
Terdapat adegan kekerasan di part ini harap bijak dalam membaca.
Memang gak keras-keras kališ¤£
Happy reading
"Ayo kita nikmati hidangan malam ini. Kau jangan lupa rekam kami.!" Ucap Baron pada salah seorang anak buahnya. Dengan senyuman mesum nya ia mulai mendekat pada Alea, sedangkan yang lainnya diam menonton. Karena kalau bos mereka yang pertama mereka harus sabar jadi yang berikutnya.
Baron berjalan mendekati Alea sambil melepas jas dan juga kemeja nya. Tak lupa pula dengan tali pinggang yang ia lepaskan dan buang sembarangan hingga hanya meninggalkan Baron yang memakai celana pendek saja.
"Hmmm lumayan." Ucap Baron menatap intens tubuh Alea. Satu langkah lagi, Baron akan menindih Alea namun.
"Brukkk."
"Auuww" Baron merintih kesakitan ketika ada sesuatu yang menendang alat vitalnya dengan keras. "Beraninya kau.!" Teriak Baron menatap marah pada Alea yang masih berbaring sambil tersenyum menyeringai.
"Aku memang berani dan kau telah membangunkan monster berani seperti ku." Ucap Alea dengan santai. Anak buah Baron semuanya sudah siaga untuk mengepung namun Baron mengangkat tangannya pertanda biar urusan ini menjadi urusan nya saja.
"Nyali mu besar juga ja*ang. Akan ku buat kau menyesal." Ucap Baron tersenyum smirk.
"Aku juga. Akan ku buat kau menyesal." Ucap Alea yang masih santai.
Tanpa aba-aba apapun Baron segera naik ke atas ranjang dan berniat melumpuhkan wanita yang sudah berani lancang pada nya. Namun belum apa-apa Alea kembali menendang alat vital Baron, kali ini lebih keras dari yang sebelum nya. Baron merintih kesakitan karena alat vitalnya yang terus menerima benturan yang hebat.
Dengan cepat Alea berdiri menjauh dari ranjang dan memecahkan sebuah vas bunga yang ada di atas meja.
Pranggg
"Jangan main-main dengan pecahan sayang, nanti kau akan terluka." Ucap salah satu anak buah Baron yang mendekat dengan sebilah pisau.
"Kau juga, jangan main-main dengan pisau nanti kau akan terluka." Ucap Alea menatap laki-laki itu dengan tatapan remeh.
"Bos kita bunuh saja dia."
"Bunuh, bunuh saja wanita sialan itu.!" Ucap Baron masih merasa sakit di bagian alat vitalnya.
Setelah mendapatkan perintah dari bosnya anak buah Baron mengepung Alea dengan senjata tajam. " Sangat lemah." Ucap Alea yang mulai menyerang mengayunkan pecahan vas bunga yang ada di tangannya hingga mengenai anak buah Baron dan banyak mengeluarkan darah.
Semuanya berhenti sejenak, lelah karena target sangat lincah dalam menghindar, padahal mereka sudah mengepung Alea dengan ketat.
"Kau! Kau bosnya bukan? Kalau kau memang seorang bos. Majulah!" Ucap Alea menantang Baron untuk bertarung. " Dengan senang hati." Ucap Baron membawa pisau dari tangan anak buahnya. Sayang sekali mereka tak membawa pistol ke dalam kamar ini padahal kalau ada pistol akan sangat mudah untuk melumpuhkan target.
Terjadilah tarung menarung antara Baron dan Alea yang begitu sengit, luka goresan sudah tampak di bagian lengan Alea namun itu tak sebanding dengan Baron yang sudah bercucur darah. Dengan sigap Alea merebut pisau dari tangan Baron yang masih lengah karena kesakitan.
__ADS_1
Setelah mendapat kan pisau, Alea menggunakan waktu nya dengan baik melumpuhkan Baron dengan kedua kakinya dan menancapkan mata pisau di bagian payudara Baron yang sedikit berisi. Maklum saja Baron itu mempunyai tubuh yang besar jadi payudara nya juga pun terlihat berisi sedikit.
"Akkhhhhh." Teriak Baron membuat anak buahnya merinding, tapi mereka tak mau menyerah karena mereka banyak sedangkan Alea hanya sendiri.
Dengan beramai-ramai mereka semua menyerang balik Alea yang baru saja mencabut pisau nya dengan kasar, tanpa ragu Alea menusuk kan mata pisau di salah satu mata anak buah Baron dan menarik pisau secara paksa di seret membelah mata hingga ke pipi. Dalam sekejap anak buah itu langsung terkapar karena kesakitan.
"Ada lagi.?" Tanya Alea yang semakin menggila ketika melihat darah yang berserakan.
Tak ada yang menyerah, semuanya masih berniat untuk menghabisi Alea. Dengan serentak mereka menyerah dan dengan sigap Alea menancapkan mata pisaunya kebagian vital para anak buah Baron.
Meski Alea mengalami luka yang lumayan besar karena memang peralatan yang minim, namun semuanya terbayarkan dengan anak buah Baron yang terkapar merintih kesakitan.
"Hei kalian semua. Lihat ini." Ucap Alea yang mengarahkan pandangan anak buah Baron untuk melihat ke arah Baron yang akan di mangsa Alea.
Baron yang masih kesakitan mencoba untuk berdiri namun dengan kasar Alea menginjak luka tancapan pisau pada payudara Baron.
Sreetttt
Satu sayatan di bagian mulut merobek mulut menjijikan Baron dengan kasar menggunakan dua pisau yang Alea dapat dari anak buah Baron.
"Heumppp akhuhhkkhhh" Teriak Baron yang masih bertahan hidup walau robekan demi robekan menimpa tubuhnya.
"Kau sangat cabul." Ucap Alea menancapkan mata pisaunya di perut Baron membuat si empunya bergetar hebat namun tak bisa bergerak, dengan pelan Alea menarik pisau membelah perut ke arah bawah sampai membela alat vital Baron.
"Kakak." Panggil Nena mengejutkan Alea dan menatap tajam pada anak perempuan yang sedang duduk lemas di atas ranjang.
"Maafkan Nena." Ucap Nena berderai air mata.
"Sudahlah." Ucap Alea cuek pergi ke arah lemari mengambil baju kemeja yang tersedia di dalam.
Alea mengganti bajunya dengan kemeja putih yang baru sepertinya belum di pakai, karena tak menemukan celana yang cocok Alea memutuskan hanya memakai kemeja saja, toh kemejanya panjang menutup sampai paha Alea.
Setelah mengganti pakaian, Alea tak memperdulikan mayat yang ada di kamar. Ia juga tak peduli kalau nanti ada orang yang tahu kalau dia adalah pembunuhnya.
"Kakak mau kemana.?" Tanya Nena.
"Apa urusan mu.?" Tanya Alea menatap tajam pada anak perempuan yang berwajah pucat itu.
"Kakak ingin pergi.? Kalau begitu bantu Nena sekali ini saja." Ucap Nena menatap sendu ke arah Alea.
"Hmmm apa itu.?"
"Bunuh aku." Ucap Nena dengan penuh harap menatap lekat mata Alea yang nampak terkejut.
__ADS_1
Deg
"Aku memang membenci seorang penghianat, tapi aku tak pernah melukai anak kecil sekali pun." Ucap Alea.
"Bunuh aku.!" Ucap Nena masih tak berkutik.
" Aku mohon bunuh aku! Akhiri semua penderitaan ini kakak.! Ucap Nena berlinang air mata.
"Kalau kau ingin mengakhiri penderitaan mu maka tetap lah hidup dan menjadi orang yang berguna." Ucap Alea mendekat dan mengelus kepala Nena dengan senyuman yang tulus. Bagaimana pun Alea tak bisa marah terlalu lama, apalagi Nena ini mengingatkan dia akan masa lalunya.
"Kakak bunuh aku.!" Ucap Selena kecil pada seorang anak laki-laki yang sangat tangguh, laki-laki itu bahkan sudah membunuh orang yang menjadi bos dari penjualan budak ilegal.
"Mengapa aku harus membunuh mu.?" Tanya laki-laki yang lebih tua 3 tahun dari Selena yang berumur 12 tahun.
"Karena aku ingin mengakhiri penderitaan ini. Aku sudah tidak sanggup lagi hiks hiks." Ucap Selena menangis pilu.
"Kalau kau ingin mengakhiri penderitaan mu maka jadilah orang yang berguna." Ucap laki-laki itu tersenyum lalu menggendong tubuh Selena keluar dari rumah perbudakan itu
"Aku ingat kata-kata itu, tapi sayang nya aku tak ingat siapa dia" Batin Alea.
_
"Bos."
"Bagaimana.?"
"Semua baik-baik saja, kami hanya perlu membersihkan sisanya."
"Bagus, lakukan Segera.!" Ucap pria itu lalu mematikan panggilan dari handphone nya.
"Lena ku memang hebat." :)
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc
__ADS_1