Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Perjuangan #4


__ADS_3

"Apa?!!" teriak Sierra memekakkan telinga. Leon tersenyum puas, ia benar-benar harus berterima kasih pada Glen dan juga akan mulai berteman dengan Glen nantinya.


"Bagaimana bisa? Wanita itu tak mungkin melarikan diri. Jangankan melarikan diri, melepas ikatan nya saja tak bisa!!" teriak Sierra.


Sierra melirik Leon yang masih terduduk santai. "Pasti kau sudah melakukan sesuatu kan?!!" teriak Sierra.


"Lalu apa mau mu?" tanya Leon menyeringai.


"Aku ingin kau mati!"


Dor


Satu tembakan melesat mengenai lengan Sierra yang ingin menodongkan senjatanya pada Leon. Sierra memegangi lengannya yang sudah mengeluarkan darah dan juga rasa perih dari peluru yang menancap.


"Leon, kau baik-baik saja?" tanya Arsel mendekat. Para anak buah Leon pun keluar dari persembunyian mereka menghadapi anak buah Sierra dengan baku hantam senjata. Letusan-letusan pistol terdengar memecahkan telinga, karena ruangan tidak terlalu besar. Leon dan yang lainnya memilih untuk keluar.


"Mengapa? Apa kau tak bisa lagi berkata besar seperti tadi?" tanya Leon meledek.


"Cih, baru ini saja kau sudah senang. Akan ku pastikan istri mu mati di tangan ku!" tekan Sierra.


"Kalau begitu, lebih baik aku membunuh mu terlebih dahulu," kata Leon menodongkan senjatanya ke arah kepala Sierra.


"Ini adalah sebuah pembalasan, untuk kakak ku, untuk aku dan adik ku, untuk keluarga ku dan juga untuk istri dan anak ku."


Dor


Dor


Seulas senyuman terukir di bibir Sierra, sedangkan Leon merasa bingung.


"Arghhh!"


Leon menoleh kearah belakang mendapati Arsel yang sedang berlutut sambil memegangi lengannya.


"Ars!"


Leon pun segera berjongkok melihat kondisi Arsel. " Apa yang kau lakukan?" tanya Leon khawatir.


"Mereka ingin menembaki mu dari belakang, jadi aku hanya mengambil inisiatif menolong mu saja," ucap Arsel santai.


"Kau gila!" umpat Leon.


"Kau harus memberikan aku hadiah setelah ini, aku ingin rumah mewah dan juga mobil mewah pengeluaran baru lalu sebuah usaha rumah makan yang mewah!" kata Arsel.


"Dasar lintah darat."


Prok


Prok


Prok


"Luar biasa," sorak Jack berdiri di samping Sierra. Leon dan Arsel pun menoleh dan menatap tajam pada pria bertato itu.


"Jack, si baj*ngan ternyata."


"Hahahahaha, terkejut? Pasti kalian terkejut. Oh yah, tadi kalau ku perhatikan kau ingin melukai kekasih tercinta ku yah? Kau berani juga rupanya," ejek Jack.


"Kau pikir aku sama seperti mu ha! Dasar baj*ngan sialan!" umpat Leon.


"Sudah-sudah, banyak sekali bicara mu tuan Leon. Mari kita akhiri ini semua," kata Jack mengambil sebuah belati dan satu pistol.


"Ayo kita bertarung hehehehe!"


"Siapa takut!"


Leon dan Jack pun mulai berkelahi dengan sebuah belati, sedangkan Arsel memburu Sierra. Untuk beberapa saat mereka unggul, masing-masing mendapatkan luka di bagian lengan dan wajah.


Jleb


Akhhhhh

__ADS_1


Pekik Jack ketika mata pisau tertancap di bagian lehernya sedangkan tubuhnya terbaring tengkurap lalu punggungnya yang di tekan kaki Leon serta tangan yang terkunci.


"Kurang aja!" teriak Jack.


"Jack!" teriak Sierra yang masih saja mencoba menghindar dari Arsel.


"Lari Sierra! Lari!" teriak Jack.


"Tak akan ku biarkan dia lari, hari ini aku akan mengakhiri drama kalian semua!" teriak Leon menancapkan kembali mata pisau yang di pegang Jack tadi di punggung pria bertato itu.


Arghhh


Leon mencabut belati yang tertancap di leher Jack, lalu berlari menuju Sierra.


"Jangan mendekat!" teriak Sierra menodongkan pistol kearah Leon.


"Sudahi saja semua ini Sierra, kau sudah tamat!" tekan Leon.


"Aku tidak akan mati begitu saja!" lantang Sierra.


"Terlalu percaya diri."


Leon pun mendekat dengan berlari sambil menghindari peluru-peluru yang melesat dari pistol Sierra. "Matilah kau!"


Dor


Satu peluru melesat mengenai perut Sierra, Leon mengumpat kesal karena bidikannya meleset.


"Auuwww!" rintih Sierra memegangi perutnya.


Darah mengucur deras dari perut Sierra, Sierra berlutut lemas memegangi perutnya.


Bruuukk


Tubuh Sierra seketika tengkurap ketika salah satu kaki Leon mendorongnya untuk tengkurap.


"Bagaimana? Apa sakit?" tanya Leon.


"Hmmm, sudah terluka masih saja percaya diri. Kau berhak mendapatkan sebuah apresiasi," ejek Leon.


"Hehehe kau juga akan mati Leon, aku akan menunggumu di neraka nanti!" ucap Sierra.


"Kau tahu kalau aku dulu pernah menyukai mu karena kau membuat kakak lebih mencintai kami. Aku sangat menghargai mu, karena kau juga menyayangi kami seperti kakak, tapi setelah melihat penghianatan mu, aku jadi yakin kalau aku harus membunuh mu. Namun, ternyata hidupmu panjang juga yah." Leon menekan punggung Sierra dengan kuat hingga Sierra meringis kesakitan.


"Hahahaha bodoh! Kalian bodoh!" tawa Sierra.


"Kau yang bodoh!"


"Selamat tinggal kak era."


Dorr


Satu tembakan tepat di kepala Sierra membuat wanita itu kehilangan nyawanya.


"Aku puas!"


"Tuan, laki-laki itu kabur!" teriak anak buah Leon.


"Ck, menyusahkan. Kejar dia!" perintah Leon.


"Lalu bagaimana dengan mayat wanita dan orang-orang ini?"


"Nanti saja di urus setelah pria sialan itu mati!"


"Baik tuan."


*******


Di hutan.


Glen dan yang lainnya masih saja berjalan menelusuri hutan, fajar sudah terlihat sehingga penerangan sedikit terbantu.

__ADS_1


"Xei, apakah anak buah kita masih jauh?" tanya Glen.


"Kalau menurut sinyal tinggal sedikit lagi," jawab Xei.


Dor


Dor


"Ha? Suara tembakan, ada seseorang yang datang kemari. Ayo cepat!"


"Maafkan saya tuan, kaki saya sakit. Saya tak bisa berjalan cepat, tinggalkan saja saya di sini," lirih Alea.


Glen pun menghentikan langkahnya melihat kaki Alea yang bengkak karena hanya memakai sendal jepit dan tertusuk oleh bebatuan yang tajam.


Glen pun dengan cepat membuka sepatunya laku meminta Alea untuk duduk.


"Pakailah!" perintah Glen.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian nona, kita tidak ada waktu untuk mengeluh," kata Glen sambil memasangkan sepatunya di kaki Alea, sedangkan ia memakai sendal jepit Alea yang kekecilan.


"Tuan, biar saya saja yang memakai sendal jepitnya, anda bisa memakai sepatu saya," saran Xei yang tak tega melihat tuannya yang terlalu banyak berkorban.


"Tidak ada waktu lagi."


Terpaksa Xei pun mengikuti kemauan Glen, mereka berjalan dengan langkah cepat. Alea sendiri merasa tak enak hati melihat telapak kaki Glen yang terluka bahkan berdarah.


Mengapa aku menjadi lemah seperti ini, maafkan aku tuan.


Dor


Dor


Arghhh


Glen dan yang lainnya berhenti ketika mereka sudah terkepung, satu mata peluru melesat mengenai bahu Louis.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Xei.


"Iya tuan, saya baik-baik saja."


Glen dan yang lainnya mengeluarkan senjata, Glen memberikan satu senjata pada Alea agar bisa menjaga dirinya meski di lindungi oleh Glen dan yang lainnya.


"Xei, beri kode darurat pada anak buah kita!" perintah Glen.


"Sudah tuan."


"Kalau begitu, ulur waktu sampai anak buah kita datang!"


"Baik tuan."


"Nona, kau harus membidik tanpa takut pada siapa yang kau anggap musuh mu. Asal kau tahu semua yang ada di sini adalah musuh mu, paham!" ucap Glen dan diangguki Alea.


"Baik."


"Good girl." Glen tersenyum manis sambil mengelus kepala Alea.


Deg


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah

__ADS_1


tbc


__ADS_2