
Mobil terus berjalan dengan kecepatan sedang menelusuri daerah pengunungan. Leon hanya bisa mengikuti saja laju mobil yang santai itu. Tibalah mereka di sebuah resort mewah, tampak mobil itu berhenti dan Leon juga menghentikan mobilnya. Ketika Xei keluar Leon dan yang lainnya juga ikut keluar.
"Silahkan tuan," ucap Xei yang mempersilahkan Leon dan yang lainnya masuk ke dalam bangunan mewah dan asri. Leon dan yang lainnya duduk di ruang tamu menunggu seseorang yang katanya bos dari Xei.
Sedari tadi Mita tak mengalihkan pandangannya dari Xei, pria berambut hitam pekat dengan rupa yang tegas dan tampan. "Berhenti melihat nya!" sebuah jitakan kecil mendarat di kepala Mita dan Mita memberengut kesal karena yang menjitak nya adalah Arsel.
"Selamat pagi menjelang siang tuan-tuan dan nona," ucap Glen berjalan mendekat dengan senyuman ramah tak lupa pula tampilan yang elegan dan menawan membuat Mita kembali menatap kedua pria asing yang sangat mempesona itu. Arsel menggerutu kesal melihat mata Mita yang berbinar seperti melihat harta karun saja. Padahal dia juga tampan dan keren, tapi Mita tak pernah sampai berbinar-binar ketika melihat nya.
"Selamat pagi menjelang siang tuan," ucap Leon datar. Tampak Glen duduk di sofa tepat di hadapan Leon di ikuti Xei yang berdiri di samping Glen sembari tersenyum pada Mita yang sedari tadi menatapnya.
Aku pasti bermimpi, dia membalas senyuman ku batin Mita senang.
"Saya dengar dari pria yang di samping anda bahwa istri saya ada di tempat tuan?" tanya Leon tanpa basa-basi lagi.
"Oh, anda terlalu terburu-buru tuan. Baiklah saya akan mengatakan nya, istri anda sedang beristirahat," terang Glen dengan ramah.
"Tapi mengapa bisa istri seorang pengusaha sukses bisa berada di tempat seperti ini?" tanya Glen tersenyum ramah.
"Cih, jangan banyak tanya. Dimana istri ku sekarang? Tunjukkan jalan menuju kamar yang kau maksud!" ucap Leon penuh penekanan.
"Sangat di sayang kan sikap anda terhadap orang yang sudah menolong istri anda sangat lah tidak mengenakkan," ucap Glen tersenyum mengejek.
Brakkk.
"Terlalu banyak bicara. Katakan di mana istri ku atau aku akan--"
"Akan apa?" Leon dan yang lainnya berbalik menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang mereka kenal. Di belakang sana sudah ada Alea dan Nena yang berdiri. Setelah kedatangan Leon ke ruang tamu Glen langsung memerintahkan pelayan untuk membangun kan Alea.
"Lea," Ucap Leon menatap penuh khawatir dan juga rindu, ia berjalan mendekat dan langsung memeluk Alea yang hanya diam dan akhirnya membalas pelukan itu juga.
Sedangkan di sofa Xei memperhatikan raut wajah Glen yang berubah datar melihat dua insan yang tak tahu tempat itu. Hah, sungguh percintaan yang rumit.
"Kau bilang kalau tuan Glen tak mengatakan keberadaan ku kau akan melakukan apa?" tanya Alea melepas pelukan Leon yang erat itu.
"Aku akan membunuh nya," bisik Leon membuat Alea menatap tajam pada Leon dan di balas dengan senyuman manis.
"Maaf atas kelakuan suami saya tuan. Dia memang tak tahu diri dan tak berterimakasih," ucap Alea menunduk kan kepalanya.
"Lea mengapa kau meminta maaf? Kau kan tak bersalah," Ucap Leon tak suka.
__ADS_1
"Diam lah!" sindir Alea penuh penekanan.
"Tidak masalah nona, saya sangat mengerti akan sikap suami anda yang hanya khawatir pada anda," tutur Glen kembali menormalkan raut wajahnya menjadi ramah dan sopan.
Siapapun yang pertama kali melihat rupa Glen yang seperti itu pasti akan jatuh hati.
"Terimakasih tuan."
"Lea ayo kita pulang," Ucap Leon tak sabaran.
Dasar tak tahu diri. Gerutu Alea.
"Tuan Glen, terimakasih sudah membantu kami dan juga memberikan tumpangan untuk beristirahat. Jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan akan saya lakukan untuk menebus semua perbuatan baik anda" tutur Alea dengan nada sopan.
Bagaimana kalau aku meminta mu menjadi milikku, apa kau bersedia? pikir Glen.
Tentu saja tidak.
"Tidak masalah nona, saya membantu anda tulus dari hati saya," ucap Glen tersenyum manis membuat Leon merasa jengkel.
Heh, sepertinya kakak memiliki rival hahahaha, batin Mita.
"Baiklah, hati-hati dijalan."
Mereka semua berdiri setelah mengucapkan kata terima kasih termaksud Leon yang mengucapkan terima kasih karena sudah. berbaik hati menolong istrinya.
Alea dan yang lainnya berjalan menuju mobil, ketika ingin masuk mobil Leon baru teringat dengan anak kecil yang ada di samping Alea.
"Lea, siapa anak ini?" tanya Leon masuk kedalam mobil duduk di kursi penumpang. Sedangkan yang mengemudi adalah Danish lalu Mita dan Arsel masuk mobil lain yang sudah mereka siapkan sedari awal kalau mobil pertama penuh.
"Dia? Ini namanya Nena dan dia anak ku," Ucap Alea tersenyum jahil. Tampak raut wajah Leon berubah dingin, ia tahu ini pasti hanya sebuah Canaan.
"Hm, kau tak bisa membohongi ku."
"Kalau kau tahu bukan anak ku yah jangan tanya! Sudah jelas dia anak orang!"Ucap Alea penuh penekanan sambil menjitak kening Leon.
"Aku tahu dia anak orang, tapi mengapa bisa bersama mu?" tanya Leon terus menatap anak kecil yang ada di samping Lea membuat Nena menjadi takut.
"Berhenti menatap nya seperti itu sebelum aku mencongkel mata mu!" ancam Alea dengan tegas.
__ADS_1
"Kau tak boleh berbicara kasar di dekat anak kecil Lea. Itu berbahaya."
"Kau juga tak boleh menatap anak kecil dengan tatapan mengerikan seperti itu," Ucap Alea tak mau kalah. Danish yang mendengarkan keributan itu hanya bisa geleng-geleng.
"Jadi coba jelaskan mengapa anak ini bisa bersama mu?"
"Hmmm, Nena sama seperti ku. Kami sama-sama ingin di jual di pulau ini, karena Nena tak punya keluarga jadi aku ingin merawat nya," ucap Alea menatap Nena dengan penuh kasih sayang, meski Nena pernah menghianati nya namun itu masih bisa di tolerir karena Nena pun terdesak.
"Kau ingin merawat nya, tapi tak meminta izin ku dulu?" tanya Leon, bukan ia tak suka pada Nena hanya saja ia sedikit jengkel dengan anak kecil, karena anak kecil itu mudah menangis dan juga susah di atur.
"Kalau kau tak mengizinkan nya tak apa. Aku akan mencari pekerjaan sendiri dan membeli rumah sendiri untuk bisa menghidupi Nena," ucap Alea tak bersungguh-sungguh, mana mau dia mencari kerja.
"Sayang, bukan begitu maksud ku. Hanya saja kita harus mengurus surat adopsi terlebih dahulu kalau mau merawat anak orang. Itu makanya aku menyarankan untuk meminta izin pada ku terlebih dahulu," ucap Leon membuat Alea tersenyum manis dan menghadiahkan sebuah ciuman di pipi Leon.
"Terimakasih," ucap Alea tersenyum membuat Leon mabuk kepayang.
Mungkin dengan adanya anak ini, Alea akan semakin cinta pada ku. Nena kau adalah pion ku hehehe.
Sedangkan di tempat penginapan Glen, tampak suasana hati Glen yang tiba-tiba saja memburuk.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Xei mengerti akan keadaan yang sedang terjadi.
"Hmmm, dia melupakan aku. Hufffff, Xei," panggil Glen.
"Saya tuan."
"Ayo kita pulang, urusan kita di pulau menjijikan ini sudah selesai," ucap Glen berdiri meninggalkan ruangan.
"Baik tuan."
"Oh ya, jangan lupa untuk rencana B pada dalang dari semua kejadian yang menimpa Selena!" perintah Glen menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Xei dengan tersenyum ramah.
"Baik tuan."
Saya harap anda bahagia, meski senyuman anda terlihat ramah namun saya tahu ada sebuah api kemarahan dan kesedihan dalam hati anda yang hanya bisa anda luapkan seorang diri saja.
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc
__ADS_1