
Pusing.
Itulah yang di rasakan Alea sekarang, pusing dan pengap berada di dalam rumah yang penuh kesenyapan. Ingin rasanya ia berteriak dan bernyanyi karena merasa sangat bosan. Ia tak bisa hanya tidur makan tidur makan saja. Ia ingin bergerak menjelajahi seluruh penjuru dunia seperti dulu ia pernah menjelajahi seluruh wilayah dengan sepasang belati nya.
"Akkhhhhh bosannnn.!!!!" Teriak Alea di dalam kamar dengan cepat Alea turun dari atas ranjang dan berlari menuju halaman luar. Ia bahkan mengabaikan tatapan-tatapan aneh dari para pelayan dan bodyguard yang melihatnya berlari menuju belakang area kebun buah.
Dengan sigap dan lincah, Alea menaiki satu pohon yang rindang dengan buah yang masih hijau. Alea menaiki pohon itu bak monyet betina jadi-jadian.
Setelah berhasil naik, Alea mulai memilih-milih buah mana yang ingin ia cicipi, sasarannya jatuh pada buah mangga yang sudah terlihat matang. Alea pun memetik buah mangga itu dan tanpa aba-aba langsung membuka kulit nya dengan gigi tanpa pisau.
"Emmmm manis." Ucap Alea terus mencicipi mangga itu tanpa memikirkan sisa-sisa air mangga yang jatuh ke pakaian Alea.
"Hmmm aku mau ke sana." Ucap Alea turun dari pohon mangga dan berlari menuju sebuah lainnya.
Terjadilah si monyet betina jadi-jadian yang berlari kesana-kemari memanjat pohon dan memetik hingga memporak-porandakan kebun. Petugas kebun yang melihat kebun yang ia jaga dan ia rawat meneteskan air mata melihat kebunnya yang sudah seperti tempat bekas orang demo saja.
"Ada apa ini.?" Tanya Leon yang mengejutkan petugas kebun itu, dengan nada takut dan gugup pekebun itu pun menjawab namun sebelum menjawab Leon malah memotong terlebih dahulu.
"Siapa siluman monyet yang sudah memporak-porandakan kebun ku.?" Teriak Leon memekakkan setiap telinga orang yang ada di tempat itu.
"Tuan muda jaga ucapan anda, bisa saja yang anda sebut siluman itu akan membuat anda galau sepanjang malam di ruangan kosong." Gerutu pak Andi.
"Tuan muda, siluman itu eh maksudnya yang membuat kebun ini seperti ini adalah nona muda." Ucap tukang kebun dengan hati-hati.
"Apa maksud mu ha.? Kau mengatai kalau istri ku siluman." Teriak Leon mencekram kerah baju tukang kebun itu.
"Maafkan saya tuan muda, tapi memang nona muda yang melakukan ini." Ucap tukang kebun itu tak mau mengalah.
"Heh sebaiknya anda diam saja, biarkan mata tuan muda sendiri yang melihat siapa siluman monyet itu." Gerutu pak Andi.
"Beraninya kau!!! Kau terus menuduh istri ku yang menghancurkan kebun yang ia sukai, yang ia rancang." Ucap Leon memelototi tukang kebun.
"Kakak ada apa ini? Mengapa kau berteriak-teriak seperti orang gila.?" Tanya Mita yang baru saja datang.
"Orang gila itu dia bukan aku, dia mengatakan kalau Alea itu siluman monyet." Ucap Leon menggebu-gebu.
"Bukannya anda sendiri yang bilang kalau perusak kebun ini adalah siluman monyet, oh tolong lah aku hiks hiks hiks. Tuan muda sudah gila." Gerutu tukang kebun menangis di batin.
"Pak Andi bawakan senapan angin.!" Ucap kita membuat semua orang membelalakkan matanya.
"Ta-tapi nona, yang ada di kebun memang lah nona muda." Ucap pak Andi.
__ADS_1
"Bawakan saja.!" Perintah Mita.
"Baik nona." Ucap pak Andi berlari segera membawa senapan angin khusus untuk berburu.
Setelah beberapa menit, pak Andi pun datang dengan membawa sebuah senapan. Pak Andi langsung memberikan senapan itu pada Mita, dengan gagah Mita pun masuk ke kebun untuk melihat siapa sebenarnya siluman itu.
"Mita apa yang kau lakukan.?" Tanya Leon.
"Menembak siluman yang kakak katakan tadi." Ucap Mita.
"Tapi bagaimana kalau itu benar Alea." Ucap Leon tak setuju.
"Maka kepala kakak yang akan ku tembaki." Ucap Mita menodong kan senjatanya ke arah kepala Leon. Semua orang yang melihat itu menjadi ngeri, gadis imut dengan pipi chubby itu sangat mengerikan kalau sedang memegang senjata.
"Baiklah." Ucap Leon.
Mulailah mereka mencari siapa penyebab keributan di kebun, kebun yang tadinya indah di pandang dengan buah-buahan yang ranum dan menggoda kini menjadi kebun yang sudah kacau balau bagaikan pikiran Author :D
Kresek kresek.
Suara sesemak atau lebih tepatnya suara gerakan seseorang yang tengah berada di sebuah pohon buah apel yang rindang bahkan buahnya sampai menyentuh tanah. Leon dan Mita serta yang lainnya melangkah pelan-pelan mengendap-endap melihat mahluk seperti apa yang ada di balik pohon itu.
"Siapkan senjata, siapa tahu di balik pohon itu memang siluman jadi-jadian." Bisik Mita.
"Baiklah." Ucap Leon.
Suara seseorang yang sedang makan buah-buahan membuat semuanya terhenti dan menelan ludah. Sepertinya buah yang sedang di santap itu sangat lezat ingin rasanya mereka memetik satu namun melihat sorot mata Leon mereka lebih baik menahan rasa penasaran mereka dari pada perut mereka di bedah.
Satu
Dua
Tiga
"Kena kau siluman.!!!"Teriak Mita dan Leon.
Krik krik krik krik.
"Lea." Ucap Leon menelan ludah kasar melihat tatapan bingung dari istrinya yang sedang duduk dan makan dengan rasa tak bersalah.
"Kak Lea, apa yang kakak lakukan di sini.?" Tanya Mita ikutan duduk dan memetik sebuah apel yang ada di dekatnya lalu memakan apel itu.
__ADS_1
"Makan." Ucap Lea dengan polos memperlihatkan buah apel yang baru saja ia gigit.
"Mengapa kau membawa senjata.?" Tanya Alea bingung
"Oh tuan muda tadi mengira ada siluman monyet yang merusak kebun istri tercintanya, jadi tuan muda ingin menembaki siluman itu dengan senapan angin nya hohoho." Jelas pak Andi yang mendapatkan tatapan tajam dari Leon yang dapat di artikan" Mati saja kau pak Andi, enyahlah kau dari kehidupan ku."
"Oh jadi begitu, yasudah tembak saja." Ucap Alea kembali memakan buah apelnya.
"Tidak jadi."
"Lah mengapa?" Tanya Alea.
"Karena tak mungkin kak Leon menembak kak Lea dengan senapan." Ucap Mita dengan lantang.
"Maksudnya.?" Tanya Alea yang masih belum nyambung.
"Maksudnya tadi itu kak Leon mengira kalau yang merusak kan tempat ini siluman monyet, tapi ternyata itu adalah kakak. Jadi tak mungkin kak Leon menembak kak Lea." Ucap kita tanpa merasa bersalah.
"Enyahlah kau wahai adik durhaka."
"Oh jadi begitu." Ucap Alea yang mengubah raut wajahnya menjadi datar.
"Sayang bukan begitu." Ucap Leon memeluk Alea sambil memohon.
"Mita nanti malam aku akan tidur di kamar mu." Ucap Alea dengan santai.
"Jangan sayang, jangan lakukan itu. Aku tak sanggup tidur tanpa mu." Ucap Leon memohon.
"Baiklah." Ucap Mita sepakat.
"Maafkan aku Lea, maafkan aku. Kau boleh menghukum ku apapun itu tapi jangan hukuman ranjang." Ucap Leon membuat semua orang di tempat itu tak kuasa menahan tawa namun harus di tahan kalau masih ingin tertawa untuk selanjutnya.
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar
__ADS_1
tbc