
Hari ini adalah hari dimana keluarga Leon akan datang, seisi mansion di sibukkan dengan bersih-bersih karena tahu bagaimana sifat dari tuan besar dan nyonya besar mereka.
Alea merasa semakin penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara Leon dan kedua orang tua nya.
Alea pun mengingat kembali pesan yang Leon katakan ketika mereka di pantai.
"Apapun yang mereka katakan jangan di bawa kehati. Baik itu positif maupun negatif." Ucap Leon.
"Tapi mengapa?" Tanya Alea.
"Ingat ini Lea, tak ada yang bisa kau percayai di dunia ini walau mereka adalah darah daging mu sendiri." Ucap Leon.
"Mungkin itu prinsip mu, tapi berbeda dengan prinsip ku." Ucap Alea berbohong, sebenarnya ia sama seprinsip dengan Leon, hanya saja ia ingin menggali lebih dalam lagi informasi tentang kehidupan Leon.
"Aku tahu, tapi untuk kali ini aku mohon bersikaplah biasa saja pada mereka. Jangan bersikap manis yang di buat-buat untuk menarik perhatian mereka, karena itu tidak perlu kau lakukan." Ucap Leon.
"Apa kau punya masalah dengan mereka." Tanya Alea.
"Lupakan."
"Hmmm aku penasaran dengan wujud orang tua Leon, apa mereka si rubah berekor sembilan atau si ular berkepala dua." Gumam Alea.
"Sayang apa yang kau lakukan di sini.?" Tanya Leon memeluk Alea dari belakang.
"Tidak ada, aku hanya melihat para pelayan yang sibuk bersih-bersih." Ucap Alea.
"Ayo kita masuk ke kamar." Ucap Leon.
"Untuk apa.?" Tanya Alea mulai curiga.
"Sekarang kan sedang hujan lebat, ayo kita menghangatkan tubuh." Ucap Leon dengan nada mesum.
"Ck, keluarga mu akan segera datang, kita malah sibuk menghangatkan tubuh." Gerutu Alea.
"Mereka kan datangnya nanti sore, nah sekarang kan masih pagi." Ucap Leon.
"Ck, malas." Decak Alea.
"Akhh apa yang kau lakukan.?" Teriak Alea ketika Leon mengangkat tubuh Alea seperti mengangkat karung.
Sesampainya di kamar, Leon langsung membaringkan tubuh Alea dan menindih Alea. Tanpa ba bi bu be bo Leon mulai meluncurkan aksinya.
Alea hanya bisa pasrah karena jujur tubuh nya sangat menginginkan hal itu namun bertolak belakang dengan hatinya yang kesal.
********
Hari sudah menjelang sore, mansion tampak rapi dan seperti mansion baru. Alea yang melihat itu berdecak kagum karena bakat para pelayan yang bisa mengubah nuansa mansion.
Pip
Pip
__ADS_1
Pip
Suara klakson mobil pertanda ada yang datang, seluruh pelayan langsung berbaris rapi menyambut tamu yang akan datang.
"Mereka datang." Ucap Leon.
"Siapa? Keluarga mu?" Tanya Alea.
"Yah." Ucap Leon.
"Tapi mengapa para pelayan begitu patuh seperti itu.?" Tanya Alea.
"Karena aku yang memerintahkan, aku memerintahkan mereka agar terlihat patuh dan takut pada keluarga ku. Kalau aku tak menyuruh mereka, mana mau mereka berbaris begitu." Ucap Leon santai.
"Bukannya kau punya hubungan buruk dengan keluarga mu, tapi mengapa memperlakukan mereka dengan khusus.?" Tanya Alea.
"Bukan kah tamu harus dilayani dengan baik, agar mereka merasa bahagia sebelum pergi dari rumah ini." Ucap Leon dengan nada dingin.
"Kalimat itu kalau diartikan dengan baik berarti. Secepatnya mereka harus keluar dari rumah ini." Batin Alea.
"Selamat datang tuan besar, nyonya besar." Ucap para pelayan serentak.
"Bagus bagus, ternyata tak sia-sia kalian bekerja di rumah putra ku. Memang kalau pelayan rumah putra ku harus memiliki tata krama yang baik." Ucap Maya ibu kandung Leon.
"Silahkan tuan, nyonya dan nona." Ucap pak Andi mempersilahkan mereka masuk.
"Selamat datang." Ucap Alea tersenyum manis.
"Oh menantu, apa kau sudah sehat? " Tanya Maya.
"Sayang apa kau tak mau menyambut kami.?" Tanya Maya pada Leon yang sedari tadi diam
"Selamat datang." Ucap Leon dingin.
"Hmmm sudah lama menikah tapi sifat mu belum berubah hahaha." Ucap Maya tertawa.
Kalau di artikan, "Percuma kau menikahi perempuan itu kalau dia tak membawa perubahan pada hidup mu." Batin Alea.
Leon dan Alea menuntun Maya, Fernandes dan Mita untuk duduk di ruang keluarga dan memerintahkan pelayan untuk membawa barang-barang mereka ke dalam kamar.
"Bagaimana keadaan mu Alea.?" Tanya Fernandes.
"Baik pa." Ucap Alea.
"Papa dengar kalau kau hilang ingatan, apa itu benar?" Tanya Fernandes.
"Iya." Jawab Alea.
"Papa harap kalian bahagia." Ucap Fernandes dengan raut wajah datar.
Kalau di artikan" Ku harap kalian bahagia, karena hidup kalian sekarang belum bahagia alias hidup dengan menyedihkan." Batin Alea.
__ADS_1
Alea menatap gadis yang berumur 18 tahun di samping Fernandes. Gadis itu hanya diam dan menunduk seperti ada sesuatu yang membuat ia di haruskan diam.
"Apa kabar mu.?" Tanya Leon dengan lembut menatap ke arah Mita.
"Ba baik." Ucap Mita tersenyum terkesan di paksakan.
"Kemari lah.!" Ucap Leon menepuk sisi kosong yang ada di sampingnya. Dengan ragu kita pun berjalan dan duduk di samping Leon.
Alea yang melihat kehangatan Leon terhadap adiknya itu tersenyum puas. Alea tahu pasti gadis itu mengalami tekanan yang berat hingga membuat ia diam seperti batu. Padahal waktu Leon menceritakan tentang Mita, Mita itu adalah gadis yang sangat periang, apa lagi kalau kita bertemu Alea.
"Bagaimana dengan sekolah mu.?" Tanya Leon.
"Baik." Ucap Mita.
Leon. tahu kalau adiknya ini sedang tertekan, oleh karena itu Leon pun berdiri dan menarik tangan Alea dan Mita secara bersamaan.
"Kalian pasti sangat lelah, jadi beristirahat lah." Ucap Leon pergi sambil menarik tangan kedua wanita itu.
"Cih, tidak berubah sama sekali." Ucap Maya kesal.
"Memangnya kau mengharapkan apa ha?" Tanya Fernandes.
"Aku berharap dia bisa mengubah sikap dingin nya itu setelah menikah dengan wanita pilihannya. Tapi ternyata malah semakin dingin. Bagusnya aku akan mencarikan yang baru saja." Ucap Maya.
"Sebaiknya kau jangan terlalu ikut campur untuk kehidupan Leon, karena kau tidak berhak." Ucap Fernandes.
"Tidak berhak? Aku ini ibunya. Jadi aku berhak atas dia." Ucap Maya.
"Cih, ibu? Aku penasaran apa definisi ibu dalam hidup mu hingga kau menyebut diri mu sebagai ibu." Ucap Fernandes.
"Setelah pulang dari sini kita urus surat cerai dan surat asuh. Aku akan mengasuh Mita tanpa mu." Ucap Fernandes.
"Kau pikir aku akan memberikan Mita dengan mudah." Ucap Maya menyeringai.
Fernandes mencengkeram wajah Maya dengan keras dan menatap mata dengan tatapan tajamnya.
"Jangan pernah bermain-main dengan ku, gara-gara kau aku sampai kehilangan anak ku dan Leon membenci ku. Aku tak akan membiarkan kau membuat Mita menjadi monster selanjutnya." Ucap Fernandes melepas cengkeraman nya dan berlalu pergi.
"Kau pikir aku akan melepaskan Mita begitu saja. Tidak akan pernah, karena Mita adalah atm berjalan untuk ku."
_
_
_
_
_
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc