
Di dalam mobil menuju markas besar, mata Alea sedikit mengintip namun ia segera menutup matanya setelah melihat para pria bertubuh besar mengelilingi nya yang dalam posisi berbaring.
Ia berharap Glen masih mengikuti nya, ia sudah tak sanggup lagi. Ia ingin makan, minum dan juga berdiri. Punggung nya sangat sakit dan letih.
Setelah beberapa menit, Alea pun merasakan kalau mobil sudah tak bergerak lagi. Ini pertanda kalau mereka sudah sampai pada tujuan.
Mulailah ranjang tempat Alea berbaring di tarik keluar dari dalam mobil, mereka membawa Alea masuk ke sebuah Vila bernuansa klasik dengan warna coklat.
Pintu depan di buka mereka langsung mendorong ranjang tempat Alea menuju satu ruangan yang hanya terdapat sebuah kursi saja dan juga beberapa tali.
"Cepat, duduk kan dia!" perintah bos dari bodyguard yang membawa Alea.
"Baik bos."
Dengan beramai-ramai mereka mengangkat tubuh Alea lalu memposisikan Alea untuk duduk di atas kursi, setelah posisi Alea duduk di kursi mereka mengambil tali mengikat kaki Alea menyatu dengan kaki kursi, lalu mengikat kedua tangan Alea kebelakang serta mengikat tubuh Alea termaksud bagian perut Alea. Hanya tinggal daerah dada sampai kepala saja yang tak terjamah oleh tali, selain itu semuanya terikat dengan tali yang ketat.
"Ck, ck. Kasihan sekali," ucap bos bodyguard itu.
"Iya bos."
"Apa dia sudah makan?" tanya nya.
"Sepertinya belum bos, karena sedari malam ia belum bangun juga."
"Yasudah, ayo keluar!"
"Baik bos."
*******
Markas anak buah.
Bus sudah sampai di tempat tujuan, kini semua anak buah sedang beristirahat. Ada yang pergi mandi ada juga yang pergi tidur, makan dan lain-lainnya.
Glen kini berada di balkon kamar yang ia tempati, satu kamar berisi enam orang dan untung nya empat orang itu adalah anak buahnya dan satu lagi anak buah Leon. Keberuntungan yang tak terduga.
"Tuan Glen, apa yang ada lakukan di sini?" tanya anak buah Leon yang bernama Louis.
Sudut bibir Glen naik menatap Louis dengan tatapan mengejek. "Apa urusan mu?" tanya Glen.
"Yah, ini memang bukan urusan saya tuan, hanya saja ketika saya mengikuti anda yang ternyata mengikuti orang yang membawa nona muda," jelas Louis santai.
"Jadi?"
"Sangat mencurigakan, karena anda juga ikut masuk kedalam kapal tuan. Apa yang anda cari?" tanya Louis dengan nada mengintrogasi.
"Kalau aku bilang aku mencari nona muda mu, bagaimana?"
Mata Louis menyipit curiga pada laki-laki berparas bak malaikat.
"Mengapa anda harus mengambil resiko untuk mencari nona muda kami tuan?" tanya Louis.
"Karena aku mencintai nya!" tegas Glen menepuk pundak Louis.
"Apa anda tidak tahu...."
"Aku tahu dia sudah memiliki suami, tapi apa salahnya untuk mencintai seseorang walau ia mempunyai suami ataupun tidak."
"Dan satu lagi, kalau bukan karena aku, aku yakin kalian tak bisa menemukan Alea."
"Jadi, bersyukur lah!"
"Lalu apa yang akan anda lakukan, tuan?" tanya Louis.
"Hanya menunggu waktu yang pas saja untuk bergerak."
__ADS_1
"Bolehkah saya bergabung," pinta Louis.
"Hmmm, baiklah. Aku tak memandang siapa yang akan bekerja sama dengan ku, hanya saja kau jangan sampai menyusahkan ku!" tekan Glen.
"Baik tuan."
"Kapan kita akan bergerak?" tanya Louis.
"Nanti malam!"
"Baik tuan."
*******
Kota Sambo
Leon kini baru saja akan naik ke helikopter nya mengikuti sinyal pelacak dari anak buahnya. Ia tak bisa menaiki kapal karena tiba-tiba dermaga terpakai semuanya.
Begitu juga di lain sisi, Xei baru naik ke helikopter, karena adanya sebuah halangan dan untungnya sudah terselesaikan.
Kembali pada Leon.
"Ars, Jelaskan situasinya!"
"Baiklah, pulau ini adalah sebuah pulau pribadi milik keluarga Harnes group, pulau yang bernuansa klasik dengan keamanan yang super ketat. Tidak sembarang orang bisa menginjakkan kakinya menuju pulau ini," jelas Arsel.
"Pulau Harnes, tapi mengapa mereka membawa Alea ke pulau itu?" tanya Leon berpikir tentang hal-hal janggal selama Alea menghilang.
Ting.
Sebuah bunyi notifikasi pesan dari ponsel Leon, Leon begitu malas melihat pesan itu namun itu dari nomor baru.
Leon pun membuka pesan yang ia terima berupa sebuah foto, mata Leon seketika membelalak dan tangan nya yang mengepal.
"Leon ada apa?" tanya Danish.
"Ada apa Leon?" tanya Arsel sambil merebut ponsel dari tangan Leon. Arsel pun melihat foto yang membuat Leon murka, matanya juga membelalak dan tangannya yang mengepal kuat.
Di dalam foto, ada gambar Alea yang sedang duduk di sebuah kursi dengan tali yang mengikat seluruh tubuhnya bahkan melingkar ketat di perut besar Alea.
Ting.
Satu pesan lagi masuk, Leon pun segera melihat bersama Arsel dan lainnya.
"Apa kau suka dengan kejutannya? Kalau tidak, akan ku berikan kejutan yang lebih menarik lagi, Leon."
"Datanglah, tunjukkan batang hidung mu demi anak dan istri mu. Jika kau tak datang dalam waktu tiga puluh detik, maka bersiaplah menerima kepala istrimu dan juga janin dari perutnya! Ingatlah! Kau harus datang sendirian!"
"Aku menunggumu Darling."
(From Sierra yang tersakiti)
Darah Leon semakin mendidih ketika melihat nama pengirim yang tertera, seharusnya ia tak membiarkan Sierra kabur begitu saja.
"Ayo cepat berangkat!" bentak Leon.
Ting.
Satu pesan masuk lagi. Kali ini dari nomor yang berbeda pula, sama-sama mereka membuka pesan itu, dan sekali lagi Leon semakin terkejut dan juga merasakan tubuhnya yang lemas.
Di dalam pesan gambar, terdapat foto Mita dan Nena yang sedang di ikat di sebuah tiang dengan posisi menggantung.
Ting.
"Datanglah, jika kau masih menginginkan mereka hidup! Aku akan menunggu mu selama tiga puluh menit, jika batang hidung mu tak terlihat, maka bersiaplah menerima kepala mereka!"
__ADS_1
"Lokasi, kota Sou."
(From pembenci mu)
Tubuh Leon terkulai lemas, di saat-saat seperti ini ia harus memilih siapa yang harus ia selamatkan.
"Leon, pilihlah yang mana yang harus kau datangi, kami akan membantu mu Leon," saran Arsel.
"Tidak ada waktu untuk banyak berfikir Leon, kau harus segera memilih. Jangan lemah di saat-saat seperti ini!" hardik Danish.
"Beri aku saran, jangan menyudutkan ku!" teriak Leon.
"Tuan, biar saya dan tuan Danish saja yang pergi menyelamatkan nona kita dan Nena," saran Vino.
"Apa kau yakin Vino?" tanya Arsel.
"Iya tuan, sebenarnya saya mencurigai seseorang tuan."
Deg
"Siapa?" tanya Leon.
"Sebenarnya saya ingin mengatakan ini pada anda ketika di kapal, tapi waktu itu sangatlah tidak tepat."
"Jadi siapa yang kau curigai?" tanya Arsel.
"Pak Andi!"
Deg
"Apa?!!"
_
_
_
_
Jangan lupa kasih semangat yah💪💪
Aku tunggu komentar kalian guys.
Bilangin semangat gitu😔 diam² baek reader di sini😂😂
Aduh, maaf yah aku cuma bisa up segini dulu yah. Soalnya aku lagi banyak tugas yang kagak ada akhlak nya🥵 jadi kagak bisa fokus.
Kalau aku gak up, aku jadi gak enak sama kalian😁
Maaf yah kalau kurang srekkkk.
Yeah, kalian emosi gak sama si Leon yang lambat🤣
Kalau iya, berarti kita sama. Aku juga jengkel pas nulis karakter Leon yang kayak gitu. Ingin rasanya aku membacok,🤭
Lebih suka sama babang Glen 🥰🥰
I love you babang Glen🥰🤤🤤♥️♥️😂
I love you juga babang Leon, walau kamu agak lambat dan taunya emosian doang tapi aku tetap cinta sama kamu karena cuma aku yang tahu visual kamu kayak mana😋😋😋
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
Beri kritik dan saran nya yah, aku akan menerima segala bentuk Krisan.
__ADS_1
tbc