
Malam terus berlanjut, semua orang sudah terlelap menikmati alam mimpi yang mungkin lebih indah dari pada kenyataan. Begitu juga Leon, karena terlalu lelah Leon bahkan tak memakai baju. Ia hanya tidur dengan celana pendek saja.
Wajah nya yang tenang dan damai membuat siapapun akan jatuh cinta melihat ketampanan yang maskulin.
Ceklek.
"Ayo cepat masuk!" bisik Lulu masuk kedalam kamar Leon. Hotel ini adalah milik Glen, tentu saja akses masuk ke sebuah kamar sangat mudah ia dapatkan.
Lulu dan seorang pria masuk ke kamar Leon, mengendap-endap sambil membawa sebuah kamera. Lulu tersenyum genit melihat roti sobek Leon dan juga wajah tampan yang tenang. Ingin rasanya ia menjilati bahkan menikmati tubuh laki-laki idaman yang sedang ada di hadapannya. Namun, ia ingat pesan Xei kalau ia hanya boleh tidur di samping Leon dan tak boleh melakukan hal yang lebih dari itu.
Tanpa basa basi lagi, Lulu membuka bajunya menyisakan b* dan c*. Lulu pun naik ke atas kasur, namun ada yang ia lupakan ketika melihat gerakan Leon.
Obat bius.
Lulu menepuk jidatnya dan turun kembali mengambil obat bius yang sudah di sediakan oleh Xei, ia menuangkan obat bius itu di sebuah sapu tangan dan bergerak mendekat ke Leon. Dengan perlahan Lulu menutup hidung Leon membuat si empunya sejenak meronta dan membuka matanya. Leon melotot ketika ia melihat seorang wanita menyumpal hidung nya.
Ingin melawan namun obat bius sudah bereaksi dan seketika mata Leon terpejam. Ia tersenyum puas melihat Leon yang sudah tak sadarkan diri.
"Nona, sebaiknya anda cepat bergerak karena tuan muda sangat membenci orang yang lamban!" ketus pria yang tadi masuk bersama Lulu. Baru saja ingin menikmati, tapi ia sudah di ganggu oleh para pria itu.
"Anggap saja ini adalah balas dendam masa lalu."
Lulu pun naik ke atas ranjang, memposisikan Leon agar terlihat sedang memeluknya dengan gaya yang intim. Sungguh menggiurkan, melihat body Leon yang sangat menggugah selera untuk menikmati, memakan, menjilati. Lulu di buat gila dengan semua ini.
Cekrek.
Satu potretan dan potretan lain berbunyi, rencana sudah setengah berhasil. Hanya tinggal melaksanakan rencana selanjutnya.
"Turun cepat dan pakai pakaian mu!" titah pria itu. Lulu mencebikkan bibirnya turun lalu memungut pakaian nya,sungguh laki-laki itu sangat menggangu. Apa salahnya kalau ia menikmati tubuh Leon walau hanya sekejap saja.
"Ayo cepat keluar!"
"Iya, iya."
********
Malam pun sudah terlewatkan berganti menjadi pagi yang sejuk nan indah. Di mansion, Alea kini tengah berolahraga bersama Mita dan Nena. Selama kehamilan nya Alea jadi sering berolahraga karena menurut kata dokter, olahraga dapat membuat imun nya menjadi kuat dan membuat kehamilan nya menjadi lebih kuat dan sehat.
"Mama, nanti adik bayi nya seperti apa?" tanya Nena duduk di samping Alea sambil meluruskan kaki.
Tampak Alea berfikir, ia juga tak tahu seperti apa nanti anaknya. Apa seperti kelinci atau kucing. "Mama tidak tahu."
"Hmmm, maksud Nena itu jenis kelamin nya kakak," jelas Mita sembari mengambil botol minum lalu meneguk air dari botol minum nya.
"Ohhh, aku tidak tahu." Sekali lagi Alea hanya menjawab jawaban yang sama, memang ia tak tahu karena ia belum memeriksa jenis kelamin anaknya nanti. Kata Leon ketika Leon pulang nanti mereka akan pergi memeriksanya.
__ADS_1
Entah mengapa Alea semakin tak sabar untuk segera melihat suaminya berjalan dari gerbang mansion dan memeluknya setiap malam dengan pelukan hangat dan nyaman.
"Mama akan ke kamar. Nena di sini saja bersama Bibi Mita yah." Tanpa mendengar jawaban, Alea melangkah kan kakinya pergi menuju kamar. Dengan hati yang sangat berbunga-bunga ia menuju kamar dengan langkah kaki lebar.
Ia sudah tak sabar untuk menghubungi suaminya.
Sesampainya di kamar, Alea mendaratkan tubuhnya di atas ranjang mengambil ponselnya. Senyumannya mengembang melihat wallpaper ponselnya. Disana ada dia dan Leon yang sedang berciuman.
Perhatian Alea teralihkan ketika ada pesan masuk 16 menit yang lalu. Alea pun membuka pesan itu yang berasal dari nomor yang tidak di ketahui.
Deg
*********
Tok
tok
tok
Kembali ke hotel di kota A. Keributan terjadi ketika Vino mengetuk pintu kamar Leon yang sedari tadi tak ada respon. Vino bahkan menendang pintu kamar membuat para pegawai berkumpul.
"Tuan Vino, ada apa? Pagi-pagi sekali anda sudah membuat keributan," tegur Xei.
"Untuk apa anda....?"
"Berikan saja!" teriak Vino.
"Berikan dia kunci cadangan!" perintah Xei sembari menatap pegawai nya.
"Baik tuan."
Selang beberapa menit, pegawai yang tadi di perintah kan Xei pun datang dengan membawa kunci cadangan. Xei mengkode agar para pegawai untuk pergi dan meninggalkan mereka.
Tanpa basa-basi lagi Vino membuka kamar Leon, Vino mengerutkan keningnya melihat Leon yang masih tertidur. Vino pun mendekat dan berusaha membangunkan Leon, sedangkan Xei tampak menyeringai.
"Tuan muda, tuan. Bangunlah!" teriak Vino namun tak ada respon. Denyut nadinya stabil, tak ada yang salah, tapi mengapa tuannya tak kunjung bangun. Sepertinya ada yang aneh.
Vino pun ke kamar mandi mengambil segayung air dari kamar mandi, tanpa ba bi bu Vino langsung menyirami Leon dengan segayung air dan untungnya trik itu berjalan lancar.
Tampak Leon mengusap wajahnya dan juga matanya, ia menatap Vino dengan tatapan tajam dan dingin namun tak membuat Vino takut, sekarang ini ada yang lebih berbahaya dari pada tatapan itu.
"Apa-apaan ini?" tanya Leon dengan nada dingin.
"Tuan, ada masalah besar." Leon pun mengedarkan pandangannya melihat Xei yang berdiri di penghujung pintu. Ia kembali menatap Vino dan mengabaikan Xei.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Leon.
Vino tampak mengeluarkan ponselnya lalu memberikan ponsel itu pada Leon, Leon pun menerima dan melihat apa yang ada di dalam ponsel Vino. Ia membelalakkan matanya melihat fotonya dan seorang perempuan tidur dengan gaya yang sangat intim.
Kalau di teliti lagi, kejadian ini sepertinya semalam, karena Leon menandai celana yang ia pakai. Ia memutar otaknya mengingat apa yang terjadi semalam, ia mengingat ada wanita yang berusaha menyumpal hidung nya hingga tak sadarkan diri.
"Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Leon pelan pada Vino.
"Seseorang mengirimkan ini pada saya tadi pagi tuan, itulah makanya saya berusaha membangunkan anda. Untungnya foto itu tak tersebar luas di sosial media kalau tidak."
"Alea ku bisa tahu," sambung Leon. Entah mengapa ada rasa khawatir di dalam lubuk hatinya memikirkan bagaimana kalau istrinya melihat foto itu? Apa mungkin kejadian di masa lalu akan terulang kembali? Sungguh ia lalai.
Drrrttt
Drrrttt
Perhatian Leon dan Vino pun terpecah ketika mendengar getaran ponsel Leon. Leon mengambil ponselnya, di sana tertera nama pak Andi, Leon pun langsung mengangkat panggilan dari pak Andi.
"Ada apa pak?" tanya Leon.
"Tuan muda, nona Alea tidak ada di mansion. Nona muda menghilang."
Deg
Ini tidak mungkin, masa lalu biarlah masa lalu. Mengapa harus terulang, tidak! ia tak mau masa lalu itu terulang lagi. Lautan, jangan sampai lautan menjadi saksi kedua atas kesalahpahaman.
Ini baru awal, anda sedang di uji atas kelayakan anda untuk menjadi suami nona Alea. Selamat berjuang, Leon.
_
_
_
_
_
_
Kasih semangat dong😔😔🤧🤧
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc
__ADS_1