangat kuat, jadi aku harus sedikit lebih kasar lagi" Ucap Alea menancapkan mata pisaunya di bagian paha Rachel laku menyayat nya, tak ada yang luput dari tancapan mata pisau Alea yang tajam, hanya satu yaitu alat vital Rachel. Sungguh Alea sangat tak suka kalau bermain di area situ.
Tampak Rachel sudah tak bernyawa namun itu tak membuat Alea berhenti melakukan aktivitasnya. Seperti anak balita yang sedang main masak-masak begitu juga Alea yang asyik merombak tubuh Rachel layaknya sedang bermain bongkar pasang boneka.
Mulai dari mengeluarkan isi perut, mencongkel mata lalu mengiris-ngiris nya. Menguliti, bahkan Alea menancapkan pisau kecilnya itu di kepala Rachel dan berusaha membelahnya. Karena kepala itu keras dan pisau Alea itu kecil jadi Alea menyudahi saja aktivitas nya itu dengan rasa kecewa karena tak bisa melihat otak Rachel.
Ia mau memastikan apakah perempuan itu mempunyai otak atau tidak. Setelah itu Alea langsung membersihkan tangannya yang berlumuran darah dan membuka sweater panjang nya yang sudah terkena cipratan darah lalu melempar pada tubuh Rachel.
Alea lalu mengeluarkan sebuah korek api yang memang sudah ia sediakan sedari awal, dari mana ia mendapatkan itu? Yah seperti ia mendapatkan sweater begitu juga ia mendapatkan benda lainnya.
Alea mencoba menyalakan korek api itu dengan bersusah payah karena tak terbiasa, tapi ia tadi melihat bapak-bapak menggunakannya dengan cara menekan sesuatu di dekat lubang yang ada di korek tersebut.
Mata Alea membulat ketika ia menekan korek itu langsung mengeluarkan api.
Ajaib
Alea mencari beberapa kantong plastik lalu membakarnya di atas tubuh Rachel. Karena kantong plastik itu banyak jadi apinya menjadi besar dan perlahan-lahan melahap dinding kamar mandi.
Alea langsung keluar dan meninggalkan tempat itu dengan santai tanpa ia sadari ada yang sedang memperhatikan nya dengan seringai kecilnya.
__ADS_1
"Menarik."
*******
Alea sudah sampai di tempat sebelumnya ia menunggu Leon. Ia heran mengapa Leon begitu lama.
"Sayang!" Ucap Leon ngos-ngosan dan baju yang berantakan, tak lupa pula kantong plastik yang berisi eskrim
"Mengapa lama sekali?" Ucap Alea kesal.
"Maaf tadi aku harus mengantri di dekat ibu-ibu lalu mereka berebutan minta foto." Ucap Leon duduk di samping Alea
"Hehehe sepertinya kau cukup terkenal." Ucap Alea.
"Hmmm iya, aku kan pemilik perusahaan terbesar di negara ini." Ucap Leon bangga.
"Cih." Decih Alea muak.
Alea mengambil eskrim nya dan langsung memakan eskrim tersebut karena ia sangat haus setelah melakukan aktivitasnya tadi.
Leon menatap Alea dengan penuh tanda tanya dan Alea menyadari itu.
"Ada apa?" Tanya Alea.
"Apa sih?" Ketus Alea.
"Sayang mengapa kau bau darah?" Tanya Leon menatap serius pada Alea.
"Masa sih.?" Tanya Alea pura-pura mencium bajunya, ia tak memikirkan tadi kalau bau darah itu masih melekat pada tubuhnya.
"Apa yang terjadi Lea?" Tanya Leon serius.
"Aku tidak tahu, dari tadi aku selalu duduk di sini." Ucap Alea kesal.
"Apa kau sedang menstruasi.?" Tanya Leon.
"Apa itu?" Tanya Alea.
"Ck, jangan bilang kau juga lupa apa itu menstruasi." Ucap Leon kesal.
"Maksudku apa itu mu mengeluarkan darah?" Tanya Leon.
"Itu apa?" Tanya Alea makin bingung.
__ADS_1
"Ck, coba berdiri!" Perintah Leon.
"Aku tak mau, malas." Ucap Alea memelas
"Cepat!" Ucap Leon tegas.
Alea pun berdiri dan membelakangi Leon. Karena Alea memakai celana hitam jadi tidak terlihat apa-apa, Leon pun mengusap celana bagian bokong Alea dan mencium tangan. Alea yang melihat itu begitu terkejut, apa hal semacam itu sering di lakukan di bumi.
"Sayang apa perut mu sakit?" Tanya Leon.
"Iya lumayan." Ucap Alea jujur kembali duduk.
"Mengapa kau melakukan itu tadi?" Tanya Alea masih bingung.
"Untuk memastikan saja sayang dan ternyata kau memang mens." Ucap Leon menghela nafas kasar, itu berarti nanti malam ia tetap tak bisa mendapat jatah.
"Apa itu?" Tanya Alea masih bingung.
"Datang bulan sayang." Ucap Leon.
"Oh." Ucap Alea mengerti.
"Ayo kita pulang agar kau bisa membersihkan diri dan beristirahat." Ucap Leon berdiri.
"Tapi aku masih ingin di sini" Ucap Alea.
"Kita harus pulang sayang kau itu sedang datang bulan jadi harus banyak istirahat dan celana mu harus diganti." Ucap Leon.
"Emmmm baiklah." Ucap Alea cemberut, mengapa ia harus datang bulan di saat suasana hatinya sedang bagus karena habis melakukan aktivitas tadi.
_
_
_
_
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah
agar author makin semangat untuk update setiap hari nya
Typo bertebaran dimana-mana harap tenang dan bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
tbc