
Krieett
Suara pintu di buka pelan-pelan,Glen dan yang lainnya kini tengah menjadi seorang pencuri yang ingin mencari sebuah harta karun besar.
Masih di lantai satu, mereka mencoba mencari letak tangga darurat menuju lantai tiga, karena sangat tidak memungkinkan untuk mereka memakai lift yang pastinya menimbulkan bunyi Ting.
"Tuan," bisik Xei. Glen langsung melirik dan membulatkan matanya, dengan cepat mereka bersembunyi di sebuah ruangan yang kebetulan tak terkunci karena ada beberapa orang yang lewat.
Louis dan Xei kembali mengintip keluar melihat ternyata para pria itu sudah pergi.
"Tuan, ayo."
Mereka bertiga keluar berjalan menuju tangga darurat,dengan pelan mereka menaiki tangga sambil celingak-celinguk.
"Oh shit! Kapan habis nya anak tangga ini?" gerutu Glen.
"Diamlah tuan, anda bisa membuat semua orang berkumpul di sini!" ketus Xei.
"Iya iya."
Sampailah mereka di lantai dua. Di lantai dua terlihat ada beberapa pria bertubuh besar yang berjaga, hal ini pastinya akan membuat pergerakan Glen terhambat.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Xei.
"Gunakan gas tidur!" perintah Glen.
Xei pun perlahan-lahan membuka tas ranselnya mengeluarkan sebuah gas tidur yang sudah di modifikasi menjadi lebih kecil, sehingga orang-orang tidak akan melihat ataupun curiga dengan keberadaan gas tersebut.
Sebelum melempar gas, Xei terlebih dahulu memberikan penutup hidung pada Glen dan Louis. Setelah semuanya aman, Xei mulai menggelinding gas yang ke arah para pria itu.
Setelah merasa tak ada yang curiga dengan benda aneh mirip batu itu, Xei mengaktifkan gas tidur dengan menggunakan remote control.
Tit
Bunyi suara dari wadah gas ketika gas di aktifkan, para pria bertubuh besar itu belum menyadari adanya gas tidur di sekeliling mereka karena asyik berbincang. Hingga tanpa aba-aba mereka pun tertidur karena pusing.
Setelah merasa aman, Glen dan yang lainnya kembali berjalan menuju tangga darurat yang menghubungkan ke lantai tiga.
"Xei, bagaimana dengan rekaman cctv nya? Apa kalian sudah melakukan yang ku minta?" tanya Glen.
"Sudah tuan."
"Bagus."
Mereka pun kembali berjalan, sesampainya di anak tangga terakhir Glen mulai melihat situasi. Kali ini benar-benar ketat, mereka tak menyangka teryata di depan sebuah pintu yang di duga tempat Alea di sembunyikan sangat ketat penjagaan nya.
Tapi tak mengapa, mereka punya gas tidur yang sudah di modifikasi menjadi lebih canggih dan memiliki efek yang sangat kuat pada tubuh.
"Xei," bisik Glen.
Xei pun mengerti dan kembali mengambil gas tidur dari dalam ransel.
"Tuan, cctv di lantai tiga tidak dapat di retas, jadi ini akan sedikit berbahaya," jelas Xei.
"Iya."
Gas tidur pundi gelinding ke arah bawah meja agar para penjaga di situ tak merasa curiga. Xei pun mulai mengaktifkan gas tidur itu.
__ADS_1
Terlihat di sana para penjaga mulai bergoyang dan lemas, Xei tersenyum puas karena gas tidur yang ia modifikasi berhasil.
Braaakkkk
Mereka pun berjatuhan menimbulkan suara.
"Siapa di sana?" ucap seseorang keluar dari ruangan yang di jaga.
"Gawat, cepat bergerak!" perintah Glen,
Louis dan Xei pun langsung berlari memukul pria yang tadinya ingin menghubungi seseorang.
Bruuukk.
Pria itu terjatuh dengan sekali pukul di kepalanya. "Tuan, cepat," panggil Xei pelan. Glen pun berlari masuk keruangan, di sana ada beberapa orang yang sudah menodongkan senjatanya.
"Bunuh mereka!" perintah Glen mengeluarkan belatinya. Bagaimana pun ia tak boleh menggunakan pistol karena bisa menimbulkan suara yang membuat mereka jadi ketahuan.
Pintu pun di tutup, Louis dan Xei mengeluarkan belati lalu menyerang tiga orang pria yang bertubuh besar itu, sedangkan Glen berusaha membuka tali yang begitu erat mengikat tubuh Alea.
"Tu-tuan Glen," lirih Alea lemah.
"Simpan energi mu baik-baik, kita akan keluar dari sini!" perintah Glen.
"Tapi Leon akan datang kemari, aku tak mungkin pergi," ucap Alea.
"Dengarkan aku!" kata Glen merangkup kedua pipi Alea.
"Leon adalah seorang laki-laki, ia bukanlah orang bodoh yang dengan mudah menyerahkan diri pada musuh, pasti ada sebuah rencana yang sedang ia susun. Untuk itu ikuti aku, kita keluar dari sini terlebih dahulu," bujuk Glen.
"Percayalah, Leon pasti akan selamat.Kau lihat pria yang bersama Xei itu, dia adalah anak buah Leon. Jadi percayalah!" ucap Glen sambil menunjuk Louis.
"Baiklah."
Glen pun membantu Alea berdiri, dengan kaki yang lemah, tidak mudah bagi Alea untuk berjalan cepat.
"Ayo cepat, sebelum kita ketahuan."
Alea pun mengikuti langkah kaki Glen yang sengaja di perlambatan karena melihat Alea yang tak berdaya lagi ketika melangkahkan kakinya.
"Tuan, aku tak bisa berjalan cepat. Bagaimana kalau kita ketahuan?" tanya Alea.
"Sejak kapan kau menjadi lemah ha? Hanya karena kau menjadi seorang tawanan lalu kau bisa menjadi lemah, kuatlah!" tekan Glen.
Alea menatap Glen dengan begitu dalam, ada sesuatu yang menusuk di hatinya apalagi ketika tangan hangat Glen menggenggam erat tangan nya. Tanpa sadar Alea jadi tersenyum dan semangat pun menghampiri nya.
********
Mobil yang di tumpangi Leon pun akhirnya sudah berhenti tepat di depan gedung. Leon pun turun namun sambil melihat arlojinya. Ada sebuah pesan yang masuk.
"Tuan, nona Alea sudah bersama saya dan juga tuan Glen di hutan."
Louis
Semburat kebahagiaan pun muncul ketika mengetahui Alea sudah di selamatkan, walau ada rasa tak suka karena ada Glen di sana. Untuk apa pria itu ikut campur, walau begitu Leon akan berterima kasih nantinya.
Leon pun masuk kedalam penginapan tepatnya di lantai satu, ia duduk di sebuah sofa mewah.
__ADS_1
Alea sudah di selamatkan, berarti ia hanya perlu menjalankan perannya sebagai algojo saja.
Tap tap tap
Suara derap sepatu membuat Leon melihat ke arah seorang wanita yang memakai pakaian seksi, Leon tersenyum smirk melihat pakaian yang sudah kelewat batas terbuka.
"Malam sayang," sapa Sierra.
"Cih, ja*ang!"
"Hahahaha, biar saja yang penting aku bahagia," ucap Sierra dengan percaya diri.
"Dimana istri ku?" tanya Leon.
"Wow jangan terlalu terburu-buru sayang, mari kita nikmati terlebih dahulu malam yang akan menjelang pagi ini dengan kehangatan," goda Sierra. Bukannya tertarik Leon malah merasa jijik.
"Aku tidak mau bersentuhan dengan ja*ang seperti mu!" tegas Leon.
"Kurang ajar kau ********! Akan ku buat kau menyesal dengan kepergian istri mu!" teriak Sierra.
"Silahkan saja," tantang Leon. Sierra pun merasa bingung, mengapa mangsa yang ada di hadapannya ini terlihat tenang.
"Kalian, bawa ja*ang itu kemari!" teriak Sierra.
"Kau yang ja*ang, dasar wanita murahan. Menjijikan!" bentak Leon.
"Hehehe, benarkah?" ejek Sierra.
"Nona!" teriak anak buah yang tadinya di perintahkan untuk membawa Alea.
"Mengapa kau berteriak?!" teriak Sierra tak kalah kuatnya.
"Tawanan sudah kabur."
"Apa?!!!"
_
_
_
_
_
Please, jangan spam pm di setiap chapter🙏
Kalau benar memang anda membaca, tak mungkin anda tak melihat peringatan saya.
Spam pm akan membuat sebuah karya sulit naik level seperti yang sedang saya alami.
Jika anda ingin di hargai, maka hargai orang terlebih dahulu.
Kan saya sudah bilang saya akan mampir.
Typo bertebaran dimana-mana, harap bijak dalam berkomentar yah
__ADS_1
tbc