Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Apa kau mencintai orang lain?


__ADS_3

Drrrrttt


Drrrrttt


"Katakan!"


"Tuan, semua baik-baik saja. Untung nya nona tidak terluka ataupun kandungan nya dalam bahaya, semuanya sudah di cegah."


"Hmmm, lalai. Jangan sampai terulang lagi!"


Tut


Tut


*******


"Tuan Vino," panggil Alea menahan Vino yang akan pergi ke kantor.


"Ada apa nona?" tanya Vino dengan sopan.


"Tolong jangan katakan hal tadi pada Leon," pinta Alea. Ia tak ingin terjadi masalah baru.


"Hmmm saya tidak bisa tidak mengatakan nya nona, karena semua yang terjadi pada nona harus saya laporkan."


Alea menghela nafas kasar, ini sangat menyebalkan dan entah mengapa ia menjadi takut kalau Leon mengetahuinya. Padahal sedari dulu ia tak pernah takut kalau Leon marah pada nya.


"Baiklah."


Alea hanya bisa pasrah dengan mengerucut kan bibirnya ia kembali masuk kedalam kamar. Vino pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah nona mudanya yang sangat lucu.


Sesampainya di kantor, Vino langsung masuk ke ruangan Leon. Disana Leon tengah fokus dengan laptop nya dan beberapa berkas.


"Tuan," sapa Vino. Leon pun tak melihat atau merespon hanya anggukan saja yang menandakan kalau ia mendengarkan apa yang aka di katakan Vino.


"Ketika saya di mansion tadi saya tidak sengaja melihat nona muda ingin memakan buah nanas...."


Brak


Belum sempat Vino melanjutkan ucapannya Leon sudah menggebrak meja dan berlari dari ruangan.


"Tuan anda ingin kemana?" tanya Vino ikut mengejar Leon.


"Kerjakan semuanya, aku ingin pulang."


Vino hanya bisa menerima semuanya dengan lapang dada, seharusnya ia mendengarkan perkataan nona mudanya untuk tak memberitahu Leon agar ia terselamatkan dari tumpukan berkas yang memusingkan.


******


Leon yang tadi sempat mendengar Vino mengatakan bahwa Alea ingin memakan nanas pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, rasa khawatir dan juga marah menguasai dirinya.


Sesampainya di mansion tanpa basa-basi Leon langsung berlari menuju kamar, ketika Leon membuka pintunya di sana Leon melihat Alea yang tengah berbaring di atas ranjang sembari menutup matanya.


Apa dia tertidur?

__ADS_1


Leon pun mendekat, ia melihat kalau istrinya baik-baik saja. Yah ia bahkan tak mendengarkan habis perkataan Vino sehingga ia tak tahu bagaimana situasi sekarang.


Leon pun memilih duduk di samping Alea membelai rambut istrinya dengan lembut, sesekali Leon juga membelai perut istrinya yang mulai membesar.


"Glen,"lirih Alea membuat kening Leon berkerut.


Glen? Siapa itu? Apa itu nama untuk anak kami? Apa dia sedang bermimpi dengan anak kami yang akan lahir? pikir Leon.


"Kak Glen, hiks hiks jangan tinggalkan aku!" kali ini Leon kembali di buat bingung, Alea mengatakan kak Glen. Apa Alea bermimpi bertemu dengan kakaknya? tapi setahu Leon Alea tak punya saudara karena Alea adalah anak tunggal.


"Siapa yang sedang kau mimpikan Lea?" tanya Leon pelan.


"Kak Glen, aku mencintaimu."


Deg.


Cinta?


Mencintaimu?


Mengapa kedengaran nya sangat sakit, Leon menatap Alea yang sedang tertidur penuh dengan tanda tanya. Bukankah Alea tak mengingat apa-apa? Lalu siapa Glen? Apakah Glen itu mantan Alea?


"Lea." bisik Leon pelan.


"Kak Glen."


Lagi dan lagi, Glen Glen dan Glen. Siapa sebenarnya Glen itu. Ia harus mencari tahu siapa sebenarnya si Glen itu? Lalu mengapa Alea bisa mengingat nama itu dalam mimpinya bahkan mengatakan kalau ia mencintai orang yang bernama Glen. Sedangkan namanya saja, Alea bahkan tak pernah menyebut nya dalam mimpinya.


Ada rasa sakit dan juga perih, dari pada marah-marah Leon pun memutuskan pergi ke ruang kerjanya. Ia ingin mencari tahu siapa sebenarnya si Glen ini.


"Hmmm nanti saja, nanti aku akan bertanya pada Alea siapa si Glen itu."


Hari semakin berjalan dan kini sudah menunjukan pukul 3 sore. Alea pun terbangun dari tidurnya karena merasa lapar, entah mengapa rasanya ia ingin menangis tapi ia tak tahu apa sebabnya ia ingin menangis.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Alea menoleh dan terkejut mendapati Leon yang keluar dengan memakai handuk sebatas pinggang. Tak ada senyuman dari wajah Leon seperti biasanya membuat Alea menjadi bingung.


Alea pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri,setelah ini ia ingin makan makanan yang banyak dan lezat.


Setelah selesai membersihkan diri, Alea keluar dari kamar mandi dan mendapati kamar dalam keadaan kosong. Tak biasanya seperti ini, biasanya jika Alea sedang mandi Glen akan duduk di atas ranjang dengan pakaian yang akan di kenakan Alea namun sekarang seperti ada yang berbeda.


"Mungkin ia sedang lelah."


Setelah berpakaian Alea pun turun dari kamar pergi ke dapur untuk mengatakan pada para pelayan agar menyediakan makanan yang ia inginkan.


"Pak Andi, dimana Leon?" tanya Alea ketika melihat pak Andi yang baru saja masuk mansion.


"Tuan muda ada di taman belakang nona."


"Terimakasih."


Ada rindu di hati Alea pada laki-laki menyebalkan itu, Alea pun berjalan menuju taman belakang. Disana Alea dapat melihat Leon yang duduk dan fokus dengan laptop nya.

__ADS_1


"Leon."


Orang yang dipanggil pun menoleh, rasanya ia ingin tersenyum melihat istrinya yang sedang berjalan menujunya dengan senyuman bahagia. Namun masih ada yang mengganjal dalam hatinya tentang gumaman Alea saat ia tidur tadi.


Merasa tak mendapatkan balasan Alea pun mengerucut kan bibirnya, ia mendekat pada Leon lalu memeluk Leon dari belakang an mengecup kepala Leon.


"Aku merindukanmu."


Deg


Kapan kau mengatakan kalau kau juga mencintai ku seperti kau mengatakan kalau kau juga mencintai orang yang bernama Glen itu.


"Leon."


"Hmmm."


"Ada apa dengan mu?" tanya Alea duduk di pangkuan Leon dan memposisikan wajahnya menghadap Leon menatap bola mata Leon dengan penuh tanda tanya.


"Tidak ada."


"Apa kau sakit? Apa kau lelah? Aku akan memijit mu kalau kau lelah," tawar Alea. Tentu saja hal itu membuat Leon tersenyum apalagi ketika Alea membelai wajahnya.


"Lea, apa kau mencintaiku?" tanya Leon, ia hanya ingin memastikan saja. Kalaupun jawaban Alea nanti tidak memuaskan ia akan terima.


Alea tampak berfikir sejenak,ia juga tidak tahu perasaan apa yang ia miliki untuk Leon. Selama ini ia tak pernah jatuh cinta selain dengan satu orang yang Alea sendiri tak mengingat namanya.


"Aku tidak tahu, maafkan aku."


Leon tersenyum kecut sadar bahwa tidak semudah itu mendapatkan cinta dari istrinya.


"Lalu apa kau mencintai orang lain?" tak ada raut wajah manis ataupun ramah seperti dulu, hanya ada raut wajah yang menandakan rasa kecewa.


"Apa maksud mu?" tanya Alea.


"Lea, siapa itu Glen?" tanya Leon. Ia sudah tak tahan lagi ingin tahu apa kenyataan yang harus ia hadapi.


"Glen? Aku tidak tahu," jawab Alea memang tak ingat siapa itu Glen.


"Kau tidak tahu, tapi kau memanggil namanya ketika kau tertidur dan juga mengatakan kalau kau mencintainnya." Alea semakin di buat bingung, apalagi ketika mendengar kalau ia memanggil nama orang lain di saat tidur.


Siapa itu Glen?


Seketika mata Alea membulat mengingat ada satu orang yang bernama Glen yang pernah Alea temui dan itu adalah Glen Randers Raymond.


_


_


_


_


_

__ADS_1


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc


__ADS_2