Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Hilang jejak


__ADS_3

"Tuan..."


Byuuuurrr


Kaget. Glen yang sedang minum sampai menyemburkan air dari mulutnya dan menatap tajam pada pria yang baru saja masuk.


"Kuharap itu berita yang berguna, kalau tidak kau tahu sendiri apa akibatnya!"


"Ma-maafkan saya tuan, tapi ini berita yang sangat penting."


"Katakan!"


"Kami kehilangan jejak nona Alea."


Braaakkkk


_____________


"Dasar tidak berguna!" bentak Glen pada anak buahnya. Ini tidak mungkin, mengapa ia bisa lalai. Semuanya sudah keluar dari jalurnya.


"Dimana lokasi terakhir Alea berada?" tanya Glen masih menatap tajam anak buah nya.


"Jalan menuju kota Sambo." Glen menghela nafas kasar dan mengusap wajah nya.


"Siapkan mobil!"


Baik tuan."


Kemana kau Lena?


*******


Sedangkan di sisi lain, Leon dan yang lainnya juga sibuk mencari keberadaan Alea. Semua sudah di kerahkan, bahkan Arsel sudah melacak posisi Alea melalui sinyal ponselnya.


"Leon, aku mendapatkan nya." Leon dan yang lainnya berkumpul melihat titik dimana Alea terakhir kali terlihat.


"Kota Sambo?"


"Tapi sinyal ini di dapat beberapa jam yang lalu dan tidak ada pergerakan sama sekali dari posisi sinyal ini."


Deg


Perasaan berkecamuk penuh ke khawatiran memenuhi pikiran Leon, dimana sebenarnya istrinya berada? Apa yang sudah terjadi?


"Sebaiknya jangan buang waktu terlalu lama, ayo kita pergi ke titik terakhir nona Alea di deteksi tuan," saran pak Andi dengan wajah khawatir nya.


"Baik pak Andi, kami pergi dulu. Jaga Nena dan juga Mita agar tak keluar dari rumah!" tegas Leon pergi dan di ikuti oleh yang lainnya.


Leon dan rombongan pergi dengan tiga mobil, satu mobil di gunakan Leon, Vino, Arsel dan Danish sedangkan dua mobil lagi khusus anak buah Leon.


Mobil terus menelusuri jalan dengan kecepatan penuh. Leon mengedarkan pandangannya di setiap sisi jalan siapa tahu ia bisa melihat Alea. Sedangkan Danish dan Arsel sibuk dengan laptop mencari lebih detail titik keberadaan Alea.

__ADS_1


*******


"Sial!" umpat Glen melihat sebuah taksi yang tadinya di tumpangi Alea kini sudah terbengkalai dengan mayat seorang pria yang di duga supir taksi.


"Hmmm, kalau menurut perkiraan. Jalan ini termaksud katagori sepi jarang sekali ada pengendara yang melewati jalan ini yang sebagai jalan pintas menuju kota, jadi jalanan ini tidak di lengkapi dengan cctv," gumam Xei mengetuk-ngetuk jarinya di kaca mobil.


"Kalau begitu akan semakin sulit untuk mencari keberadaan Selena," gerutu Glen.


Ia tak tahu kalau ini akan terjadi, kalau saja ia tahu ia pasti sudah mengantisipasi semuanya agar keberadaan Alea mudah ia ketahui.


Rasanya ingin ia membakar tubuh supir taksi itu karena sudah membuat rencananya keluar dari jalur.


"Tuan, bagaimana kabar dari mata-mata kita? Apakah Leon sudah mengetahui titik keberadaan nona Alea?" tanya Xei.


"Cih, si bedebah itu mana mungkin bisa menemukan Selena dengan mudah," ketus Glen.


"Hmmm."


"Tapi katanya Leon dan anak buahnya sudah menuju kemari," sambung Glen.


"Apa sebaiknya kita pergi saja tuan?" tanya Xei.


Glen mengusap wajah nya dengan kasar, perasaan khawatir kini menyelubungi hatinya karena memikirkan Lena nya yang pergi dengan perut yang besar. Ia sungguh lalai. Ini sangat menyebalkan.


"Yasudah ayo kita pergi." Glen dan Xei pun masuk ke mobil dan melaju pergi dari lokasi taksi. Tak lupa Glen menaruh beberapa mata-mata untuk mengawasi Leon, siapa tahu laki-laki itu kali ini lebih pintar dari dugaan nya.


Selang beberapa menit, mobil Leon pun terlihat mendekat. Dengan tergesa-gesa Leon keluar dari mobil mendekati taksi yang ada di hadapannya.


"Bagaimana?" tanya Danish melihat wajah pucat Leon. Tak ada jawaban dari Leon yang mengharuskan Danish melihat ke dalam.


Danish dan yang lainnya di buat terkejut ketika melihat mayat seorang pria yang penuh dengan luka dan darah yang sudah mengering.


"Leon," panggil Danish mengguncang-guncang tubuh Leon.


"Bagaimana ini?" lirih Leon pelan.


Danish yang juga tak bisa menjelaskan pun memilih untuk diam dan memeluk temannya itu.


"Ini semua belum berakhir, aku yakin kakak ipar pasti baik-baik saja," ucap Danish menenangkan Leon.


"Yo guys, look at this!" seru Arsel memperlihatkan sebuah chip.


"Apa itu?"


"Ini adalah memori yang tersimpan di kamera depan mobil, mungkin saja kita bisa mendapatkan petunjuk." Seulas dan secuil harapan membuat Leon bersemangat.


"Tunggu apa lagi ayo kita periksa."


*******


Kota Sambo

__ADS_1


Di dalam mobil Alea hanya bisa terdiam merenung apa yang sudah ia lakukan sedari dulu hingga detik ini, yah Alea sekarang tengah berada di sebuah mobil milik seorang pria yang menawarkan ia sebuah tumpangan.


Curiga?


Tentu saja Alea curiga, tapi Alea akan membuat bentuk pria itu menjadi bermacam-macam kalau ia berani macam-macam.


"Nona, kemana tujuan anda?" tanya pria itu.


"Hmmm, aku ingin mencari sebuah penginapan."


"Apa anda sedang berlibur?" tanyanya.


"Yah." Malas meladeni pembicaraan Alea hanya menjawab dengan singkat.


"Kalau anda berkenan, saya memiliki beberapa apartemen yang bagus di kota ini. Anda bisa menyewanya," tawarnya.


Alea tampak berpikir, apa ia menerima saja tawaran pria asing ini? Tapi kalau ia pergi mencari sendiri ia sudah tak sanggup. Ia sungguh letih karena harus kesana-kemari dengan perut yang besar.


"Mengapa anda ingin menolong saya tuan?" tanya Alea.


"Hmmm karena saya masih punya hati nurani nona, ibu saya dulu pernah mengandung adik saya ketika saya berumur 15 tahun. Saat itu keluarga saya masih miskin jadi sangat susah untuk memenuhi kebutuhan dan juga kendaraan. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika ibu saya meregang nyawa karena akan melahirkan dan rumah sakit sangatlah jauh. Tak ada yang memberikan kami tumpangan, padahal rata-rata warga di komplek kami adalah orang yang berada. Dari situ saya bertekad untuk menjadi sukses agar kejadian itu tak terulang lagi baik untuk saya maupun wanita hamil yang kebetulan saya lihat sedang berjalan" Dari penjelasan pria itu Alea pun merasa tersentuh, sungguh masa lalu yang miris dan juga tujuan yang mulia.


"Siapa nama anda tuan? tanya Alea penasaran.


"Jack Harnes, anda bisa memanggil saya Jack." Mata Alea sedikit memicing, sepertinya ia pernah mendengar nama itu, tapi dimana?


"Kalau anda?" tanyanya.


"A...." Ingin rasanya Alea berbicara jujur namun ada rasa sakit di hatinya ketika ingin menyebut nama itu. " Nama saya Selena, anda bisa memanggil saya Lena."


"Nama yang bagus, jadi nona Lena. Apakah anda ingin menyewa salah satu apartemen saya?" tanya Jack.


Kalau di lihat-lihat Jack ini tipikal orang yang ramah sama seperti Glen, walau terlihat ramah sepertinya orang ini juga berbahaya, tapi tak ada salahnya Alea menerima tawaran Jack. Berjaga-jaga untuk sementara sampai ia menemukan penginapan lainnya.


"Baiklah."


_


_


_


_


_


Maaf yah kalau bab ini kurang seru atau bab sebelumnya gak seru.. sebab saya lagi gak enak badan dan juga buntu ide. jadi hanya ini yang bisa saya tulis dulu, takutnya kalau di paksakan bakalan ambyar nanti isinya.๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Tolong beri Krisan๐Ÿ™ baik alur maupun tulisan. Agar saya lebih semangat untuk memperbaiki cerita dan tulisannya ๐Ÿคญ


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah

__ADS_1


tbc


__ADS_2