Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Cemburu


__ADS_3

Aku tak tahu, tapi yang ku tahu aku menikmati semuanya. Menikmati belaiannya, menikmati setiap kata-kata manis nya, menikmati sentuhannya. Sampai aku terlupa bahwa aku bukan lah istri yang sesungguhnya untuk dirinya.


Aku ingin lari, lari dari kehidupan yang tak pernah ku jalani. Kehidupan yang jauh dari kehidupan yang pernah ku jalani dulu. Aku tak tahu apa yang aku rasakan ini.


Apakah ini cinta?


Aku tak tahu!


Ingin aku membunuh anak ini, anak yang ada di dalam perut ku. Namun seiring waktu berjalan, aku mulai nyaman dengan kehadiran anak itu dalam perut ku, terlebih lagi ketika Leon terus mengelus perut ku setiap malam.


Aku sangat nyaman.


Haruskah aku menerimanya.


Aku merasa ini lah tujuan mengapa aku di hidupkan kembali.


Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu, merasakan kasih sayang Leon dan kehangatan dari kehadiran buah hati kami.


Aku tak ingin berbohong, aku ingin mengatakan kalau aku menginginkan anak ini untuk hidup bersama ku. Aku akan menjaga nya.


********


Hari ini Leon tengah menatap Alea dengan tatapan bingung, hari ini ia memiliki pertemuan dengan kliennya, tapi Alea malah merengek minta ikut dengan alasan tak ingin berpisah dari Leon. Leon sih tak masalah hanya saja ia takut kliennya tidak suka dan berlaku tak sopan dengan istrinya nanti.


"Ayolah, aku ingin ikut. Jangan tinggalkan aku Boo hiks hiks aku tak sanggup hidup tanpa mu," rengek Alea manja penuh drama. Leon bahkan sampai tercengang melihat tingkah istrinya yang terbilang aneh dan langka.


"Baiklah-baiklah, pergi pakai baju mu." Leon akhirnya hanya bisa pasrah, toh istri adalah segalanya baginya.


"Yeayy."


Padahal beberapa lalu aku melihat kau menjadi seorang monster, namun kehamilan mu ini dapat membuat sifat mu berubah. Aku senang Lea, aku sangat senang. Semoga saja kau akan tetap seperti ini dan melupakan dunia gelap mu itu.


Setelah Alea selesai berganti pakaian, barulah Leon dan Alea pergi ke sebuah restoran yang sudah di tetapkan. Kali ini Leon yang mengemudi, di karenakan istrinya ikut ia tak ingin di ganggu dan hanya ingin berdua saja dengan Alea.


Keheningan menerpa diantara mereka berdua, Leon yang fokus pada jalan sedangkan Alea yang fokus dengan luar jendela mobil. Diam-diam Alea sedang mengabsen deretan penjual jajanan di pinggir jalan yang harus ia datangi sepulang Leon bekerja.

__ADS_1


Sampailah sudah mereka di sebuah restoran berbintang lima, Leon menggandeng tangan Alea masuk ke dalam namun bukan Alea namanya jika ia mudah menurut. Dikarenakan di seberang jalan sana Alea melihat sebuah gerobak makanan, Alea pun menarik Leon agar menemani nya untuk membeli makanan itu.


"Sayang, nanti saja. Aku bisa terlambat," ucap Leon. Kali ini ia harus mendapatkan sebuah proyek besar jadi ia tak ingin terlambat dan membuat kliennya kecewa.


Alea pun memasang wajah cemberut namun beberapa saat ia tersenyum. Ia membelai wajah Leon dengan sensual lalu mengatakan. " Kau kan orang kaya, uang mu banyak. Jadi kau pastinya tidak akan membuat anak mu menjadi liuran kan gara-gara pekerjaan." Sontak Leon pun terpancing dengan kata-kata Alea. Dia bukanlah orang yang tak mampu yang harus mengabaikan keinginan istrinya hanya demi sebuah proyek.


Sebenarnya tanpa proyek itu pun perusahaan Leon tetap makmur, ini hanya sekedar hobi dan ambisi saja dimana Leon sangat menggilai yang namanya sebuah proyek besar.


"Kau benar Bee, maafkan aku." Tanpa basa-basi lagi Leon menarik tangan Alea pergi menuju seberang jalan untuk membeli makanan yang Alea inginkan. Mereka tak tahu di atas sana ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan raut wajah datarnya.


"Tuan Glen, tuan Leon sudah terlambat beberapa menit." Yah orang itu adalah Glen, ia menatap dari luar jendela kaca restoran yang ada di lantai dua. Menatap Alea yang tersenyum dan tertawa bahagia bersama dengan Leon.


Ternyata kau mencintai nya.


"Tuan...?"


"Hmmm tunggu saja beberapa menit lagi Xei, lagi pula asistennya sudah datang," ucap Glen berjalan menuju ruang tempat ia akan melakukan kerja sama.


*****


Setelah membeli makanan yang di inginkan Alea, Leon dan Alea pun masuk ke dalam restoran. Leon sendiri sudah acuh terhadap proyek itu. Mau di terima atau tidak itu bukanlah masalah baginya. Toh kebahagiaan istri adalah hal yang utama.


"Selamat pagi tuan-tuan semuanya, maaf jika saya membuat tuan-tuan menunggu lama," ucap Leon berjalan mendekat.


"Selamat pagi tuan, Leon."


Deg


Di saat itu Glen langsung membalikkan wajahnya membuat kedua insan itu terkejut namun jangan salah mereka terkejut dengan pikiran mereka masing-masing.


"Pria itu ternyata, aku membencinya walau ia pernah menyelamatkan Alea, pikir Leon.


Mengapa setiap melihat pria itu ada masalah dengan jantung yang terus berdetak tak karuan. Haisss aku sudah punya suami, tapi mataku masih mata keranjang. Jujur dia sangat tampan, pikir Alea.


"Mari, silahkan duduk." Glen mempersilahkan Leon dan Alea duduk. Setelah semuanya ada di posisi, tampak Vino mengeluarkan berkas-berkas untuk pembahasan dan pengajuan pada proyek besar itu. Namun Leon melihatnya sendiri bahwa pria bernama Glen itu tidak fokus pada penjelasannya dan Vino. Ia malah lebih fokus pada Alea yang masih asyik makan.

__ADS_1


"Tuan Glen, apa anda mendengar kan saya?" tanya Leon tak suka. Persetan dengan proyek, ia lebih mementingkan istrinya yang ternodai karena tatapan intens pria asing itu.


"Yah, saya mendengarkan nya." Glen tampak tersenyum, melihat Leon yang terang-terangan memperlihatkan bahwa ia sedang cemburu.


"Kalau begitu, bisakah anda lebih fokus pada dokumen nya daripada ke objek lain?" sindir Leon sinis.


"Baiklah-baiklah." Tak ada raut marah atau apapun itu dari wajah Glen. Hanya ada segurat senyuman ramah dan manis membuat orang-orang merasakan bahwa Glen adalah pria paling penyabar.


Setelah beberapa jam perbincangan, akhirnya pertemuan pun di akhiri. Tampak Alea menghela nafas lega karena ia sangat bosan dengan apa yang mereka katakan yang jujur ia sama sekali tak mengerti.


"Terimakasih tuan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Glen mengulurkan tangannya menjabat tangan Leon, tampak jabatan itu sedikit panas dan tegang karena Leon yang menguatkan genggaman nya.


"Yah." jawab singkat Leon lalu melepaskan genggaman nya.


"Ayo Bee, kita pulang." Entah sengaja atau tidak Leon tampak memperlihatkan kemesraan antara Alea dan Leon. Glen yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecut, sungguh pemandangan yang dramatis.


"Tuan..."


"Tak apa Xei, yang terpenting bagi ku adalah Selena bahagia dan bisa hidup normal seperti seharusnya."


"Anda sungguh hebat tuan."


_


_


_


_


Oi kasih lah aku semangat ๐Ÿ˜”


udah gak semangat lagi aku nih, ah..๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”


Aku Ndak minta vote kalian, aku mau di kasih semangat dari kalian Wak. Gak semangat lagi aku nulis๐Ÿฅบ

__ADS_1


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc


__ADS_2