
Setelah beberapa menit berjalan dan mengobrol akhirnya Leon dan Alea sampai di mansion dan pergi masuk ke kamar. Leon menurunkan tubuh Alea dengan pelan sambil tersenyum manis.
"Sayang apa boleh permintaan ku aku minta sekarang?" Tanya Leon.
"Tentu, kan sudah jadi perjanjian siapapun yang menang maka mereka berhak untuk meminta apapun dari yang kalah." Ucap Alea santai.
"Baiklah, kalau begitu permintaan ku adalah itu" Ucap Leon manja.
"Itu apa?" Tanya Alea bingung. Leon sudah seperti anak kecil saja meminta sesuatu dengan kode-kode rahasia.
"Hehehe aku mau kau." Ucap Leon dengan nada sensual dan langsung mencium bibir Alea. Alea mematung karena kaget, tapi ia juga tak memberontak karena sekarang ia sudah menyadari mungkin saja ia di beri kesempatan kedua ini untuk merasakan kehidupan normal yang sebenarnya.
Leon terus melakukan aktivitas bibirnya dengan ganas dan mendapat balasan dari Alea. Leon begitu senang dan mulai menggerakkan tangganya ke dalam baju Alea.
Alea bergidik ngeri merasakan elusan tangan Leon di bagian perut dan mulai naik ke arah dadanya. Ingin rasanya Alea menjerit dan membunuh laki-laki mesum yang ada di hadapannya, tapi entah mengapa tubuhnya sangat merespon dan tanpa sadar Alea mengeluarkan desahan kecil dari bibir mungil nya membuat Leon semakin bergairah dan beralih pada leher jenjang Alea yang putih.
Leon mengecup dan juga menggigit kecil leher Alea hingga meninggalkan bekas kemerah-merahan.
Tangan Leon pun tak berhenti untuk bergerak, meraba dan juga meremas gundukan kembar Alea membuat Alea benar-benar gila. Ini adalah sensasi yang aneh tapi juga nikmat.
"Le Leon." Desah Alea memegang rambut Leon ketika Leon mulai membuka baju Alea dan mulai mengecup area gundukan Alea.
Tubuh Alea menegang tak kala ketika Leon menghi*ap dan mere*as gundukan Alea.
"Sayang aku mau sekarang" Ucap Leon dengan nada sensual.
"Ta tapi" Ucap Alea tercekat tak kala tangan Leon mulai bergerak ke bawah. Alea langsung menahan tangan Leon karena ia belum siap dengan semua kejutan yang nanti akan ia rasakan.
"Sayang." Rengek Leon.
"Tidak bisa." Ucap Alea.
"Mengapa?" Ucap Leon cemberut.
"Karena aku sedang datang bulan." Ucap Alea tak enak hati.
Seperti petir menyambar di siang bolong, tubuh Leon melemas tak kala mendapatkan sebuah fakta yang telah ia lupakan.
Leon menggerutu kesal karena hasrat birahi nya yang tak terlepaskan, Leon langsung masuk ke kamar mandi dengan wajah kesalnya.
Alea yang melihat Leon masuk ke kamar mandi menghela nafas lega karena berhasil menghindar dari kegiatan itu.
*******
__ADS_1
Hari sudah menjelang siang, katanya Leon akan ada rapat penting yang harus ia hadiri. Alea merasa bosan dan meminta pada Leon agar ia di ajak ikut pergi keluar rumah.
Di dalam mobil, Leon di sibuk kan dengan email-email yang ada di laptop nya, sedang kan Alea sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Tuan hari ini tuan Harnes akan datang." Ucap Vino sembari menyetir.
"Maksudmu Jack?" Tanya Leon mengangkat sebelah alisnya.
"Iya tuan." Ucap Vino.
"Untuk apa laki-laki itu datang?" Tanya Leon tampak nada tak suka dari ucapannya.
"Bukankah perusahaan Harnes dan perusahaan kita menjalin kerja sama tuan? Makanya rapat kali ini tuan Harnes datang." Jelas Vino, ia sudah menebak kalau tuannya ini pasti akan melupakan apapun yang berkaitan dengan laki-laki bernama Jack Harnes itu.
"Ck, entah apa yang aku pikirkan sampai bisa berkerja sama dengan nya." Decak Leon. Leon melirik ke posisi Alea mendapati istrinya yang masih duduk tenang dengan mata terpejam, entah apa yang sedang di renungi istrinya itu sekarang.
"Lalu bagaimana dengan si perut buncit itu, apa dia juga akan hadir.?" Tanya Leon karena memang ia tak tahu siapa-siapa saja yang ikut dalam rapat ini, yang jelasnya ia tak peduli dengan semua itu.
Karena dalam beberapa hari ia tak masuk kerja karena ingin menghabiskan waktu dengan istrinya yang mendapatkan hasil yang membuat Leon harus galau.
"Tentu tuan." Ucap Vino. Karena Leon mengambil cuti, jadi semua urusan perusahaan di kontrol oleh Vino orang kepercayaan Leon.
"Bagaimana dengan sekretaris nya? Apa dia sudah mendapatkan yang baru?" Tanya Leon yang di maksud adalah tuan Wiliam. Pertanyaan Leon sontak membuat Alea menajamkan pendengaran nya.
"Sudah tuan." Ucap Vino.
"Tapi saya dengar wanita itu mati karena di bunuh." Ucap Vino.
"Mau dia di bunuh atau buka itu bukan urusan ku. Yang penting aku tak melihat lagi batang hidung nya itu." Ucap Leon cuek.
******
Setelah sampai Leon langsung keluar setelah Vino membukakan pintu mobil dan Leon berjalan dan membuka pintu untuk Alea.
Semua mata tertuju pada mereka karena ke serasi mereka, hal itu membuat Alea menjadi kesal entah mengapa rasanya darahnya selalu mendidih ketika melihat banyak mata yang tertuju ke arah nya.
Sampainya di ruangan pribadi Leon.
"Sayang aku ada rapat jadi tunggu di sini yah." Ucap Leon lembut.
"Membosankan." Gerutu Alea.
"Rapatnya cuma sebentar kok, nanti kalau sudah selesai kita akan pergi jalan-jalan" Ucap Leon membujuk istrinya yang seperti anak kecil.
__ADS_1
"Tapi aku bosan." Ucap Alea.
"Kau mau makan apa? Katakan saja nanti akan ku suruh orang membelikannya." Ucap Leon.
"Emmmm aku mau, bla bla bla bla." Ucap Alea dengan mata berbinar.
"Baiklah,sebentar lagi makanannya akan datang. Kalau mau istirahat, istirahat saja di kamar itu ya." Ucap Leon mengelus kepala Alea.
"Yah." Ucap Alea mengangguk. Sebelum pergi Leon terlebih dahulu menciumi Alea dari pucuk kepala, kening, kedua pipi Alea, hidung dan terakhir pada bibir Alea.
Leon pun sudah pergi meninggalkan Alea. Leon menyuruh salah satu karyawan nya untuk membelikan makanan pesanan Alea dan mengantarkan pada Alea.
Sedangkan di dalam ruangan.
Alea kini tengah duduk di atas sofa memandangi pemandangan dari atas gedung.
Alea mengingat percakapan Leon dan Vino di dalam mobil mengenai Rachel. Sebuah senyuman puas terukir di bibirnya karena ia mendapatkan hasil yang sempurna.
Sedangkan di mansion.
"Bagaimana ini pak? Apa yang harus kita sampaikan pada tuan muda." Tanya salah seorang penjaga.
"Ck, bodoh mengapa satu wanita saja kalian tak bisa menjaganya." Bentak pak Andi.
"Kalau seperti ini bukan kalian saja yang akan menanggung akibatnya, tapi seluruh orang di mansion pun akan terkena imbas." Ucap Pak Andi marah.
Para penjaga itu hanya bisa menunduk takut karena kecerobohan mereka yang akan mendapat hukuman yang mengerikan.
"Cepat cari, pasti wanita itu belum jauh dari mansion karena tubuhnya yang terluka." Ucap Pak Andi.
"Kalau tidak ketemu juga, maka bersiaplah untuk mati." Ucap Pak Andi meninggalkan para penjaga yang gemetar ketakutan.
_
_
_
_
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah
agar author makin semangat untuk update setiap hari nya
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar y
tbc