Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Bisakah anda menolong kami.?


__ADS_3

Malam terus berjalan, semilir angin malam yang dingin membuat orang-orang semakin nyenyak di alam bawah sadarnya masing-masing. Begitu juga dengan Alea yang masih tertidur pulas karena kelelahan dan juga lapar. Seharian Alea bahkan belum makan sedikit pun.


Di dalam kamar yang remang-remang, seseorang tengah memperhatikan Alea yang tertidur dan melonggarkan kewaspadaan nya.


Tidak seperti dulu, aku tak suka wajah itu karena bukan milik mu yang sebenarnya. Aku merindukan wajah yang dulu selalu aku impikan dan aku rindukan. Batin pria itu pergi meninggalkan Alea yang masih tertidur.


********


Pagi sudah menjelang, Alea dan Nena pun baru saja membuka mata mereka. Melirik kesana-kemari mencari tahu dimana mereka sekarang.


"Kakak, selamat pagi." Ucap Nena dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Pagi." Ucap Alea mengelus kepala Nena.


Ceklek.


Pintu terbuka menampilkan 2 orang pelayan dengan beberapa perlengkapan wanita, kedua pelayan itu masuk dan menaruh pakaian untuk Alea dan Nena di atas meja.


"Selamat pagi nona, tuan muda memerintahkan kami untuk membantu anda berdua membersihkan diri dan ini adalah pakaian yang sudah di siapkan." Ucap salah seorang pelayan.


"Hmmm aku bisa sendiri." Ucap Alea masih bingung, bukan kah semalam mereka ada di dalam mobil bersama pria asing. Mengapa sekarang malah seperti ini, ternyata kantuk dan lelah bisa membuat ia jadi lalai. Tapi kalau di lihat-lihat tak ada apa-apa yang terjadi padanya maupun Nena.


"Baiklah nona, kamar mandi ada di sebelah sana dan saat anda selesai membersihkan diri tuan muda memerintahkan kami untuk membawa nona ke meja makan untuk sarapan." Ucap pelayan itu.


"Yah yah." Ucap Alea membawa Nena dan juga pakaian nya ke kamar mandi. Setelah beberapa menit membersihkan diri Alea dan Nena pun keluar dari kamar mandi dan disana tampak para pelayan itu masih berdiri tegap seperti sebelumnya.


Alea pun memberi kode kalau ia sudah siap, dengan memakai dress selutut berwarna putih dengan lengan pendek dan rambut yang sengaja Alea ikat membuat penampilannya sangat elegan walau tanpa make up. Sedang kan Nena memakai dress yang sama hanya saja seukuran dengan tubuh nya. Seperti anak dan ibu saja.


"Mari nona.!" Ucap pelayan itu mempersilahkan melalui tangan nya. Alea dan Nena berjalan mengikuti kedua pelayan itu menuntunnya menuruni tangga menuju bagian halaman belakang. Disana sudah terdapat sebuah meja dengan pemandangan yang elegan, kolam ikan yang indah, air mancur mini yang menawan serta bunga-bunga yang cantik. Kesan nya sangatlah alami.


"Silahkan nona, Tuan muda akan segera datang." Ucap pelayan itu menarik dua kursi untuk Alea an Nena.


Alea an Nena pun duduk di kursi yang sudah di siapkan, dengan tenang mereka menunggu penuh kesabaran karena makanan yang sangat menggoda di hadapan mereka. Ingin rasanya Alea menyantap makanan itu, tapi ia harus menjaga sopan santun agar mendapatkan pertolongan untuk pulang.


"Selamat pagi." Sapa seseorang dari belakang Alea dan Nena dan sialnya Alea seperti pernah mendengar suara itu.


"Pagi." Ucap Nena membalas dengan sopan sedangkan Alea memilih untuk diam.


Pria itu menarik kursi di tengah atau kursi utama, ia membalas senyuman Nena dengan mengusap kepala Nena lalu menatap Alea yang menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa anda baik-baik saja nona.?" Tanya pria itu mencoba mencairkan suasana. Alea sontak terkejut, sebenarnya sedari tadi ia melamun memikirkan dimana ia pernah mendengarkan suara itu. Entah mengapa semakin lama ingatan Alea semakin memudar akan masa lalu sebagai Selena.


Alea mengangkat wajahnya menatap pria yang sedang tersenyum padanya. Pria perawakan bertubuh tegap dan atletis, lesung pipi di kedua sisi, tungkai di sebelah kanan giginya, hidung yang mancung, rambut hitam, dan bola mata berwarna biru bak permata. Alea sontak tertegun sepertinya Alea pernah melihat laki-laki ini. Tapi siapa.?


"Apa anda baik-baik saja, nona.?" Tanya pria itu menyadarkan Alea.


"Yah." Ucap Alea segera memalingkan pandangan nya. Untuk sekarang sebaiknya Alea memikirkan bagaimana caranya pulang.


"Mari makan." Ucap pria itu tersenyum mengambil sendok dan juga garpu.


"Mari." Ucap Nena semangat menyantap hidangan yang ada di hadapannya dengan lahap, begitu juga dengan Alea yang sudah tak memikirkan rasa malu lagi. Tampak seulas senyuman terukir di bibir pria itu melihat Alea yang begitu lahap.


Setelah sarapan selesai Alea dan Nena kini berada di taman belakang menikmati teh dan juga kue kering. Alea berharap ia segera pulang dan memukul kepala suaminya yang tak becus itu. Sudah 2 hari suaminya bahkan belum menemukan nya.


Sedangkan yang sebenarnya terjadi di tempat Leon adalah, Leon kini tengah menyiapkan diri untuk sebuah penerbangan ke sebuah pulau. Setelah bergadang mencari informasi Leon dan yang lainnya akhirnya menemukan titik terakhir yang menghubungkan mereka pada Alea.


Tampak wajah Leon tak bersahabat setelah tahu pulau yang di maksud adalah pulau tempat para pela*ur dan juga laki-laki hidung belang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istrinya ia menjamin ia akan membuat dalang dari semua ini merasakan hal yang lebih mengerikan.


"Kakak apa semuanya sudah siap.?" Tanya Mita yang juga ikut melakukan penerbangan, penerbangan mereka ke pulau Z Sengaja di rahasiakan agar nanti dalang dari semua ini tak tahu dan menggagalkan rencana mereka.


"Sudah ayo kita masuk." Ucap Leon memasuki jet pribadi nya bersama yang lainnya.


"Lea semoga kau baik-baik saja."


*******


Kembali pada Alea yang masih menunggu pria asing itu menerima panggilan. " Nona maaf membuat kalian menunggu lama." Ucap pria itu ikut duduk bergabung.


"Hmmm tidak apa-apa." Ucap Alea berusaha tersenyum.


"Jadi, siapa nama anda berdua.?" Tanya pria itu.


"Yang ini namanya Nena dan saya Alea." Ucap Alea menjelaskan.


"Hmmm, apa kalian tersesat.?" Tanya pria itu terus menatap mata Alea namun Alea terus saja menghindar. Entah mengapa tatapan mata pria itu membuat jantung Alea serasa ingin copot.


"Iya." Ucap Alea.


"Apa kau punya keluarga.?" Tanya pria itu menyeruput teh nya.

__ADS_1


"Punya, aku punya suami." Ucap Alea.


"Siapa nama suami mu.?" Tanya pria itu datar.


"Leon, Leon Fernandes." Ucap Alea tampak dari raut wajahnya ada secuil kerinduan pada laki-laki menyebalkan itu.


"Oh, tuan Leon ternyata. Hmmm saya tahu orang yang anda maksud, dia adalah rekan bisnis saya." Ucap pria itu membuat Alea menjadi antusias.


"Bisakah anda menolong kami.?" Tanya Alea. Sebenarnya dia sangat benci suasana seperti ini, meminta tolong pada seseorang menunjukkan kalau ia adalah wanita lemah. Tapi mau bagaimana lagi, ia ingin menghubungi suaminya tapi ia tak memiliki ponsel.


"Bisa saja, tapi apa yang akan saya dapatkan dari menolong anda.?" Tanya pria itu tersenyum.


"Aku tidak tahu, aku tak punya apa-apa." Ucap Alea.


"Bagaimana kalau--? Ahh tidak jadi, baiklah aku akan menolong kalian." Ucap pria itu tersenyum ramah.


"Terimakasih tuan."


"Panggil saja nama ku tanpa embel-embel tuan." Ucap pria itu.


"Siapa nama anda.?" Tanya Alea.


"Glen Randers Raymond."


Deg


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


kalau tak suka silahkan tinggalkan tanpa jejak yah :)

__ADS_1


tbc


__ADS_2