
WARNING ⚠️🔞🔞
Terdapat adegan kekerasan di part ini, harap bijak dalam membaca dan menyimpulkan.
#Happy Reading.
**********
"Hihihi hahahahaha hahahahaha" Tawa Mita masih terus menggelegar di penjuru ruangan gelap itu, tawa yang mengartikan bahwa ia begitu puas dengan apa yang ia lakukan. Alea yang melihat sifat asli Mita pun semakin tertarik untuk menggali lebih dalam rahasia keluarga Fernandes.
"Akkhhhhh Akkhhhhh hiks hiks huh huh huh akkhhhhh" Teriakan Sarah tak berhenti keluar dari mulutnya yang sudah mengeluarkan darah.
"Tusuk tusuk tusuk hahahaha tusuk tusuk." Ucap Mita bersorak ria menancapkan pisaunya berkali-kali di bagian paha Sarah.
"Sudah habis. Harus cari tempat baru." Ucap Mita mengarahkan pisau nya ke bagian perut Sarah. Sebelum memulai Sarah meminta pada Alea untuk memberikannya asam, ia ingin mendengar lebih keras lagi jeritan kesakitan sedangkan Alea dengan senang hati memberikan asam itu karena ia juga masih sangat haus dengan teriakan kesakitan.
"Potong asam nya, peras air nya lalu oleskan ke daging yang segar la la la la hati ku senang hahahahaha" Tawa Mita kembali menggelar dengan lagu yang baru saja ia nyanyikan. Dengan lembut Mita mengoleskan perasan air jeruk itu ke bagian luka Sarah membuat si empunya menjerit hingga urat-urat nya terlihat dari luar kulit.
Tak ada yang bisa melakukan ini kecuali mereka punya alasan dan sebab, alasan yang membuat mereka menjadi monster mengerikan seperti ini. Seperti aku yang juga punya alasan memilih hidup sebagai seorang monster.
Pasti ada alasan, dan itu membuat aku semakin tertarik untuk mengetahui hal apa yang membuat mereka menjadi seorang monster.
"Mati.!" Teriak Mita mengejutkan Alea yang sedari tadi melamun. " Sudah mati. Ahhhhh ayo bangun, bangun bangun." Ucap mita mengguncang-guncang tubuh Sarah yang sudah tak bernyawa.
"Cukup Mita dia sudah mati." Ucap Alea.
"Ck, tapi aku belum puas." Ucap Mita cemberut.
"Hehehe nanti lain kali kita akan mencari target baru." Ucap Alea.
"Kemari lah!" Ucap Alea memanggil Mita untuk mendekat.
"Ada apa.?" Tanya Mita mendekat.
"Tubuh mu sudah di penuhi darah, apa tidak takut ketahuan.?" Tanya Alea.
"Tidak." Ucap Mita santai.
"Apa yang membuat kau seperti ini Mita.?" Tanya Alea.
__ADS_1
"Tidak ada." Ucap Mita tersenyum manis.
Sudah ku duga kalau orang yang seperti ini pasti akan menjaga rahasianya dengan rapat, aku harus berusaha agar ia membuka mulutnya.
"Benarkah.?" Tanya Alea.
"Kalau kakak.?" Tanya Mita.
"Yah karena aku pernah di perlakukan seperti itu dan dulu hampir terbunuh." Ucap Alea berbohong, ia juga sama seperti Mita menyimpan rahasia semaksimal mungkin.
"Hiks hiks hiks, aku tidak tahu." Ucap Mita menangis membuat Alea menjadi bingung.
"Aku hanya menumpahkan rasa kesal ku saja, rasa kesal karena di perlakukan seperti alat. Aku ingin membuat hati ku senang walau harus dengan cara yang salah." Ucap Mita.
"Tapi mengapa? Coba kau ceritakan, bisa saja perasaan mu akan menjadi tenang ketika kau mau berbagi masalah dan aku akan menjadi pendengar dan penyimpan rahasia dengan baik." Ucap Alea tersenyum hangat.
"Kakak tahu, dulu aku dan kak Leon tidak seperti ini. Dulu kami adalah anak yang baik, itu ketika kak Davin masih ada. Kak Davin adalah kakak yang berhati malaikat, yang mencoba mengubah adik-adik nya yang berhati monster ini. Kami sangat menyayangi kak Davin, demi kak Davin kami mau mendengarkan perkataan ayah dan ibu, demi kakak kami mau menjadi anak yang baik dan penurut. Tapi setelah kakak pergi hiks hiks semuanya berubah menjadi gelap. Tak ada lagi yang mau menyemangati kami, tak ada lagi yang mau menasehati kami. Yang paling terpenting tak ada lagi yang menyayangi kami hiks hiks."
"Lalu apa yang terjadi.?" Tanya Alea semakin penasaran.
"Kami mulai terpuruk, tubuh kami yang kecil ini terus di paksa untuk menjadi sesuatu yang berguna. Kami yang orang kaya semua kebutuhan di penuhi namun kasih sayang sangat sulit kami dapatkan. Semua kami usahakan untuk bisa menarik perhatiaan ayah dan ibu tapi yang kami dapat hanya lah sebuah kata. " Jadilah anak yang berguna." "
"Disaat kami sudah mendapatkan itu tetap saja kasih sayang mereka belum bisa kami dapatkan yang hanya kami rasa adalah hidup hampa dengan barang-barang mahal di sekitaran kami."
"Terpukul, itu yang kami rasakan, untuk pertama kalinya saat itu kak Leon membunuh seekor anak anjing dengan cara menguliti hewan Malang itu. Aku yang melihat kakak begitu bahagia pun menjadi tertarik untuk melakukannya. Tak tanggung-tanggung aku melakukannya pada seorang anak yang lebih kecil dari ku hahaha bukan nya merasa bersalah aku malah merasakan kepuasan sendiri dalam hati ku. Sejak hari itu aku mulai melakukan nya lagi lagi dan lagi. Hingga pernah sekali aku melakukannya pada seorang pelayan yang berani kurang ajar pada kami."
"Aku puas, sangat puas dengan semua itu. Aku merasa sebuah kehidupan yang sangat berarti. Terkadang aku juga pernah melakukannya pada ibu hehehe. Diam-diam aku melukainya dan aku sangat senang ketika melihat wajah panik ibu di pagi hari."
"Wanita yang tak pantas di sebut ibu itu pantas untuk mati." Jelas Mita panjang lebar membuat Ana menjadi mengerti.
"Lalu apa Leon tahu kalau kau seperti ini.?" Tanya Alea.
"Tidak."
"Lalu bagaimana tentang wanita itu, wanita masa lalu kakak mu.?" Tanya Alea.
"Kak Alea, dari mana kak Alea tahu.?" Tanya Mita.
"Aku pernah melihat nya di sini, tapi sepertinya dia sudah melarikan diri." Ucap Alea.
__ADS_1
"Apa? Setahu ku wanita keparat itu sudah mati, tapi ternyata dia di sembunyikan di sini. Kak Leon sudah berbohong pada ku." Ucap Mita tak suka.
"Mungkin ada alasan mengapa Leon menyembunyikannya."
"Apapun alasannya aku tak peduli, aku akan mencari wanita itu sampai ke ujung dunia sekalipun. Akan ku robek-robek tubuhnya itu, akan ku buat ia menderita seperti derita yang telah kami rasakan." Ucap Mita dengan amarah yang berapi-api.
"Jangan lupa kan aku kalau kau menemukannya yah." Ucap Alea tersenyum manis.
Sepertinya masih banyak lagi rahasia yang tersimpan. Aku penasaran apa yang di lakukan nenek tua itu hingga anak-anak nya begitu membenci nya dan menginginkan kematiannya.
"Tentu."
"Aku akan kembali ke kamar, lalu bagaimana kita membersihkan wanita ini supaya tidak ketahuan.?" Tanya Alea bingung.
"Kakak pergi saja ke kamar, biar sisanya aku yang akan membereskannya."
"Baiklah aku percaya pada mu." Ucap Alea pergi keluar ruangan.
Alea mulai berjalan mengendap-endap naik ke atas kamar, dengan selembut mungkin Alea membuka pintu kamar agar tak menimbulkan suara.
Ceklek.
"Darimana kau.?"
_
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc
__ADS_1