Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Belajar menembak


__ADS_3

Pagi ini Alea akan belajar menggunakan pistol dengan benar bersama Leon sesuai kesepakatan mereka se malam. Dengan senyuman yang sedari tadi tak menghilang, Alea melangkahkan kakinya dengan riang mengikuti langkah kaki Leon menuju ruang latihan.


Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa pistol dengan berbagai tipe membuat mata Alea berbinar cantik.


"Baiklah sayang apa kau sudah siap?" Tanya Leon.


"Tentu." Ucap Alea dengan mantap, sungguh hari ini ia akan mempelajari benda baru dengan benar. Mungkin ia akan diam-diam mengambil satu pistol itu untuk keperluan pribadinya.


"Kalau begitu, ayo kemari akan ku ajarkan bagaimana cara memegang nya terlebih dahulu" Ucap Leon memegang tangan Alea untuk bisa memegang pistol dengan benar. Mulai dari letak tangan yang benar, cara menarik pelatuk dengan benar sampai cara membidik dengan benar agar keselamatan terjaga.


Setelah mengerti akhirnya Alea memperhatikan apa yang di katakan Leon, dengan mata bak mata elang Alea membidik target.


Dorr


"Akkhhhhh" Teriak Alea karena peluru meleset dari target. Leon tersenyum puas melihat bagaimana Alea begitu antusias dengan benda berbahaya itu. Leon pun mendekat dan memeluk Alea dari belakang sambil memegang tangan Alea yang sedang berusaha membidik target.


"Dalam membidik target di perlukan konsentrasi yang penuh sayang, kau harus fokus dengan target di depan." Ucap Leon dengan nada sensual sambil sesekali menggigit daun telinga Alea membuat si empunya merinding dan semakin tak fokus.


"Ck, kalau begini kapan aku fokus nya." Gerutu Alea.


"Kau harus terbiasa sayang, nanti kalau di medan perang kau akan mendapatkan sesuatu yang membuat konsentrasi mu tergoyahkan, jadi kau harus terbiasa dengan gangguan-gangguan dalam membidik target." Ujar Leon sembari mengecup leher Alea.


Alea yang sedari tadi terlihat tak nyaman pun berusaha untuk menembak target yang ada di hadapannya itu. Dengan gangguan yaitu bibir Leon yang sedari tadi merajalela dan tangan yang tidak bisa di kontrol lagi yang sudah meraba kesana-kemari.


Aku harus bisa, harus bisa. aku pasti bisa membidik target, Walau ada gangguan dari suami sialan ini, aku pasti bisa membidiknya.


Dorr


Dorr


"Ck, sial" Gerutu Alea karena lagi-lagi ia meleset karena merasa geli ketika lidah Leon menjilat leher Alea.


Detak jantung yang tak karuan, keringat yang bercucuran serta rasa panas yang menyeruak membuat Alea sudah tak tahan lagi, kalau begini kapan ia bisa membidik dengan benar.


"Sudah menyerah.?" Tanya Leon dengan senyuman puas. Pasti istrinya menyerah dan tak mau lagi latihan.


"Belum, aku tak akan menyerah hanya karena gangguan dari mu, tapi ingat ini setelah aku berhasil membidik target yang ada di hadapan ku, aku akan membidik target selanjutnya yang ada di belakang ku." Ucap Alea dengan nada mengancam.


"Maksud mu aku.?" Tanya Leon.


"Siapa lagi memangnya yang ada di belakang ku ha?" Tanya Alea dengan sorot mata yang tajam setajam silet.


"Apa kau tega pada ku sayang?" Tanya Leon cemberut.


"He, makanya jangan menggangguku." Ucap Alea.


"Tapi aku mau itu." Ucap Leon kembail memeluk Alea dan menciumi leher Alea.


"Kan semalam sudah." Ucap Alea kesal.


"Mau lagi."Ucap Leon dengan nada mesum.

__ADS_1


"Kau sudah berjanji Leon, jadi tepati janji mu." Ucap Alea dingin.


"Baiklah-baiklah hehehe maaf yah sayang." Ucap Leon melepas pelukannya dan kembali duduk untuk menonton. Alea menghela nafas lega karena benalu yang sedari tadi menempel akhirnya terlepas juga.


Kali ini tak boleh gagal, Alea kembali membidik targetnya dengan konsentrasi penuh.


Dorr


"Yeay berhasil." Sorak Alea ketika pelurunya berhasil mengenai target dengan tepat. Sudah di pastikan sedari tadi ia gagal karena suami mesum itu kalau tadi suami mesumnya tidak menempel pasti target sedari tadi sudah kena.


Prok


prok


prok


Leon bertepuk tangan sembari tersenyum puas melihat Alea yang begitu gembira setelah sekian menit membidik dan melewati rintangan darinya.


"Apa sudah puas.?" Tanya Leon.


"Aku mau yang lain." Ucap Alea penuh permohonan, ia menunjuk pada salah satu senapan, tepatnya senapan angin yang sering di gunakan Leon ketika berburu.


"What?" Leon begitu terkejut dengan permintaan Alea yang semakin aneh, seharusnya ia menyimpan senapan sialan itu supaya Alea tak melihat alat tembak lainnya.


"Tidak boleh." Ucap Leon. Seketika raut wajah Alea berubah muram.


"Sayang maafkan aku, tapi itu sangat berbahaya. Kau mengatakan bahwa kau hanya ingin mempelajari pistol saja bukan yang itu, jadi tolong mengertilah." Ucap Leon membujuk Alea agar tak marah.


"Baiklah ayo kita makan eskrim sekaligus jalan-jalan." Ucap Leon.


"Memangnya kau tak bekerja.?" Tanya Alea yang bingung, suaminya ini sangat malas untuk pergi bekerja tapi suaminya ini orang yang sangat kaya.


"Hehehe aku bekerja sayang, hanya saja kerja ku cukup di rumah dan menandatangani berkas yang perlu tanda tangan ku. Kalau ada rapat penting baru aku akan pergi Selain itu semua akan di urus oleh Vino." Ucap Leon.


"Kau ini menumpukkan pekerjaan mu pada orang, sungguh merepotkan." Ucap Alea.


"Aku memberikan pekerjaan itu pada Vino sesuai dengan gaji nya sayang." Ucap Leon.


"Hmmm."


"Yasudah ayo kita makan eskrim." Ucap Leon menggandeng tangan Alea.


"Yah aku mau eskrim rasa coklat." Ucap Alea yang diam-diam memasukkan pistol yang sedari tadi belum ia lepaskan itu ke dalam bajunya yang tak di sadari oleh Leon.


Berhasil, aku sudah mendapatkan benda ini. Selanjutnya adalah peluru, aku butuh peluru asli. Akan ku ambil nanti malam. Hehehehe.


********


Hari semakin siang, orang-orang yang tengah berlibur sangat banyak berkeliaran di pantai yang indah.


Leon dan Alea kini tengah duduk di sebuah ayunan besar di bawah pohon Cemara yang besar dan rindang sambil menikmati eskrim yang lezat, tepatnya hanya Alea yang makan eskrimnya sedangkan Leon hanya meminum air putih saja.

__ADS_1


"Mau mandi ke laut." Ucap Alea.


"Tidak boleh."Jawab Leon dengan cepat membuat Alea terkejut.


"Mengapa tidak boleh?" Tanya Alea.


"Jangan coba-coba masuk ke laut sayang jangan." Ucap Leon dengan nada khawatir. Sungguh Leon sangat trauma dengan air laut ketika air itu hampir saja merenggut nyawa istri tercintanya.


"Baiklah-baiklah." Ucap Alea pasrah.


"Leon kapan keluarga mu datang?" Tanya Alea baru ingat kalau Leon pernah mengatakan kalau keluarganya akan datang.


"Hmmm sekitaran dua hari lagi kalau tidak salah." Ucap Leon.


"Apa yang harus aku lakukan nanti? Aku kan tidak mengingat mereka." Ucap Alea.


"Tidak apa-apa sayang, kau tak perlu melakukan apapun. Mereka juga sudah tahu kalau kau hilang ingatan." Ucap Leon.


"Apa kau berhubungan baik dengan keluarga mu.?" Tanya Alea.


"Hmmm aku hanya berhubungan baik dengan adik ku saja, sisanya tidak. Tepatnya hanya pura-pura baik." Ucap Leon memeluk tubuh Alea dengan lembut.


"Termaksud ayah dan ibu mu.?" Tanya Alea.


"Hmmm" Ucap Leon.


"Tapi mengapa.?" Tanya Alea.


"Nanti kau tahu sendiri." Ucap Leon.


"Baiklah."


Ini semakin menarik. Aku penasaran hal apa yang membuat Leon tak baik dengan orng tuannya.


_


_


_


_


Informasi jadwal update.


Akan update setiap hari tepatnya jam 09.00 -10.00. Mungkin akan lewat dikit kalau telat.


Terimakasih.


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc

__ADS_1


__ADS_2