Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Peristiwa #1


__ADS_3

"Menantu, apa yang kau lakukan di sini?"


Deg


"Mengapa si tua bangka itu bisa ada di sini?"


"Papa?"


"Iya ini papa, apa yang kau lakukan di sini menantu?" tanya laki-laki tua yang ternyata adalah Fernandes ayah dari Leon.


"Tidak ada, aku hanya ingin berlibur saja," jawab Alea yang sebenarnya merasa tak suka karena bertemu dengan orang yang punya hubungan dengan Leon.


"Oh, dimana Leon?" tanya Fernandes menatap Jack yang ada di samping Alea.


"Hmmm di apartemen." Alea berbohong karena ia tak ingin membuat pembicaraan semakin panjang.


"Membiarkan kau keluar sendiri? Itu tak mungkin," sangkal Fernandes.


Cih, tua bangka ini. Banyak sekali bicaranya.


"Nona Alea benar tuan, tuan muda ada di apartemen dan saya di tugaskan untuk menemani nona Alea." Kini Jack yang berbicara membuat kedua orang itu menatap nya dengan penuh tanda tanya.


Apa lagi ini, menyusahkan saja.


"Oh, begitu yah. Baguslah," ujar Fernandes.


"Selamat yah menantu, tak lama lagi kalian akan menjadi orang tua. Rawat anak kalian dengan baik dan penuh kasih sayang."


"Baiklah, papa pergi dulu yah. Tadinya papa khawatir melihat kau yang berjalan bersama pria lain di malam hari, tapi setelah mendengar penjelasan papa sudah lega. Selamat bersenang-senang," lanjut Fernandes pergi meninggalkan Alea dan Jack.


Perkataan Fernandes membuat Alea tersadar, meski ia sedang marah pada Leon bukan berarti ia keluar malam-malam bersama pria lain.


"Anda tidak apa-apa nona, maafkan saya karena sudah membohongi mertua anda."


"Hmmm tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu tuan." Alea pun langsung berjalan masuk ke apartemen, sedangkan di belakang sana ada sebuah seringaian licik terukir di bibir Jack.


"Menjengkelkan."


Ceklek


Sesampainya di kamar, Alea mengatur nafasnya karena lelah. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk dan nyaman.


"Untuk apa aku memikirkan dia? Dia saja tidak memikirkan ku."


"Terserah jika aku dekat dengan pria manapun, dia saja bisa tidur leluasa dengan wanita lain."


"Hiks hiks, aku membenci mu Leon! Aku membencimu!"


******


Huaccihhhh


Huaccihhhh


Sedari tadi Leon tak berhenti bersin, kini Leon tengah berada di dalam pesawat menuju kota Sambo. Ia menatap awan-awan gelap dengan tatapan sendunya.


"Jika saja waktu dapat di putar, aku ingin menjadi orang yang sederhana. Tidak kaya tidak juga miskin. Aku ingin hidup tenang tanpa ada yang menggangu, aku ingin menikmati masa-masa yang tersisa bersama mu Lea, tanpa ada nya gangguan seperti ini."


"Tuan," panggil Vino yang membuyarkan lamunan Leon.


"Hmmm?"


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Vino.


"Tidak."


"Tuan ada yang ingin saya sampaikan," tutur Vino dengan serius.


"Apa itu?" tanya Leon.


"Sebenarnya ada......"

__ADS_1


"Leon, kita sudah sampai," teriak Arsel.


"Nanti saja Vino, setelah Alea ditemukan baru aku akan mendengarkan nya." Leon pun pergi meninggalkan Vino yang memasang wajah bingung.


Andai saja anda tahu.


********


"Bagaimana Ars, apa kau sudah menemukan titik keberadaan Alea?" tanya Leon di dalam mobil.


"Belum Leon, anak buah kita masih mencari. Sebaiknya kita cari penginapan saja terlebih dahulu," saran Arsel.


"Baiklah."


"Hei guys, tolong cari penginapan yang nyaman yah," saran Danish.


"Ya ya, Vino tolong carikan penginapan yang nyaman."


"Baik tuan."


*****


"Bagaimana Xei?" tanya Glen yang duduk di atas ranjang. Mereka kini sedang berada di sebuah apartemen Blue sea Harnes, sebuah apartemen milik keluarga Harnes yang sangat terkenal di kota Sambo tepatnya di lantai dua puluh lima.


"Hmmm, belum ada kabar dari para anak buah kita tuan dan juga para hacker kita," jawab Xei.


"Hmmm."


"Ada laporan kalau rombongan Leon sudah sampai tuan," lanjut Xei.


"Hmmm."


"Tuan, kalau nanti kita berhasil menemukan nona Alea, apa yang akan anda lakukan?" tanya Xei.


"Ada satu hal yang akan aku lakukan yaitu, mengingat kan Selena bahwa ia begitu mencintai ku dan aku juga mencintai nya dulu sampai sekarang. Jika dia tak bisa juga mengingat setelah itu, aku akan melepaskan nya."


Dan juga hidup ku, aku akan melepaskan hidupku.


"Hmmm."


******


Akhirnya Leon dan lainnya menemukan penginapan yang bagus, nyaman dan mewah. Satu orang menempati satu apartemen.


Leon yang berada di lantai 30 kini telah selesai membersihkan diri dan kini sedang berbaring di atas ranjang nya.


Hari-hari tanpa Alea rasanya seperti hidup tanpa nyawa, banyak pekerjaan yang terbengkalai dan juga Leon yang tak bisa makan secara teratur.


Di saat ia sedang merenung, ia teringat dengan Mita dan Nena. Ia harus memberikan kabar. Leon pun membawa ponselnya lalu mencari nomor pak Andi. Kalau jam segini biasanya Mita akan mematikan ponselnya karena sedang fokus belajar.


Drrrrttt


Drrrrttt


"Halo tuan," kata pak Andi.


"Hmmm, dimana Mita dan Nena?" tanya Leon.


"Mereka sudah ada di kamar tuan, nona Nena tidak enak badan jadi mereka cepat pergi tertidur."


"Tidur? Hmmm, ini masih jam delapan malam, cepat sekali."


"Iya tuan, seperti yang saya katakan tadi nona Nena sedang tidak enak badan," jelas pak Andi.


"Hmmm, baiklah kalau begitu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku dan jangan lupa untuk memberi obat pada Nena yang sudah di sarankan dokter."


"Baik tuan."


Tut


Tut

__ADS_1


Setelah menghubungi pak Andi, bukannya rasa tenang ia malah merasa semakin gelisah. Sebenarnya ada apa ini?


Ada sesuatu yang menyangkut di pikirannya, sepertinya ada yang aneh, tapi ia tak tahu apa itu. Sangat bodoh!


Drrrrttt


Drrrrttt


Suara ponsel yang bergetar membuat lamunan Leon buyar. Leon segera mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan dari Arsel.


"Hmmm, ada apa?" tanya Leon.


"Leon, apa kau sudah makan?" tanya Arsel.


"Belum."


"Yasudah ayo kita turun dan makan," kata Arsel.


"Baiklah."


Leon pun menyudahi panggilan dan pergi memakai baju, setelah berpakaian Leon langsung pergi turun ke tempat yang sudah Arsel katakan, yaitu di sebuah restoran yang ada di samping apartemen.


Namun sebelum pergi Ars dan yang lainnya menunggu di lantai satu dan berniat pergi bersama-sama.


"Ayo Ars," Ajak Leon yang baru saja sampai.


"Oke."


Leon dan yang lainnya pun berjalan menuju restoran yang akan menjadi tempat mereka melepas kelaparan dan memuaskan perut mereka. Namun, di tengah jalan langkah Leon berhenti ketika melihat dua orang pria yang ia kenal.


"Tuan Glen?"


"Oh, ternyata ada tuan Leon . Selamat malam tuan," sapa Glen tersenyum.


"Apa yang anda lakukan di sini? Bukannya anda memiliki proyek yang harus di kerjakan dan tak bisa di tinggalkan?" Rentetan pertanyaan menyerbu Glen namun hanya di balas dengan senyuman.


"Tidak ada salahnya kalau saya pergi kemanapun tuan, baik itu sedang menjalankan proyek maupun tidak," jawab Glen dengan tatapan tajam.


"Oh...."


Leon pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Glen dan Xei, ternyata mereka menginap di tempat yang sama.


"Kalau tahu dia juga ada di sini, aku tak akan menginap di sini," gerutu Leon.


Sedangkan di salah satu balkon, seseorang menatap kedua orang yang sudah berjalan menuju arah Yang berlawanan. Sebuah seringaian licik terukir sambil menyesap sebatang rokok.


"Permainan akan di mulai."


*****


Mansion Leon.


Kesunyian meredam menyusup seisi mansion, tak ada langkah kaki maupun deru nafas yang berhembus di mansion.


"Bawa mereka masuk ke mobil!" perintah pak Andi.


"Baik tuan."


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc

__ADS_1


__ADS_2