
Tap
Tap
Tap
Suara derap kaki di sebuah ruangan, tampak langkah kaki itu menandakan ada beberapa orang yang tengah berjalan.
Pruukkk
Sebuah Pring berisi beberapa potong roti tawar dan juga segelas air di berikan pada Alea.
"Makanlah!" titah seseorang. Alea mendongak menatap ke atas melihat sesosok pria uang ia kenal dan juga beberapa pria lainnya serta seorang wanita yang bergandeng mesra di tangan pria itu.
"J-jack?" lirih Alea.
Yah, orang itu adalah Jack, Jack Harnes!.
Jack tersenyum miring melihat ketidakberdayaan Alea, ia pun mendekat lalu menyentuh dagu Alea.
"Iya, ini aku," kata Jack.
"Apa-apaan ini?" Alea masih tak percaya kalau semua ini adalah rencana orang yang sudah menolongnya dan juga wanita yang di samping Jack, ia sangat terkejut dengan kehadiran wanita itu.
"Apa kau masih mengingat ku, istri Leon Fernandes?" tanya wanita itu.
"Sierra, si ja*ang sialan!" ejek Alea.
Plak
"Beraninya kau mengatakan kekasih ku seperti itu, dasar ja*ang!" Bentak Jack.
"Tapi dia memang ja*ang, karena tidur dengan banyak laki-laki."
Plak.
"Kau yang ja*ang, Dasar wanita sialan!" teriak Sierra.
"Hahahaha kalau kau bukan ja*ang, Mana mungkin kau marah ketika aku mengatakan kalau kau ja*ang!" tekan Alea.
"Ck, ck. Sepertinya kau masih kuat yah. Kalau begitu, buang makanan ini, jangan biarkan dia makan dan minum walau setetes!" perintah Jack sambil menarik rambut Alea.
"Cih, aku tak butuh makanan yang kau berikan. Lebih baik aku mati dari pada makan makanan dari orang yang menjijikan seperti kalian!" tekan Alea.
Plak.
"Terlalu banyak bicara, sudah di ujung maut pun nyali mu masih besar juga," ucap Sierra sambil menampar pipi Alea yang sudah bengkak.
Aku harus sabar, cukup pancing mereka agar aku terbebaskan. Kalaupun aku mati, itu tak masalah dari pada aku hidup dengan menjijikan seperti ini.
__ADS_1
"Tenang lah sayang, kontrol emosi mu. Sebentar lagi dia pasti akan mengemis meminta makan dan minum karena tak mungkin ia tak memberikan anaknya makan," rayu Jack sambil menciumi leher Sierra di depan Alea.
"Yah, kau tahu nona muda. Sebentar lagi suami mu akan datang untuk menyelamatkan mu. Aku ingin lihat bagaimana reaksi mu ketika menyaksikan suami mu mati di hadapan mu," kata Sierra sambil mengelus dada bidang Jack.
Leon.
"Ayo kita pergi sayang, biarkan wanita hina ini meratapi sisa hidupnya," ajak Sierra menarik tangan Jack.
Setelah ruangan kembali kosong, air mata Alea pun mengalir. Sebenarnya ia sangat lapar dan juga haus, tapi ia tak bisa memakan makanan yang mereka berikan karena bisa jadi makanan itu mengandung racun.
"Maafkan aku, karena aku kau kelaparan di dalam sana. Berdoalah semoga ayah mu selamat dan kita bisa makan makanan yang enak hiks hiks," lirih Alea.
Aku memang membenci mu Leon, tapi aku tak bisa menyangkal perasaan ku kalau aku mengkhawatirkan mu. Aku mohon tetaplah hidup demi aku dan juga anak-anak kita.
********
Di dalam mobil.
Leon yang masih berada di mobil sesekali melihat arloji nya, di sana ada sebuah pesan dari Arsel kalau mereka sudah berada di tempat masing-masing. Ada sedikit rasa lega karena Ars dan yang lainnya berhasil masuk pulau dengan aman. Hanya tinggal gilirannya untuk menjalankan perannya nanti.
Ia pun mengecek sinyal dari Louis yang terlihat sangat lamban, tapi kelihatannya menuju bukit yang akan ia tuju juga.
"Apa dia berjalan? Berani sekali dia berjalan malam-malam di hutan. Kalau kasus ini selesai aku akan memberikan ia hadiah."
"Bagaimana keadaan Alea yah? Bagaimana juga keadaan Mita dan Nena? Ku harap Vino dan Danish berhasil."
****
Vino Dan Danish kini berada di atas sebuah gedung sambil melihat aktivitas orang-orang yang ada di bawah mereka.
"Tuan, beberapa anak buah kita sudah masuk," ucap anak buah Danish dan Vino lewat panggilan dari ponsel.
"Apa lokasi sudah di temukan, di ruangan mana Mita dan Nena di sembunyikan?" tanya Danish.
"Kami sedang mencari tuan, penjagaan di sini sangatlah ketat. Untung nya kita memakai anak buah yang tak pernah terlihat di mansion, jadi kecurigaan mereka sedikit berkurang."
"Baiklah, terus awasi! Jika sudah di temukan langsung kabari, karena kami akan langsung bergerak!" perintah Danish yang kemudian memutuskan panggilan.
******
Kembali ke pulau Harnes.
Tepatnya di hutan, Glen dan yang lainnya pun akhirnya sampai juga. Seperti yang di katakan, Glen dan yang lainnya sampai tepat jam tiga malam, kaki mereka sangat pegal dan juga mengantuk.
"Tuan, ayo kita istirahat terlebih dahulu," ucap Xei.
"Untuk di saat-saat sekarang kau masih memikirkan Istirahat?" cebik Glen.
"Tapi Anda belum makan tuan, katanya anda ingin menyelamatkan nona Alea, kalau anda pergi dengan keadaan seperti ini sama saja anda membahayakan diri anda dan juga nona Alea, tekan Xei." Sungguh Xei tak terima melihat tuannya yang menderita hanya demi seorang wanita yang sudah bersuami.
__ADS_1
"Iya tuan, sebaiknya anda istirahat saja dulu," sambung Louis.
"Kalian ini benar-benar menyebalkan," cetus Glen yang akhirnya duduk di bebatuan. Xei dan Louis pun ikut duduk, Xei membuka tas ranselnya yang berisi beberapa senjata elit dan juga beberapa makanan.
"Memang nya apa yang kau bawa?" tanya Glen.
"Saya membawa nasi dan juga lauk pauk nya tuan," jelas Xei mengeluarkan dua bungkus nasi putih.
"Kau tahu, aku kan tak biasa makan nasi malam-malam," cebik Glen kesal namun mengambil satu bungkus nasi dan membukanya.
"Kau gila Xei, apa uang ku tak cukup membeli sepotong ikan, hingga kau memberiku nasi putih saja." Kali ini Glen benar-benar kesal.
"Anda cerewet sekali tuan, saya bilang saya membawa lauknya juga, tapi saya asing kan supaya tidak basi."
"Cih, lama! Cepat berikan!"
Xei pun memberikan satu bungkus lauk-pauk, sedangkan Xei dan Louis memakan satu bungkus nasi dan lauknya berdua.
Setelah selesai makan dan juga mengistirahatkan tubuh, Glen dan yang lainnya pun mulai bergerak. Hari sudah menunjukkan jam setengah empat, mereka harus cepat kalau ingin berhasil menjalankan misi.
Mereka sudah sampai tepat di belakang gedung. Penjagaan terlihat sangat renggang, inilah untungnya kalau mereka pergi jam segini, dimana orang-orang akan lalai karena lelah.
"Xei, dimana sinyal Selena?" tanya Glen.
Xei pun melihat arlojinya, memperhatikan titik-titik merah di layar arloji nya.
"Tuan, nona Alea berada di lantai tiga," jelas Xei.
"Bagus, bagaimana situasi di sana?" tanya Glen.
"Aman, tapi sepertinya ada beberapa orang yang berjaga di ruangan nona Alea." Selain di pasangkan alat pelacak, Glen juga memasangkan kamera di gelang Alea.
"Ayo kita bergerak, sebelum mereka terbangun!"
"Baik tuan."
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc
__ADS_1