
Semenjak kabar Alea yang tengah hamil, suasana rumah begitu damai dan juga penuh bahagia, tapi tidak dengan suasana hati Alea yang setiap harinya semakin memburuk. Entah ini efek dari kehamilan nya atau mungkin memang ia yang masih belum terima dengan keadaan nya.
Seperti hari ini, ia selalu saja marah-marah bahkan kepada Leon. Leon sendiri tidak masalah kalau ia harus di marahi, ia mengerti namanya juga ibu hamil pasti banyak tingkah, jadi ia harus bersabar. Hari ini Leon pergi ke kantor, sebenarnya Leon tak ingin ke kantor untuk beberapa minggu kalau perlu ia tak akan ke kantor sampai Alea melahirkan dan anaknya sudah cukup besar. Namun apa daya, ketika ia tak ingin melangkah kan kakinya keluar rumah ia malah di usir oleh istrinya sendiri. Istrinya bilang kalau ia ingin kaya dan juga banyak uang jadi Leon harus bekerja keras. Leon berfikir mungkin anak nya nanti akan mata duitan.
Alea kini berada di kamar berbaring sambil memakan makanan ringan, ia memperhatikan perutnya yang sudah terlihat ada benjolan. Biarpun belum besar namun itu bisa terlihat, tak jarang setiap malam Leon mengelus perut Alea dan tak bisa di pungkiri Alea pun merasa nyaman.
Alea mengambil handphone nya ingin mencari sesuatu. Setelah belajar dengan giat akhirnya Alea pun tahu cara mengfungsikan handphone dengan benar. Tak sia-sia ia belajar sewaktu dulu.
Alea membuka pencarian di internet dan mengetik beberapa pertanyaan yang selalu ia hapus karena merasa pertanyaan nya tidak nyambung.
Daftar pencarian
> Bagaimana cara membunuh anak? (dihapus)
> Bagaimana cara menggagalkan kehamilan? (dihapus)
"Akhhhh mengapa aku begitu bingung? Apa yang harus aku tanyakan pada internet ini?"
> Bagaimana cara mengeluarkan bayi yang masih kecil di dalam perut? (dihapus)
> Bagaimana cara mengugurkan kandungan? (Search)
Alea menunggu dengan detak jantung yang tak karuan, entah yang ia lakukan ini salah atau tidak. Ia sangat gundah sekarang.
"Hmmm kalau dilihat dari jawaban nya yang paling mudah adalah dengan buah nanas."
Alea bangkit dari tempat tidurnya berjalan mondar-mandir, sungguh ia sedang dalam dilema yang berat.
"Aku bukan tak menginginkan mu atau membenci mu, hanya saja aku takut, takut akan melukai mu ketika kau ada di dunia. Aku bukanlah wanita yang baik, aku ini seorang monster yang tak pandang bulu. Maafkan aku, setidaknya kau tidak akan terluka nanti."
Alea mengelus perut nya dengan lembut, ada rasa hangat dalam hatinya ketika menyentuh perutnya itu namun ada juga rasa gelisah menyelubungi hatinya.
"Sekarang aku harus bisa mendapatkan buah itu, tapi bagaimana? Orang-orang di mansion ini pasti tak akan membiarkan aku memakan buah itu, karena rata-rata mereka adalah orang tua jadi mereka paham apa yang akan terjadi jika ibu hamil mengkonsumsi buah itu."
__ADS_1
Alea berfikir sejenak merenungi apa yang harus ia lakukan, ia pun menyerah menggaruk kepalanya dengan keras karena tak ada satu pun ide yang masuk ke otak nya.
"Aku bingung, otak ku semakin lama semakin dangkal." Gerutu Alea.
"Ah, aku coba saja ke dapur. Siapa tahu aku beruntung."
Alea pun memberanikan dirinya keluar dari kamar menuju dapur. Tampak mansion sedang dalam keadaan sepi karena sudah menjelang siang, tepatnya waktu istirahat. Alea pun menuju dapur dengan langkah santai, ia tak mau para pelayan mencurigai nya dengan gelagat seperti pencuri.
Sesampainya di dapur Alea tersenyum puas karena dapur kosong seperti dugaan nya semuanya pasti sedang beristirahat. Alea pun menggeledah dapur karena memang tak tahu di mana letak buah-buahan di simpan. Ia membuka lemari pendingin dan di sana ternyata terdapat banyak buah-buahan. Alea memperhatikan satu persatu buah yang ada di sana dan untung nya ada nanas di sana.
Alea mengambil nanas yang sudah di potong tersisa beberapa potongan saja. Alea pun duduk di kursi yang ada di dapur, ia tak ingin berlama-lama sebelum ada yang curiga baiknya ia memakan langsung buah nanas ini.
Alea memandangi potongan buah nanas yang sudah ada di tangan nya, apakah ia tega dengan darah dagingnya sendiri? Tapi mau bagaimana Alea tak punya pilihan lain ia harus memakan buah nanas nya agar ia tak hamil.
"Nona apa yang anda lakukan?"
Deg
Ketahuan. Tidak boleh, ia harus menyembunyikan buah itu dengan cepat. Alea pun menyembunyikan potongan buah nanas itu di balik bajunya.
Vino memicingkan matanya melihat gelagat Alea dengan penuh curiga. Vino pun mendekat, sebenarnya ia datang kemari karena Leon menyuruh nya untuk membawa berkas yang tertinggal hanya saja ketika ia ingin berangkat kembali ke kantor Vino tak sengaja melihat Alea yang masuk ke dapur. Vino pun mengikuti Alea dan begitu terkejut ketika Alea memegang potongan buah yang tak boleh ia makan. Itulah mengapa Vino langsung keluar dari persembunyian nya.
"Apa yang nona lakukan di dapur?"
Wajah Alea pucat pasih karena jujur ia sangat gemetar, di satu sisi ia akan membunuh anaknya dan di sisi lain ia hampir saja ketahuan atau lebih parah nya ketahuan.
"A-aku hanya ingin makan buah."
Alea berusaha menetralkan wajahnya, namun itu semua tak membuat tatapan Vino berubah damai terhadapnya.
"Buah apa yang ingin nona makan?" tanya Vino. Tentu saja Alea semakin takut, bagaimana kalau sampai vino tahu dan melaporkan nya pada Leon, bisa habis dirinya ini.
"Bu-buah, aku tidak tahu buah apa." Tidak ada jalan keluar yang lebih ampuh dari pada bersikap polos. Tampak kening Vino berkerut lalu menatap posisi tangan kanan Alea yang ada di belakang.
__ADS_1
"Tunjukkan buahnya!" perintah Vino. Dengan ragu Alea pun akhirnya menunjukkan buah yang ada di tangan nya, Vino langsung mengambil dan membuang potongan buah nanas itu secara sembarangan.
Dengan langkah tegas Vino keluar dari dapur lalu berteriak "Kalian semua berkumpul!" teriak Vino. Sontak karena Vino berteriak dengan keras semua penghuni mansion datang berlarian berbondong-bondong.
"Ada apa tuan?" tanya pak Andi mengatur nafasnya.
"Apa kalian di gaji disini hanya untuk bermalas-malasan?" teriak Vino.
"Tuan Vino, sudahlah. Mengapa anda berteriak seperti itu?" tanya Alea merasa bersalah. Ia yang melakukan sebuah kejahatan orang lain yang kena imbas nya.
"Maafkan saya nona karena sudah berteriak di hadapan anda. Saya hanya khawatir pada anda."
"Apa yang membuat tuan khawatir?" tanya pak Andi.
"Kalian tahu kalau ada ibu hamil di sini, tapi tak menyingkirkan buah sialan itu." Semua orang melihat pada potongan nanas yang berserakan, sontak semuanya kaget dan menunduk takut.
"Bagaimana bisa anda ingin memakan buah itu nona? Buah itu sangat berbahaya untuk kehamilan anda." Tampak raut wajah khawatir dari kerutan di wajah pak Andi, sungguh Alea semakin merasa bersalah.
"Aku tidak tahu, maafkan aku." Akhirnya Alea pun meminta maaf, maaf pada mereka yang terkena imbasnya dan maaf juga karena telah berbohong serta maaf untuk mencoba membunuh anaknya.
Gagal sudah, aku harus bagaimana? Apa aku harus menerima takdir yang berjalan atau aku bisa melawan nya dengan sedikit keberanian. Aku bingung. Maafkan aku.
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
__ADS_1
tbc