
Hari terus berjalan berlalu hingga berbulan-bulan. Kini kandungan Alea sudah berusia 4 bulan. Perutnya yang membesar membuat Leon semakin hari semakin semangat begitu juga seisi rumah yang turut bahagia. Meski tingkah Alea semakin lama semakin melunjak.
Hari ini Leon sedang ada pertemuan di luar kota. Awalnya Leon ingin pergi bersama Alea, namun istrinya menolak karena malas berpergian. Hal itu mengharuskan Leon pergi sendiri dengan berat hati.
Leon pergi ke kota A untuk melihat proyek yang sedang di jalankan nya. Di dalam mobil ia menghubungi Alea melalui ponselnya dan tak memutuskan panggilan walau sudah berjam-jam.
Alea sendiri sebenarnya sudah jenuh mendengar suara Leon dari balik ponsel, tapi mau bagaimana lagi suaminya tak mengizinkan ia untuk mematikan ponselnya.
Setelah sampai di kita A Leon masih tak mematikan ponselnya, ia terus berjalan sambil mendengarkan dengkuran istrinya yang ternyata sudah tertidur.
Sampai lah ia di tempat proyek yang sedang ia jalankan. Ia mematikan ponselnya dikarenakan ada Glen yang menghampirinya. Sorot mata penuh rasa tak suka di tunjukkan Leon secara terang-terangan namun hanya di balas senyuman manis dari bibir Glen.
"Selamat pagi tuan Leon," sapa Glen mengulurkan tangannya namun Leon bahkan tak mau menjabat tangan Glen. Hal itu membuat Xei asisten Glen merasa jengkel dengan sifat angkuh Leon.
Glen yang tak mendapatkan balasan pun menarik kembali tangannya dengan tersenyum ramah. Sungguh tiada hari Glen tanpa tersenyum.
"Perjalanan anda sangatlah jauh, pasti anda sangat lelah. Silahkan beristirahat terlebih dahulu tuan." Bukannya mengucapkan sepatah kata Leon malah meninggalkan Glen dan Xei pergi ke tempat penginapan di ikuti Vino.
"Tuan..."
"Tidak apa-apa Xei, aku yang menginginkan nya. Kita lihat sampai kapan ia bisa menyombongkan diri seperti itu."
"Kita lihat nanti tuan Leon, anda akan menerima sedikit ujian dari saya. Ini untuk membuktikan layak kah anda bersama wanita yang saya cintai."
Di dalam kamar Leon menggerutu kesal, entah mengapa setiap melihat wajah Glen ia menjadi marah dan rasanya ingin memukul. Ingin rasanya ia membatalkan kerja sama dengan Glen tapi Itu semua akan berimbas pada saham nya kalau membatalkan secara sepihak.
******
"Tuan..."
"Kau sudah datang," tutur Glen tersenyum pada wanita yang baru saja datang dan berdiri di hadapan nya. Sebenarnya ada rasa jengkel ketika melihat pakaian yang wanita itu gunakan namun ia mencoba untuk sesopan mungkin.
"Iya tuan, saya sudah datang." Tanpa rasa malu, wanita itu mendekat dan membelai wajah Glen dengan gaya sensual. Glen mengangkat tangannya ketika melihat Xei ingin menghalangi wanita itu. Glen membiarkan tangan menjijikan wanita itu membelai wajah nya.
Di saat wanita itu ingin mengecup leher Glen, Glen langsung membalikkan tubuh wanita itu dan menjatuhkan tubuhnya hingga posisi tengkurap. Tak ada lagi senyuman maupun bahasa yang sopan. Glen bahkan menginjak punggung wanita itu dengan tatapan dingin nya.
"Sebaiknya kau ingat apa tugas yang sudah aku berikan! Atau kau ingin aku berbuat lebih pada mu!" tekan Glen. Ia paling tak suka ketika tubuhnya di sentuh oleh wanita lain kecuali Lena nya.
"Ba-baik tuan, maafkan saya." Glen pun melepaskan injakan nya lalu kembali duduk di kursinya, ia melihat wanita yang tadinya begitu percaya diri kini menunduk takut. Melihat wajah takut wanita itu, Glen pun menormalkan kembali raut wajahnya. Sehingga tak ada yang tahu ia sedang marah atau apapun itu.
"Xei, apa kau sudah menjelaskan tugas yang akan ia lakukan?" tanya Glen menatap keluar jendela melihat kendaraan yang melintas di jalanan.
__ADS_1
"Sudah tuan."
"Hmmm, urus dia. Aku hanya ingin mendengar hasil saja, untuk pelaksanaan nya itu terserah kalian."
"Baik tuan."
"Oh yah, Xei. Ingat kan wanita itu untuk melakukan nya hanya berpura-pura bukan sungguh-sungguh," lanjut Glen.
Karena aku tak mau jika nanti Lena menerima Leon, tubuh Leon sudah di nikmati wanita lain. Aku tak akan membiarkan Lena ku bersama laki-laki yang sudah di cicipi oleh wanita lain.
"Baik tuan."
*******
Hari sudah menjelang malam, Leon kini tengah menghubungi Alea saling curhat dan menuangkan rasa rindu. Selepas membersihkan diri Leon bahkan belum mengganti bajunya langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi istri tercintanya.
"Sayang," rengek Leon manja. Sungguh ia sangat rindu dengan wangi khas Alea.
"Hmmm."
"Apa kau dan Nena sudah makan?" tanya Leon.
"Sudah."
Tut
Tut
Drrrttt
Drrrttt
Semua pertanyaan Leon akhirnya terjawab, seulas senyuman manis terukir tak kala melihat layar ponselnya. Ternyata istrinya merubah panggilan menjadi panggilan video. Dengan semangat Leon pun mengangkat dan melihat wajah istrinya yang sangat cantik dan sedang tersenyum di balik layar. Mengapa sedari tadi ia tak terpikirkan untuk melakukan Video call saja.
"Kau terlihat kurus," ucap Alea. Leon pun sontak tertawa, kurus darimana? Dia saja baru selesai makan tadi. Istrinya ini ada-ada saja.
"Itu karena aku merindukanmu."
"Cih, menyebalkan." Bukannya senang, Alea malah memasang raut wajah kesal.
"Ck, ck. Kau kenapa sayang?" tanya Leon.
__ADS_1
"Kau, kau, kau. Aku kan punya nama panggilan sendiri!" tegas Alea dengan penuh penekanan.
"Oke, oke. Baiklah Bee, maafkan aku!" pinta Leon sambil memegangi sebelah telinganya.
Sambil mengerucutkan bibirnya Alea pun menutup matanya. "Yah, Bee mau memaafkan Boo." Leon tersenyum geli melihat tingkah laku istrinya yang sangat menggemaskan.
"Boo, Bee mengantuk. Bee mau tidur," ucap Alea sembari menguap. Ada rasa tak rela karena Leon baru saja mengobrol dengan Alea, tapi mau bagaimana lagi demi kesehatan istrinya dan anaknya ia tak ingin terlalu memaksa Alea.
"Baiklah, mimpi yang indah Bee ku, ummmuaaacchh." Satu kecupan mengakhiri panggilan video, rasa sunyi menghinggapi Leon. Ia ingin segera pulang dan memeluk istrinya sepanjang hari.
Aku sudah terlanjur cinta, tak ada yang bisa menggantikan mu Lea. Kau adalah segalanya bagiku, kau menerimaku dan masa lalu ku. Tak akan ku lepaskan, tak akan!
*******
"Dengarkan aku! Kau hanya berpura-pura, kau hanya perlu tidur di sampingnya lalu memotret. Aku tidak mau kau melakukan hal yang lebih dari itu! Jangan gunakan jiwa ja*ang mu padanya kalau kau tak mau aku membunuhmu!" ancam Xei.
"Baik tuan."
"Dan satu lagi, setelah selesai kau harus segera pergi ke negara ***** dan datanglah kerumah sakit **** disana ada hadiah besar yang akan kau terima," lanjut Xei.
"Baik tuan."
"Semoga berhasil, ups. Maksudku kau harus berhasil, Lulu!"
(Yang gak ingat siapa Lulu bisa baca di eps tindak kriminal#2)
"Baik tuan."
Hari ini, maksud ku besok. Kita akan melihat drama yang bagus. anda akan mendapatkan sebuah ujian dari tuan saya, jadi anda harus bisa melewati nya. Jika anda tak bisa, maka bersiaplah untuk kehilangan istri anda, tuan Leon!
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
__ADS_1
tbc