
Hari sudah berlalu, setelah kejadian meninggal nya Bella semua hidup dengan tentram. Dua bulan pun berlalu dengan cepat dengan suka dan duka serta hari yang menyebalkan. Alea yang dulunya tidak tertarik dengan kehidupan orang-orang kini menjadi lebih manusiawi semenjak kehadiran Nena di rumah.
Keimutan anak kecil itu membuat sisi lembut Alea terbentuk secara perlahan-lahan,Leon bahkan di buat terkesima dengan sikap keibuan Alea. ingin rasanya ia cepat-cepat untuk memiliki anak perempuan agar kebahagiaan mereka bertambah.
Seperti hari ini, Leon yang ingin pergi ke kantor di buat mabuk kepayang dengan Alea yang menghujani ciuman di wajahnya. Sifat Alea yang menggemaskan membuat Leon tak tahan untuk bertindak lebih lanjut, namun entah mengapa sepertinya istrinya ini sedang mempermainkan nya karena memancing gairah nya namun menolak melakukan hal yang lebih. Sungguh Leon begitu frustasi.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu yah." Dengan senyuman manis an kecupan hangat Leon pergi melangkah keluar kamar meninggalkan Alea yang memasang wajah menggemaskan. Belum sampai di depan pintu Leon di kejutkan dengan seseorang yang meloncat ke punggung nya, hampir saja Leon terjatuh kalau tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Leon pun menoleh melihat Alea yang tersenyum imut di belakang. Dag dig dug. Ada apa dengan istri nya ini? Mengapa sangat berlawanan dengan sikapnya seperti dulu.
"Sayang," Leon mendekat dan membelai rambut Alea.
"Mau ikut." Leon membelalakkan matanya lagi-lagi kaget dengan sifat manja Alea yang tak biasa.
"Bukannya tadi kau bilang ingin tidur?"
"Tidak mau tidur, mau ikut."
"Hah, baiklah-baiklah."
Leon pun akhirnya mengalah dan memilih menunggu istri tercintanya yang sedang berganti pakaian. Cukup lama Leon menunggu, sebenarnya ada rapat penting hari ini hanya saja demi sang istri ia mengundur rapat.
"Sudah siap, ayo kita pergi."
Dengan senyuman manis, Alea berjalan mendekat ke Leon. Pria itu di buat terpesona dengan dandanan istrinya hari ini, sangat cantik. Sungguh ia tak rela kalau istrinya pergi keluar dengan berpenampilan seperti ini. Ia cemburu.
"Cantikan?" tanya Alea dengan antusias.
"Cantik."
"Ayo kita pergi."
*******
Hari pun kembali berlalu bersamaan dengan hangatnya hubungan Leon dan Alea. Bahkan Alea sendiri sampai melupakan jati dirinya karena memang ada yang aneh pada tubuhnya yang mendorong ia melakukan hal-hal yang tidak terpikir kan oleh nya.
Hari ini, Alea merasa sangat lelah. Padahal sedari pagi Alea hanya berbaring, kepalanya juga terasa pusing dan tak selera makan.
"Apa aku sakit?"
Alea menggerutu kesal dengan keadaan nya sekarang, sungguh tak nyaman sekali. Di saat sedang merenung Alea tiba-tiba saja kaget dengan pemikirannya dan sontak bangun dari tidurnya.
"Apa jangan-jangan aku hamil?"
Alea membulatkan matanya menepuk pipinya agar tersadar kalau ia tak boleh memikirkan hal yang tak boleh terjadi. Bukan nya tak ingin seorang anak hanya saja Alea belum siap, ia masih ragu tentang perasaannya pada Leon.
"Tidak, tidak. Aku harus memeriksa nya. Ini tak boleh terjadi sebelum aku benar-benar mengetahui perasaan ku."
Alea pun bergegas keluar kamar, rencana nya ia ingin meminta bantuan pada salah satu pelayan wanita untuk memberitahukannya bagaimana cara melihat kalau kita hamil atau tidak.
Sudah di cari-cari tapi tak ketemu juga batang hidung seorang pelayan wanita. Alea menghembuskan nafas kasar, namun seketika Alea menangkap keberadaan pak Andi yang sedang duduk di taman belakang.
"Apa aku harus menanyakan pada pria tua itu yah? Hmmm."
Setelah berfikir panjang, Alea pun memutuskan untuk menghampiri pak Andi. Bagaimana pun pak Andi adalah laki-laki tua yang pasti sudah punya istri.
"Pak Andi." Panggil Alea mendekat dan pak Andi pun langsung menoleh dan tersenyum pada Alea. Sungguh pak Andi itu seperti ayah idaman saja hehehe sangat ramah.
"Ada apa nona?" pak Andi berdiri dan menatap Alea dengan tatapan kasih sayang nya.
"Duduk saja pak Andi, aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu pada bapak."
__ADS_1
Pak Andi pun kembali duduk dan siap mendengarkan pertanyaan dari nona mudanya ini.
"Pak Andi, bagaimana cara nya kita bisa tahu kalau kita itu hamil?" tanya Alea to the poin, karena memang Alea malas berbasa-basi.
Tampak pak Andi diam sejenak, seperti orang yang sedang berfikir keras. "Hmmm setahu saya ada alat nya." ucap pak Andi.
"Apa alat nya pak? Bisakah bapak memberikan nya pada ku?"
"Apa anda-?"
"Ck, nanti saja tanya nya pak Andi. Aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu."
"Baiklah."
Alea pun tersenyum puas dengan jawaban pak Andi lalu bangkit dari tempat duduknya, ia ingin berbaring di kamar seharian. Rasanya sangat lelah.
Namun sebelum sampai kamar, bahkan baru beberapa langkah meninggalkan pak Andi. Alea jatuh pingsan tak sadarkan diri, sontak pak Andi yang melihat Alea pingsan menjadi panik dan langsung berlari memanggil para bodyguard untuk menggendong Alea, karena sungguh ia tak mampu lagi menggendong tubuh orang dengan tubuh nya yang sudah tua.
Semua orang di mansion sangat panik karena Alea yang pingsan. Mereka takut kalau nanti mereka akan kena imbas dari kemarahan Leon. Sedangkan Leon dengan perasaan kacau sampai menghentikan rapat di tengah jalan.
Leon berlari menuju mansion dan langsung masuk ke kamar, tak lupa pula seorang dokter perempuan yang juga ikut berlari di belakang Leon.
Sesampainya di kamar Leon langsung berhambur di atas kasur melihat wajah istrinya yang sudah pucat Pasih.
"Apa yang kalian lakukan sampai istriku begini!" teriak Leon penuh amarah.
"Maafkan kami tuan."
Dokter wanita itu mendekat dan langsung mengeluarkan alat mendisnya lalu memeriksa Alea.
Setelah beberapa saat memeriksa. Barulah dokter itu membuka suaranya.
Semua orang yang ada di kamar terkejut dan penuh tanda tanya, begitu juga Leon yang masih belum mengerti.
"Maksud nya?" tanya Leon.
"Nona muda sedang hamil dan usia kandungan baru menginjak 14 hari." terang dokter wanita tersebut.
Deg
Serasa seperti mendapatkan sebuah harta karun, Leon berteriak senang karena akhirnya ia bisa memiliki anak bersama dengan wanita yang ia cintai. Ia mencium kening Alea sembari meneteskan air matanya terharu dengan semua yang telah terjadi.
*****
Setelah kabar Alea hamil, di sebuah ruangan ada seseorang yang sedang menghubungi orang lain
Drrrrttt
Drrrrttt
"Katakan!"
"Tuan, nona Alea hamil."
"Hmmm, awasi saja. Jangan sampai Alea terluka."
"Baik tuan."
Orang itu tersenyum sendu sekaligus menyeringai.
***
__ADS_1
Di dalam kamar, Leon tak berhenti-henti nya menciumi pipi Alea yang masih belum sadar kan diri. Sangking senang nya Leon bahkan memberikan bonus pada para pelayan dan juga karyawan di perusahaan, padahal belum saat nya gajian.
tok
tok
tok
"Masuk."
"Ayah."
"Nena, kemarilah." ucap Leon memangku anak angkatnya itu yang baru saja pulang dari sekolah. Yah Alea dan Leon mengadopsi Nena menjadi anak mereka, meski nanti Leon akan mempunyai anak dari Alea ia tak akan membedakan kasih sayang nya terhadap Nena.
"Ibu kenapa?" tanya Nena melihat Alea yang masih berbaring.
"Ibu hanya lelah, sebentar lagi Nena akan memiliki adik bayi."
"Benarkah?" tanya Nena dengan mata berbinar.
"Iya."
"Wah,Nena senang."
"Ukhhh hhmmm," Leon melirik Alea yang sudah membuka matanya dan memegang kepalanya, Leon am Nena dengan semangat duduk dan menatap Alea penuh antusias membuat orang yang di tatap menjadi bingung.
"Ada apa?" tanya Alea bingung.
"Terimakasih sayang." Alea semakin di buat bingung dengan sikap manis kedua manusia yang ada di hadapannya.
"Terimakasih ibu." Sekarang Nena yang berterima kasih, sebenarnya apa yang terjadi.
"Apa maksud kalian berterimakasih?"
"Karena sebentar lagi aku akan menjadi ayah, Nena akan menjadi kakak dan kau akan menjadi ibu."
Deg
"A-apa maksud kalian?" entah mengapa ada rasa menjanggal dalam hati Alea. Menjadi seorang ibu, ayah, kakak. Jangan bilang.
"Kau hamil sayang." ucap Leon menciumi pipi Alea. " Terimakasih."
Tak terasa air mata Alea jatuh, Leon yang melihat itu berfikir kalau Alea terharu namun sebenarnya Alea sedang merutuki dirinya sendiri karena lalai akan hal yang satu ini.
"Ini tak boleh terjadi!"
_
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
Tbc
__ADS_1