Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Peristiwa #3


__ADS_3

"Nona muda?"


Setelah melihat dengan seksama dengan cepat anak buah Leon mengambil ponselnya lalu menghubungi Leon.


Drrrrttt


Drrrrttt


"Hmmm?"


"Tuan,saya melihat nona muda ada di pelabuhan kapal bagian selatan," kata anak buah Leon. Sontak di seberang sana Leon pun bangun dari tidurnya dan menanyakan ulang.


"Apa kau serius?"


"Tidak mungkin saya bercanda dengan bos saya tuan."


"Lalu bagaimana situasi nya?" tanya Leon.


"Dari hasil pengamatan sepertinya nona Alea akan di masukkan ke dalam kapal," kata anak buah Leon.


"Kau harus bisa menyelinap masuk kedalam agar dapat mengetahui kemana Alea di bawa!" perintah Leon.


"Baik tuan."


Tut


Tut


Setelah panggilan berakhir anak buah Leon pun turun dari mobil dengan menggunakan penutup mulut dan juga topi hitam.


Sedangkan di mobil Glen.


Glen dan Xei masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai mendorong ranjang dorong yang membawa Alea.


"Tuan, apa perlu kita perintahkan anak buah kita menyelinap di dalam?" tanya Xei.


"Selinapkan beberapa orang dan aku akan masuk sendiri ke dalam untuk memantau."


"Tapi tuan, itu sangat berbahaya!" cegah Xei.


"Bagiku tak ada yang lebih penting dari pada keselamatan Selena, dengan aku masuk ke dalam itu akan memudahkan aku untuk mengawasi pergerakan mereka."


"Kalian awasi saja menggunakan helikopter, kalau ada hal yang berbahaya akan ku beritahu lewat alarm darurat di arloji ku," lanjut Glen.


Xei pun hanya bisa terdiam melihat Glen yang sudah memakai jaket hitam dan celana panjang hitam serta memakai topi dan juga penutup mulut.


"Kabari yang lainnya!" titah Glen keluar dari mobil menyelinap masuk ke semak-semak.


"Baik tuan, semoga anda baik-baik saja."


Glen terus berjalan menyelinap melihat situasi apakah aman untuk berbaur atau tidak. Ia berdecak kesal ketika melihat tubuh Alea sudah masuk ke dalam kapal sedangkan beberapa orang masih ada di dermaga.


"Cih, apa yang harus aku lakukan?"


Terbesit lah sebuah ide di kepala Glen, ia menghubungi Xei melalui earphone nya.


"Tuan," kata Xei.


"Gunakan pistol, tembak ke arah yang jauh dari dermaga sekarang!" perintah Glen pelan.


"Baik tuan."


Setelah panggilan terputus Glen pun menanti beberapa menit, rasa tak sabar terus mendorong ia agar menerobos masuk, tapi itu adalah sebuah perbuatan yang sia-sia dan dapat membahayakan Alea.


Dor

__ADS_1


Dor


Suara tembakan dari pistol membuat beberapa pria yang ada di dermaga waspada dan mempersiapkan senjata laras panjang mereka.


Glen tersenyum puas ketika melihat dermaga yang aman, hanya perlu menjalankan rencana saja. Glen pun mulai berjalan berbaur dengan para pria yang lainnya yang masih berjaga di dermaga, karena panik mereka tak menyadari adanya pertambahan anggota.


Kening Glen sedikit berkerut melihat ternyata ada orang baru sepertinya yang juga menyelinap masuk, Glen yakin kalau itu adalah anak buah Leon.


Dengan perlahan Glen masuk ke dalam dermaga di ikuti anak buah Leon.


"Hei, mau kemana kalian?" Langkah kaki Glen berhenti begitu juga dengan anak buah Leon, Glen pun berbalik lalu membuka penutup mulutnya.


"Aku akan membawa beberapa senjata lagi dan juga minuman," tutur Glen tenang.


"Oh, baiklah. Bawa makanan yang banyak yah!"


"Baik."


Akhirnya Glen pun masuk di ikuti anak buah Leon, Glen tidak mempermasalahkan kehadiran anak buah Leon karena ia punya rencana lain yang telah ia persiapkan untuk Leon. Meski nanti anak buahnya berhasil menemukan Alea, apakah Leon akan memilih menyelamatkan Alea atau dua orang yang berharga juga.


Glen kembali menghubungi Xei menggunakan earphone nya namun menjaga jarak dari anak buah Leon agar pembicaraan nya tak di dengar.


"Tuan."


"Apakah anak buah kita sudah masuk kapal?" tanya Glen.


"Beberapa sudah ada yang masuk dan beberapa lagi masih diluar berbaur dengan pria-pria itu," jelas Xei.


"Xei."


"Saya tuan."


"Anak buah Leon mengikuti ku, pastinya ia akan memberitahu Leon lokasi Selena nanti."


"Jalankan rencana B!" titah Glen.


"Baik tuan."


"Keserahkan semuanya pada mu Xei."


"Baik tuan.


Panggilan pun terputus, Glen pun mulai kembali memfokuskan pencarian nya. Sesekali ia melirik ke belakang melihat anak buah Leon yang sudah tak mengikuti nya lagi, kemana orang itu?


Kapal yang tidak terlalu besar sebenarnya membuat pencarian sedikit lebih mudah, hanya saja banyak nya ruangan membuat Glen pusing harus pergi kemana.


Puuutttttt


puuutttttt


Suara terompet kapal menandakan kapal akan berangkat, Glen menyesuaikan keberadaan nya dengan berbaur pada para pria yang sedang duduk dan juga ada yang berdiri sambil menikmati makanan dan minuman.


Glen melihat beberapa anak buahnya yang berhasil masuk ke dalam kapal, ia mengkode agar salah satu di antara mereka pergi berkeliaran untuk mencari keberadaan Alea.


"Anak buah Leon tidak ada di sini, kemana orang itu pergi? Apa dia sudah ketahuan?"


"Hei, menurut kalian apa yang akan dilakukan bos besar pada wanita hamil itu?" tanya seorang pria pada teman yang lainnya. Glen pun ikut mendengarkan sambil memakan beberapa cemilan yang ada di atas meja.


"Hmmm, aku tidak tahu, tapi sepertinya bos akan melakukan hal yang kejam," tutur yang lainnya.


"Kasihan sekali yah."


"Hmmm, mau bagaimana lagi. Kita hanya perlu menjalankan tugas yang di beri bos tanpa banyak bicara dan bertanya."


"Ini semua pasti salah suaminya," cetus salah satu di mereka.

__ADS_1


"Memangnya siapa suaminya?"


"Hahahaha kau ini sangat bodoh sekali yah, masa sudah menangkap target tapi tidak tahu asal usul target hahahaha hahahaha." Tawa mereka pecah ketika salah satu diantara mereka ada yang tak tahu identitas suami Alea.


"Memangnya siapa?"


"Suaminya itu adalah si pengusaha sukses dan terkenal, tuan Leon Fernandes."


"Oh..."


Leon hanya tersenyum getir mendengar penuturan mereka, tangannya mengepal karena mengingat kalau ini semua memang salah nya Leon.


*****


Di lain sisi, anak buah Leon masih berjalan santai di dalam kapal. Ia telah memeriksa beberapa ruangan namun tak menemukan keberadaan Alea.


"Dalam lorong ini tinggal satu kamar ini saja, kalau di sini tidak ada berarti di lorong yang lain."


Ia pun mendekat pada pintu ruangan di sudut yang terakhir belum ia periksa. Ia berusaha membuka pintu dan ternyata pintunya terkunci.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya seseorang membuat anak buah Leon terkejut. Ia pun sontak melihat kebelakang, ada beberapa pria besar berdiri di belakang nya dengan senapan laras panjang.


"Maaf tuan, saya hanya ingin mencari kamar tidur yang nyaman. Kamar tidur saya sudah tak nyaman lagi," elak nya namun tetap tenang.


"Ck, ck. Apa kau anak baru?" tanya mereka.


"Iya tuan."


"Lorong ini khusus penyimpanan dan pintu yang ingin kau buka itu tempat sandraan tuan besar," jelas mereka.


"Maksud nya wanita hamil yang tadi," tanyanya.


"Iya."


Pucuk di cinta akhirnya ia tahu kalau di dalam ada nona mudanya, ia hanya perlu datang kemari lagi pada saat keadaan sepi.


"Yasudah ayo ikut kami kalau mau mendapatkan kamar!"


"Baik tuan."


Nona, bertahanlah!


_


_


_


_


_


Kasih semangat dong🤧🤧


Udah lihat sinopsis kan?


Bahwasanya hari Minggu saya tidak up, alias besok..😁😁


Jangan spam pm yah. author akan mampir kok nanti klw ada waktu luang, untuk sementara semua karya udh di masukkan ke rak buku.


Kalau kalian spam pm, kehadiran kalian di novel Author gak akan di hitung.


Jangan spam pm yh, author bakal mampir kok buat baca.:)


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.

__ADS_1


__ADS_2