Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Peristiwa #2


__ADS_3

Malam semakin larut suasana bising kini menjadi sunyi senyap, hanya ada beberapa kendaraan dan juga orang-orang yang masih beraktivitas.


Angin bertiup dengan kencangnya pertanda akan turun hujan dan benar ternyata hujan turun begitu lebat nya membuat orang-orang menarik selimut mereka untuk menghalau suhu dingin.


Ceklek.


"Shuuutttt, pelan-pelan," bisik seseorang pada temannya yang terlalu kuat membuka pintu.


"Iya."


Mereka berdua melangkah menuju kamar di apartemen yang baru saja mereka masuki, dengan sebuah kunci mereka membuka pintu kamar dengan pelan tanpa suara.


Di atas ranjang terlihat lah Alea yang sedang tertidur terlentang, sebuah senyuman puas terukir di bibir orang itu di dalam kegelapan.


"Cepat, sebarkan biusnya!"


"Baik."


Tak lama kemudian sebuah botol berisi obat bisu pun di perlihatkan lalu dengan hati-hati mereka menaruh botol obat dengan membuka tutupnya agar asapnya menyebar di ruangan.


"Tutup pintunya, kita tunggu beberapa menit dulu baru nanti kita masuk kembali."


"Baik."


Di dalam kamar, mata Alea tiba-tiba terbuka ketika menghirup udara yang berbeda, ia terbangun dan melihat sebuah botol yang mengeluarkan asap. Alea pun menutup mulutnya karena ia tahu obat itu pasti obat bius sebab ia pernah menghirup aroma ini saat ia di jebak bersama Nena.


"Siapa yang menaruh obat itu di sini?"


"Seperti nya ada yang aneh."


"Jangan-jangan..."


Mata Alea yang terasa berat dan juga kepalanya yang terasa pusing. Ingin berteriak, tapi percuma. Kesadaran nya pun sudah menghilang.


"Tuhan tolong aku."


Di luar kamar


Drrrrttt


Drrrrttt


"Katakan!"


"Tuan, semuanya sudah beres tinggal membawa tubuh wanita itu keluar dari sini."


"Bawa pelan-pelan. Ingat, jangan sampai terluka sedikitpun karena aku lah yang berhak melukainya!"


"Baik tuan."


Tut


Tut


Setelah panggilan berakhir, kedua orang itu masuk kembali ke dalam kamar dengan menggunakan penutup mulut. Mereka tersenyum puas melihat tubuh Alea yang sudah terkulai lemas di atas ranjang.


Dengan cepat mereka mengangkat tubuh Alea namun ada kendala karena mereka tak sanggup mengangkat tubuh Alea. Mereka pun menghubungi rekan-rekan lainnya agar ikut membantu.


Setelah semuanya berkumpul, barulah mereka mengangkat tubuh Alea secara bersamaan. Tubuh Alea di angkat keluar dari apartemen dan memasuki lift bagian khusus Presdir pemilik apartemen.


Setelah berhasil turun, mereka langsung membawa tubuh Alea pergi ke garasi bagian belakang. Di sana sudah ada sebuah mobil yang menunggu dengan beberapa laki-laki bertubuh besar.


"Ayo cepat masukkan dia!"


Tubuh Alea pun berhasil masuk ke dalam mobil dengan pelan dan mereka langsung menutup pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil.


Mobil yang membawa Alea sudah melaju dan di ikuti beberapa mobil lainnya. Di area belakang seseorang sedang membawa ponselnya mencari nomor seseorang di ponselnya.

__ADS_1


(Tuan muda Glen)


Drrrrttt


Drrrrttt


"Kata....." Belum sempat Glen bertanya, ucapannya sudah di potong oleh orang itu.


"Tuan nona Alea sudah di temukan, seseorang membawa nona Alea menggunakan mobil. Saya sekarang ada di mobil dan sedang mengikuti mereka dari belakang," kata anak buah Glen sambil mengemudi mengikuti arah mobil yang membawa Alea.


"Terus kejar! Aku akan segera menyusul."


Tut


Tut


Dengan cepat Glen memakai baju kaos dan juga celana pendek, ia tak peduli lagi dengan penampilan yang acak-acakan yang terpenting adalah Alea harus segera di selamatkan.


"Xei, Xei bangun!" teriak Glen.


Xei yang tertidur di sofa pun sontak berdiri karena terkejut, ia mencari kaca matanya lalu melihat Glen yang sedang mengambil kunci mobil.


"Ada apa tuan?" tanya Xei bingung.


"Selena sudah di temukan, tapi ia sedang dalam keadaan bahaya. Cepat, ayo kita pergi!" teriak Glen berlari keluar apartemen dan di ikuti Xei yang masih memakai celana pendek juga bahkan tak memakai baju.


Sesampainya di garasi, Glen dan Xei langsung masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kencang di ikuti beberapa mobil anak buahnya karena beberapa anak buahnya lagi ada di posisi yang berbeda.


Setelah kepergian Glen dan Xei, salah satu anak buah Leon pun menghubungi Leon.


Drrrrttt


Drrrrttt


"Hmmm."


"Ikuti, aku merasa curiga dengan nya!" perintah Leon.


"Baik tuan."


******


Drrrrttt


Drrrrttt


"Katakan!" ketus Glen.


"Anda dimana tuan? Saya sangat sulit mengejar mereka karena mereka mulai berpecah, saya butuh bantuan." kata anak buah Glen.


"Ikuti saja mobil yang membawa Selena!"


"Baik tuan."


Tut


Tut


"Bagaimana Xei? Apa kau sudah menemukan posisi mobil anak buah kita?" tanya Glen sembari mengemudi sedangkan Xei fokus pada laptop nya.


"Sudah tuan, akan saya sambungkan ke GPS yang ada di mobil."


"Cepatlah!"


"Baik tuan."


"Sudah tuan," sambung Xei.

__ADS_1


"Bagus."


"Tuan sepertinya ada mobil asing yang mengikuti kita," kata Xei.


"Darimana kau tahu?"


"Terlihat dari plat mobil yang bukan milik anggota kita."


"Mungkin saja itu mobil anak buah Leon, aku yakin ia sudah curiga dengan ku," kata Glen.


"Apa perlu kita hadang?" tanya Xei.


"Tidak perlu, kita fokus saja pada pencarian Selena. Biarkan mereka tahu lokasi Selena, toh aku juga masih punya rencana B yang akan berjalan sebentar lagi." Sebuah seringaian kejam dan tatapan dingin membuat Xei bergidik ngeri.


"Baik tuan."


******


Lama Glen dan Xei mengikuti sebuah mobil yang di katakan oleh anak buah Glen kalau mobil itu yang membawa Alea. Kening Glen berkerut ketika mobil itu mengarah pada sebuah pelabuhan kapal.


Mobil yang membawa Alea pun berhenti begitu juga mobil Glen yang berhenti.


"Kerahkan anak buah untuk menyadap suara mereka!" perintah Xei melalui ponselnya.


Glen dan Xei pun mengamati dengan seksama ketika beberapa orang keluar dari dalam mobil.


"Xei, siapkan kapal! Aku punya firasat buruk."


"Baik tuan."


"Siapkan kapal dalam waktu secepatnya menuju kota Sambo!" perintah Xei melalui ponselnya.


"Maaf tuan, kapal tidak bisa masuk ke kota Sambo dalam waktu yang cepat karena sedang ada perbaikan dermaga dan juga ada kapal yang berlabuh di setiap dermaga."


"Cih, siapkan helikopter!" teriak Xei.


"Baik tuan."


Setelah menyudahi panggilan yang penuh emosi, mereka kembali memperhatikan mobil yang membawa Alea pergi. Di sana terlihat beberapa orang membawa sebuah ranjang dorong seperti yang ada di rumah sakit. Tampak mereka bersusah payah mengangkat tubuh Alea yang sedang berperut besar.


Glen tampak mengepalkan tangannya melihat tangan-tangan pria itu menyentuh tubuh Alea. Sedangkan di arah belakang, anak buah Leon membelalakkan matanya melihat siapa yang di turunkan dari dalam mobil.


"Nona muda."


_


_


_


_


_


Yeay kita masuk konflik nya yah, nah jangan bilang kalian kesal karena author gak pertemukan si Alea sama si Leon dengan segera.


Kita pertemukan kok, tapi author gak bisa jamin untuk end nya seperti apa, tergantung mood author nanti.


Dan juga jangan spam pm yah :)


Author tahu kok yang mana yang baca, kalau udah ada bingkai gambar boleh pm sesekali tapi jangan spam yah:)


Jangan lupa kasih semangat yah, biar author juga makin semangat buat nulis nya.


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc

__ADS_1


__ADS_2