
Hari sudah menjelang sore, akhirnya Leon dan yang lainnya tiba di mansion. Leon tersenyum melihat Alea yang tertidur dengan memangku Nena, ia jadi ingin punya anak juga dan anaknya harus perempuan. Ia tak mau laki-laki karena nanti Alea akan lebih mencintai laki-laki lain meski itu anaknya sendiri.
"Lea, sayang bangun."
"Hmmm."
"Kita sudah sampai sayang," Leon menepuk-nepuk pipi Alea agar terbangun dan akhirnya Alea pun terbangun dengan mata yang merah khas orang bangun tidur. "Nena biar aku yang menggendong nya."
Leon turun dari mobil lalu membuka pintu mobil sisi lainnya dan menggendong Nena yang masih tertidur. Mereka berjalan menuju mansion sedangkan Danish memilih untuk pulang karena lelah. Danish heran seharusnya seperti ini Vino lah yang ikut dengan Leon bukan dia yang berstatus orang sibuk.
Danish bahkan mengumpat kesal karena baru sadar sedari tadi mobil yang di kemudikan Arsel tak kunjung datang ke mansion.
"Dasar remaja sialan! Tega-teganya pergi berduaan sedangkan aku harus menjadi supir."
Di dalam mansion. Leon membaringkan Nena di tempat tidur kamar yang sudah di sediakan ketika Leon menghubungi pak Andi bahwa ada anak kecil yang akan tinggal di mansion.
****
Hari sudah berganti, terlewatkan dengan malam yang hangat. Leon yang kini berada di kantornya duduk menatap Vino yang sedang mengkotak-katik laptop.
"Apa kau sudah mendapatkan nya?"
Vino mengangguk yang menandakan kalau semua berjalan dengan lancar. Leon tersenyum puas ia ingin melihat tampang dari dalang semua kejadian yang terjadi pada Alea.
Dengan ragu Vino memberikan laptop yang berisi bukti seperti rekaman panggilan telepon dan juga isi percakapan.
Leon pun menerima laptop dan melihat langsung bukti-bukti yang di dapat Vino, alisnya tersentak secara bersama melihat nama yang tercantum.
"Ternyata mereka."
Leon mencengkeram keyboard laptop hingga pecah membuat Vino menatap dengan tatapan sedih karena laptop kesayangan nya menjadi imbas dari amarah tuan nya.
"Apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya Vino berusaha tenang merelakan laptop kesayangan nya.
__ADS_1
"Hmmm, aku ingin melihat mereka menderita. Merasakan apa yang di rasakan Lea ku!" Leon kembali menatap nama yang tercantum di obrolan chat, nama yang sangat ia kenal.
"Apa anda yakin, tuan? Salah satu di antara mereka ada ibu anda," tanya Vino. Apakah tuan nya ini akan tega terhadap ibunya sendiri.
"Aku tak peduli! tapi karena dia ibu ku aku masih memberikan keringanan dengan mengasingkan nya ke negara terpencil. Namun untuk yang satunya lagi, jangan pernah berharap belas kasih untuk dia. Wanita ia*ang yang berani mencoba membunuh istri ku!" tegas Leon. Vino menghela nafas lega, setidaknya tuanya ini masih punya hati nurani.
Huffff untung lah anda masih punya hati, tuan. Jika anda menghukum ibu anda seperti menghukum yang satunya juga. Saya tak bisa berkata-kata lagi.
***
Sedangkan di sisi lain tepatnya di apartemen Bella. Kedua wanita itu kini tengah bercucuran keringat dengan urat yang tampak tegang di selimuti kulit yang putih. Mereka tak bisa mengatakan apa-apa ketika sekelompok pria berpakaian hitam dan tubuh tegap ada di apartemen mereka.
"Ma, siapa mereka?" tanya Bella.
"Mama juga tidak tahu," jawab Maya yang juga sangat ketakutan.
Baru saja mereka akan berpesta atas keberhasilan rencana, tapi kini sudah di kejutkan dengan orang-orang yang ada di apartemen dan mengikat mereka dengan erat.
"Bos, semuanya sudah siap," ucap salah satu pria berbicara dengan seseorang di balik telepon.
"Baik bos."
Tut
Tut
"Semuanya, ayo kita beri mereka hadiah."
Dengan senyuman devil, para pria itu mendekat dengan perlahan-lahan membuat Bella dan Maya menjerit sekeras mungkin di tambah lagi ketika para pria itu membuka pakaian mereka.
"Mau apa kalian!" teriak Maya dengan keras, namun itu semua sia-sia karena apartemen yang sudah di sabotase dengan alat peredam suara.
"Jangan terlalu galak ja*ang!" salah satu pria menjambak rambut Maya dengan kasar membuat si empunya merintih kesakitan.
__ADS_1
"Aku ingin wanita muda ini." Ucap salah satu pria mendekat pada Bella membelai wajah Bella bahkan menjilati pipi Bella.
"Pergi kau sialan!" teriak Bella jijik dengan perlakuan pria itu.
"Hahahah, Jangan terlalu jual mahal ja*ang. Aku saja tidak menjamin kalau kau masih perawan," tawa pria itu membuat Bella semakin marah. Tentu saja ia masih perawan dan ia tak akan membiarkan laki-laki bejat ini merenggut mahkotanya yang ia jaga hanya untuk Leon.
"Jangan hiks hiks jangan!" lirih Bella. Ingin ia berteriak meminta tolong namun apa daya tak ada yang bisa mendengarkan. Sedangkan Maya sama persis nya seperti Bella di perlakukan layaknya sebuah benda pemuas nafsu.
Skip
Setelah kegiatan selesai, para pria itu kembali memakai pakaian nya memandang jijik pada ke dua wanita yang terkapar dengan tubuh yang penuh dengan bekas gigitan.
"Kalian tahu? Ini semua hanya lah bagian kecil dari apa yang telah kalian lakukan pada seseorang. Kalian yang sudah merencanakan sesuatu yang menjijikan pada seseorang dan kalian lah yang harus merasakan bagaimana di perlakukan secara menjijikan pula."
Semua pria itu keluar setelah membersihkan jejak, meninggalkan kedua wanita yang terisak pilu dengan tubuh yang sangat kotor.
"Aku tak ingin hidup lagi,"lirih Bella merangkak mendekati sebuah vas. Ingin rasanya ia menancapkan pecahan vas bunga itu ke bagian jantung nya agar ia tak hidup dengan tubuh yang hina ini. Namun sebelum sampai kesadaran Bella hilang karena energinya yang terkuras habis. Bella pun terjatuh pingsan di ikuti Maya yang juga kelelahan. Mereka berdua pingsan dalam keadaan berte***jang sampai tak menyadari seseorang yang sedang menatap jijik pada mereka berdua.
"Cuih, dasar jalang, apa yang baru saja mereka lakukan? Vino bawa Bella ke markas! Lalu ibu, langsung kirim kan dia ke tempat terpencil!" Leon yang ingin muntah pun akhirnya memilih keluar, sedangkan Vino mau bagaimana lagi ia harus mengurus kedua wanita yang merepotkan itu.
"Mata ku sudah ternodai."
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
__ADS_1
Kalau tidak suka, harap tinggalkan tanpa jejak yah.
tbc