Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Salah paham#3


__ADS_3

Tes


tes


tes


Tetesan air hujan yang menimbulkan bunyi merdu, bunyi yang membuat orang-orang memilih menarik selimut dan menutup mata melayang dalam mimpi yang indah. Di sebuah stand taksi Alea duduk termenung dengan mata yang sembab. Air hujan yang jatuh tak bisa mengalahkan air matanya yang mengalir.


Sakit.


Alea memegangi dadanya yang sakit, belum pernah ia merasakan rasa sesakit ini.


Flashback on


Deg.


Mata Alea membulat melihat beberapa gambar yang menampilkan suaminya yang sedang tidur dengan bertelanjang dada sambil memeluk seorang wanita yang Alea tidak terlalu jelas melihat wajahnya.


Rasa tak ingin percaya Alea pun mencoba menghubungi suaminya. Hati Alea semakin tergores ketika tak adanya balasan dari suaminya. Air mata yang tak di izinkan turun kini mengalir. Baru saja ia merasakan sebuah sensasi yang berbeda, tapi kini sudah dilanda kesedihan yang menyakitkan.


"Katanya kau mencintai ku, tapi apa ini?"


"Kau hanya berpura-pura, kau menghianati ku. Aku membenci mu, aku membencimu hiks hiks hiks."


Tak kuasa menahan air matanya Alea menangis pilu di dalam kamar sendirian, ia mengelus perut nya yang sudah membesar.


Apa yang sudah ia pikirkan hingga membiarkan perutnya semakin membesar, kalau saja ia tahu ia akan di hianati pastinya ia akan membunuh anak itu bagaimana pun caranya.


Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan?


"Kau menghianati ku. Baiklah aku akan pergi, agar kau bisa bersama wanita yang kau inginkan."


"Seharusnya aku tetap lah aku yang dulu, bermain dengan darah dan nyawa orang lain."


Alea mengusap air matanya pergi mengambil sebuah tas dan mengisi beberapa pakaian yang mudah ia pakai dengan perut yang besar. Tak lupa pula ia membuka sebuah brankas yang di berikan Leon padanya, ia mengambil semua uang yang ada di brankas. Ia tak mungkin hidup menggelandang dengan perut besar seperti ini.


Setelah semuanya selesai, Alea memakai tas ranselnya. Sudah lama Alea tinggal di sini pastilah ia tahu bagaimana seluk-beluk mansion ini dan juga ia sudah bisa mengaplikasikan ponselnya untuk bisa berkeliaran di luar.


Dengan pasti Alea berjalan menuju arah belakang, di sana Alea pernah melihat Mita kabur karena ingin pergi berpacaran. Bagaimana ia bisa tahu? Karena Mita menceritakan semuanya pada Alea ketika ia kabur untuk bertemu pacarnya, Alea tak tahu siapa pacar Mita jadi ia hanya menjadi pendengar yang baik saja.


Mengendap-endap bagaikan pencuri, ketatnya penjagaan rumah membuat Alea sedikit kesusahan. Namun, bukan Alea namanya kalau ia tak bisa melewati suasana genting, apalagi dengan suasana hati yang sangat buruk.


Setelah lewat dan berhasil keluar dari penjagaan mansion, Alea berjalan di bagian hutan belakang. Ia terus menelusuri hutan tanpa tahu kemana tujuan hutan itu.


Senyuman Alea mengembang di baringi air matanya melihat sebuah jalan dan juga banyak kendaraan di depan matanya, sungguh usaha yang membuahkan hasil.


Ternyata di belakang mansion terdapat jalan raya yang menghubungkan ke kota. Alea pun duduk di stand taksi menunggu taksi lewat. Ia harus cepat pergi karena suasana hatinya yang semakin lama semakin memburuk.


Flashback off

__ADS_1


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya ada taksi yang lewat dan langsung Alea tumpangi.


"Anda ingin kemana nona?" tanya pak supir taksi.


"Hmmm bawa saya keluar kota." Alea sendiri tak tahu kemana ia akan pergi, tapi sepengatahuan nya ia bisa menggunakan uang untuk kebutuhan hidupnya. Yang terpenting ia harus pergi dari kota ini dan meninggalkan suami bejat nya.


Suami?


Pantaskah dia disebut suami?


Dia bahkan bukan suami Alea, dia hanyalah suami pemilik tubuh bukan jiwa yang ada di dalamnya.


"Berbuat baik pada ku agar aku bermurah hati menerima mu, setelah aku nyaman kau membuat aku kecewa. Kau berhasil, aku sangat kecewa padamu."


Tak terasa air mata Alea kembali jatuh mengingat ketika Leon mengelus perutnya, menciumi nya setiap hari. Tiada hari tanpa senyuman hangat dan panggilan sayang.


Drrrrttt


Drrrrttt


Ponsel Alea bergetar, Alea melirik mendapati nama " Boo sayang" tertera di layar ponselnya. Rasa benci kian menggebu, ia tak mengangkat panggilan itu dan membiarkan ponselnya terus bergetar.


Di sisi lain, kekhawatiran terus menyerang Leon, sakit dan perih seperti hidup tanpa nyawa. Ia berusaha menghubungi Alea namun tetap saja tak ada respon. Pikiran-pikiran negatif mulai menyerang, semua sudah Leon kerahkan mulai dari menyebarluaskan anak buahnya dan juga Danish serta Arsel yang ikut serta.


"Dimana kau Lea?"


*******


Kriiiittt


Tiba-tiba mobil berhenti, Alea memicingkan matanya melihat apa yang membuat supir itu berhenti. Tidak ada apa-apa di sana, lalu mengapa tiba-tiba saja berhenti secara mendadak.


"Ada apa pak?" tanya Alea.


"Hehehehe nona....." Alea di buat terkejut ketika pria setengah baya itu menoleh padanya dengan senyuman yang menjijikan. Pria itu merangkak berjalan menuju kursi penumpang.


"Jangan macam-macam!" tekan Alea yang berusaha membuka pintu namun ternyata pintu mobil sudah terkunci.


"Siapa yang ingin macam-macam nona, saya hanya ingin menghibur anda, hehehehe." Semakin dekat, pria itu membuka kancing bajunya. Alea pun mengambil sesuatu di dalam ranselnya, barang berharga yang tak pernah luput ia bawa.


"Ayo kita nikmati," ucap pria itu memonyongkan bibirnya.


Jleb.


Akhhhhh


Suara teriakan pria itu menggema penuh di dalam mobil ketika Alea mengarahkan mata belatinya di sebelah mata kiri pria itu.


Tak tanggung-tanggung Alea yang sedang dalam suasana hati yang buruk pun mulai beraksi, ia menjambak rambut pria itu lalu menancapkan mata pisau nya di leher. Tak peduli dengan darah yang mengotori tubuhnya yang ia rasakan sekarang adalah sebuah kepuasan.

__ADS_1


"Mo-monster...."


Alea mengatur nafas yang memburu, ia melihat tangannya yang penuh akan darah. Ia tersenyum namun juga meneteskan air mata.


"Aku yang seperti ini, pantaskah aku membesarkan mu hiks hiks."


Alea pun membersihkan tangannya dan juga anggota tubuh yang terkena darah dengan pakaian nya. Tak lupa pula ia memakai pakaian baru.


Ia berusaha keluar dari mobil dan berjalan meninggalkan mobil, ia berjalan lurus ke depan dan entah kemana tujuannya sebenarnya.


Tit


Tit


Sebuah mobil berhenti tepat di samping Alea, di sana ada seorang pria yang tersenyum pada Alea.


"Butuh bantuan?"


*******


"Tuan..."


Byuuuurrr


Kaget. Glen yang sedang minum sampai menyemburkan air dari mulutnya dan menatap tajam pada pria yang baru saja masuk.


"Kuharap itu berita yang berguna, kalau tidak kau tahu sendiri apa akibatnya!"


"Ma-maafkan saya tuan, tapi ini berita yang sangat penting."


"Katakan!"


"Kami kehilangan jejak nona Alea."


Braaakkkk


_


_


_


_


_


Kasih semangat dong๐Ÿ˜š


Ini yang request si Alea keluar rumah mana yah?๐Ÿ˜

__ADS_1


Besok saya tidak up. Udah liat sinopsis kan, kalau weekend saya tidak up.. jadi saya Doble up hari ini๐Ÿ˜


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar


__ADS_2